Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Balasan Untuk Andi


__ADS_3

"Kalian siapa hah?" Andi berteriak saat dua orang berbadan tegap menarik dan memukul keras perutnya hingga dia terjatuh.


Saat itu Andi sendirian di restoran sedang makan siang. Pengunjung yang juga ada di sana hanya memperhatikan tidak berani mendekat apalagi menolong.


Andi segera bangkit dan memasang kuda-kuda pertahanan. Tapi mereka kalah imbang, walau Andi juga berbadan tinggi tapi postur tubuh mereka jauh berbeda. Kedua orang yang memukulnya tadi jauh lebih berisi badannya.


Sekali pukul, Andi kembali terhuyung. Belum sempat dia berdiri tegak, pukulan kedua kembali menghantam bahunya.


Dengan kasar kedua bodyguard itu menyeret Andi keluar dari dalam restoran. Pengunjung yang lain hanya melihat dengan takut saat kedua bodyguard itu keluar dengan wajah sangar mereka.


Andi diseret masuk kedalam mobil, yang ternyata di dalamnya telah ada Abraham.


Seorang bodyguard masuk dan duduk di depan kemudi, lalu melajukan mobil dengan kencang. Andi yang di tangannya dikunci mati oleh seorang bodyguard hanya bisa meringis menahan sakit.


Mobil berhenti di sebuah gedung mewah. Sebuah apartemen. Abraham menarik kasar Andi dan membawanya turun dari dalam mobil.


Seorang security yang berjaga di depan apartemen saat melihat itu cuma bisa membungkukkan badannya kearah Abraham cs.


Tubuh Andi dilemparkan kelantai dengan kasar oleh Abraham. Tubuhnya langsung terjerembab. Andi meringis merasakan sakit pada tubuhnya.


"Are you ready Binsar?" ucapnya dengan suara yang berat.


Seorang bodyguard yang tadi disebut namanya sebagai Binsar segera maju. Dia menggerakkan lehernya ke kiri kanan sementara tangannya mengepal.


Buggghh!!!


Sebuah pukulan mendarat kewajah Andi. Andi terhuyung, dan memegang wajahnya yang dirasanya sangat sakit.


"Ayo, sparing kita bro. Lawan gue, jangan sama perempuan aja lu berani!" bentaknya


Andi berdiri dan menyeka bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Oke, gue terima tantangan lu" jawabnya


Ketiga bodyguard itu terbahak.


"Punya nyali juga lu" jawab Abraham


Binsar langsung memutar kakinya dan Bugghh!!!


Sebuah tendangan melayang tepat di kepala Andi. Andi langsung ambruk, kepalanya terasa sangat pusing dan matanya berkunang-kunang.


Binsar segera menarik tubuh Andi dan memaksanya untuk berdiri. Kembali sebuah pukulan mendarat di tubuh Andi. Dengan beringas Binsar melancarkan tendangan dan pukulan tanpa ampun ketubuh Andi yang telah babak belur.


"Hey bro, giliran gue" seorang bodyguard yang lain menghentikan aksi Binsar yang gelap mata.


Dengan mata merah menyala Binsar menendang sekali lagi tubuh Andi yang tergeletak di lantai.


Tomo, bodyguard terakhir yang tadi menghentikan Binsar segera berjongkok dan memelintir tangan Andi.


Andi melolong panjang kesakitan.


"Ampun, ampuni aku. Ampun, ampun. Aku menyerah, tolong lepaskan!! sakiiittt" teriaknya


Tapi Tomo tak bergeming. Dia makin kencang memelintir tangan Andi.


"Waktu kamu menyiksa istri kamu, bukankah dia juga memohon ampun sama kamu hah?! bentaknya


"Ampun, ampuni aku." Andi kembali memelas. Tangannya sudah seperti mati rasa. Wajahnya sudah pucat pasi menahan sakit yang teramat sangat.


"Kamu juga menjambak rambut istri kamu seperti ini kan??" Abraham menjambak rambut Andi


Andi makin kesakitan. Sekarang dua orang bodyguard sedang menyiksanya.


Abraham melepaskan tangannya dari cengkraman di rambut Andi. Dia juga memberi kode pada Tomo untuk melepaskan Andi.


Dengan kasar Tomo melepaskan tangannya yang tadi memelintir tangan Andi, mendorongnya dengan kasar hingga kembali terjerembab di lantai.


Baru juga tubuhnya menyentuh lantai, Abraham segera menariknya dan membawanya ke kamar mandi.

__ADS_1


Diambilnya gayung dan disiramnya dengan kasar sekujur tubuh Andi yang terduduk lemas di lantai.


"Seperti ini kan kamu menyiksa istri kamu semalam, hah!! seperti ini kaaannn!!! teriaknya


Andi tidak bisa menjawab. Dia hanya terdiam tidak bisa berbuat apa-apa, jangankan untuk melawan, berdiri saja dia sudah tidak sanggup.


"Binsaaarr!!!! Abraham berteriak


Binsar segera masuk kedalam kamar mandi.


"Ya bro?"


"Cambuk dia!!"


Mata Andi langsung terbelalak. Dia segera merangkak dan memegang kaki Abraham, persis yang dilakukan Indah semalam saat dia menyiksanya.


"Ampuni aku pak, aku mohon ampun. Ampuuun paakk" ucapnya memelas


Abraham menarik kakinya yang dipeluk Andi dan menendang Andi hingga dia kembali terjerembab


"Cepat cambuk!!" bentaknya


Binsar segera melepaskan ikat pinggang yang melilit di celana jeansnya. Lalu tanpa ampun dia melecut tubuh lemah Andi.


"Ampunn, ampuunn.." teriak Andi


Tapi Binsar tidak memperdulikan ratapan Andi. Dia terus saja mencambuk Andi sampai Andi lemas tak berdaya.


Setelah puas mencambuk Andi, Binsar mengambil gayung mengisinya dengan air lalu menyiramkan dengan kasar ketubuh Andi.


Andi makin meringis. Luka bekas cambukan di tubuhnya terasa makin perih saat terkena air.


Selesai dengan itu Binsar menarik belakang kerah baju Andi dan menyeretnya kembali keruangan dimana kedua temannya telah menunggu


Andi mereka dudukkan di atas kursi. Sementara mereka bertiga berdiri mengilinginya. Kepala Andi jatuh lunglai tak berdaya.


"Bos tadi minta kita patahkan tangannya" ucap Abraham dengan dingin


"Ampuni saya pak. Saya minta ampun. Ampuunn" ucapnya menahan tangis


Ketiga bodyguard tersebut kembali terbahak.


"Hah!! cemen... Semalam waktu istri kamu memohon ampun sambil menangis apa kamu iba hah??, bahkan saat dia memanggil ketiga anak kalian untuk minta pertolongan apa kamu iba hah?? tidak kaannn??!!" teriak Abraham geram


"Tomo!!! patahkan tangan dia!! ucapnya berteriak marah


"Jangan pak. Ampuunn" Andi berbalik memeluk kaki Tomo


Saat Tomo mengangkat kakinya hendak menendang Andi, tiba-tiba Hp Abraham berdering.


Tomo menghentikan gerak kakinya, mengurungkan niat untuk menendang Andi yang masih memeluk kakinya.


"Ya bos?" jawab Abraham


"Sudah kalian eksekusi?" tanya suara di seberang


"Sudah bos. Tinggal satu lagi tugas yang belum kami jalankan" jawab Abraham lagi


"Apa?"


”Mematahkan tangannya bos"


"Jaga dia jangan sampai lepas, sebentar lagi aku sampai"


"Baik bos"


Panggilan berakhir dan Abraham memasukkan kembali hp kedalam saku celananya.


"Jaga dia. Bos sebentar lagi sampai!" perintahnya pada kedua rekannya.

__ADS_1


Tomo segera menarik tubuh Andi, mendudukkannya kembali dengan kasar di kursi. Sementara Binsar mengambil tali dan mengikatkannya ketubuh Andi. Andi yang telah babak belur hanya pasrah saja saat kedua orang itu mengikat tubuhnya. Dia sudah tidak bisa berfikir jernih lagi. Difikirannya saat ini adalah bahwa dia akan mati hari ini. Butiran bening mengalir di pipinya, dia begitu ketakutan dan berfikir jika orang yang tak dikenalnya akan menghabisinya hari ini juga.


Terdengar langkah kaki orang di ruang tamu apartemen. Tomo segera berlari untuk memeriksa. Tak lama dia telah kembali lagi dengan seorang pria berpakaian rapih dan memakai topeng di wajahnya.


Abraham dan kedua temannya langsung mundur ketika bos mereka mendekati Andi. Dengan kasar, si bos mengangkat dagu Andi sampai Andi mendongak.


"Jadi ini tampang bajingan yang telah memukul wanita hah!" ucapnya dingin sambil membuang wajah Andi.


Andi kembali tertunduk. Tak berani mengangkat kepalanya.


"Bagaimana?, enak?" tanyanya


Andi diam tak menjawab. Si Bos mendengus kesal dan tiba-tiba


PLAAAKK !! PLAAAKK !!! PLAAKKK!!


Ditamparnya wajah Andi dengan emosi.


Kembali sudut bibir Andi mengeluarkan darah. Andi makin meringis kesakitan. Sekujur tubuhnya dirasa remuk.


"Kamu itu pantasnya mati" lanjutnya dengan suara dingin.


"Tapi aku tidak mau kamu mati sia-sia, aku akan menyiksa kamu pelan-pelan, sampai kamu sendiri yang meminta kematian padaku" lanjutnya sambil berjongkok di depan Andi.


Andi mendongak, matanya penuh dengan ketakutan menatap lelaki yang jongkok di depannya


"Ampuni aku pak, aku mohon ampun. Ampun, jangan bunuh aku" ucapnya memelas.


Si bos tersenyum menyeringai.


"Kamu itu tidak berguna Andi. Kamu lebih pantas mati!" teriaknya


"Jangan pak, aku mohon. Ampuni aku pak. Kasihani aku. Aku janji aku tidak akan lagi menyakiti istriku lagi, aku janji pak"


Si bos membuang ludah kelantai.


"Cuihhh!!!! jangan bawa-bawa istri kamu. Kamu tidak akan pernah berubah Andi, kamu akan terus menyakiti jiwa raganya, aku tahu itu" bentaknya dengan tangan terkepal


"Aku janji pak, aku janji. Sumpah. Aku mohon pak, kasihani aku, beri aku kesempatan kedua pak. Bagaimana nasib anak-anakku pak kalau aku mati" suara Andi kian memelas


Tangan si bos yang tadi sudah siap melayang jadi tergantung di angin begitu Andi menyebut nasib anak-anaknya


"Aarrrkkhhh" teriak si bos geram sambil menendang kursi hingga terpental jauh.


"Jangan bawa anak-anak kamu bajingaaannnn!!" teriaknya


PLAKKK!!! kembali tamparan mendarat di pipi Andi.


Andi meringis. Dia kembali menundukkan kepalanya.


Sementara si bos dengan kesal kembali menendang kursi yang ada di ruangan itu. Kursi-kursi pecah berantakan. Kurang puas, dia melemparkan meja.


Puncak kekesalannya, dia meninju tembok dengan kerasnya. Saking kerasnya, jemarinya sampai mengeluarkan darah.


Abraham cs yang baru untuk pertama kalinya melihat bos mereka mengamuk pun ikutan bergidik ngeri.


"Beritahu aku saat istri kamu sudah menjadi janda" geramnya di muka Andi.


Si bos lalu mencuci tangannya yang berdarah di wastafel lalu membenarkan dasinya


"Bawa dia kerumah sakit" perintahnya pada Abraham.


Abraham hanya mengangguk.


Lalu si bos berjalan keluar dari dalam apartemen dengan santai.


Masuk kedalam lift lalu keluar dari apartemen tersebut dan masuk kedalam sebuah mobil mewah yang terparkir.


"Kembali ke tempat tadi pak!" perintahnya.

__ADS_1


Sang supir mengangguk dan menjalankan mobil dengan perlahan meninggal apartemen menuju tujuan yang diinginkan si bos.


Sementara Abraham cs kembali menyeret tubuh Andi keluar dari apartemen. Dan sama seperti tadi, security yang berjaga hanya membungkukkan badan dan melongo keheranan karena ketiga bodyguard tersebut menyeret seseorang yang sudah babak belur tak karuan rupanya


__ADS_2