
Karena Han Ze Xing tidak mau dipindahkan secara baik-baik, kedua prajurit itu pun memakai kekerasan. Seperti yang sudah diperintahkan olah Kaisar Han Ze Ti kepada mereka berdua sebelum mendatangi Putra Mahkota.
"Apa yang kalian lakukan?" bentak Han Ze Xing ketika kedua pria itu menarik paksa dirinya.
Tanpa menghiraukan pertanyaan dari Han Ze Xing, mereka mengangkat tubuh besarnya menyusuri jalan menuju ke Istana Dingin. Setibanya di sana, baru tubuh Han Ze Xing dilepaskan.
"Kalian benar-benar kurang ajar ya! Beraninya kalian menyentuhku tanpa izin!" hardik Han Ze Xing.
"Maafkan kami Yang Mulia, kami hanya menjalankan perintah dari Yang Mulia Kaisar."
Mendengar alasan pria tersebut, membuat Han Ze Xing kehilangan kata-kata. Tak lama setelah itu, Zhou Yi Thing ikut mendatangi Istana Dingin. Han Ze Xing yang terkejut melihat wanita kesayangannya di sana pun akhirnya bertanya, "Kenapa kau ikut datang ke tempat ini?"
"Aku ingin menemanimu di sini." jawab Zhou Yi Thing dengan senyuman di wajah.
Han Ze Xing merasa terharu setelah mendengarkan jawaban dari istrinya, "Dia rela menderita hanya demi bersama dengan ku." benak Han Ze Xing.
Han Ze Xing memeluk tubuh istrinya, dengan sangat lembut dia berkata, "Aku sungguh beruntung bisa mengenal dan mendapat cinta darimu."
Zhou Yi Thing merasa bahagia dalam hati, karena kata kata yang begitu tulus yang pernah dia dengar dari suaminya yang seorang Putra Mahkota. "Saya juga bersyukur memiliki cinta anda, Xing."
"Tapi kau tidak boleh berada di sini, tempat ini sangat kotor dan tidak kayak bagimu. Kembalilah ke Istana Matahari, aku hanya dikurung beberapa hari saja di sini." Han Ze Xing mencoba melarang Zhou Yi Thing untuk ikut menderita bersamanya.
Namun wanita itu kekeh pada pendiriannya, "Aku ingin tetap di sini bersamamu. Tolong izinkan aku, Xing!"
Melihat wajah yang tersenyum namun memelas di depan, hati Han Ze Xing merasa tidak tega untuk menolak. Dia pun mengangguk menyetujui permintaan dari Zhou Yi Thing.
Awalnya, Han Ze Xing tidak mengira jika semua ini sudah di rencanakan oleh Menteri yang licik itu. Dia berpikir jika hanya terkurung di Istana Dingin tidak akan menjadi masalah besar baginya dan Zhou Yi Thing.
Salah besar jika Han Ze Xing mengira ini hanya kurungan biasa, sebab setelah sehari berlalu, tidak ada makanan ataupun minuman yang di antarkan ke kamar tempatnya berada.
Dengan perut yang keroncongan, Han Ze Xing mengetuk pintu kamar dari dalam. "Kalian yang ada di luar!"
"Ada apa Yang Mulia?" tanya salah satu pria yang berjaga di depan pintu.
"Bawakan makanan dan minuman ke sini!" Han Ze Xing tanpa ragu memeringah kedua pria tersebut karena dia tidak mengetahui jika mereka adalah mata-mata yang dikirimkan oleh Menteri Gu Yong Ju.
"Maaf, kami hanya bertugas menjaga di pintu." Pria itu pun berpaling, menghadap wajahnya ke arah berlawanan dari tempat Han Ze Xing.
"Kapan kalian akan menyediakan makanan dan minuman? Sudah seharian ini aku belum makan apa-apa!" suara Han Ze Xing pun semakin meninggi, mengeluarkan kekesalan dan emosinya.
Kedua pria yang berjaga di depan pintu bergeming, tak bergerak sedikitpun. Mereka tidak menghiraukan jeritan dari Han Ze Xing, seolah telinga mereka sudah tak lagi berfungsi.
Han Ze Xing semakin marah, sebab rasa lapar memicu darah tingginya. Apalagi ketika dia mengingat bahwa istrinya, Zhou Yi Thing juga masih belum makan apa-apa sejak malam tadi. Rasanya dia akan segera menerobos keluar untuk mengambil sendiri makanan dari dapur, jika saja kedua pria di depan tidak mengunci pintu kamar.
"Kalian tuli ya?" bentak Han Ze Xing lagi setelah melihat keduanya masih bergeming.
Suara bentakan Han Ze Xing membuat perasaan Zhou Yi Thing memburuk. Wanita itu mendatangi suaminya, dia lalu berkata dengan suara pelan, "Xing, mereka tidak akan menghiraukan kita meskipun kita berteriak hingga suara kita hilang. Sebaiknya kita menghemat energi dan tenaga saja, tunggu hingga Yang Mulia Kaisar membebaskan kita dari sini.
__ADS_1
Wajah marah Han Ze Xing berubah lembut dalam sekejap begitu melihat senyuman dari Zhou Yi Thing."Maaf membuatmu harus ikut menderita bersamaku di sini. Maafkan aku!" Pelukan kasih sayang dari Zhou Yi Thing membuat Han Ze Xing sedikit tenang.
"Kenapa Ayah melakukan ini? Aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa beliau harus mendengarkan kata-kata hasutan dari kedua Menteri busuk itu dan malah hendak menjatuhkan kekuasaan Paman." Han Ze Xing pun berkeluh kesah di depan istrinya sambil memeluk manja tubuh ramping di depannya.
"Kita tidak akan bisa mengerti semua isi hati manusia. Meskioun mereka adalah keluarga dekat kita sendiri." Zhou Yi Thing sangat mengerti akan hal ini, sebab dirinya juga memiliki seorang Ayah yang tidak sepemikiran dengannya.
"Bagaimana cara untuk menyelamatkan mereka berdua?" tanya Han Ze Xing ketika dia hanya ingin memberitahukan keresahan di hatinya.
Namun Zhou Yi Thing malah menjawab dengan kata-kata yang membuat Han Ze Xing menyadari sesuatu, "Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyelamtkan keduanya. Karena hingga salah satu mati, mereka tidak akan berhenti."
Menyadari fakta itu, membuat Han Ze Xing semakin resah. Dia mencintai kedua pria itu, yang satu adalah Ayah dan satunya lagi adalah Paman. Dia tidak ingin kehilangan siapapun dalam perang dingin yang diciptakan oleh Ayahnya.
Tapi apa yang bisa dilakukan olehnya? Dia bahkan terkurung dengan menyedihkan. Makanan dan minuman saja tidak bisa dia dapatkan. Apa lagi yang harus diperbuat selain menunggu dan berharap jika semuanya akan baik baik saja.
Han Ze Xing menghela napas panjang, dia lalu memejamkan mata. Merenungkan betapa bahagia hari-hari yang telah dia lalui bersama Pamannya meskipun kadang wajah Pamannya terlihat dingin dan menyeramkan.
"Paman, aku harap semuanya akan baik baik saja. Aku harap Ayah akan mengubah pemikirannya terhadap diri Paman." gumam Han Ze Xing pelan yang masih terdengar di telinga Zhou Yi Thing.
"Yang Mulia Raja Wei akan baik baik saja. Aku sangat yakin beliau akan diberkati dengan kebahagiaan, sebab dia memiliki seorang wanita yang luar biasa di sampingnya."
Zhou Yu Thing sangat menyukai Huang Se Se, dia sangat berterima kasih terhadap wanita yang telah berkali kali menolongnya. Berkat wanita itu juga, dia mendapatkan kebahagiaan yang terasa jauh di depan mata.
Melalui hari hari terpuruk di sana, hanya Huang Se Se yang selalu membuatnya bersemangat. Dia selalu memberikan nasehat dan motivasi untuk hidup kepada Zhou Yi Thing. "Bagiku, beliau seperti sosok seorang malaikat. Sosok yang datang kepadaku dan memberikan sinar terang saat kegelapan mengisi hati dan jiwaku."
Zhou Yi Thing menatap Han Ze Xing, suami yang menerimanya dengan apa adanya dirinya. Meskipun pernah ternoda dan tak layak lagi untuk dia yang seorang Putra Mahkota, Han Ze Xing tidak pernah sekalipun meremehkan dan menghina tubuh Zhou Yi Thing yang sudah ternoda.
Rasa cinta yang ditunjukkan oleh Han Ze Xing tidak hanya sebatas kewajiban seorang suami ke istri. Zhou Yi Thing merasakan cinta dari Han Ze Xing yang sangat tulus dari dalam hati, yang bahkan membuat dirinya takut. Takut jika suatu hari nanti dia harus kehilangan cinta itu karena masa lalunya yang kelam dan menjijikkan.
Hari pun berganti, namun penantian mereka hanya di tanggapi dengan pemberian secangkir teh hambar yang lebih mirip air putih. Tanpa makanan, secangkir teh hambar itu tidaklah mungkin cukup untuk mengisi perut kosong yang sudah kelaparan. Apalagi untuk dua orang, secangkir teh itu mungkin hanya bisa membasahi tenggorokan mereka.
Han Ze Xing mengerutkan kening, dia tidak apa jika dirinya yang kelaparan. Namun saat ini masih ada Zhou Yi Thing yang ikut kelaparan bersamanya.
Dengan tenaga yang tersisa, pria itu mendobrak pintu kamar. Satu kali, gagal. Dua kali, gagal. Ketiga kalinya, tangan Zhou Yi Thing menghadang di depan pintu. "Jangan diteruskan, jangan melakukan hal yang sia-sia."
Dengan mata yang berkaca-kaca, wanita itu memeluk tubuh suaminya yang kesakitan. Benturan keras pada pintu kayu membuat beberapa bagian tulangnya terasa nyeri.
"Maafkan aku, maaf sudah membuatmu menderita!" ucap Han Ze Xing yang mulai mengeluarkan air mata.
"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Sungguh aku baik-baik saja karena ada kamu di sini." ucap Zhou Yi Thing dengan senyum yang tulus.
Hati Han Ze Xing semakin sakit mendengar kata-kata dari Zhou Yi Thing. Dia merasa dirinya sangat tidak berguna, melindungi istrinya saja dia tidak becus.
"Yi Thing, jika aku hanya orang biasa. Jika aku hanya rakyat jelata. Apakah kau masih mau menjadi istriku?" tanya Han Ze Xing yang mulai merasa jika dirinya tidaklah layak mendapatkan tahta.
"Aku akan selalu bahagia menjadi istrimu. Apapun gelar dan kedudukanmu, itu tidaklah penting. Karena yang aku cintai adalah seorang pria baik hati yang sangat mencintai ku." jawab Zhou Yi Thing setelah melepas pelukan mereka.
Dia menatap kedua bola mata suaminya, perlahan dia mendekatkan wajah mereka. Han Ze Xing melihat bibir merah istrinya, dia langsung terpancing untuk mencicipi bibir itu.
__ADS_1
Han Ze Xing mengambil cangkir teh, dia meneguk semua isinya. Bibirnya lalu menutupi semua bibir merah Zhou Yi Thing. Teh yang ada di dalam sana dia alirkan ke dalam bibir istrinya yang terasa sedikit kering karena kekurangan air.
Setelah semua cairan itu berpindah, Han Ze Xing tersenyum puas karena telah berhasil membuat istrinya menelan semua cairan itu tanpa sisa.
"Kenapa kau memberikan semua teh itu untukku?" Zhou Yi Thing kini mengetahui alasan ciuman yang mendadak itu. Dia menyadari jika Han Ze Xing sengaja melakukannya untuk membuat Zhou Yi Thing menghabiskan teh yang mereka punya.
"Kau lebih memerlukan teh itu dari pada aku. Yang aku perlukan hanya ini." jawab Han Ze Xing yang lalu kembali melekatkan bibir mereka. Ciuman yang halus dan lembut, lalu perlahan menjadi liar dan memanas.
"Kau ini, sudah kelaparan saja masih berniat berolah raga!" Ocehan Zhou Yi Thing membuat Han Ze Xing semakin bersemangat untuk menggodanya. Laki-laki itu lalu menjawab, "Karena aku kelaparan maka aku memerlukan sesuatu untuk di makan!"
"Jangan!" Zhou Yi Thing menolak, dia tidak ingin Han Ze Xing melakukan hal itu.
"Kenapa?" tanya Han Ze Xing dengan raut wajah yang kecewa.
Zhou Yi Thing memundurkan wajahnya, dia lalu berkata, "Karena aku belum mandi dua hari ini. Aku tidak mau Xing mencium bau tubuhku!"
"Hahaha..." Han Ze Xing tertawa geli mendengar alasan dari istrinya. Dia lalu mendekatkan kembali wajah mereka, "Aku menyukai baumu!" bisiknya ke telinga Zhou Yi Thing yang membuat tubuh wanita itu merinding.
"Tapi aku tidak mau Xing nanti jadi jijik terhadap bau tubuhku!" Zhou Yi Thing kembali menjauh, namun kali ini Han Ze Xing dengan cepat menarik lengannya hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya.
"Sudah ku bilang, aku menyukai baumu! Kau itu sudah seperti candu! jika sehari saja tidak memelukmu, rasanya ada sesuatu yang menyesakkan di dada ini." Han Ze Xing mengeratkan pelukannya, dia sungguh mencintai wanita dalam pelukan hangatnya itu.
"Xing, kau pasti memiliki banyak wanita dulunya!" ucap Zhou Yi Thing dengan perasaan kesal.
"Itu tidak benar, aku hanya memiliki satu wanita dalam hidupku. Wanita itu adalah kamu!" jawab Han Ze Xing yang membuat senyum bahagia terlihat di wajah Zhou Yi Thing.
"Jadi, bolehkah aku memintanya?" tanya Han Ze Xing yang berharap mendapatkan izin.
Zhou Yi Thing terdiam sesaat, "Bagaimana kalau tubuhku ini sangat bau? Sudah dua hari aku tidak membersihkan diri. Apalagi kemarin aku banyak berkeringat saat mengejar langkah kaki prajurit yang membawa Xing kemari."
Melihat wajah Zhou Yi Thing yang dipenuhi banyak kekhawatiran, Han Ze Xing langsung saja melancarkan aksinya untuk menikmati tubuh mulus istrinya. Dia menarik pelan tali pengikat pakaian di tubuh Zhou Yi Thing, helaian kain itu pun segera terlepas dan terjatuh ke lantai.
Zhou Yi Thing terperanjat, namun tidak ada lagi yang bisa dia lakukan sebab tubuh polosnya sudah langsung di terkam oleh Han Ze Xing.
Tubuh Zhou Yi Thing dipindahkan ke atas ranjang, Han Ze Xing terdiam sejenak saat menatap tubuh polos itu dari atas. "Kau sangat cantik, istriku! Aku mencintaimu!" bisiknya ketika bibirnya bertemu dengan daun telinga yang putih mulus milik Zhou Yi Thing.
"Aku juga mencintaimu, Xing!" balas Zhou Yi Thing dengan senyum yang menggoda. Senyum yang membuat Han Ze Zing semakin yakin jika dirinya telah diberi izin.
Malam kedua di Istana Dingin menjadi malam panas bagi kedua pasangan itu. Tidak lagi terasa hawa dingin, hanya ada jiwa dan tubuh yang kepanasan karena olah raga intens yang mereka lakukan hingga pagi menjelang.
"Tok Tok Tok!"
Seseorang mengetuk pintu kamar. Tanpa jawaban, seorang pelayan membuka pintu lalu meletakkan secangkir teh di atas meja. Jangan berpikir jika itu adalah teh hangat yang bisa menenangkan pikiran, sebab itu hanya secangkir teh dingin yang entah sisa dari punya siapa.
Han Xe Zing menghela napas pelan dan panjang begitu melihat cangkir teh yang berada di atas meja. "Lagi-lagi hanya secangkir teh!" keluhnya dalam hati.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1