The Princess Story

The Princess Story
Episode 246


__ADS_3

Se Se bertanya kepada pelayan wanita yang kebetulan lewat di sana, namun pelayan hanya menjawab, "Saya tidak tau apa-apa Yang Mulia."


Merasa curiga, Se Se berjalan ke halaman depan. Kecurigaannya semakin besar ketika melihat sekelompok Pasukan Elang berkumpul di sana.


Se Se berdiri di belakang batang pohon besar yang ada di sana, dia mencoba mencari tau apa yang sedang terjadi.


"Firasat buruk apa lagi ini?" batin Se Se.


"Kita akan mencari Pangeran dan Putri secara diam-diam. Tidak ada yang boleh menyebarkan kabar ini, kita harus merahasiakannya sampai Pangeran dan Putri ditemukan! Termasuk Permaisuri, kalian harus menutup mulut kalian semua!" perintah Raja Wei.


"Deg!"


Jantung Se Se terasa hendak melompat keluar dari tubuhnya, dia sangat terkejut mendengar kabar Pangeran dan Putri kecilnya menghilang.


Se Se muncul dari balik pohon, dengan wajah cemas dan kesal dia bertanya, "Apa yang terjadi kepada anak-anak? Kenapa Xuan menutupinya dari saya?"


Raja Wei memegang keningnya yang terasa sakit dan pusing. Dia berniat menutupi hal ini dari Se Se karena tidak ingin wanita itu khawatir.


Dinilai dari sifatnya, istrinya itu tidak akan diam saja jika tau anak-anak mereka menghilang. Namun luka-luka istrinya baru saja pulih, tubuhnya bahkan masih lemah. Jadi Raja Wei tidak ingin istrinya terlalu memaksakan diri.


"Istriku, aku akan membicarakan ini nanti. Saat ini aku harus mencari anak-anak lebih dulu." ucap Raja Wei.


Se Se terdiam, dia tau suaminya mengkhawatirkan dirinya. Namun dia tidak ingin diam dan menunggu tanpa melakukan apa-apa.


"Pelayan, antarkan Permaisuri kembali ke kamar!" perintah Raja Wei.


Se Se menuruti keinginan Raja Wei, dia sadar dirinya hanya akan menjadi beban saja jika memaksa untuk ikut dalam pencarian.


"Yi dan Chi, kalian berdua akan tinggal di kediaman. Awasi pintu kamar Permaisuri. Jangan biarkan dia keluar dari sana sampai aku kembali!" perintah Raja Wei lagi dengan wajah frustasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Han Ze Xia dan Han Ze Xin bermain sambung kata di dalam ruang tempat mereka di kurung.


"Gula manis."


"Manis sekali"


"Sekali lagi."


"Lagi makan."


"Makan nasi."


Sementara kedua pelayan mereka masih ketakutan dengan wajah yang dibanjiri air mata.


"Kriettt!"

__ADS_1


Pintu terbuka, seorang pria botak masuk ke ruangan itu.


"Kalian masih bisa bermain ya setelah di culik?!" ucap pria botak.


"Di culik itu apa Paman botak?" tanya Han Ze Xin.


"Aku ini tidak botak! Hanya saja rambutku pendek jadi tidak terlihat." bentak Pria botak itu kesal.


"Ooo... Jadi rambut Paman pendek makanya kelihatan botak?" tanya Han Ze Xia.


Pria botak itu semakin kesal karena di panggil botak.


"Aku ini nggak botakkk! Panggil aku Paman Ganteng!" ucap pria botak itu dengan suara keras.


Kedua anak-anak itu saling bertatap muka, mereka tertawa hingga berguling di lantai.


"Xia, kamu dengar apa kata Paman botak itu?" tanya Han Ze Xin masih sambil tertawa.


"Hahaha... Dia bilang dia ganteng. HAHAHA..." jawab Xia sambil berguling di lantai dengan tawanya yang lebar.


Tubuh pria botak itu bergetar, dia sangat marah dan emosi melihat anak-anak itu menertawakan dirinya.


"Sepertinya kalian harus diberi pelajaran agar lebih sopan terhadap orang tua!" geram pria botak.


"Ehem... Ehem..."


Han Ze Xia berdehem, kemudian dia memasang wajah serius sambil bertanya, "Apakah Paman botak sudah tua? Kalau begitu Xia akan memanggil anda Kakek Botak."


Han Ze Xin tertawa sambil memegang perutnya yang terasa sakit akibat terlalu banyak tertawa.


Makin geram dan kesal si pria botak itu. Dia mendekat ke arah Han Ze Xia, ditariknya tangan kecil anak itu hingga tubuhnya kini melayang di udara.


"Putri!" teriak Ling Er dan Ye Lie secara serentak.


Kedua wanita itu memohon kepada pria botak untuk melepaskan Han Ze Xia. Namun pria botak mengabaikan kedua pelayan itu meskipun mereka berlutut sambil menangis di depannya.


"Hey, Kakek botak! Lepaskan adikku!" perintah Han Ze Xin dengan wajah marah.


"Beraninya anak kecil ini!" ucap pria botak dengan tatapan menakutkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ye Yuan dikepung oleh delapan bandit bersenjata tajam, dia berada di tengah-tengah lingkaran yang di buat para bandit.


"Yin, tutup matamu!" pinta Ye Yuan kepada keponakannya.


"Bayik Bamaannn." jawab Han Ze Yin dengan wajah dan suara yang imut menggemaskan.

__ADS_1


*Baik Paman


Ye Yuan menahan semua serangan dari bandit, satu persatu bandit itu jatuh tersungkur setelah menerima serangan balik dari Ye Yuan.


Setelah semua bandit dikalahkan, Ye Yuan melonggarkan kewaspadaannya, ia tidak menyasari jika salah satu bandit telah bersembunyi di balik timbunan sampah.


Pria kurus kecil keluar dari tumpukan sampah, dia memegang pedang panjang yang di arahkan ke punggung Ye Yuan. Diam-diam dia menyerang Ye Yuan yang membelakanginya, namun pria itu terjatuh sebelum pedang itu menyentuh tubuh Ye Yuan.


Ye Yuan kaget dengan suara jatuhnya pria itu, dia mencari sumber suara. Ye Yuan berbalik dan melihat pria kecil itu sedang berusaha berdiri dengan pedangnya. Dengan cepat Ye Yuan mengayunkan pedangnya, tepat di leher pria kurus itu.


Terlihat biji buah aprikot yang terletak di tanah, Ye Yuan menatap ke atas dinding lorong itu, Huo Feng sedang tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Ye Yuan.


"Terima kasih!" ucap Ye Yuan sambil membalas lambaian tangan Huo Feng.


Tidak lama kemudian Raja Wei tiba disana diikuti oleh Yu dan Pasukan Elang di belakangnya.


"Yang Mulia!" ucap Ye Yuan sambil sedikit menunduk.


"Dimana Xin dan Xia?" tanya Raja Wei.


"Mereka bersama Ling Er dan Ye Lie. Tapi sepertinya para bandit sudah menargetkan mereka. Sama seperti keadaan di sini." jawab Ye Yuan sambil melirik mayat para bandit.


"Kemana arah mereka pergi?" tanya Raja Wei.


Ye Yuan berpikir sesaat, ia kemudian menjawab, "Saya tidak tau, Xin dan Xia berlarian saat itu. Saya dan Ye Lie mengejar anak-anak yang berlarian ke arah yang berbeda. Saya tidak tau kemana mereka pergi."


"Ayo berpencar!" perintah Raja Wei.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Ling Er dan Ye Lie masih berlutut di tanah.


"Tolong lepaskan Putri!" ucap Ling Er.


"Putri? Bocah ini seorang putri?" tanya pria botak.


"Benar, dia putri dari Raja Wei. Kamu tidak boleh menyakitinya!" ucap Ye Lie dengan suara bergetar.


"Hahaha... Jika dia seorang putri, maka aku seorang raja! Apa kalian pikir bisa menakuti ku dengan kebohongan kalian? Cuihh!" ucap pria botak dengan wajah kesal.


"Hey Kakek botak!" panggil Han Ze Xia.


"Putri... Kenapa anda terus memprovokasi pria itu? Anda bisa celaka nanti! Tolong hentikan Putri..." pikir Ling Er.


"Kenapa putri kecil ini sama sekali tidak terlihat takut? Apakah beliau belum mengerti rasa takut?" benak Ye Lie.


Pria botak yang di panggil kakek tua itu kini melayangkan tangan kirinya ke wajah kecil Han Ze Xia.

__ADS_1


"Akhhh... Putri!" teriak kedua pelayan itu dengan wajah histeris.


^^^^^^BERSAMBUNG...^^^^^^


__ADS_2