
"Bagaimana ini? Apakah aku harus membuka mataku sekarang?" batin Se Se.
Se Se merasa bahagia mendengar ucapan Raja Wei, dia masih memejamkan matanya. Gadis itu masih ingin mendengar seberapa tulus perasaan pemuda itu.
"Tok Tok Tok...!"
"Masuk!"
Yu datang membawa sepasang pakaian berwarna merah cerah.
"Yang Mulia, saya membawa pakaian yang anda minta." ucap Yu dengan wajah sedih.
"Letakkan saja di sana. Keluarlah dan tutup pintunya, jangan biarkan siapapun masuk kemari." ucap Raja Wei dengan suara rendah.
Raja Wei membersihkan wajah dan tubuhnya yang terkena percikan darah, dia mengganti pakaiannya dengan pakaian pengantin pria.
Raja Wei melepas satu per satu pakaian di tubuh Se Se. Gadis itu diam membeku, perasaan serba salah dan rasa malu menghantui pikirannya.
"Apa yang sedang ku lakukan? Kenapa aku membiarkan pria ini melepas bajuku? Aku pasti sudah gila!" batin Se Se.
Raja Wei memakaikan pakaian pengantin ke tubuh Se Se dengan hati-hati agar lukanya tidak terbuka. Tetesan air hangat dirasakan oleh bagian tubuh gadis itu, Raja Wei tidak sanggup menahan air matanya.
Setelah selesai mengenakan pakaian pengantin, Raja Wei memeluk gadis itu. Dia mengucapkan janjinya dengan wajah sembab dan suara yang nyaris hilang.
"Aku akan selalu mencintaimu. Walaupun kematian memisahkan kita, aku akan terus mencintaimu, baik di masa sekarang, masa depan atau masa-masa mendatang.
"Aku... aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya. Aku... akan mencintaimu lagi seperti saat ini. Aku... akan kembali menikahimu, lagi dan lagi... sampai alam semesta merasa bosan melihat cinta kita. Aku pasti akan melakukannya."
Suara Raja Wei terputus-putus karena menahan isak tangisnya. Hatinya terasa perih jika mengingat nyawa gadis kecilnya sedang sekarat.
Se Se meneteskan air matanya, dia tidak sanggup lagi berpura-pura setelah mendengarkan kata-kata yang diucapkan Raja Wei.
Gadis itu perlahan membuka matanya dan bertanya, "Yang Mulia, apakah perkataan anda masih berlaku jika saya sembuh dan pulih?"
Raja Wei melepaskan pelukannya, dengan cepat dia menatap wajah gadis itu.
"Xiao Se Se!" gumam Raja Wei.
Raja Wei tak percaya dengan suara yang di dengarnya.
"Ya, ini saya Yang Mulia." jawab Se Se dengan senyuman di bibirnya.
__ADS_1
Raja Wei kembali memeluknya dengan erat. "Apakah ini mimpi? Jika ini mimpi, aku harap selamanya tidak bangun dari mimpi ini."
"Apa saya terlihat seperti mimpi anda Yang Mulia?" tanya Se Se dengan suara yang masih lemah.
"Aku berharap ini bukan mimpi." jawab Raja Wei sambil mengecup kening Se Se.
Se Se melepaskan pelukan Raja Wei, dia memundurkan wajahnya untuk menatap pemuda itu.
"Ini bukan mimpi, saya sudah sadar dan sudah sembuh dari racun itu." ucap Se Se dengan senyuman kecil di bibirnya.
Raja Wei menyentuh wajah gadis di depannya, dia masih tak percaya dengan perkataan gadis kecilnya. Perasaan gelisah kembali mengacaukan hati dan pikirannya.
"Tabib mengatakan racun itu tidak ada obatnya. Bagaimana mungkin gadis ini bisa sembuh tanpa obat? Apa dia sedang menghiburku?" batin Raja Wei.
Se Se seperti mengetahui isi pikiran Raja Wei, dia menjawab pertanyaan batinnya, "Apa Yang Mulia lupa kalau saya pernah menyembuhkan racun di tubuh Putra Mahkota? Racun itu bukanlah masalah besar untuk saya."
"Benar, kalau itu kamu, kamu pasti bisa melakukannya." ucap Raja Wei sambil mengecup kening gadis kecilnya.
Raja Wei merasa lega, hatinya yang kacau sudah mulai pulih. Senyuman kecil terlihat di bibirnya, dia merasa bahagia diberi kesempatan lagi oleh Tuhan.
"Terima Kasih sudah kembali ke sisiku." bisik Raja Wei sambil memeluk Se Se.
"Tapi, kenapa Anda menikahi saya tanpa persetujuan dari saya?" tanya Se Se dengan wajah pura-pura cemberut.
Gadis kecil itu mulai menangis, air matanya mengalir membasahi kedua pipinya. Dia menundukkan wajahnya.
"Apakah Yang Mulia... akan selalu mencintai saya dengan sepenuh hati? Apakah anda... akan menerima segala kekurangan saya? Apakah anda... bisa berjanji untuk mencintai saya seorang?" tanya Se Se masih sambil menunduk, air matanya terjatuh ke lengan pemuda itu.
Raja Wei mengangkat wajah Se Se dan menghapus air matanya. Pemuda itu menatap dalam mata Se Se dan menjawab, "Aku akan mencintaimu dengan sepenuh hati dan jiwaku, aku akan menerima segala kekuranganmu. Seumur hidupku, aku hanya akan mencintai dirimu."
Se Se tersenyum bahagia, dia memeluk pemuda itu dengan erat. Dia berbisik di telinga Raja Wei.
"Saya bersedia."
Raja Wei membalas pelukannya dan menjawab, "Terima Kasih... Permaisuriku."
Setelah beberapa saat, mereka melepas pelukannya dan saling memandang. Raja Wei mendekatkan wajah mereka dan mencium bibir gadis itu.
Se Se mengalungkan lengannya ke belakang leher Raja Wei dan membalas ciumannya. Selama 10 menit mereka berciuman dengan "panas", lidah mereka saling beradu di dalam sana.
Napas mereka memburu dan terdengar degup jantung yang semakin cepat.
__ADS_1
"Deg Deg Deg!"
Tangan Raja Wei mulai nakal, jarinya menyentuh salah satu persik kembar di tubuh Se Se, gadis itu panik dan mendorong Raja Wei.
"Ca...ca..cabul!" ucap Se Se terbata-bata.
Raja Wei mengerutkan keningnya, wajahnya berubah cemberut. Dia berkata, "Apa aku tidak diizinkan untuk menyentuh istriku di malam pertama kita?"
"Blush"
Wajah Se Se memerah, dia menarik selimut dan menutup tubuhnya.
"I...i...i...itu karena kita belum menikah secara resmi." jawab Se Se.
Raja Wei tersenyum lesu, dia menarik selimut dari tubuh gadis itu dan memeluknya.
"Kalau begitu, izinkan aku memeluk istriku hingga tertidur. Aku janji tidak akan melakukan hal aneh." ucap Raja Wei sambil membenamkan wajah Se Se dalam pelukannya.
"Yang Mulia..." gumam Se Se dengan suara yang masih terdengar.
"Tidurlah, besok aku akan mengirimkan lamaran kepada Ayah Mertua." ucap Raja Wei menggoda gadis dalam pelukannya.
"Yang Mulia..." panggil gadis itu lagi dengan suara imutnya.
"Ya? Apa kamu menyesal sudah menolakku tadi?" goda Raja Wei sambil mengelus lembut punggung Se Se.
"Yang Mulia... ada sesuatu yang ingin saya tanyakan." ucap Se Se ragu-ragu.
"Tanyakan saja, aku akan menjawab semua pertanyaanmu." Raja Wei menjauhkan tubuh mereka dan menatap wajah gadis kecilnya.
"Apakah Yang Mulia pernah mencintai wanita lain sebelum saya?" tanya gadis itu dengan perasaan gelisah.
"Wanita lain? Apakah istriku sedang cemburu?" goda Raja Wei.
"Saya mendengar kata-kata Yang Mulia dan Yu saat tidur, saya dengar anda pernah kehilangan gadis yang sangat berharga." ucap Se Se dengan wajah serius.
Raja Wei mulai mengerti pertanyaan gadis kecilnya, dia teringat dengan gadis itu. Gadis yang membuat hatinya merasa bersalah hingga saat ini.
"Berharga? aku tidak tahu apakah gadis itu berharga atau tidak. Aku hanya merasa bersalah karena kematian gadis itu disebabkan oleh kesalahanku." kata Raja Wei dengan wajah bersedih.
Se Se melihat kesedihan di wajah pemuda itu, kesedihan dan penyesalan yang mendalam.
__ADS_1
"Apakah gadis itu sangat penting di hatimu?" batin Se Se.
^^^BERSAMBUNG...^^^