
Hari sudah hampir gelap, namun gadis yang di tunggu belum juga keluar dari tempat itu. Yu merasa gelisah, dia tidak bisa lagi menunggu diam di sana.
Yu kembali ke kediaman dan mencari Raja Wei untuk melaporkan hal ini, namun Raja Wei tidak ada di kamarnya. Yu tambah panik karena tidak tau harus berbuat apa. Dia sangat mencemaskan Nona muda itu.
Setelah berpikir beberapa saat, Yu kembali ke restoran tadi dan mengikuti pelayan yang membawa Nona Flo. Yu membunuh pelayan itu dan mengambil pakaiannya. Mayat pelayan itu dia buang ke semak-semak yang ada di belakang restoran agar tidak dilihat orang.
"Yu!" panggil seorang pemuda.
Yu terkejut dan segera melihat siapa orang yang memanggilnya.
"Yang Mulia..." gumam Yu.
"Apa yang terjadi?" tanya pemuda itu.
Yu mengetahui wajah asli tuannya. Pemuda itu adalah Raja Wei yang saat ini memakai peran Xuan. Pemuda itu tidak memakai topeng wajah dan berpakaian sederhana.
Yu menceritakan tentang apa yang terjadi pada Nona Flo dan apa yang dia lakukan barusan.
Yu membawa Raja Wei masuk ke ruangan itu dengan menyamar sebagai pelayan.
Mereka tidak menemukan apapun di dalam sana, padahal Yu sangat yakin bahwa Nona Flo di bawa ke ruangan itu.
Mereka menghentikan pencariannya saat mendengar langkah kaki. Raja Wei bersembunyi di langit-langit ruangan bersama Yu yang ada di depannya.
Seorang pria masuk dengan penutup wajah, pria itu berpakaian mewah seperti seorang bangsawan muda. Di samping pria itu ada seorang pelayan berwajah bengis yang memakai topi di kepalanya.
"Tuan, gadis itu telah kami kurung di ruangan pribadi anda!" ucap pelayan kepada pria yang menutup wajahnya.
"Kerja bagus, hadiah ini untukmu, jangan lupa mencariku jika ada gadis baru yang cantik. Aku sangat puas dengan wajah dan penampilan gadis baru itu." ucap pria itu sambil menyerahkan dua tael emas kepada pelayan di depannya.
Raja Wei dan Yu terkejut mendengar kalimat itu. Mereka saling bertatap muka, terlihat kegelisahan di mata kedua pemuda itu. Mereka berpikir bahwa gadis yang dimaksud oleh pelayan itu adalah Nona Flo.
Setelah pria dengan penutup wajah keluar, pelayan membuka ruang rahasia yang ada di balik rak buku dan masuk ke dalamnya.
"Plakkk! Akhhh! Plakkk! Akhhh! Akhhhh!"
Terdengar suara-suara cambukan dan rintihan dari dalam tempat itu.
"Apa Nona Flo ada di ruangan itu?" batin Yu.
"Apa yang mereka lakukan pada gadis itu? batin Raja Wei.
Mereka segera turun dari langit-langit tempat mereka bersembunyi dan masuk ke dalam ruangan itu dengan rasa khawatir.
Mengerikan dan sangat kejam! itulah yang terlintas di dalam pikiran mereka saat melihat gadis-gadis di ruangan itu. Pelayan itu mencambuk gadis yang sedang terikat di kayu salib secara bergantian.
"Siapa kalian?" tanya pelayan saat melihat kedua pemuda itu.
Yu mengeluarkan pisau kecil dan mengarahkan pisau itu ke leher pelayan.
"Katakan, siapa pemilik tempat ini!" ucap Yu.
__ADS_1
Pelayan itu menatap Yu, dia menyunggingkan mulutnya seolah meremehkan Yu.
"Swoshhh...!"
Seorang pelayan lain masuk dan menebarkan bubuk putih ke wajah Yu dan Raja Wei. Raja Wei dengan cepat menarik pedangnya dan membunuh kedua pelayan itu dengan satu gerakan.
"Yu cepat keluar dari sini, bubuk itu beracun!" ucap Raja Wei.
"Baik Yang Mulia." jawab Yu.
Raja Wei berbalik menatap gadis-gadis yang ada di ruangan itu sebelum melangkah keluar, dia sedang mencari seorang gadis yang saat ini ada dalam pikirannya. Tetapi tidak ada wajah gadis itu di sana.
"Dia tidak ada di sini, kemana mereka membawanya?" batin Raja Wei dengan perasaan gelisah
Raja Wei dan Yu keluar dari sana dan kembali ke kediaman Zhou Ting Yi, Raja Wei menyuruh beberapa pengawal untuk mengawasi restoran itu.
"Yu, di mana gadis itu berada?" tanya Raja Wei frustasi.
"Maafkan hamba Yang Mulia, hamba tidak tau di mana Nona Flo saat ini." jawab Yu dengan menundukkan kepalanya.
"Jika saja aku mencegah gadis itu, dia tidak hilang saat ini." ucap Raja Wei dengan wajah menyesal.
Yu merasakan penyesalan dari tuannya, dia tidak ingin tuannya merasa bersalah. Yu segera berkata, "Yang Mulia, hamba yang telah gagal membujuk Nona Flo. Itu salah hamba karena membawanya ke tempat itu."
Mereka berdua terdiam beberapa saat. Kemudian Raja Wei berkata, "Racun itu sepertinya mulai bekerja, tubuhku seperti tidak bertenaga."
Yu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dia mengeluarkan sebotol obat dan mengambil sebutir pil dari botol itu.
"Dari mana asal obat ini?" tanya Raja Wei yang sudah memiliki jawaban dalam pikirannya.
"...."
Yu tidak bisa menjawabnya. Dia takut tuannya akan semakin merasa bersalah.
Raja Wei mengganti pertanyaannya.
"Yu, apakah obat ini diberikan oleh gadis itu?"
Yu menundukkan kepalanya dan menjawab dengan suara rendah, "Benar Yang Mulia, Nona Flo menyediakan obat ini untuk berjaga-jaga."
"Yu, apakah aku terlalu keras padanya?" tanya Raja Wei dengan wajah menyesal.
Yu berpikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan Raja Wei.
"Yang Mulia... Apakah hamba boleh berkata jujur?"
"Bicaralah!"
"Menurut hamba, Yang Mulia benar-benar keras dan kejam pada Nona Flo. Beliau sangat baik hati dan selalu membantu anda Yang Mulia. Tetapi Yang Mulia selalu bersikap buruk pada Nona itu."
Raja Wei menatap Yu dengan mata dinginnya. Bukan karena marah, tapi dia merasa Yu mengatakan hal yang benar.
__ADS_1
"Aku bahkan menusuknya dengan pedangku." batin Raja Wei.
"Yu, gadis itu... Mungkinkah gadis itu yang dimaksud oleh kedua orang tadi?"
"Hamba tidak tau Yang Mulia... tapi gadis yang mereka targetkan hari ini, hanya Nona Flo!" jawab Yu dengan wajah cemas.
"DEG!" suara dari jantung Raja Wei yang panik sesaat.
"Semoga bukan gadis itu." gumam Raja Wei.
Yu kembali ke kamarnya karena hari sudah larut. Dia memejamkan matanya, namun terlintas wajah Nona Flo di pikirannya. Batinnya merasa gelisah karena gagal melindungi gadis itu.
Tidak berbeda dengan Raja Wei yang juga berbaring tanpa bisa tidur sedikitpun. Pemuda itu memejamkan matanya dan hanya membayangkan ekspresi wajah dari gadis itu. Ekspresi sebal, kesal, marah dan wajah saat gadis itu tersenyum lembut.
Hari menjelang pagi, kedua pemuda itu tidak bisa terlelap sedetik pun. Yu pergi ke kamar Raja Wei dan berdiskusi tentang cara menyelamatkan gadis-gadis yang terkurung di ruang rahasia.
"Tok Tok Tok!"
"Masuk!" ucap Raja Wei.
Seorang pengawal masuk dan berlutut di hadapan Raja Wei.
"Yang Mulia, kami menemukan pemilik tempat itu!" ucap pengawal.
Raja Wei segera berdiri dan berkata, "Cepat antar aku ke sana!"
Yu mengikuti Raja Wei dari belakang. Mereka menuju ke sebuah lorong gelap di hari yang masih terang. Lorong itu tertutup oleh rimbunnya pepohonan yang menjulang tinggi ke langit.
Sampai di ujung lorong mereka melihat sebuah bangunan besar dengan beberapa penjaga di depan dan samping pintu.
"Yang Mulia, mereka memindahkan gadis-gadis itu ke tempat ini! ucap pengawal.
Raja Wei memberi tanda pada Yu untuk menghabisi nyawa penjaga yang ada di depan pintu. Raja Wei akan mengurus penjaga yang ada di samping.
Yu mengangguk tanda mengerti dan segera melaksanakan tugasnya.
"Srekkk!"
Dalam sekali gerakan, pengawal itu sudah kehilangan nyawanya.
Mereka masuk ke tempat itu dengan berhati-hati. Terlihat beberapa penjaga yang sedang berkeliling, Raja Wei melihat sebuah ruangan yang memiliki bekas darah di pintu. Dia segera menuju ke ruangan itu dan membunuh penjaga yang ada di depan pintu.
"Kriettt!!"
Raja Wei membuka pintu dan melihat beberapa gadis sedang terikat di sana. Kondisi mereka persis dengan gadis yang ada di ruang rahasia restoran.
"DEG!"
Jantung Raja Wei berdetak keras saat matanya menuju ke seorang gadis di ujung ruangan.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1