
"Berhentilah menggodaku! Efek obatnya jadi semakin cepat!" ucap Se Se dengan wajah cemberut.
Raja Wei membawa Se Se ke tempat pemandian di dalam kediamannya, dia menemani gadis itu berendam di dalam air dingin, dia berharap air dingin bisa mengurangi efek obat.
Raja Wei menggendong gadis itu dalam pelukannya selama beberapa jam di dalam air. Raja Wei memandang wajah cantik gadis itu di bawah sinar rembulan, perlahan pandangannya turun ke tubuh gadis itu.
"Gadis kecilku semakin hari semakin cantik, rasanya ingin ku lahap sekarang juga. Namun jika aku melakukan hal itu, dia pasti akan membenciku." batin Raja Wei.
"Jangan menatapku seperti itu! Aku akan mencongkel matamu bila melihat hal yang tidak seharusnya kamu lihat!" ucap gadis itu saat melihat Raja Wei menatap tubuhnya dengan mata penuh hasrat.
Raja Wei tersenyum lebar dan mengecup kening gadis itu.
"Aku akan menahannya demi dirimu." batin Raja Wei.
Beberapa jam kemudian gadis itu tertidur, Raja Wei membawanya ke kamar dan mengganti pakaian Se Se.
Pemuda itu menelan air liur beberapa kali, 'adik kecilnya' mulai memberontak ingin keluar dari benda yang mengurungnya.
"Tidak, tidak boleh! Aku sudah berjanji akan melindunginya, aku tidak boleh menyakitinya." batin Raja Wei.
Raja Wei mengobati luka yang ada di tangan gadis itu, dia melakukan semua itu dengan perlahan agar gadis kecilnya tidak terbangun.
Setelah selesai merawat Se Se, pemuda itu kembali ke ruang kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
"Yang Mulia, ada pergerakan dari pasukan pemberontak di daerah kumuh. Apakah kita perlu menangkap orang-orang itu?" ucap Yu.
Raja Wei berpikir sebentar, dia menjawab, "Tidak perlu, selidiki saja mereka diam-diam seperti biasa. Cari dalang di belakang pemberontakan ini!" perintah Raja Wei.
"Baik Yang Mulia. Saya pamit undur diri." ucap Yu kemudian keluar dari ruangan itu.
Waktu sudah berjalan sekitar 3 jam, Matahari mulai menampakkan dirinya di langit. Raja Wei berhenti membaca dokumen-dokumen yang ada di meja.
"Apa dia sudah bangun?" batin Raja Wei.
Raja Wei kembali ke kamar, dia melihat gadis itu masih tertidur. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap lekat wajah gadis kecilnya. Dia melihat air mata menggenang di sepasang mata gadis itu.
"Kenapa kamu selalu menangis saat tertidur? Apa yang kamu mimpikan? ingin rasanya aku masuk ke dalam mimpimu, aku harap bisa menghapus kenangan buruk itu." batin Raja Wei.
Raja Wei menghapus air mata yang ada di wajah gadis itu, tangannya terhenti saat mendengar nama yang disebut oleh bibir merah itu.
__ADS_1
"Mike..." ngigau gadis itu.
"Mike?" gumam Raja Wei mengulangi nama yang di sebut oleh Se Se.
"Apakah ada orang lain di hatimu? Apakah dia orang yang selalu membuatmu menangis saat tidur? Hatiku terasa sakit jika memikirkan hal itu." batin Raja Wei.
Se Se membuka matanya, dia menatap Raja Wei yang saat ini sedang memasang wajah dinginnya.
"Ada apa dengan pria ini? Kenapa wajahnya seperti itu di pagi hari?" batin Se Se.
"Selamat pagi...." ucap Se Se memberi salam.
"...."
"Kenapa Anda tidak menjawabku? Yang Mulia..." tanya gadis itu dengan suara centil yang dibuat-buat.
"Mike, siapa orang itu?" tanya Raja Wei ketus.
"Deg!"
Suara jantung yang melompat kaget karena mendengar nama yang di sebut oleh Raja Wei.
"Dari mana dia mendengar nama itu? Apakah aku menyebut nama itu saat tertidur?" batin Se Se.
"Haruskah aku menjawabnya dengan jujur?" batin Se Se.
"Di...dia... pria yang kukenal sebelum mengenal anda Yang Mulia." jawab gadis itu dengan ragu.
"Dimana dia sekarang? apa hubungan pria itu denganmu?" tanya Raja Wei sambil menahan emosinya.
"Saya... "
Se Se tidak bisa melanjutkan perkataannya, dia tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada pemuda di hadapannya.
"Apakah dia sangat penting bagimu? dia yang selalu berada di dalam mimpimu?" tanya Raja Wei dengan perasaan kecewa.
Se Se menundukkan kepalanya, air matanya mulai mengalir membasahi kedua pipinya. Dia menjawab pertanyaan itu sambil mengenang masa lalunya.
"Tidak seperti itu Yang Mulia, dia hanya masa lalu saya yang tidak bisa saya ceritakan."
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu menangis? Apakah kamu masih mencintai orang itu?" bentak Raja Wei yang semakin marah melihat air mata Se Se.
"Saya... " Se Se berhenti berkata. Dia kemudian menangis keras, mengeluarkan emosi yang sudah lama dipendam dalam hatinya.
"hiks hiks... hiks hiks...."
Raja Wei panik melihat gadis di depannya menangis histeris seperti itu. Baru pertama kali dia melihat gadis kecilnya menangis dengan keras tanpa peduli ada orang lain di sampingnya.
Raja Wei memeluknya dan membenamkan kepala gadis itu di dadanya.
"Maafkan aku, berhentilah menangis! Jika kamu tidak ingin mengatakannya, aku tidak akan memaksamu." ucap Raja Wei sambil mengelus lembut kepala gadis itu.
KEDIAMAN HUANG
Perdana Menteri Huang menyuruh seorang pelayan untuk memanggil kedua putrinya. Ye Yuan dan Nyonya Xin juga hadir di ruangan itu.
"Kalian benar-benar membuat malu nama keluarga! Apa yang harus aku lakukan pada kalian berdua? Kejadian memalukan itu akan terus tersebar hingga ke negara lain." ucap Tuan Huang.
"Ayah, kami dijebak oleh jalang itu! Ayah harus memberi keadilan kepada kami!" ucap Lin Wan sambil menangis.
"Berhenti menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kalian lakukan!" ketus Ye Yuan yang tidak senang adiknya dituduh.
"Kakak, kenapa kakak selalu membela jalang itu? Kami juga adalah adikmu!" bentak Min Wan.
Nyonya Xin berlutut, dia memulai akting lebaynya dengan menangis histeris dan berkata, "Suamiku, kamu harus menegakkan keadilan untuk kedua putri kita. Masa depan mereka sudah hancur.
"Mereka tidak akan bisa menikah di keluarga terhormat lagi karena gadis jalang itu. Suamiku, kamu harus menghukumnya!"
Ye Yuan tidak tahan lagi mendengar mereka menjelekkan adiknya.
"Diam! Aku tidak ingin mendengar kalian menyebutnya dengan kata 'jalang'. Kalian benar-benar tidak tahu malu! Aku sudah menyelidiki hal ini, kalian lah yang berencana untuk menjebak Se Se!
"Kalian yang telah membayar orang-orang itu dan membiarkan mereka masuk ke dalam kediaman." ucap Ye Yuan dengan mengepalkan tangan, menahan amarah di hatinya.
Perdana Menteri Huang terkejut mendengar hal itu, dia tidak menyangka wanita yang dinikahinya bisa berwatak buruk seperti itu. Bahkan mencoba mencelakai putrinya.
"Benarkah yang dikatakan Ye Yuan? Benarkah kalian berencana untuk menghancurkan hidup Se Se?" tanya Tuan Huang dengan nada membentak.
"Tidak, itu tidak benar. Orang-orang itu sudah berbohong, aku tidak mengenal mereka. Gadis jalang itu ... " ucapan Nyonya Xin terhenti
__ADS_1
"Plakkk!"
^^^BERSAMBUNG...^^^