
Setelah hampir dua bulan menikah, Indah positif hamil. Sebagai calon ibu muda, dia belum banyak pengalaman tentang orang hamil. Beruntunglah sang ibu dan tetangga sekeliling kontrakannya bersedia membantu dan memberi nasehat pantangan seorang ibu hamil.
Trimester pertama dilewati Indah dengan tiada halangan apapun. Segala aktifitasnya berjalan seperti biasa, tidak ada istilah teler, tidak ada yang namanya suka makan, malah ketika hamil nafsu makannya meningkat dua kali lipat.
Aktifitas mengajar berjalan seperti biasa, dia tetap rutin mengajar di dua sekolah, pagi dan siang hari.
Sedangkan Andi, dia makin sibuk di kantor, pukul delapan dia sudah harus ada di kantor dan pulang kerumah setelah jam kantor usai, pukul empat sore.
Semenjak istrinya hamil, dia semakin perhatian dan semakin sayang pada istrinya. Mungkin faktor hormon, sejak hamil Indah gampang sekali menangis, jadi begitu cengeng. Andi harus pintar-pintar sabar ketika istrinya tiba-tiba ngambek tanpa sebab, atau tiba-tiba menangis apabila keinginannya tidak dituruti oleh sang suami.
Kebiasaan Andi sekarang sebelum berangkat kerja selalu menanyakan apa titipan sang istri, apa yang diinginkannya dan apa yang lagi di makannya. Dan hampir tiap hari keinginan Indah selalu berubah-ubah. Dari buah, jajanan pasar, sate, kacang rebus, kue tart ulang tahun, hingga yang tak masuk akal seperti ingin makan daging tupai. Terkadang Andi kewalahan menghadapi ngidam sang istri, tapi demi sang jabang bayi agar tidak ngences apapun itu dipenuhinya. Bahkan dia sampai menyuruh sang OB, Rian untuk mencari tupai di hutan dan membakarnya kemudian menyerahkan padanya.
Untuk si buah hati, Indah dan Andi benar-benar memberikan yang terbaik. Mereka rutin memeriksakan kandungan ke bidan langganan mereka dan meminum susu khusus buat ibu hamil.
Jika kebiasaan orang J**a ada istilah nujuh bulan, maka hal itu tidak berlaku untuk kehamilan pertama Indah. Dia dan suami tidak mengadakan acara tersebut seperti yang di sarankan oleh Pak Hermawan dan istri.
Hal tersebut membuat sang ibu tersinggung. Lagi-lagi Indah yang menjadi bulan-bulanan kekesalannya. Dikatakannya jika Indah lah yang memperanguhi Andi sehingga Andi mengabaikan saran kedua orang tuanya.
...++++++++...
"Pokoknya anak miss Indah pasti cewek" teriak Agustina nyaring
"Cowok" teriak yang lain menimpali
"Cewek" Agustina kembali ngotot.
"Cowoookkkkkk" yang lain kompak
Kegaduhan mereka berhenti ketika Indah sudah berdiri di depan kelas. Indah menatap tajam seluruh siswanya. Melihat Indah melotot, anak-anak yang semula tidak rapih, gaduh dan tertawa-tawa jadi terdiam.
__ADS_1
"Whats wrong?" Indah bertanya
Kelas hening, tak satupun dari mereka menjawab.
Indah berjalan kearah meja dan meletak buku serta tasnya di atas meja. Duduk, lalu kembali menatap seluruh siswa.
"I ask you all, what happened? are you okay? tell me" lanjutnya melunak
Sang ketua kelas, Ferdi, dengan takut-takut menjawab pertanyaan Indah.
"Kalo kami jujur, Miss Indah ga akan marahkan? tanyanya
"Tergantung" jawab Indah
"Yaaa, kalo gitu ga jadi deh Miss" lanjutnya.
Indah terkekeh mendengar jawaban siswanya. Menghadapi anak abg kita sebagai pendidik tidak bisa semena-mena, kita harus memposisikan dia sebagai teman kita agar mereka jadi akrab dan juga segan terhadap kita. Itulah yang selama ini dilakukan Indah, dia tidak otoriter yang membuat siswa-siswanya takut terhadapnya, tapi dia menjadikan dirinya sebagai teman buat peserta didiknya.
"Kami sekelas taruhan Miss" kali ini Agustina yang menjawab.
Kening Indah berkerut bingung. Dia belum faham taruhan apa yang dilakukan oleh siswa-siswanya.
"Taruhan? taruhan apa? kalian tahu kan kalau yang sejenis taruhan itu dilarang dalam agam kita?" ucapnya
"Kita taruhan tentang kehamilan Miss" Ferdi menambahkan
"What?" Indah terbelalak
Sekelas saling sikut melihat sang guru kaget. Dan mereka mulai menyalahkan Ferdi.
__ADS_1
"Ada yang bisa jelaskan ga?" kejarnya
"Janji ga marah ya Miss" Ferdi menjawab takut-takut.
Indah mengangguk.
"Kita sekelas taruhan, anak Miss cowok apa cewek. Kita sekelas bilang anak Miss cewek, tapi cuma Agustina yang ngotot cewek. Jadi kita tu taruhan sama Agustina. Kalau kita kalah kita bayar seribu sama Agustina. Begitu juga sebaliknya, kalau Agustina kalah maka dia harus bayar seribu perorang sama kami sekelas"
Tanpa sadar Indah terbahak mendengar jawaban Ferdi. Melihat sang guru tertawa, seisi kelas jadi lega, itu artinya mereka tidak akan kena marah.
"Oke kalau gitu, kita tunggu saja kurang lebih dua bulan lagi ya, apakah anak Miss cowok apa cewek. Yang paling penting itu adalah selamat dan sempurna, mau cowok apa cewek sama saja" ucapnya.
"Sudah, sekarang siap belum untuk memulai belajar? tanyanya.
"Siap Miss..." jawab seisi kelas kompak.
Lalu mereka memulai pelajaran hari itu seperti biasanya. Siswa begitu bersemangat hingga dua jam pelajaran habis tak terasa. Begitu bel pergantian jam berbunyi Indah segera menutup pertemuan hari itu.
"See you next week, keep healhty and happy all day, love you all" tutupnya
"See you too Miss, and love you too" jawab mereka kompak
Indah berjalan keluar kelas dan berjalan menuju kantor. Perutnya yang sudah membesar membuatnya agak kesulitan berjalan, jika biasanya dia berjalan cepat dan lincah, sejak kehamilannya telah membesar dan berat, Indah berjalan agak kesusahan. Walau demikian, dia pergi kemanapun masih menggunakan motor tanpa diantar oleh siapapun.
"Sehat ya nak" ucapnya sambil mengelus perut buncitnya.
Bak mengerti ucapan sang ibu, sang jabang bayi menendang yang membuat Indah kaget sekaligus tersenyum bahagia.
Setiba di kantor Indah istirahat sebentar mengobrol dengan teman-temannya. Sebelum akhirnya ketika pukul setengah empat dia berpamitan pulang pada teman-temannya dan Bapak kepala sekolah.
__ADS_1
Sebelum pulang kerumah Indah membelokkan motornya ke arah apotik, dia teringat bahwa susunya di rumah sudah habis. Jadi dia berencana hendak membeli susu khusus ibu hamil.
Setelah mendapatkan susu yang diinginkan, Indah segera pulang kerumah. Setibanya di rumah, setelah istirahat sejenak lalu dia bergegas mandi. Dia mau kelihatan fresh di mata sang suami saat menyambut kedatangannya pulang dari kantor.