
Perdana Menteri Huang menangis begitu membaca surat dari Se Se. Tentu saja tangisan bahagia dan kesedihan bercampur di dalamnya. Dia bahagia memiliki putri yang sangat mencintainya, namun dia juga merasa sedih karena kehilangan putrinya yang saat ini entah berada di mana.
"Ye Yuan, siapkan kereta kuda! Aku ingin pergi ke kediaman Raja Wei." pinta Perdana Menteri Huang.
"Saya akan menemani Ayah." jawab Ye Yuan.
Perdana Menteri Huang masih menatap giok yang terletak di meja, dia menyentuh ukiran ukiran giok itu dengan ujung jarinya.
"Karya yang sangat indah dan elegan, setiap ukiran di buat dengan sangat hati hati dan di poles hingga licin dan bersinar. Sebesar inikah cinta putri ku kepada ayahnya yang tidak berguna ini?" gumam Perdana Menteri Huang.
Kereta kuda telah di siapkan, Ye Yuan dan Perdana Menteri Huang berangkat bersama ke kediaman Raja Wei.
Kereta kuda berhenti di depan pintu gerbang, penjaga pintu meminta kusir untuk melapor identitas diri sebelum di ijinkan masuk ke dalam.
Kereta kuda yang lain muncul dari arah yang berbeda. Raja Wei meneriaki penjaga pintu untuk segera menyingkir dari gerbang pintu.
Mendengar teriakan suara Raja Wei, kedua penjaga pintu segera membuka pintu gerbang. Kereta kuda yang di tumpangi oleh Raja Wei melaju dengan masuk melewati gerbang pintu di ikuti oleh kereta kuda milik Perdana Menteri Huang.
"Cepat panggilkan tabib!" perintah Raja Wei setelah dia turun dari kereta kuda.
Se Se berada dalam kondisi tidak sadarkan diri, tabib yang baru saja tiba segera memeriksa keadaannya.
Beberapa waktu kemudian Tabib mengatakan kepada Raja Wei jika tulang rusuk Permaisuri patah dan luka di sekujur tubuhnya banyak yang sudah membusuk.
"Permaisuri bisa bertahan hingga sekarang adalah suatu keajaiban. Jika manusia biasa, mereka pasti sudah kehilangan nyawa. Rasa sakit itu bukanlah sesuatu yang bisa di tahan oleh manusia biasa. Apalagi Permaisuri sepertinya tidak makan apa-apa selama beliau terluka."
"Apakah dia baik-baik saja sekarang?" tanya Raja Wei.
"Ya, Yang Mulia Permaisuri adalah wanita yang luar biasa. Tubuhnya memang lemah tapi tidak sampai mengancam nyawa Permaisuri." jawab Tabib.
Tabib menulis resep obat untuk di minum oleh Se Se selama proses penyembuhan. Setelah menyerahkan resep kepada Raja Wei, tabib itu permisi pulang.
Perdana Menteri Huang berada di tepi ranjang, dia duduk di samping putrinya yang terbaring lemah. Ye Yuan berdiri di samping ayahnya. Mereka menatap wajah putri kesayangan mereka itu dengan wajah sedih.
Tetesan air mata jatuh di pipi Perdana Menteri Huang, tidak jauh berbeda dengan ayahnya, genangan air juga terlihat di mata Ye Yuan.
__ADS_1
Kedua orang itu hanya menatap Se Se tanpa berkata apa-apa. Setelah beberapa saat menatap putri kecil mereka, Perdana Menteri Huang mengajak Ye Yuan kembali ke kediaman agar putrinya itu bisa beristirahat dengan baik.
Raja Wei mengantar kepergian Perdana Menteri Huang dan Ye Yuan hingga ke pintu gerbang utama. Setelah kepergian kedua keluarga istrinya, Raja Wei merasakan tatapan dari seseorang yang tertuju padanya.
Raja Wei menatap balik tatapan dari kejauhan itu, sekilas dia merasakan rasa permusuhan yang besar dari tatapan mata orang itu. Orang yang bahkan tidak kelihatan batang hidungnya.
Karena khawatir dengan Se Se, Raja Wei berjalan dengan cepat untuk kembali ke kamar mereka.
Sepasang mata yang sejak tadi mengawasi Raja Wei muncul dari balik rimbunnya dedaunan. Pemuda tampan dengan rambut merah muncul dengan buah persik dewa di tangannya.
Huo Feng menatap buah itu, dia hendak memberikan buah itu kepada Se Se namun dia tidak ingin terlihat oleh orang lain. Susah payah dia mendapatkan buah itu demi mengembalikan tenaga wanita yang menjadi majikannya.
Buah persik dewa merupakan buah langka yang tumbuh di dalam kawah gunung berapi. Pohon buah persik dewa hanya berbuah satu kali setiap seratus tahun. Buah itu hanya berjumlah lima buah di setiap pohon.
Huo Feng berkeliling pegunungan berapi demi mendapatkan buah persik dewa, setelah menjelajahi gunung yang ke tujuh barulah dia menemukan pohon yang sudah berbuah.
"Ayo kita buat sedikit keributan!" ucap Huo Feng sambil tersenyum licik.
"Swooosshh...!!!"
"Kebakaran!"
"Kebakaran!"
"Kebakaran!"
Beberapa pelayan mondar mandir ke sumur untuk mendapatkan air yang akan di gunakan untuk memadamkan api.
Raja Wei mendengar teriakan dari para pelayan, dia keluar dari kamar untuk memastikan kobaran api tidak mencapai kamar utama.
Huo Feng memanfaatkan kesempatan itu untuk masuk ke kamar, dengan satu tangan Huo Feng membuka bibir Se Se yang masih tertidur. Dia kemudian menghancurkan buah persik dewa yang ada di tangan kirinya.
Air dari buah persik menetes masuk ke mulut wanita itu, setelah di rasa cukup, Huo Feng membersihkan bekas-bekas air persik yang mengalir keluar dari bibir majikannya.
Sekilas wanita itu membuka mata, dia melihat bayangan Huo Feng berdiri di depannya.
"Huo Feng?" ucapnya lemah.
__ADS_1
"Ya, ini saya." jawab Huo Feng.
Wanita itu tersenyum, bibir kecilnya mengumamkan kata yang tidak terdengar jelas namun terbaca karena gerakan perlahan.
"Terima kasih."
Wanita itu kembali memejamkan matanya yang terasa berat. Perasaan bersalah Huo Feng menjadi lebih banyak dan lebih besar. Luka yang semula hanya hal kecil dan sepele baginya itu menjadi luka yang bisa mengancam nyawa majikannya.
"Karena keegoisan ku, dia mungkin saja akan mati kesakitan. Sementara aku... Aku hanya memikirkan cara untuk memulihkan kekuatanku. Maafkan aku majikan!" ucap Huo Feng dalam pikirannya.
Huo Feng pergi meninggalkan kamar sebelum Raja Wei kembali. Meskipun tidak bertatap muka, Raja Wei menyadari keberadaan Huo Feng di kamar utama.
"Siapa sebenarnya pria itu?" tanya Raja Wei dalam hatinya.
Raja Wei tentu saja berterima-kasih karena berkat pria itu dia bisa menrmukan Se Se lebih cepat. Namun dia tidak suka melihat tatapan pria itu, tatapan seolah Se Se adalah miliknya. Raja Wei merasa terancam dengan keberadaan pria itu.
"Ughhh..."
Se Se mengerang dalam tidurnya, Raja Wei segera menghampiri istrinya yang masih terbaring lemah.
"Siapa yang melakukan ini? Kenapa mereka selalu menjadikan istriku sebagai target? Ini semua salah ku, seharusnya aku tidak membuat musuh dimana mana." pikir Raja Wei.
Raja Wei menatap wajah istrinya yang terlihat kesakitan, dia memegang tangan Se Se yang kecil mungil di dalam genggamannya.
"Luka-luka ini, pasti sakit sekali kan? Seharusnya aku saja yang terluka. Aku yang menyebabkan semua hal ini terjadi. Aku penyebab orang-orang itu menyakiti mu. Aku benar-benar suami yang tidak berguna. Suami yang hanya menyebabkan bencana bagi istriku." keluh Raja Wei.
Mata Raja Wei mulai berair, beberapa kali dia mencium punggung telapak tangan istrinya sambil mengucapkan kata maaf.
"Maafkan aku...
Aku benar-benar minta maaf karena kamu harus mengalami semua penderitaan ini.
Maafkan aku...
Aku tidak berguna karena tidak bisa menjaga istriku dengan baik. Tolong maafkan aku..."
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1