
"Hahaha...!"
Pria itu pun kembali tertawa lepas ketika melihat kemarahan di wajah Raja Wei.
"Dia memang lebih cocok dengan wajah yang terlihat marah, wajah sedih yang membuat orang kasihan itu tidak cocok untuknya. Semoga kau bahagia selamanya, Han Ze Xuan." benak Thien Si Rui.
"Aku hanya bercanda, tapi kalau memang suatu hari kau bersedia memberikannya kepadaku, aku tidak akan menolak. Hahaha...!" ucap Thien Si Rui yang lalu tertawa.
"Mimpi saja kau!" jawabnya dengan wajah dingin yang terlihat seperti hendak membunuh orang.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku pergi!" ujar Thien Si Rui sambil berjalan keluar dari ruangan.
Raja Wei mengerutkan dahi, lalu bertanya dengan suara yang sedikit kuat, "Rui, mau ke mana?"
"Istana!" sahut Thien Si Rui tanpa berbalik.
"Kelihatannya dia sudah membulatkan tekad untuk melepaskan Tahtanya." gumam Raja Wei sambil tersenyum. " Semoga keinginanmu terkabul! Hidup sederhana dan jauh dari perebutan kekuasaan." lanjutnya sambil menatap punggung Thien Si Rui yang menjauh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Han Ze Xing berada di kamarnya, dia mengingat kembali kata-kata yang di ucapkan oleh Ayahnya sebelum mengurung mereka berdua di Istana Dingin.
Flashback
Di sebuah ruang terbuka, para menteri berdiri di depan Kaisar Han Ze Ti. Secara bergiliran, mereka melaporkan masalah yang sedang di alami oleh rakyat. Tiba-tiba seorang prajurit masuk ke dalam ruangan sambil berteriak, "Laporan dari Jenderal Yang!"
Kaisar Han Ze Ti memerintahkan pria itu untuk segera membaca laporan yang dia bawa. Pria itu membuka surat yang berada di tangannya, ia lalu membaca dengan suara yang sedikit berteriak.
"Pasukan dari negara musuh sudah di tangkap, kami akan segera kembali. Saya bersama dengan Panglima besar Ye Yuan dan Raja Wei, mereka sangat berjasa dalam peperangan kali ini."
"Laporan selesai!" ucap pria itu mengakhiri laporannya.
"Bagus, bagus sekali! Ayo kita rayakan kemenangan kali ini!" ucap Kaisar Han Ze Ti dengan wajah yang tersenyum lebar. Meskipun ia tersenyum, dalam hati pria itu merasa kesal dan marah.
"Lagi-lagi dia yang menjadi pahlawannya!" benak Han Ze Ti.
Muncul kebencian dalam diri Han Ze Ti, benci karena Han Ze Xuan adiknya selalu mendapat pujian dari rakyat. Benci karena dia hanya bisa duduk di Istana tanpa melakukan apa-apa ketika adiknya itu berusaha merebut perhatian dan kasih sayang dari rakyat.
Tentu saja itu semua hanya pemikiran Han Ze Ti saja, sebab Raja Wei bekerja keras demi kedamaian rakyat dan kejayaan kekaisaran Han. Demi kakaknya yang menjabat sebagai Kaisar di negara itu, dan juga demi keponakannya yang akan meneruskan tahta.
Namun apa gunanya semua jerih payah yang dilakukan oleh Raja Wei jika semua itu hanya membawa masalah dan petaka baginya. Han Ze Ti bahkan menganggap semua kerja keras yang dilakukan oleh Raja Wei semata-mata untuk ketenaran dan kekuasaan pribadi.
Setelah pertemuan selesai, Han Ze Ti kembali ke ruang kerja pribadi miliknya. Diikuti oleh dua orang Menteri yang bernama Gu Yong Ju dan Chang Rou Meng. Sesampainya di sana, Kaisar Han Ze Ti duduk di kursi tengah miliknya, kedua orang tua itu duduk di depan, berhadapan dengan tempat duduk Kaisar Han Ze Ti.
"Brakkkk!"
Han Ze Ti memukul meja yang ada di samping, "Kenapa Han Ze Xuan ada di antara rombongan itu?" tanya nya dengan nada yang memperlihatkan amarah.
"Kami tidak tau apa-apa Yang Mulia. Kami hanya menerima laporan jika Panglima besar Huang yang pergi ke perbatasan. Tidak di sangka jika Raja Wei juga ikut pergi ke sana." jawab Gu Yong Ju yang juga kelihatan kesal.
Apalagi dalam perang kali ini Raja Wei berperan sangat besar, Jenderal Yang bahkan sengaja menulis hal itu di dalam laporan. Kali ini juga rakyat akan memuji jasa dan kehebatannya dalam melindungi negara!" timpal Chang Rou Meng dengan wajah yang tak kalah kesalnya dengan kekesalan dua pria di dalam ruangan.
"Di tambah lagi dengan Permaisuri Raja Wei yang selalu mendapat pujian sebagai wanita bangsawan baik hati dan selalu menolong rakyat miskin. Bisa-bisa negara ini akan menjadi milik mereka berdua nantinya!" hasut Gu Yong Ju.
"Kita harus segera mencari cara untuk mencegah kekuasaan Raja Wei yang semakin hari semakin membesar!" ucap Kaisar Han Ze Ti yang semakin ketakutan jika tahtanya akan di rebut oleh Raja Wei.
"Yang Mulia, ..."
__ADS_1
Gu Yong Ju berhenti berbicara, dia lalu menatap raut wajah Kaisar Han Ze Ti untuk menentukan apakah pembicaraan ini harus dilanjutkan atau tidak.
Han Ze Ti menatap Gu Yong Ju dengan rasa penasaran, "Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya pria itu.
"Yang Mulia, ada satu hal yang saya tidak tau apakah boleh dibicarakan." ucap Gu Yong Ju dengan wajah serius namun tertawa dalam hati.
"Katakanlah!" balas Han Ze Ti yang semakin penasaran.
"Saya rasa, Raja Wei sudah mendapatkan banyak dukungan dari rakyat. Bukankah ini akan berbahaya bagi kekuasaan anda dan Putra Mahkota?" ucap Gu Yong Ju.
Chang Rou Meng pun ikut menimpali, "Benar, Yang Mulia. Kita tidak boleh diam saja melihat kekuasaan dari Raja Wei yang terus meningkat dan membesar. Bisa saja suatu hari nanti dia akan memberontak melawan anda dan Putra Mahkota."
"Apa yang sebenarnya ingin kalian sampaikan?" tanya Kaisar Han Ze Ti dengan wajah yang dingin.
"Kami menyusulkan agar Raja Wei di turunkan dari semua jabatan. Pasukan yang dibentuk olehnya juga harus di singkirkan akan tidak menjadi masalah dikemudian hari." ucap Gu Yong Ju sambil menunduk, menyembuyikan wajah liciknya.
"Apa yang harus kita lakukan untuk menyingkirkan Han Ze Xuan?" tanya Kaisar Han Ze Ti lagi.
"Pertama-tama kita harus membubarkan pasukan dari Raja Wei. Lalu Permaisuri Huang Se Se, kita harus memisahkan kedua pasangan itu. Wanita itu sangat dicintai oleh banyak orang, satu suara darinya saja bisa menggerakkan jutaan rakyat jelata yang pernah dia tolong." ucap Gu Yong Ju.
Kaisar Han Ze Ti memikirkan kata-kata dari pria itu. Dalam pikiran, dia menyetujui semua pendapat Gu Yong Ju. Namun hatinya sedikit sedih saat memikirkan jika Han Ze Xuan adalah adik yang telah dia sayangi selama bertahun-tahun.
Melihat keraguan di mata Kaisar Han Ze Ti, Gu Ying Ju memberi isyarat kepada Chang Rou Meng agar turut mencuci otak Han Ze Ti. Pria itu segera mengerti arti tatapan mata dari rekannya, dia pun ikut menambah minyak ke dalam bara api.
"Yang Mulia, saya dengar jika rakyat selalu berkata bahwa penerus tahta selanjutnya adalah Raja Wei, dan istrinya akan menjadi Ratu di masa depan."
"Brakkkk!" Han Ze Ti memukul meja di sampingnya lagi. Seandainya meja bisa bicara, Han Ze Ti pasti sudah dimaki karena selalu membuat dirinya yang tak berdosa menjadi tempat pelampiasan.
"Karena dia sangat berharga, maka aku akan membuat Permaisuri Huang Se Se menjadi milikku!" ucapnya dengan suara yang terdengar marah.
"Siapa?" bentak Kaisar Han Ze Ti.
"Ayah, ini aku, Xing!"
"Masuk!"
Han Ze Xing masuk ke dalam dengan perasaan serba salah. Dia tak ingin menjadi musuh dari Pamannya, dia juga tak ingin melawan keinginan ayahnya. Akhirnya dia berkata, "Ayah, tolong jangan melakukan sesuatu yang akan mencelakakan Paman. Aku yakin, Paman bukanlah orang yang tamak dengan kekuasaan."
"Diam! Apa yang kau tahu tentang Pamanmu? Kau setiap hari menempel di sekitarnya sampai-sampai dibodohi oleh tampangnya yang dingin dan cuek itu!" hardik Kaisar Han Ze Ti dengan wajah yang semakin kesal.
"Ayah, aku yakin Paman tidak begitu." bela Han Ze Xing lagi yang lalu membuat amarah Han Ze Ti semakin meninggi.
"Sebaiknya kau tidak ikut campur dalam masalah ini! Pergi sana!" bentak Kaisar Han Ze Ti.
Han Ze Xing tidak ingin Ayahnya memilih jalan yang salah, dia pun kembali menasehati pria itu. "Ayah, Kumohon dengarkan aku sekali ini saja! Aku tidak ingin Ayah menjadi musuh dari Paman."
"Pengawal!" teriak Kaisar Han Ze Ti dengan suara keras.
Dua orang pengawal masuk begitu mendengar panggilan dari Kaisar Han Ze Ti, "Ada apa Yang Mulia?"
"Seret orang ini keluar dari sini! Aku tidak ingin melihat wajahnya!" perintah Kaisar Han Ze Ti sambil menunjuk jari ke arah Han Ze Xing.
Gu Yong Ju dan Chang Rou Meng saling bertatap muka, mereka lalu tersenyum sambil melirik Han Ze Xing yang tengah di seret keluar.
"Dasar anak tidak berguna!" umpat Kaisar Han Ze Ti sambil menendang kaki meja. Lagi-lagi meja yang dijadikan pelampiasan.
"Yang Mulia, redakan amarah anda. Putra Mahkota masih terlalu muda sehingga beliau gampang di bohongi." ucap Gu Yong Ju sambil menunduk.
__ADS_1
"Sia-sia aku membesarkan dia, anak itu selalu saja membela Han Ze Xuan." keluh Kaisar Han Ze Ti yang lalu kembali menggebrak meja di samping.
"Brakkkk!"
"Yang Mulia, Putra Mahkota telah mengetahui rencana kita. Bagaimana jika beliau memberitahukan rencana ini kepada Raja Wei? Bukankah kita semua akan celaka?" ucap Chang Rou Meng.
"Benar! Jika itu Xing, dia bisa saja memberitahu kepada Xuan. Aku tidak akan membiarkan dia bertemu dengan Xuan!" Kaisar Han Ze Ti termenung beberapa saat, dia lalu berkata, "Kalian kembalilah lebih dulu. Ada yang harus aku lakukan sekarang!"
Chang Rou Meng dan Gu Yong Ju mengangguk, mereka lalu memberi hormat sebelum pergi dari ruangan.
Kaisar Han Ze Ti ikut keluar, dia berjalan menuju ke kamar Han Ze Xing. Seorang kasim mengikuti langkahnya dari belakang, kasim itu tersenyum menyeringai ketika melihat langkah pria itu menuju ke Istana Matahari, tempat tinggal Putra Mahkota.
"Kaisar tibaaaaaaaa!" jerit Kasim itu setelah mereka tiba di Istana Matahari.
Semua pelayan dan pengawal segera berlutut, menundukkan wajah mereka tanpa berani melirik.
"Di mana Putra Mahkota?" tanya Kaisar Han Ze Ti kepada salah seorang pelayan.
"Yang Mulia Putra Mahkota sedang berada di Taman Anggrek bersama Putri Mahkota." jawab pelayan itu masih sambil berlutut dan menundukkan wajah.
Kaisar Han Ze Ti segera berjalan ke Taman anggrek. Tak lama dia tiba di taman, langkahnya terhenti saat dia melihat Han Ze Xing dan Zhou Yi Thing.
Terdengar suara tertawa yang ceria, suara yang sudah lama tidak pernah dia dengar. Jaraknya dari tempat berdiri Putra Mahkota masih sekitar 10 meter. Untuk pertama kalinya, dia melihat putranya yang sedang tertawa bahagia dari kejauhan.
"Dia benar-benar terlihat bahagia bersama wanita itu, tapi sampai kapan kebahagiaan ini akan bertahan? Jika tahta benar-benar di rebut dari Xing, dia tidak akan pernah tertawa seperti ini lagi. Aku akan mencegah hal itu terjadi, aku akan memastikan Xing menjadi Kaisar selanjutnya." benak Han Ze Ti.
Han Ze Xing tanpa sengaja menoleh ke arah tempat berdiri Kaisar Han Ze Ti, dia lalu memanggil ayahnya yang baru saja hendak beranjak dari sana.
"Ayah! Kenapa anda pergi begitu saja tanpa masuk lebih dulu?" tanya Han Ze Xing.
Langkah kaki Han Ze Ti pun terhenti begitu mendengar suara Han Ze Xing, dia berbalik lalu menatap wajah putra kesayangannya.
"Temui aku nanti saat kau sudah sendirian!" perintah Kaisar Han Ze Ti yang tidak ingin mengganggu kebahagiaan putranya.
"Aku bisa menemui ayah sekarang juga!" ucap Han Ze Xing dengan cepat. Pria itu pun melangkah mendekati Han Ze Ti. Setelah jarak mereka hanya tinggal tiga langkah, Han Ze Xing bertanya, "Ada apa Ayah mencariku?"
"Aku akan memindahkan temoat tinggalmu sementara ke Istana Dingin!" ucap Han Ze Ti.
Han Ze Xing tertegun sesaat setelah mendengar ucapan dari ayahnya, dia menatap pria itu dengan wajah bingung dan penasaran. Lalu bertanya kepada Han Ze Ti, "Kenapa Ayah harus memindahkan tempat tinggalku?"
"Aku tau kau pasti akan mencegah rencana yang sudah kami buat untuk menyingkirkan Han Ze Xuan. Jadi untuk sementara, kau akan di awasi di sana sampai rencana ini berhasil dijalankan." jawab Han Ze Ti dengan sejujurnya.
"Ayah!" geram Han Ze Xing dengan suara yang tinggi.
"Kau akan dipindahkan, setuju ataupun tidak. Ini adalah perintah!" Han Ze Ti menatap serius wajah putranya yang kini terlihat marah. Dia kaku berkata dalam hati, "Maafkan aku Xing, aku melakukan semua ini untukmu. Bersabarlah sebentar, aku akan menyingkirkan orang-orang berbahaya yang ingin merebut tahta darimu."
Kaisar Han Ze Ti langsung berbalik dan berjalan menjauh dari tempat itu. Beberapa kali Han Ze Xing memanggil, namun pria itu tetap berjalan hingga suara putranya tak lagi terdengar.
Langit mulai gelap. Matahari yang bersinar telah berganti bulan dan bintang. Dua orang prajurit mengetuk pintu kamar Han Ze Xing.
"Ada apa kalian malam-malam ke sini?" tanya Han Ze Xing.
"Kami di tugaskan untuk memindahkan kamar Yang Mulia ke Istana Dingin." jawab seorang pria yang bernama Yi Hang.
"Aku tidak akan ke mana-mana karena ini adalah kamarku!" ucap Han Ze Xing dengan wajah yang kesal dan marah.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1