
"Embah, embah, kemaren aku ikut ayah maen sama cewek ayah"
Mikail berbicara tanpa beban pada mbahnya saat semuanya duduk santai setelah makan malam.
Iya, lebaran kali ini kami kembali mudik setelah 4 kali lebaran tidak mudik.
Aku yg sedang membereskan meja dari bekas ngopi sore tadi tiba-tiba menghentikan tangan ku yang hendak meraih gelas.
Aku refleks menoleh pada Nina yang kebetulan saat itu juga menoleh padaku.
Kami saling bertatapan penuh arti. Lalu aku kembali ke rutinitas ku tadi dan segera ke dapur.
"Kapan kak?" Nina bertanya
"Ah sudah-sudah, apa-apaan sih" Andi yang menjawab
"cie cie ayah" Mikail malahan menggoda ayahnya.
"Hah, ternyata tampang sok alim bisa juga ya jadi buaya darat" kali Joni yang bersuara seperti menyindir.
Andi tak berekspresi mendengar ucapan adiknya.
"ayu nggak cewek ayah mu?"
Mikail diam, bingung harus jawab apa atas pertanyaan mbahnya.
"Cantik nggak kak?" lagi Nina yang bertanya
"Cantik, rambut pirang pakek baju pink"
Aku tersenyum kecut mendengar jawabannya.
Nina kembali melirikku. Aku pura-pura tak melihat lirikannya.
"Yo mesti ayu, wong anakku ngganteng"
Aku beristighfar dalam hati mendengar jawaban ibu mertuaku. Aku tidak menyangka begini reaksi mereka. Bukannya menasehati, mereka malah membela.
"Ibuk apaan sih, mas Andi itu salah, harusnya mas Andi itu dinasehati, bukannya malah disanjung" Nina geleng-geleng kepala.
"Loh, apa ibukmu salah nduk, wong kenyataan mamas mu ki nggannteng, yo mesti wokeh seng naksir"
"Siap-siap mental kamu Ndah" mbak Laras menjawab sambil mencibir kearahku.
Ya Rabb, ingin sekali rasanya aku menangis saat ini. Sekuat tenaga aku tahan jangan sampai air mata yang sudah menggenang ini tumpah. Tidak, aku tidak boleh menangis. Tidak boleh.
"Yuk Nak, kita tidur" ajak ku untuk mengalihkan perhatian mereka.
"Mau tidur dimana?" Maria bertanya sama sinisnya seperti dulu.
Aku diam, aku juga bingung. Di rumah ini ada empat kamar dan itu sudah ada penghuninya semua.
"Di kamarku saja mbak" Nina yang menjawab
__ADS_1
"Mana muat Nin, anaknya banyak. Kamu mau tidur di lantai?" lagi mbak Laras berkata sinis.
Aku menghembus nafas kasar, tampak sekali kecewaku pada sikap Andi yang hanya diam.
"Di rumah ku" jawab Mbak Ningsih yang tiba-tiba muncul dari luar.
Segera dia masuk, menggendong Adam yang tertidur di dekatku duduk tadi.
"Ambil tas tante kak" ucapnya pada Dimas yang juga ikut masuk bersamanya.
"Ayok Ndah, kamu tidur di rumah mbak, rumah mbak juga besar, ada tiga kamar, yang dipakai cuma dua kamar, ada satu yang kosong"
Airmata yang sejak tadi kutahan akhirnya luruh juga di pipiku.
"Nggak eneng buk tas e tante" Dimas keluar dari dalam
"Golek neng gudang kak, biasane mbahmu ndeleh neng kono tiap tante mu rene"
Pilu, jelas pilu hatiku. Memang sejak datang siang tadi, tas kami disuruh ibu mertuaku untuk diletakkan di gudang.
Dimas kembali kebelakang dan tak lama telah muncul dengan tas besar pakaian kami. Tampak dia keberatan membawanya.
"Bawa tas ini kerumah kita yah" ucapnya pada mas Indra yang menunggu di luar.
"Ayok Ndah, kak ajak adik-adik e yo"
Dimas mengangguk dan meraih kedua tangan anakku lalu menggandeng mereka keluar dari rumah mertuaku.
"Aku tempat mbak Ningsih buk" pamitku.
...****************...
Kedua anakku tertidur pulas di rumah Ibuknya. Buk Ning kalau kata anak-anakku memanggil bukde nya tersebut.
Setelah memastikan jika anak-anakku terlelap, aku keluar dari kamar dan bergabung dengan mbak Ningsih dan mas Indra yang sedang menonton televisi.
"Kami mendengar semua omongan di rumah mamak tadi te" mbak Ningsih buka suara
"Soal apa mbak?" tanyaku
"Soal Andi"
Aku menghela nafas dalam. Lama aku terdiam, aku bingung harus menjawab apa. Memang selama yang aku tahu, dia seolah menganggapku bukan sebagai iparnya melainkan adiknya sendiri. Tapi konteks di sini berbeda, adiknya berselingkuh, apa mungkin dia akan menerima keluhan dan pembelaanku?
"Ndah?"
"Aku nggak tahu mbak"
"Nggak mungkin kamu nggak tahu, cerita sama mbak, jangan di pendam sendiri. Jangan dibiarkan berlarut-larut, bisa fatal akibatnya"
"Sudah lama mbak"
"Andi berselingkuh sudah lama?" matanya terbelalak
__ADS_1
Aku mengangguk.
"Astaghfirullah haladzim" mbak Ningsih dan mas Indra beristighfar berbarengan.
"Sejak kapan kamu tahu?"
"Selesai aqiqahan Adam"
Lagi mereka berdua beristighfar.
"Aku kira dia telponan tengah malam dengan siapa, terus aku intip mbak, ternyata mereka ngomongnya yang aneh-aneh gitu, terus yang buat aku makin yakin kalau ayah Naura selingkuh saat aku baca smsan mereka di hpnya ayah Naura"
"Kalau kamu tahu, kenapa kamu diam saja Ndah?" mas Indra bertanya seakan tak percaya dengan yang kulakukan.
"Aku pernah minta ayah Naura untuk mentalakku saat aku sudah selesai nifas mas"
Mbak Ningsih terhenyak. Segera dia berlari kedalam kamar tempat kedua anak lelakiku tidur.
Di sana dia segera memeluk kedua keponakannya dan menangis tersedu.
"Mesakno tenan kowe le, ojo sampe wong tuo mu pisah. kowe jek cilik-cilik, kepiye ngko nasib e kowe" airmata bercucuran di pipinya.
Tak lama dia keluar kamar dan kembali ketempat semula.
Bisa kulihat bekas air mata di matanya.
"Kamu yang sabar Ndah, jangan sampai kalian pisah, kasihan anak-anak, mereka masih kecil" Mas Indra menasehatiku.
Aku hanya bisa mengangguk.
"Kenapa Andi bisa begini Ndah?"
Aku menggeleng. Karena sejujurnya aku juga tidak tahu apa penyebab dia bisa selingkuh.
"Mungkin karena aku tidak cantik mbak, sedangkan diluaran gadis-gadis cantik banyak" jawabku sambil tertawa basi.
Mas Indra ikut tertawa lirih mendengar jawabanku.
"Godaan lelaki yang beruang memang begitu Ndah, dia mudah tergoda melihat perempuan. Ibaratnya itu ya Ndah, harta, tahta, wanita, nah, untuk harta bisa dikatakan Andi mapan apalagi dengan posisi dia yang sudah jadi bos makin banyak cewek-cewek mengincarnya"
"Itu sih tergantung lelakinya Yah, kalau lelaki setia mau dia konglomerat sekalipun dia tidak akan tergoda dengan perempuan lain" mbak Ningsih menjawab dengan nyolot.
Mas Indra tersenyum kecut mendengar jawaban istrinya.
"Biar besok Andi mbak yang tatar, kamu tenang saja"
Aku mengangguk.
"Ya sudah, kamu tidur, jangan banyak pikiran"
"Loh Naura tadi mana mbak?"
"Sudah tidur di kamar kakak Dimas, biarlah mereka sudah lama sekali tidak ketemu. Kamu tahu sendirikan kalau mereka itu dari kecil memang akrab"
__ADS_1
Aku mengangguk sambil tersenyum dan lalu ke kamar mandi mengambil wudhu dan shalat Isya baru setelahnya aku membaringkan badanku di sebelah kedua putraku.
...****************...