
Se Se menatap mata Ibu Suri dengan berapi-api, dia kemudian menjawab dengan suara datar.
"Aku ingin memotong kedua tangan mu yang telah menyakiti banyak orang!
"Aku ingin menguliti kulit mu yang telah menyerap bau bangkai dari ribuan mayat manusia yang kau bunuh!
"Aku ingin memotong lidah mu yang berkata bohong dan memfitnah orang baik!
"Aku ingin mengeluarkan kedua bola mata mu yang iri ketika melihat kebahagiaan orang lain!
"Aku ingin mengeringkan darah dingin yang mengalir di tubuh mu karena tidak pernah menghargai nyawa manusia!"
"Aku akan menghancurkan tulang-tulangmu yang sudah mengambil nyawa orang lain tanpa merasa bersalah!
"Kau... tidak boleh mati sebelum aku melakukannya!"
Setelah mengeluarkan semua pikiran sadisnya, Se Se menebas kedua tangan Ibu Suri dengan sebilah pedang milik Raja Wei yang di ambilnya secara diam-diam. Darah segar memercik ke wajah gadis itu, meninggalkan jejak-jejak kekejaman yang dia lakukan pada Ibu Suri.
Dia mulai menguliti kulit di tubuh Ibu Suri, satu persatu kulit yang menyatu pada daging di pisahkan dengan belati kecil. wanita tua itu berteriak keras menahan rasa sakit di sekujur tubuh nya. Darah bercucuran dari kulitnya yang mulai terlepas. Rasa sakit yang di terima Ibu Suri membuat nya tidak memiliki tenaga untuk memaki lagi.
Se Se duduk di tanah lembab yang berada di bawah pohon besar, dia menunggu darah wanita itu menetes hingga mengering. Se Se bangkit, berdiri dan memasukkan secara paksa sebutir pil ke dalam mulut Ibu Suri. Pil itu untuk menjaga kesadaran wanita tua agar tidak pingsan. Tidak puas rasanya jika wanita itu pingsan sebelum selesai menjalani hukuman.
Dengan kesadaran yang samar-samar, Ibu Suri melihat gadis itu mendekat.
"Wushhh!"
Dengan gerakan cepat, dia mengeluarkan kedua bola mata Ibu Suri dari tempatnya. Wanita itu menjerit tanpa bersuara. Dia tidak bisa lagi mengeluarkan suara, karena lidahnya telah terputus ketika dia menjerit kesakitan. Se Se menyayat lidah wanita tua itu dengan belati tajam yang ada di tangannya.
__ADS_1
Tubuh Ibu Suri di tinggalkan di bawah pohon tanpa melepas ikatan. Burung-burung gagak datang mematuki daging di tubuh Ibu Suri yang masih bernyawa. Beberapa ekor serigala juga ikut menikmati daging yang sudah terasa alot itu.
Se Se berlutut di depan makam Ratu Wei Jia Li, dia menangis dengan sedih dan pilu hingga menjelang pagi. Se Se tertidur di makam itu dengan bertumpu pada batu besar di samping makam.
Seorang pemuda berjalan ke arahnya, dengan langkah perlahan dia mendekati gadis itu. Pemuda itu melepas jubah hitam dan menyelimuti tubuh Se Se yang penuh percikan darah. Pemuda itu adalah Raja Wei yang telah mencarinya selama satu malam tanpa istirahat.
Raja Wei panik ketika mendengar Ling Er mengatakan bahwa Permaisuri menitipkan kedua bayinya, dengan buru-buru Raja Wei mencari nya ke semua tempat yang mungkin di datangi oleh Permaisuri. Setelah satu malam, akhirnya dia menemukan gadis itu sedang tertidur dengan wajah sembab di makam Ratu Wei Jia Li.
"Kenapa kamu selalu menderita sendirian? Tidak bisakah kamu berbagi penderitaan mu pada ku? Kenapa kamu selalu menangis untuk orang lain? Tidak bisakah kamu bersikap sedikit egois untuk diri mu sendiri?" ucap Raja Wei di samping Se Se dengan suara yang sangat kecil. Dia tidak ingin membangunkan gadis kecilnya yang terlihat sangat lelah.
Raja Wei mengecup kening permaisuri yang masih terlelap. Dia menghapus sisa air mata yang membasahi pipi nya.
Se Se bergumam dalam tidurnya.
"Xuan, jangan tinggalkan aku..."
Raja Wei mendengarnya, dia memindahkan tubuh kecil gadis itu ke dalam pangkuan. "Aku tidak akan pernah meninggalkan belahan jiwaku." ucap Raja Wei dengan mendaratkan sebuah kecupan ke bibirnya.
Perlahan gadis itu membuka mata, dia terkejut saat mengetahui dirinya berada dalam dekapan tubuh seseorang. Buru-buru dia menatap wajah pria yang tengah menghangatkan tubuhnya, hatinya langsung lega ketika mengetahui pria itu adalah Raja Wei.
"Xuan... Apakah aku sedang bermimpi?" ucap Se Se sambil mengedipkan matanya beberapa kali.
"Ini bukan mimpi, aku berada di sini menemani mu." jawab Raja Wei.
Raja Wei menyisir rambut yang menutupi sebagian wajah Se Se, dia menyelip rambut itu ke belakang daun telinganya.
"Ayo kita pulang!" ajak Raja Wei.
__ADS_1
Se Se berdiri dari pangkuan Raja Wei, dia berkata dengan pelan, "Masih ada hal terakhir yang belum selesai ku lakukan."
Dengan langkah lemah, dia melangkah masuk ke hutan, Raja Wei mengikuti dari belakang. Langkah nya terhenti saat melihat tulang belulang di bawah pohon tempat Ibu Suri di ikat. Raja Wei mengerutkan dahi, dia terkejut melihat tulang yang ada di sana.
Raja Wei lebih terkejut lagi saat menatap wajah Permaisurinya, dia merasa asing dengan wajah itu. Wajah yang menyeringai seperti seorang iblis pencabut nyawa, membuat semua orang merinding ketika melihatnya.
"Seperti ini kah wajah asli yang selama ini dia sembunyikan?" benak Raja Wei.
"Krekkk!"
Raja Wei tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya, gadis kecil nya menghancurkan tulang-tulang itu dengan tangan dan kaki tanpa menggunakan senjata.
"Milik siapa tulang ini? Kenapa gadis kecil ku terlihat sangat marah? Tulang ini bahkan tidak di biarkan utuh." batin Raja Wei.
Setelah puas menghancurkan tulang hingga menjadi serpihan kecil, gadis itu kembali menangis dengan sedih. Air mata mengalir deras membasahi pipi dan wajahnya.
Se Se terjatuh lemah di atas tanah, Raja Wei dengan cepat menahan dan memeluk tubuhnya. Pemuda itu sangat cemas melihat keadaan Se Se yang tidak seperti biasanya.
"Apa yang terjadi pada Permaisuri ku hingga menangis sesedih ini? Walaupun aku sangat penasaran, aku akan menunggu hingga kamu siap menceritakan semuanya." batin Raja Wei.
Raja Wei membawa Se Se pulang dengan seekor kuda, dia mendudukkan Se Se di depan dan memeluk erat pinggangnya. Gadis itu tertidur dengan menyandarkan kepala di dada Raja Wei.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dalam beberapa bulan ini, pihak istana terus mencari keberadaan Ibu Suri. Kaisar tidak rela jika wanita jahat itu kabur dan bebas dari hukuman. Kaisar memerintahkan pengawal untuk mencari Ibu Suri hingga ke negara tetangga.
Beberapa bulan telah berlalu, Se Se tidak menceritakan apapun kepada Raja Wei, Pemuda itu juga tidak melontarkan pertanyaan kepada Permaisuri. Namun di dalam hati dia telah menebak apa yang terjadi pada hari itu, dan milik siapa tulang belulang yang ada di dalam hutan.
__ADS_1
Hari-hari masih berjalan seperti biasa, senyuman cerah di wajah gadis itu telah kembali seperti semula. Yang berbeda hanya bayi-bayi kecil telah tumbuh menjadi balita imut yang mempesona.
^^^BERSAMBUNG...^^^