
"Nyonya Long tidak perlu khawatir, aku akan berpura pura tidak melihat kejadian hari ini. Karena Nyonya Long masih banyak pekerjaan, aku pamit dulu." ucap Raja Wei.
Dalam hitungan detik, bayangan Raja Wei menghilang dari tempat itu. Gu Bei Yin menghela nafas panjang, sejak tadi dia merasa tegang karena berhadapan dengan dewa perang yang di segani oleh semua orang.
"Untunglah semua berakhir dengan baik. Aku harus segera melenyapkan semua bukti bukti kejahatan yang dilakukan oleh Long Au Ping sebelum ada yang memeriksanya." batin Gu Bei Yin.
"Kebakaran!!!"
"Kebakaran!!!"
Suara teriakan para pelayan terdengar di semua tempat di dalam kediaman Long. Api yang di sulut oleh Pasukan Elang telah sampai di depan pavilliun. Semua pelayan sibuk memadamkan api dengan air sumur.
Sementara Gu Bei Yin hanya melihat dengan tatapan dingin dan pikiran yang di penuhi oleh banyak pertanyaan.
"Apakah Raja Wei yang menyebabkan kebakaran ini?"
"Apa yang ingin di tutupi oleh dalang dari kebakaran ini?"
"Bagaimana cara menutupi keberadaan ruang penjara bawah tanah itu?"
"Semakin aku pikirkan, semakin aku yakin jika keluarga ini seharusnya di musnahkan dari akar akarnya." batin Gu Bei Yin.
*****
Yu dan Pasukan Elang telah sampai di sebuah kediaman yang kosong. Kediaman itu biasanya digunakan sebagai tempat persembunyian.
Para gadis yang baru dilepaskan dari penjara ikut ke kediaman itu untuk sementara waktu sampai mereka dikembalikan ke keluarga masing masing.
"Zhu Zhu, carikan beberapa tabib yang bisa menutup mulut, bawa mereka ke sini untuk merawat wanita wanita ini!" perintah Yu kepada salah satu pelayan.
Zhu Zhu mengangguk kemudian keluar menjalankan perintah.
Yu hendak berjalan keluar, Cu Ye Lie segera menghampiri Yu dan bertanya, "Apakah saya boleh tinggal di sini? Saya bisa menjadi pelayan anda. Tolong biarkan saya tinggal di sini."
"Masalah ini tidak bisa aku putuskan, tunggulah hingga pagi hari nanti, pemilik kediaman ini akan kemari saat itu. Nona silahkan istirahat dulu sambil menunggu!" jawab Yu.
*****
Raja Wei kembali ke kediaman, dia berbaring di samping Se Se yang telah tertidur lelap kemudian memeluknya setelah mengecup pelan keningnya.
"Tugas telah selesai di laksanakan dengan sempurna." bisik Raja Wei ke telinga Se Se.
Sebelum hari mulai terang, suara ketukan pintu di kamar Se Se mulai terdengar kembali. Kali ini Raja Wei bersama Se Se mendengar suara ketukan pintu itu.
Se Se dan Raja Wei terbangun bersama saat pintu di ketuk, Raja Wei kemudian bertanya, "Siapa?"
__ADS_1
"...."
"Siapa di luar?"
"...."
Tidak ada jawaban dari luar.
"Tok Tok Tok!"
"Tok Tok Tok!"
"Tok Tok Tok!"
Se Se dan Raja Wei saling menatap, rasa penasaran sekaligus kesal terlihat di wajah Raja Wei yang mulai terganggu dengan suara ketukan pintu.
Raja Wei turun dari ranjang, dia berjalan ke arah pintu kemudian membuka pintu dengan cepat.
"Siapa di sana?" tanya Raja Wei.
Tidak ada orang di balik pintu kamar. Raja Wei berjalan keluar, melirik ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan seseorang yang mungkin menjadi pelaku keributan dini hari ini, namun tidak ditemukan siapapun di sana.
Raja Wei menutup pintu kamar, dia kembali berbaring di sebelah Se Se dengan wajah masam karena tidurnya terganggu.
"Jangan marah di pagi yang indah ini!" pinta Se Se sambil memeluk Raja Wei.
"Ya, sudah beberapa hari pintu kamar ini kedatangan tamu yang seperti angin. Dia selalu mengetuk pintu namun tidak pernah menunjukkan batang hidungnya." jawab Se Se.
"Aku akan mengutus pengawal untuk berjaga di depan pintu!" ucap Raja Wei.
"Tidak perlu, saya rasa dia bukanlah sesuatu yang berbahaya. Mungkin dia hanya tidak bisa menunjukkan dirinya saat ini. Saya juga penasaran siapa yang mengetuk pintu itu, jika ada penjaga di luar, mungkin dia tidak akan datang lagi. Saat itu, saya mungkin tidak akan pernah tau siapa orang misterius itu." ucap Se Se.
"Baiklah, tapi kamu harus tetap berhati hati!" ucap Raja Wei dengan mata tertutup.
"Tok Tok Tok!"
"Si brengsek ini!" umpat Raja Wei kesal sambil berlari ke arah pintu.
Raja Wei kembali membuka pintu, namun masih tidak menemukan siapapun di sana.
Se Se tersenyum gemas melihat tingkah Raja Wei. Dia bangkit dari ranjang kemudian berjalan ke samping Raja Wei.
"Jika ada sesuatu yang ingin anda sampaikan, maka temuilah saya secara langsung." ucap Se Se sambil menatap ke langit.
Raja Wei menatap istrinya, "Apakah kamu mencurigai seseorang?" tanya Raja Wei.
__ADS_1
"Tidak, bukan orang tapi seekor burung." jawab Se Se.
"Burung???" ucap Raja Wei dengan wajah bingung.
"Ya, seekor burung yang penakut." jawab Se Se sambil tersenyum lebar.
"Hei manusia! Aku ini Phoenix bukan burung!" terdengar suara dari atas langit.
Raja Wei menatap ke arah suara, seekor burung berwarna merah yang di kelilingi oleh api terlihat terbang turun dari langit.
"Manusia! Kau ini benar benar menganggapku seekor burung hah?" ucap Phoenix dengan wajah yang kesal.
"Ternyata memang hanya seekor burung yang selama ini mengganggu aku beristirahat!" ucap Se Se sambil tersenyum menertawakan Phoenix.
"Aku ini Phoenix! Phoenix!! Bukan burung!" teriak Phoenix sambil mengepakkan sayapnya.
"Hahaha... Baiklah Phoenix yang agung, apa keperluanmu di sini?" tanya Se Se setelah tertawa gemas melihat tingkah phoenix.
"Huhmmm... Bagus jika kamu tau aku ini Phoenix yang agung!" ucap Phoenix sombong.
"Jadi apa mau mu burung jelek?" tanya Raja Wei kesal.
"Aku ini Phoenix! Bukan burung jelek! Kau lah yang jelek! Semua keluarmu jelek!" teriak Phoenix.
Se Se hanya tertawa melihat tingkah laku Phoenix yang kekanak-kanakan meskipun usianya sudah lebih dari ratusan tahun.
"Ehem ehem... Manusia, aku ingin membuat kontrak denganmu!" ucap Phoenix setelah beberapa saat kesal menatap Raja Wei.
"Kontrak? Apa maksudmu?" tanya Se Se.
"Kontrak kaum manusia dengan makhluk mistis!" ucap Phoenix.
"Maaf, tapi aku tidak tertarik!" jawab Se Se.
"Hey manusia! Aku ini Phoenix yang agung menawarkan kontrak denganmu! Kamu bukannya berterimakasih malah menolakku!" ucap Phoenix kesal.
"Aku tidak tertarik! Aku bahkan tidak tau apa itu kontrak manusia dengan burung! Kenapa aku harus kontrak denganmu?" jawab Se Se.
"Jika kamu kontrak denganku, aku akan menjadi pelindung sekaligus berbagi nyawa denganmu!" jelas Phoenix.
"Jika aku melakukan kontrak itu, apa yang kamu dapatkan?" tanya Se Se menyelidik.
"Tidak mungkin burung sombong ini menawarkan kontrak yang tidak menguntungkan dirinya!" pikir Se Se.
"Itu... Uhmmm..." Burung Phoenix terlihat berpikir keras sebelum menjawab.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^