Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Menemui Tina


__ADS_3

Jam di dinding menunjukkan angka sepuluh lewat tapi suamiku belum pulang juga. Aku sudah berkali-kali melongokkan kepalaku kearah pintu berharap jika suamiku pulang.


Aku kembali menatap layar ponsel, berkali-kali aku menimbang antara menelpon suamiku atau membiarkannya saja.


Tivi yang menyala tak sepenuhnya menarik hatiku. Aku cuma menatapnya tapi fikiranku melayang kepada suamiku yang entah kemana rimbanya.


Apa dia marah karena panggilannya teleponnya siang tadi tidak aku angkat ya? batinku.


Jam sudah memunjukkan angka sebelas. Dan akupun sudah berkali-kali menguap. Dengan menghembus nafas dalam aku bangkit dari kursi, mematikan tivi lalu masuk kedalam kamar.


Biarlah jika nanti suamiku pulang, dia bisa buka pintu sendiri. Toh dia juga memegang kunci rumah.


Setelah berdoa aku lalu memejamkan mataku.


...****************...


Entah sudah berapa lama aku tertidur. Ketika terjaga aku kembali teringat dengan suamiku. Segera aku turun dari ranjang lalu berjalan keluar menuju kamar depan.


Begitu pintu kamar terbuka aku tidak mendapati suamiku. Kamar itu kosong.


Aku membuka sedikit gorden jendela kamar depan, mengintip kearah garasi. Kosong. Tidak ada mobil suamiku, itu artinya dia belum pulang.


Dengan cemas aku kembali kekamar, mengambil hp lalu mendial nomor suamiku.


tersambung tapi tidak diangkat. Kembali aku mendial dengan perasaan yang tidak menentu. Aku khawatir terjadi apa-apa dengannya. Tidak pernah dia tidak pulang, itulah sebabnya kenapa aku mengkhawatirkannya.


tersambung dan kali ini diangkat


"Hallo"


Jedder!!! ternyata yang mengangkat suara perempuan.


Dengan menarik nafas dalam seraya memejamkan mata aku menjawab suara perempuan selingkuhan suamiku itu


"Andi mana?" tanyaku


Tina yang saat itu belum sepenuhnya sadar langsung terlonjak demi mendengar siapa lawan bicaranya


"Iya, apa? hallo" ucapnya pura-pura tak mendengar


"Andi mana?" tanyaku lagi dengan menahan emosi


"Ohh Andi, ini ada lagi tidur nyenyak. Pulas sekali dia. Sepertinya dia kecapaian habis tempur tadi"


Dadaku kian bergemuruh mendengar jawaban Tina. Seperti dia sengaja membuatku panas.


Aku berusaha untuk tenang. Tidak ada gunanya aku marah-marah sama dia.

__ADS_1


"Ya syukurlah jika Andi ada sama kamu. Aku fikir tadi kemana, kok sudah larut belum pulang" jawabku


"Tenang saja, kalau kamu tidak bisa urus suami kamu, aku bisa kok jaga dia" jawab Tina lagi


Sumpah, ingin sekali aku menampar mulut murahannya itu. Benar-benar tidak ada malunya.


"Aku bisa jaga Andi. Tapi dia saja yang tidak bisa jaga diri" jawabku


Terdengar tawa di seberang. Aku makin panas mendengarnya tertawa.


"Kalau kamu bisa jaga dia, dia tidak mungkin denganku sekarang" balasnya


"Kebetulan saja" jawabku


"Ya syukur deh kalau Andi kamu jagain, jadi setidaknya dia tidak kedinginan malam ini karena ada selimut gratis yang siap menghangatkannya" lanjutku


Lalu aku memutuskan panggilan. Setelahnya aku terduduk di atas ranjang kamar depan.


Membayangkan yang mereka lakukan. Tanpa terasa airmataku mengalir. Sakit sekali rasanya mendengar langsung dari selingkuhan suamiku jika mereka habis bercinta.


"Jahat kamu Andi" batinku


"Kamu memang tidak bisa menjauhi perempuan itu. Bahkan saat punya masalahpun kamu lebih memilih bermalam dengan dia ketimbang menyelesaikan masalah kita" ratapku


Aku terus terisak, memikirkan nasib ketiga anakku. Tidak, aku memang harus menemui Tina. Aku akan meminta dia untuk menjauhi suamiku demi ketiga anakku. Aku tidak ingin ketiga anakku kehilangan sosok ayahnya karena ulah perempuan yang tak bertanggung jawab.


...****************...


"Assalamualaikum" ucapku tepat di depan kosannya Tina


Belum ada jawaban. Aku kembali mengulangi salam dan tak lama terdengar jawaban dari dalam


"Waalaikumsalam" jawab suara perempuan


Begitu pintu terbuka, wajah Tina tampak sekali tegang.


Aku berdiri di ambang pintu dengan menatap kearahnya.


"Boleh aku masuk?" ucapku


Dengan canggung Tina menganggukkan kepalanya. Aku segera masuk dan duduk di kursi. Mataku menatap sekeliling ruang tamu dan berakhir di wajah Tina


"Ini pertemuan kedua kita, setelah kita bertemu di Linggau Plaza minggu lalu" ucapku membuka obrolan


Tina tampak gelisah.


"Aku sudah lama sekali mengetahui perselingkuhan kamu dan suamiku" ucapku

__ADS_1


"Tapi saat itu Andi berjanji bahwa dia akan meninggalkanmu dan akan kembali bersamaku dan ketiga anak kami, tapi rupanya itu bohong" lanjutku sambil tertawa basi


"Aku tidak akan marah-marah sama kamu, karena aku sadar, saat aku marah maka saat itulah setan membisiku dan menghasutku untuk mengamuk seperti kesetanan. Aku tidak mau itu, karena aku masih punya malu, aku tidak ingin menjadi tontonan orang apabila aku mengamuk sama kamu, dan aku juga tidak ingin apabila anak-anakku mengetahui sehingga mereka ikut malu dan trauma "


"Kalau boleh jujur, jelas aku sangat marah sama kamu. Tapi tidak semuanya salah kamu, suamiku juga bersalah, aku juga bersalah"


Tina hanya diam mendengar ucapanku. Dia sesekali menundukkan kepalanya, tetapi juga sekali-sekali menarik rok pendeknya agar turun menutupi pahanya.


"Kamu cantik Tina. Untuk apa kamu menjadi simpanan suamiku? Jadilah wanita terhormat dan dihormati. Ingat Tina, Andi itu bukanlah lelaki yang tepat untuk kamu. Dia sudah punya anak dan istri. Dan kami butuh kasih sayang dia. Saya mohon jangan renggut kebahagiaan kami"


"Aku tidak merebut Andi dari kamu. Dia sendiri yang datang sama aku" jawabnya ketus


"Iya saya tahu, tapi ini tidak akan terjadi jika kamu tidak memberi lampu hijau pada suamiku" jawabku masih pelan


Tina memasang wajah masam.


"Apa yang kamu lakukan ini bisa jadi akan terjadi juga pada anak kamu nanti. Karena karma itu nyata adanya" sambungku dengan suara bergetar menahan marah


"Bayangkan jika anak kamu nanti mengikuti jejak kamu? bayangkan jika ibu kamu yang jadi korban perselingkuhan...


"Ibuku sudah lama tiada" jawabnya cepat masih dengan muka masam


"Nah, apalagi itu, kamu tidak kasihan melihat ibu kamu di sana disiksa oleh Malaikat karena kelakuan kamu"


Mata Tina melotot tajam kearahku ketika aku menyebut tentang ibunya.


"Apa yang kamu dapatkan kalau hanya untuk kebahagiaan sesaat selain dosa besar yang sudah menanti? ucapku sambil menatap kematanya


Tina melengos dan mendenguskan nafas kesal


"Ingat Tina, dunia ini hanya sesaat, akhiratlah tujuan kita. Berbuatlah kebaikan agar orang tua kita tidak malu dan terhina dengan perbuatan anaknya. Terlebih untuk orang tuamu yang telah tiada, janganlah menambah azabnya"


"Saya doakan kamu yang telah menganiaya rumah tangga saya agar kamu segera bertobat demi masa depan kamu dan juga untuk persiapan kamu menghadap kepada Alloh"


"Berhenti kamu berkhotbah di depan saya, karena itu sia-sia belaka" jawab Tina ketus


"Saya hanya memperingatkan kamu Tina, karena saya tahu, sebetulnya pesan ini lebih tepat untuk orang yang percaya bahwa hari pembalasan itu pasti ada" ucapku sambil tersenyum hambar padanya


"Aku aku rebut suami kamu!" ucapnya kasar


"Silahkan!, toh tanpa kamu rebutpun suamiku memang sudah lengket sama kamu. Saya hanya minta kamu berfikir karena ada tiga anak kecil yang akan patah hatinya saat ayah mereka meninggalkan mereka. Saya harap kamu punya sedikit hati Tina. Kita sesama perempuan, dan tidak ada perempuan yang mau berbagi suami"


"Pergi kamu dari rumahku!" usir Tina


Aku segera bangkit dari kursi lalu keluar dari dalam rumahnya.


Begitu aku keluar, Tina segera membanting pintu. Aku hanya mengangkat bahu lalu aku menuju motor dan pergi meninggalkan rumah Tina, pulang kerumah dengan perasaan sedikit lega karena telah menemui selingkuhan suamiku.

__ADS_1


Aku berharap jika Tina punya sedikit hati dan mau meninggalkan suamiku dan merelakan suamiku untukku dan anak-anakku


__ADS_2