Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Kejutan dari Jennifer


__ADS_3

Ariadi segera menghampiri Indah dan memberikan sapu tangan pada Indah untuk menghapus airmatanya yang mengalir.


Aku segera mengambil sapu tangan tersebut dan buru-buru mengelap airmata yang lolos dari mataku.


Bu Suryati tampak nelangsa melihat Indah yang berurai air mata. Dalam hatinya rasa kesal pada Andi makin menjadi-jadi.


"Suatu hari nanti akan aku bayar bang" ucapku bergetar sambil mengembalikan sapu tangannya.


Bang Ariadi mengambil sapu tangan yang diberikan Indah dan memasukkannya kembali kesaku celananya.


"Tidak perlu" jawabnya


Aku menggeleng dan menggigit bibir bawahku.


"Terima kasih Andi, kamu telah menunjukkan jati diri kamu pada orang lain tanpa aku harus memberitahu mereka" ucapku dalam hati


"Ini bang" kasir memberikan struk belanjaan dan juga keempat paper bag pada Bang Ariadi.


Bang Ariadi segera mengambil atm dan struknya tanpa melihat berapa nominal belanjaan yang telah dihabiskan karena membayari bajuku, segera dimasukkannya dalam dompet lalu mengambil paper bag dan memberikannya padaku.


Tanganku gemetar saat menerima paper bag tersebut.


"Jangan menangis lagi, jujur aku tidak suka melihat perempuan menangis" ucapnya


Aku berusaha untuk tersenyum walau tanpa aku sadari airmataku kembali mengalir saat aku tersenyum.


Hatiku begitu sakit, orang yang baru ku kenal, bahkan belum sampai dua jam aku mengenalnya tapi sudah dengan baik hatinya menolongku, sedangkan suami, yang hampir tujuh tahun bersamaku tidak memperdulikanku sama sekali.


"Sekali lagi terima kasih bang, Insha Alloh suatu hari akan aku bayar" ucapku masih dengan suara bergetar.


"Have fun and have a nice day" jawabnya, lalu berlalu dari kami.


Aku tertegun melihatnya berjalan menjauhi kami. Tubuh tingginya masih bisa aku lihat saat dia berbelok dan hilang masuk ke dalam lift.


Aku menghela nafas dalam dan menoleh pada bu Suryati, mencoba untuk tersenyum padanya.


Bu Suryati mengelus pundakku, tampak sekali iba di matanya.


"Benar-benar suami kamu, ibu fikir dia benar-benar menyayangimu, rupanya romantis di perjalanan kemarin hanya bualan belaka" ucapnya geram


"Yang bodoh itu aku bu, kok ya percaya-percayanya saat dia memberikan atm dan kenapa pula aku tidak menanyakan pinnya"


"Ah sudahlah, yang penting sekarang kamu sudah dapat dress untuk kamu pakai. Untung ada nak Ariadi"


"Tapi aku tidak enak hati bu, kita kan belum kenal beliau"


"Dari matanya aku yakin dia orang baik"


"Semoga ya bu"


Bu Suryati mengangguk pasti dan membimbingku keluar dari mall lalu menunggu taksi.


Di atas, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua dari balik jendela kaca. Sepasang mata itu begitu lekat menatap Indah dan mengabadikannya lewat kamera ponsel.


Tak lama waktu yang kami habiskan untuk menunggu taksi, karena tak lama setelah itu ada taksi yang lewat. Bu Suryati segera menyebutkan tujuan kami. Dan taksipun melaju membelah jalanan kota Pekanbaru menuju tempat tujuan.


...****************...


"Loh sudah selesai belanjanya bun?" Andi dengan terburu langsung mematikan ponsel ketika dilihatnya istrinya masuk kekamar.


Aku segera meletakkan keempat paper bag yang aku bawa dan masuk ke kamar mandi membasuh muka dan berwudhu.

__ADS_1


Andi hanya diam melihat perubahan istrinya. Dia hanya memperhatikan gerak-gerik istrinya dan melirik keempat paper bag yang terletak di atas nakas.


Shalatku tidak khusyuk, wajah bang Ariadi tetiba terlintas di benakku. Jika biasanya aku berdzikir sehabis shalat, maka setelah salam aku langsung membaca surah Alfatihah lalu berdo'a.


Selesai melipat mukena, aku duduk di kursi yang ada di depan nakas. Aku membersihkan wajahku dengan face toner lalu meraih tas yang juga aku letakkan di atas nakas. Mengeluarkan atm suamiku yang tadi diberikannya padaku.


Aku berjalan kearah suamiku yang berbaring di ranjang sambil memperhatikanku.


"Ini atmnya, terima kasih" ucapku meletakkan atmnya di kasur lalu kembali ke tempatku tadi.


Andi mengambil atm yang diletakkan istrinya tanpa merasa bersalah.


Aku menghela nafas dalam saat menyadari bahwa sikap Andi biasa-biasa saja, tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Aku lalu meraih paper bag dan melihat isinya satu persatu. Aku segera meraih dress pilihan pertamaku, dress warna krem yang tadi sempat aku cancel. Tertera harganya Rp. 474.900. Dress nya cantik menurutku, itulah makanya aku mengambilnya tadi. Seumur hidup aku, baru kali ini aku membeli baju semahal itu. Biasanya harga bajuku paling mahal Rp. 200.000.


Lalu aku mengambil paper bag kedua, mataku terbelalak ketika aku melihat harga yang tertera di sana Rp. 1.356.750.


"Astaghfirullah" ucapku.


Aku tak berani membentangkan baju silver tersebut karena harganya benar-benar membuatku pucat. Aku merutuki diriku sendiri, kenapa ketika di fitting room aku tidak melihat harganya. Jika aku tahu, tidak akan aku mengambilnya.


Setelah cukup tenang aku meraih paper bag ketiga. Tidak aku buka, melainkan aku melihat harga yang tertera di merk dress tersebut.


Dan lagi-lagi aku terhenyak, dress pastel tersebut seharga Rp. 1.576.500. Astaghfirullah, lebih empat juta, empat baju ini?? Aku makin terhenyak. Dengan susah payah aku menelan ludahku.


"Kenapa bun? tanya Andi demi melihat istrinya yang selalu beristighfar


"Bajunya mahal-mahal sekali" jawabku


Andi segera turun dari ranjang dan mengambil sebuah paper bag dan melihat harga yang tertera.


"Kasihan dia" ucapku lirih


"Dia?, dia siapa bun yang kasihan?" tanya Andi demi mendengar suara lirih istrinya


"Yang membayari baju ini" kataku pelan dan menerawang


"Loh, kenapa bunda tidak pakai atm ayah?, kan tadi sudah ayah kasih atm"


Aku mendongak padanya yang berdiri di sampingku.


"Tidak, aku tidak pakai atm kamu yah, aku tidak tahu pinnya berapa, ayah tiga kali aku telpon tidak menjawab aku sms tidak dibalas, padahal saat itu aku sudah di depan kasir"


Andi kaget dan segera membuka sms yang tadi dikirimkan istrinya. Dibaca lalu kembali kesamping istrinya.


"Ya Alloh bun, maaf. Ayah benar-benar tidak tahu kalau bunda menelpon dan sms" bohongnya


"Telepon dari orang lain bisa diangkat ya, dari istri sendiri diabaikan" sindirku


Andi mengusap wajahnya. Lalu berjongkok depan istrinya.


"Maaf bunda, aku benar-benar tidak tahu, sumpah!"


Aku membuang wajah, menatap keluar jendela.


"Bun?" Andi masih berjongkok di depanku


"Sudahlah, tanpa uang ayah, aku bisa shoping kok, lihatlah berapa harga baju yang dia belikan untukku. totalnya hampir empat juta setengah Yah. Padahal harga baju yang aku butuhkan saat aku ingin memakai atm ayah hanya empat ratus ribu sekian. Tapi lihat, orang tersebut membayari harga baju yang dibelikannya jauh lebih banyak dari uang belanjaku satu bulan"


Wajah Andi memerah, naluri lelakinya tersinggung. Saat mulutnya hendak menjawab sindiran Indah, tiba-tiba pintu kamar mereka ada yang mengetuk.

__ADS_1


Andi segera berdiri berjalan kearah pintu, sedang aku mengusap wajahku dan menghembuskan nafas dalam.


"Iya, ada apa ya?" tanya Andi


"Kamar kak Indah?" tanya pria gemulai tersebut.


Aku segera menoleh kearah pintu dan melihat seorang lelaki gemulai yang cantik dengan pakaian warna ngejreng berdiri di luar.


"Iya saya sendiri" jawabku menghampiri pintu tempatnya berdiri


"eike boleh masuk?" tanyanya mengerling genit kearah Andi


"Ada keperluan apa ya kak?" tanyaku


"Ihh ni dua makhluk, eike kebelet pipis kali ah, malah ditanyain mulu" ujarnya sambil mengempetkan tangannya kebawah perut.


Aku tersenyum dan membuka lebar pintu. Tanpa basa basi dia langsung menerobos masuk dan meletakkan tas bawaannya sembarang tempat dan berlari ke dalam wc.


"Dunia kok dipenuhi makhluk kaya gitu" Andi masuk sambil bersungut-sungut.


Aku tersenyum mendengar ucapan suamiku.


"Ahh lega" ucap lelaki gemulai tersebut sambil mengusapkan tangannya kerambut pirangnya.


"Kak Indah kan?" katanya langsung duduk di kursi


Aku mengangguk dan masih bingung dari mana orang ini tahu nama dan kamarku.


"Saya Jennifer, mua terkenal sejagat Pekanbaru" jawabnya dengan suara khas


Aku dan suamiku saling toleh.


"Ih, lama deh. Eike nggak suka di diemin"


"Maaf kak Jenifer, tapi saya tidak faham maksud dan tujuan kakak kesini mau apa" jawabku


"Ahh eike sampai lupakaaaan" katanya sambil menepuk pahaku dan berdiri mengambil tas yang berukuran lumayan besar yang tadi diletakkannya.


Dia kembali ketempat duduknya dan membuka tas lalu mengeluarkan sebuah bungkusan


"Semoga ini pas di kaki yey"


Aku terbelalak ketika dia mengeluarkan sebuah sepatu yang sangat cantik yang tadi aku lihat di mall.


Tanpa sadar aku menjulurkan kaki kananku dan mencoba sepatu tersebut. Andi masih diam tak bereaksi melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Aku tersenyum senang saat sepatu itu begitu pas di kakiku.


"Ahh, cantik kaann" ujar Jennifer sumringah.


"Aku masih nggak faham kak" jawabku bingung


"Aku disuruh seseorang buat kesini nganterin ni sepatu buat yeay pakai. Sama satu lagi, dandani yeay biar cantik" jawabnya


Aku menoleh bingung pada suamiku. Sama halnya dengan aku, suamiku pun angkat bahu.


"Oh iya, ini satu lagi sepatunya" Jennifer kembali mengeluarkan satu bungkusan paper bag lagi dan memberikan padaku.


Aku menelan ludah demi melihat kemewahan kedua sepatu yang sekarang ada di hadapanku.


Dalam hati aku menebak-nebak siapakah orang yang dimaksud Jennifer. Apakah bu Suryati? ah, mungkin saja beliau, karena di sini tidak ada yang kenal aku kecuali beliau dan yang tahu kamarku juga cuma beliau. Ah, pasti beliau batinku.


__ADS_1


__ADS_2