The Princess Story

The Princess Story
Ep 100. Balas dendam 1


__ADS_3

Ibu Suri di seret ke sebuah gubuk di luar kota. Tempat itu digunakan untuk mengumpulkan para budak yang akan di kirim ke pertambangan. Mereka akan di jadikan pekerja tambang yang bekerja dari pagi hingga malam tanpa di bayar.


Se Se menyusul ke gubuk itu, dia membawa Ibu Suri ke gunung Li An, tempat Ratu Wei Jia Li di makamkan. Se Se menghempas tubuh Ibu Suri dengan kasar di depan makam Ratu.


"Berlutut dan minta maaf padanya!" ucap Se Se dengan nada dingin.


"Kau, gadis rendahan! Berani sekali kau memperlakukan aku seperti ini!" kata wanita tua itu dengan nada marah.


"Plakkk!"


Sebuah tamparan mendarat di wajah wanita tua itu. Se Se menatapnya dengan aura pembunuh yang telah lama dia pendam. Dengan suara bergema dia meneriaki wanita tua yang ada di hadapannya.


"Berlututlah! Minta maaf dan akui semua kesalahan mu di depan makam Ratu!"


Ibu Suri mulai merasakan perasaan takut, aura kejam dari tubuh gadis itu membuatnya merinding.


Melihat Ibu Suri tidak menuruti perintahnya, Se Se mengeluarkan sebuah tali cambuk, dia mengayunkan cambuk ke tubuh wanita tua itu dengan sekuat tenaga.


"Akhhh...!"


Ibu Suri merintih kesakitan, dia segera berlutut di depan makam Ratu Wei Jia Li.


"Jangan mencambuk ku! Jangan mencambuk ku!" ucap Ibu Suri dengan suara bergetar ketakutan.


"Katakan, apa saja dosa yang telah kau lakukan pada Ratu Wei Jia Li!" perintah Se Se dengan mata berapi-api.


Ibu Suri mulai mengatakan semua perbuatan jahat yang telah dia lakukan kepada Ratu Wei Jia Li. Dia memohon ampun dan meminta maaf di hadapan makam itu dengan bersujud berkali-kali. Tentu saja itu tidak tulus, dia hanya ketakutan karena tubuhnya di cambuk.


Puas melihat wanita tua itu bersujud hingga dahinya berdarah, Se Se mulai mencambuki tubuhnya bertubi-tubi tanpa jeda. Suara jeritan, rintihan dan tangisan Ibu Suri menjadi melodi mengerikan di puncak gunung.


Puas menyiksanya hingga berdarah-darah, Se Se mendekatkan wajahnya ke wanita tua. "Kau, tidak akan mati dengan mudah. Akan kubuat kau merasakan penderitaan yang telah kau berikan pada Ratu Wei Jia Li."

__ADS_1


Se Se menarik tubuh wanita tua ke dalam sebuah hutan. Dia mengikat tubuh wanita tua itu di sebuah pohon besar yang menjadi sarang semut api.


Ibu Suri membelalakkan matanya, dia sangat ketakutan saat melihat semut-semut mulai merayap di tubuhnya. Se Se menyeringai melihat ketakutan di wajah wanita itu.


"Nikmati permainan yang baru saja ku mulai!" ucap Se Se dengan nada dingin.


"Lepaskan aku! Aku mohon lepaskan aku! Aku sudah memohon maaf pada Ratu, kenapa kau tidak melepaskan aku?" jerit Ibu Suri dengan nada histeris.


"Hahaha... kenapa aku harus melepaskan mu? Apakah kau melepaskan Ratu Wei Jia Li saat dia menderita? Apakah kau melepaskan Raja Wei saat dia masih berumur 10 tahun?" tanya gadis itu dengan wajah datar.


"Tidak, kau tidak melepaskan mereka. Kau menjebak Ratu dan mengatakan dia telah hamil anak dari pria lain, kau telah menyiksanya hingga anak dalam rahimnya keguguran. Kau bahkan berkali-kali mencoba membunuh anak dari Ratu Wei Jia Li. Iblis sepertimu, tidak pantas di maafkan!"


Se Se menarik paksa pakaian Ibu Suri hingga terlepas dari tubuhnya, kini tubuh wanita tua itu polos tanpa sehelai benang. Se Se mengeluarkan madu dari balik lengan bajunya, dia menyiram madu itu ke seluruh wajah dan tubuh Ibu Suri.


"Kau wanita gila!" maki Ibu Suri.


"Benar, aku gila karena kau!" jawab Se Se dengan senyuman iblis di wajahnya.


Se Se menatap nya tanpa rasa kasihan, dia berpikir hukuman itu belum cukup untuk orang sekejam Ibu Suri. Wanita tua itu kini terlihat lemah, keringat dingin keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya.


"Apa kau menikmati rasa sakit nya?" tanya Se Se dengan wajah datar.


"Kau... wanita iblis. Akan kubunuh kau!" ucap Ibu Suri dengan suara yang sangat pelan.


"Tunggulah di kehidupan selanjutnya, itupun jika kau sanggup!" jawab Se Se menyeringai.


Ibu Suri menatap Se Se dengan penuh kebencian, dia sangat menyesal tidak membunuh gadis itu dari dulu.


"Mari kita lanjutkan permainan selanjutnya!" ucap Se Se dengan aura sadis di matanya.


Wajah Ibu Suri berubah pucat, dia ketakutan memikirkan siksaan apa lagi yang tengah menantinya.

__ADS_1


Se Se mengambil sebuah penjepit yang seperti tang dari balik lengan baju, dia mendekat ke tubuh Ibu Suri yang masih terikat di pohon.


"Entah berapa banyak orang yang telah menjadi korban cakaran dari kuku mu yang panjang itu, aku akan membantu mu melenyapkan nya!" ucap Se Se dengan suara datar tanpa ekspresi.


Seluruh tubuh Ibu suri merinding, dia sudah membayangkan rasa sakit yang akan diterima nya.


"Akhhhhh....!!!!"


Kuku pertama dicabut dengan kasar, suara jeritan Ibu Suri memecah malam yang sepi di hutan.


Namun suara itu bagai hiburan di telinga Se Se, dia menikmati suara kesakitan yang di teriakkan oleh Ibu Suri. Se Se melanjutkan permainannya, dia mencabut habis seluruh kuku tangan dan kaki Ibu Suri.


Ibu Suri kelelahan setelah berteriak panjang dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Se Se tersenyum dan tertawa melihat wajah menderita wanita tua itu.


"Apa kau menikmati nya? rasa sakit ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit yang telah kau berikan kepada Ratu Wei Jia Li dan Han Ze Xuan. Jangan mati dulu sebelum kau merasakan semua penderitaan yang sama!"


Mata gadis itu kini berubah merah, amarahnya bertambah saat mengingat semua penderitaan yang telah diberikan oleh Ibu Suri kepada Florence sahabatnya. Jika saja wanita tua ini tidak membunuh Ratu Wei Jia Li, pasti saat ini dia bisa berkumpul lagi dengan Florence yang ada di dalam tubuh Ratu Wei Jia Li.


Jika saja wanita tua ini tidak membunuh Ratu Wei Jia Li, kehidupan Raja Wei tidak akan kesepian dan menderita. Jika saja wanita jahat ini tidak mengfitnah Ratu Wei Jia Li, pasti saat ini Xuan memiliki adik yang bisa menemaninya.


Se Se menghapus air mata yang mulai menggenang dibawah matanya, dia menatap wajah Ibu Suri dengan penuh kebencian. Se Se mengeluarkan sebuah belati kemudian berdiri di depan Ibu Suri.


"Kau, coba tebak! Apa yang akan kulakukan dengan belati ini?" ucap Se Se sambil mengayunkan belati di depan wajah Ibu Suri.


"Bunuh saja aku! Jangan siksa aku lagi, aku mohon... bunuh saja aku sekarang!" Ibu Suri memohon dengan wajah yang dipenuhi air mata dan keringat.


"Membunuhmu tentunya sangat mudah, tapi aku belum puas menyiksa tubuhmu, jadi kau masih belum boleh mati!"


Seluruh tubuh Ibu Suri telah bergetar karena rasa sakit, bahkan suaranya terdengar gemetaran. Namun Se Se belum merasa puas dengan siksaannya.


"Apa yang kau inginkan? aku sudah sangat kesakitan. Kenapa kau tidak membunuhku saja?" ucap Ibu Suri dengan suara yang sangat lemah dan pelan.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2