
Pangeran Andrew menjenguk Mariane yang masih menolak untuk keluar dari kamar. Pria itu membawa beberapa set perhiasan yang di susun rapi dalam sebuah kotak kayu.
"Rian, aku membelikan hadiah untuk mu." ucap Pangeran Andrew.
"Rian? Benar... Dulu anda selalu memanggilku dengan nama itu." ucap Mariane.
"Rian, maafkan aku atas perbuatanku selama ini." ucap Pangeran Andrew.
"....."
Mariane tampak tidak ingin berbicara lagi dengan pria itu, dia menutup mulutnya rapat-rapat hingga Pangeran Andrew keluar dari kamarnya.
"Dia masih marah padaku, aku harus berusaha lebih keras agar Rian memaafkan semua kesalahanku kepadanya." pikir Pangeran Andrew.
Malam semakin gelap karena bulan tertutup awan. Pangeran Andrew berjalan ke arah kamar Putri Kimberly untuk meminta saran darinya.
Lorong istana yang panjang membuat Pangeran Andrew berjalan lebih lama sebelum tiba di kamar adiknya itu. Seorang kasim menghampir Pangeran Andrew ketika ia melihat pria itu.
"Hamba memberi hormat kepada Pangeran." ucap kasim sambil berlutut.
"Bangunlah!" perintah Pangeran Andrew sebelum melanjutkan langkah kakinya.
Kasim melirik ke arah Pangeran Andrew, diam-diam ia mengeluarkan sesuatu dari balik lengan bajunya.
Sementara itu Pangeran Arnold yang berdiri tidak jauh dari tempat Pangeran Andrew juga mendatangi kakaknya. Dia menyadari sikap mencurigakan dari kasim yang berada di belakang Pangeran Andrew, dengan cepat pria itu berlari menghampiri kakaknya.
Benar saja kecurigaan Pangeran Arnold, kasim itu mengeluarkan sebuah pisau kecil kemudian menyerang Pangeran Andrew dari belakang.
Pangeran Arnold menghalangi pisau yang mengarah ke punggung kakaknya, kipas yang selalu dia bawa ternyata merupakan senjata yang Pangeran Arnold siapkan untuk berjaga-jaga.
Pisau tersangkut di antara jari-jari kipas, Pangeran Arnold menendang keras perut kasim hingga terpental ke dinding lorong.
Suara keributan itu mengundang kedatangan prajurit yang berpatroli di dalam istana, kasim itu segera di amankan oleh salah satu prajurit yang datang lebih dulu.
"Maafkan atas keteledoran kami!" ucap kepala prajurit ketika mengetahui Pangeran Andrew dan Pangeran Arnold menjadi korban penyerangan kasim yang menyusup.
Kedua Pangeran hanya diam saja memperhatikan prajurit menyeret kasim gadungan itu. Tentu muncul kecurigaan terhadap Kaisar Han yang mungkin menjadi pelaku. Namun kecurigaan itu hilang begitu saja saat Pangeran Arnold menatap mata seorang pria yang bersembunyi di balik pohon.
"Yohanes!" geramnya dalam hati.
Pangeran Arnold menemani Pangeran Andrew hingga tiba di kamar Putri Kimberly, mereka duduk bertiga di dalam kamar Putri Kimberly ditemani secangkir teh dan makanan manis yang di siapkan oleh pelayan.
"Yohanes!" ucap Pangeran Arnold begitu pelayan keluar dan menutup pintu kamar.
"Kenapa Kakak menyebut nama Kak Yohanes?" tanya Putri Kimberly.
__ADS_1
"Dia yang menyuruh kasim gadungan itu untuk menyerang Kak Andrew." jawab Pangeran Arnold secara blak-blakkan.
"Kakak diserang?" teriak Putri Kimberly saking kagetnya.
"Iya, aku di serang dalam perjalanan kemari." jawab Pangeran Andrew.
"Apakah Kakak terluka?" tanya Putri Kimberly dengan raut wajah cemas dan khawatir.
"Tidak, aku baik-baik saja berkat Arnold." jawab Pangeran Andrew.
"Kenapa Kak Yohanes yang menjadi tersangka dibalik penyerangan ini?" tanya Putri Kimberly.
"Karena aku melihatnya tadi!" jawab Pangeran Arnold.
"Kau melihatnya? Kamu yakin yang kamu lihat itu adalah Yohanes?" tanya Pangeran Andrew memastikan ucapan Pangeran Arnold.
"Ya, dia berada di dekat sana dan menyaksikan semuanya." jawab Pangeran Arnold yakin.
"Tapi itu tidak membuktikan jika Kak Yohanes yang telah menyusuh kasim itu!" ucap Putri Kimberly.
"Walaupun bukan dia yang menyuruh, kenapa dia hanya berdiri disana tanpa melakukan apa-apa padahal dia melihat semuanya!" geram Pangeran Arnold.
"Selama ini aku selalu menyalahkan Arnold yang bersikap tidak sopan dan selalu menyudutkan ku. Ternyata dia lah orang yang benar-benar peduli padaku. Apakah selama ini aku telah salah menilainya?" benak Pangeran Andrew.
"Jadi... Apa tujuan kalian berdua datang ke kamar ku malam-malam begini?" tanya Putri Kimberly.
Pangeran Arnold menatap Kakaknya, Putri Kimberly yang melihat itu pun mengikuti tatapan Pangeran Arnold. Tatapan dari kedua adiknya itu membuat Pangeran Andrew salah tingkah.
"Sebenarnya begini... Aku ingin minta saran dari Kimberly. Aku ingin berbaikan dan minta maaf kepada Mariane, aku mengirim hadiah untuknya setiap hari tapi Mariane masih tidak ingin berbicara kepadaku. Apa yang sebaiknya aku lakukan agar dia mau memaafkan kesalahanku?" ucap Pangeran Andrew.
"Kakak ini sangat egois ya!" bentak putri Kimberly.
Pangeran Andrew terkejut melihat adiknya yang sangat jarang marah kini membentak dirinya.
"Kakak tau sudah berapa banyak kesalahan yang Kakak lakukan kepada Kak Mariane? Seharusnya Kakak meminta maaf dengan berlutut di depan Kak Mariane, bukan mengirimkan hadiah yang tidak berguna itu!" ucap Putri Kimberly dengan wajah kesal.
Pangeran Andrew memijit keningnya yang tidak terasa sakit, dia memikirkan kembali kata-kata Putri Kimberly.
Pangeran Arnold menatap Kakaknya yang sudah mulai kembali seperti dulu, dia merasa aneh karena perubahan sikap Pangeran Andrew yang terlalu besar.
"Apa sebenarnya yang Kak Yohanes lakukan kepada Kak Andrew? Bagaimana cara dia mencuci otak Kak Andrew yang polos dan baik hati menajdi seperti iblis?" benak Pangeran Arnold.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Penjara Bawah Tanah - Istana
__ADS_1
Kasim gadungan yang masuk ke istana untuk membunuh Pangeran andrew di ikat sebuah tiang kayu, tubuhnya penuh luka cambuk dan penyiksaan lain. Meskipun sudah di siksa sedemikian rupa, laki-laki itu tetap bungkam.
Penjaga penjara kembali menyiksa laki-laki itu dengan campuk berduri, sesekali penjaga itu bertanya kepadanya, "Siapa orang yang memerintahkan kamu untuk membunuh Pangeran Andrew? Siapa Tuan mu?"
Berulang kali penjaga itu bertanya sambil terus menyiksa laki-laki itu, tapi dia tetap diam membisu. Dia menolak untuk memberitahukan siapa Tuannya.
Karena penyiksaan yang terus menerus, laki-laki itu akhirnya pingsan tak sadarkan diri. Darah menetes keluar dari kulitnya yang terbuka karena cambuk berduri.
Kepala prajurit istana tiba disana, ia meminta kepada penjaga untuk membangunkan laki-laki itu dengan segala cara. Penjaga permisi keluar sebentar, dia kembali dengan membawa air dingin dari sumur.
"Byurrr!"
Laki-laki itu kembali sadar setelah di guyur dengan air dingin yang dibawa oleh penjaga.
"Siapa nama mu?" tanya Kepala Prajurit yang Li Yao.
"...."
"Kenapa kau menyerang Pangeran Andrew?" tanya Li Yao lagi.
"...."
Kasim gadungan itu masih tetap membisu.
"Siapa Tuan mu?"
"...."
Kali ini pun, laki-laki itu tetap diam, raut wajahnya tidak terlihat ekspresi apapun. Meskipun luka-luka di tubuhnya sudah hampir menghiasi seluruh permukaan kulitnya, ia tidak menunjukkan wajah takut ataupun sakit.
"Pria ini seperti batu!" Tidak merasakan emosi dan tidak ada rasa sakit." pikir Li Yao.
"Lepaskan saja dia!" perintah Li Yao kepada penjaga.
"Apa?" tanya penjaga seolah ada masalah dengan pendengarannya.
"Lepaskan pria ini dan buang dia ke luar istana!" perintah Li Yao.
"Tapi...!" penjaga hendak menyela namun dia terdiam ketika menatap mata dingin Li yao yang seolah berkata "Diam dan turuti saja perintahku!"
Penjaga penjara segera melaksanakan perintah dari Li Yao. Dia melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki kasim gadungan kemudian menyeret tubuh laki-laki itu keluar.
Tubuh laki-laki itu di lempar begitu saja begitu mereka sampai di depan pintu gerbang istana. Li Yao mengikuti pergerakan penjaga, namun ia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian rakyat jelata.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1