The Princess Story

The Princess Story
Episode 262


__ADS_3

Hari mulai gelap, Ye Yuan sedang bersiap untuk menemui adiknya di tempat yang sudah di janjikan. Tidak lupa pria itu menyiapkan kue kering kesukaan Se Se, dia membungkus kue itu dan dibawa bersamanya.


Kereta kuda telah menunggu di depan pintu, Ye Yuan naik ke kereta kuda dengan perasaan bahagia. Dia sangat merindukan adiknya, namun selama ini dia jarang menemui wanita itu karena tidak ingin mengganggu hidup adiknya yang sudah sangat sibuk.


"Tuan muda, kita sudah sampai!" ucap kusir kereta kuda.


Ye Yuan turun dari kereta kuda, dia menatap ke sana sini untuk mencari keberadaan Se Se. Setelah beberapa saat mencari, dia masih belum menemukan wanita itu.


"Apa dia terlambat?" tanya Ye Yuan dalam hati.


Ye Yuan memutuskan untuk menunggu Se Se, dia berdiri di samping kereta kuda yang berhenti. Setelah menunggu beberapa saat, wanita yang dia cari masih belum muncul juga. Saat itu Ye Yuan merasakan firasat buruk, dia melihat kembali surat dari adiknya.


"Tulisan ini, meskipun sangat mirip, tapi ini bukanlah tulisan Se Se!" pikirnya dalam hati.


Ye Yuan yang merasakan firasat buruk segera bersikap waspada. Dia melihat ke arah sekeliling tempat dia berada, beberapa mata terlihat seperti sedang mengawasi Ye Yuan dari arah yang berbeda.


"Siapa orang-orang ini?" benak Ye Yuan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Huo Feng menemui Se Se di kediamannya, dia melihat wanita itu sedang asik bermain bersama anak-anaknya.


"Wanita bodoh, kakakmu sedang berada dalam bahaya dan kau di sini bermain petak umpet bersama anak-anakmu." ucap Huo Feng dengan suara kecil.


Raja Wei berjalan mendekat, dia melihat keberadaan Huo Feng yang sedang mengawasi keluargnya. Pria itu mengeluarkan pedangnya dan dengan kuat dia lemparkan pedang itu ke arah Huo Feng.


Huo Feng menghindar dari terjangan pedang yang dilempar ke arahnya, dia menatap Raja Wei yang saat ini terlihat sangat waspada terhadap dirinya.


"Siapa kau?" tanya Raja Wei yang tidak melihat dengan jelas wajah Huo Feng.


"Aku hanya datang untuk menyampaikan pesan kepada istrimu!" jawab Huo Feng.


"...."


Raja Wei terdiam sesaat, dia menatap istrinya yang masih sibuk bermain bersama anak-anaknya di taman bunga. Pandangan mata Raja Wei kembali ke arah Huo Feng, dia kemudian bertanya kepada pria itu, "Dari siapa pesan yang ingin kau sampaikan kepada istriku?"


"Ye Yuan!" jawab Huo Feng singkat.

__ADS_1


"Apa yang ingin di sampaikan Ye Yuan?" tanya Raja Wei dengan wajah penasaran.


"Ye Yuan saat ini sedang dalam bahaya, nyawanya mungkin saja sedang terancam ketika adiknya sedang sibuk bermain di sini." ucap Huo Feng.


"Kau bukan pengantar pesan!" ucap Raja Wei setelah melihat dengan jelas wajah Huo Feng yang dia kenali.


"Aku tidak mengantar pesan secara pribadi dari Ye Yuan, aku hanya tau jika pria itu tadi pagi menerima surat dari adiknya yang mengajak untuk bertemu malam ini." ucap Huo Feng.


Raja Wei mulai cemas setelah mendengar berita yang disampaikan oleh Huo Feng, dia menatap istrinya sambil berpikir, "Jika dia tau Ye Yuan berada dalam bahaya, dia pasti akan segera pergi untuk mencari Ye Yuan."


Raja Wei kembali menatap Huo Feng, "Terima kasih sudah memberitahukan hal ini kepadaku! Tapi lain kali tolong masuk dari pintu depan, jangan menyusup seperti seorang pencuri!" ucap pria itu sebelum pergi.


"Yu, siapkan kuda untukku, dan bawa beberapa pasukan untuk ikut denganku, kita akan mencari keberadaan Ye Yuan!" ucap Raja Wei sambil melangkah pergi.


"Baik Yang Mulia." jawab Yu yang mengikuti langkah Raja Wei dari belakang.


Sementara itu Ye Yuan masih berdiri di sana, namun dia sudah berencana meninggalkan tempat itu secara diam-diam. Ye Yuan membisikkan sesuatu ke telinga Yi Mo, kusir kereta kuda. Yi Mo mengangguk mengerti, dia kemudian mengemudikan kereta kuda secara perlahan sesuai instruksi dari Ye Yuan.


Ye Yuan tidak ingin mencelakai kusir kudanya itu, dia menyuruh Yi Mo untuk kembali ke kediaman terlebih dulu. Pria itu hanya menurut saja karena ia tidak tau apa yang sedang terjadi saat ini.


Setelah Yi Mo menjauh, Ye Yuan melangkahkan kaki ke arah yang lain.dia bergegas dengan langkah yang lebih lebar dan cepat untuk menghindar dari mata para pembunuh yang mengincarnya.


Ye Yuan memilih untuk kabur dari sana dari pada harus melawan seorang diri. Dia mengingat kata-kata Se Se terakhir kali saat dia akan pergi berperang.


FLASHBACK


"Kak, apa yang akan Kakak lakukan jika bertemu dengan musuh yang berjumlah lebih dari 10 orang saat Kakak seorang diri?" tanya Se Se.


"Tentu saja Kakak akan melawan mereka semua!" jawab Ye Yuan.


"Bagaimana jika musuh Kakak lebih kuat?" tanya Se Se.


"Kakak tetap akan melawan mereka dengan sisa kekuatan yang Kakak miliki!" jawab Ye Yuan.


"Kakak ini orang bodoh ya?" tanya Se Se sambil menatap mata Ye Yuan.


"A... Apa? Bodoh?" ucap Ye Yuan seakan tak percaya adiknya mengatai dirinya bodoh.

__ADS_1


"Iya, Kakak orang yang bodoh dan dungu!" jawab Se Se.


Ye Yuan hanya menatap wajah adiknya tanpa mengerti kenapa dia dikatai bodoh dan dungu.


"Kak!" panggil Se Se.


Ye Yuan menjawab, "Hmm?"


"Kalau Kakak bertemu dengan lawan yang berjumlah lebih banyak dan Kakak tidak yakin bisa mengalahkan mereka semua, maka saat itu juga, larilah!" ucap Se Se.


"Lari?" ucap Ye Yuan memastikan pendengarannya.


"Iya, lari saja jika Kakak tidak bisa menang." jawab Se Se.


"Itu akan sangat memalukan jika Kakak lari hanya karena takut kalah." jawab Ye Yuan.


"Pokkk!"


Kepalan tangan Se Se mendarat di kepala Ye Yuan, pria itu meringis kesakitan sambil mengelus kepalanya itu.


"Mei, kamu tau kalau sikap mu ini sangat tidak sopan?" ucap Ye Yuan.


"Itu karena Kakak sangat bodoh, jadi aku harus mengajari Kakak agar Kak Ye Yuan tidak bodoh lagi!" jawab Se Se.


"Kenapa kamu terus mengatai Kakak dengan sebutan 'bodoh'?" ucap Ye Yuan yang mulai kesal.


"Kak, ingatlah kata-kataku ini, jika suatu hari nanti ada hari di mana Kakak tidak yakin bisa menang dari musuh, maka larilah sejauh mungkin. Kabur saja dari sana dan sembunyilah di tempat yang aman. Aku akan menemukan dan menyelamatkan Kakak." ucap Se Se dengan wajah serius.


"Mei, kenapa kamu tiba-tiba membicarakan hal ini?" tanya Ye Yuan.


"Aku hanya tidak ingin kehilangan keluargaku yang berharga." jawab Se Se.


"Baiklah, Kakak akan kabur jika bertemu dengan musuh yang lebih kuat. Biarlah Kakak disebut sebagai pengecut, asal Kakak bisa terus hidup panjang bersama Mei Mei." jawab Ye Yuan sambil tersenyum.


Se Se ikut tersenyum, dia kemudian berkata, "Kakak harus selalu mengingat janji itu!"


"Tapi Mei, kenapa tanganmu itu berat sekali? Kepala Kakak masih sakit sampai sekarang." ucap Ye Yuan sambil mengelus-elus kepalanya dengan raut wajah kesakitan.

__ADS_1


"He... He... Maaf, aku tadi tidak sempat menahan kekuatanku." jawab Se Se sambil terkekeh.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2