The Princess Story

The Princess Story
Ep 209. Phoenix


__ADS_3

"Saya akan mencari keberadaan wanita itu, Tolong hentikan peperangan ini! jika perang terjadi, kedua negara akan mengalami kerugian besar." ucap Raja Wei.


"Saya tidak bisa berjanji apapun kepada anda. Meskipun saya ingin menghalangi perang ini, semua keputusan akan berada di tangan Ming Luo Xi saat dia menggantikan saya untuk memimpin negara." jawab Kaisar Ming.


"Yang Mulia, sudah saatnya kita kembali, langit sudah mulai terang." ucap Yu.


"Siapkan kereta kuda, minta Ti Yi dan dua anggota untuk melindungi Kaisar Ming. Sisanya ikut kembali ke Kerajaan Han!" perintah Raja Wei.


"Tunggu sebentar, bawa lah ini bersama mu! Jika dalam keadaan terdesak, gunakan giok ini untuk memberi perintah mundur kepada pasukan negara Ming." ucap Kaisar Ming sambil menyerahkan sebuah giok bertuliskan "Ming".


"Giok apa ini?" tanya Raja Wei.


"Itu adalah tanda perintah langsung Kaisar. Siapapun yang melihat nya berarti melihat Kaisar. Mereka akan menghormati mu layaknya menghormati Kaisar negara ini." jawab Kaisar Ming.


"Kenapa anda menyerahkan barang sepenting ini kepada saya?" tanya Raja Wei.


"Karena aku melihat ketulusan di wajah mu. Saya sangat yakin jika kamu adalah orang yang bisa di percaya." jawab Kaisar Ming.


"Terima kasih, saya akan menggunakan nya jika perlu." ucap Raja Wei sambil memberi hormat.


Raja Wei keluar dari ruangan, dia naik ke kereta kuda bersama Yu, anggota pasukan lainnya mengikuti jalan kereta dengan kuda masing masing.


"Yang Mulia, apakah kita bisa menemukan wanita yang di cari oleh Pangeran Ming Luo Xi?" tanya Yu.


"Entahlah, setidaknya kita harus mencoba terlebih dulu. Hanya wanita itu yang bisa menghentikan perang kali ini." ucap Raja Wei.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


KEDIAMAN RAJA WEI


Lima hari telah berlalu, Se Se masih belum sadarkan diri selama lima hati itu. Ti Liu terus berjaga di samping Se Se, dalam beberapa waktu dia akan mengeringkan keringat di kening Se Se dan memberinya minum agar tidak dehidrasi.


Ratusan dokter telah bergantian memeriksa keadaan Se Se namun tidak ada yang bisa menyembuhkan penyakit aneh yang di derita oleh nya. Karena sebenarnya itu bukan lah penyakit, tapi jiwa nya terperangkap di dalam dimensi lain.


"Apakah pesan kita belum sampai ke Yang Mulia? Kenapa Yang Mulia belum kembali juga? Padahal keadaan Permaisuri sangat menghawatirkan." ucap salah satu pelayan.


"Diam lah dan jangan banyak bicara. Ti Liu kelihatan seperti akan membunuh orang saat ini, jangan membuat keributan!" ucap pelayan yang lain.

__ADS_1


Ti Liu duduk di lantai samping tempat tidur, dia mengelap keringat yang terus keluar dari kening Permaisuri padahal saat ini masih musim dingin.


"Permaisuri, apa yang terjadi dengan anda? Kenapa anda belum bangun juga?" ucap Ti Liu.


"Maaf telah membuat kamu repot harus mengurus ku selama beberapa hari ini." ucap Se Se sambil menatap wajah Ti Liu.


"Per ... Permaisuri ...!" ucap Ti Liu dengan wajah terkejut.


"Ya, aku di sini." jawab Se Se.


"Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Ti Liu sambil mencubit lengan nya.


"Apakah kamu berharap ini hanya mimpi?" tanya Se Se.


"Tentu saja tidak, saya sangat senang Permaisuri sudah sadar." jawab Ti Liu.


"Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Se Se.


"Ini adalah hari kelima." jawab Ti Liu.


"Yang Mulia pergi ke Kerajaan Ming lima hari yang lalu, tepat di hari Permaisuri tidak sadarkan diri. Beliau masih belum kembali." jawab Ti Liu.


"Terima kasih sudah menjaga ku selama beberapa hari ini. Istirahatlah, wajah mu terlihat sangat lelah." ucap Se Se.


"Saya baik baik saja, saya akan di sini menemani Permaisuri hingga Yang Mulia kembali." ucap Ti Liu.


"Tidak perlu, kembali lah ke kamar mu dan tidur lah. Kamu pasti tidak tidur selama lima hari ini kan?" ucap Se Se.


" ... "


Ti Liu menatap Se Se tanpa menjawab pertanyaan dari nya, dia merasa takut harus pergi dari kamar itu. Dia merasa gelisah jika tiba tiba saja gadis itu akan tertidur panjang lagi tanpa sebab.


"Liu, apa sekarang kamu tidak akan mematuhi perintah dari ku?" tanya Se Se.


"Maafkan aaya Permaisuri, saya hanya merasa tidak tenang jika meninggalkan anda sendirian." jawab Ti Liu.


"Aku sudah baik baik saja sekarang, jangan khawatir dan kembalilah ke kamar mu." ucap Se Se.

__ADS_1


"Baik Permaisuri." jawab Ti Liu dengan perasaan enggan.


Kini di ruangan itu hanya ada Se Se, dia memikirkan kembali apa yang baru saja dia alami beberapa hari ini.


Saat cermin itu pecah menjadi beling yang berantakan di lantai, cahaya dari pecahan cermin membuat ruangan itu menjadi terang.


Dinding ruangan itu penuh dengan lukisan gadis yang sedang menari. Di sela sela lukisan terdapat gambar seekor burung phoenix dengan kobaran api di sekeliling tubuh nya.


Burung itu tidak terlihat seperti lukisan, mata nya sangat hidup dan bercahaya. Se Se mendekat dan mencoba menyentuh burung phoenix itu, tiba tiba saja mata burung phoenix itu menatap nya dengan tajam.


Se Se melangkah mundur karena terkejut, dia menatap mata burung phoenix untuk memastikan bahwa apa yang di lihatnya bukan lah ilusi. Burung phoenix mengedipkan mata, kemudian sayap burung phoenix tiba tiba saja keluar dari lukisan.


Meskipun takut, Se Se mencoba untuk mendekati burung phoenix. Dia kemudian bertanya, "Apakah anda pemilik ruangan ini?"


"Aku terjebak di sini, begitu pula dengan gadis gadis yang ada di dalam lukisan." jawab burung phoenix.


"Jika anda terjebak di sini, berarti anda tidak tahu cara keluar dari tempat ini?" tanya Se Se.


"Omong kosong, sudah pasti aku tidak tahu caranya, jika aku tahu cara keluar dari sini maka aku tidak akan berada di tempat ini selama ribuan tahun." jawab burung phoenix.


"Apakah anda tahu siapa yang mengurung kita di tempat aneh ini?" tanya Se Se.


"Kamu memiliki banyak sekali pertanyaan. Aku akan kembali ke lukisan, jangan membuat ribut karena aku ingin istirahat!" ucap burung phoenix kemudian masuk kembali ke dalam lukisan di dinding.


"Hei, anda belum menjawab pertanyaan saya!" ucap Se Se.


Karena tidak ada jawaban dari burung phoenix, Se Se sengaja membuat keributan dengan cara mengetuk ngetuk dinding dengan menggunakan tangan nya.


"Manusia! Kamu benar benar merepotkan!" ucap burung phoenix yang kembali keluar dari lukisan karena merasa terganggu.


"Aku harus keluar dari sini, tolong beri tahu saya tentang semua hal yang anda ketahui tentang tempat ini!" ucap Se Se.


"Hahh... Jika aku bisa membantu mu keluar, aku pasti sudah tidak ada di sini saat ini! Tapi ... Kenapa kamu tidak takut kepada ku?" tanya burung phoenix.


"Kenapa saya harus takut kepada seekor burung?" tanya Se Se.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2