
Ti Liu terbangun dari tidur panjangnya. Perlahan, pria itu membuka mata. Jarinya bergerak-gerak secara pelan, dia langsung duduk begitu mengingat kejadian terakhir yang menimpa dirinya.
"Aku sudah bisa bergerak!" ucapnya sambil mencoba menggerakkan anggota tubuhnya yang dikira akan menjadi cacat.
"Hahaha... Aku bisa bergerak!" ujarnya bahagia.
Dia mengingat kata-kata dari Se Se selama dia tertidur. Ti Liu sangat bersyukur karena Majikannya itu tidak menyerah atas kondisinya. Karena keyakinan dan ketekunan majikannya, bahkan kini Ti Liu dapat kembali sehat seperti semula.
"Terima kasih Yang Mulia, berkat anda, saya masih bisa bergerak dengan bebas. Terima kasih!" ucapnya dalam hati.
Ti Liu berjalan pelan menuju ke lemari pakaian, dia mengambil satu set pakaian berwarna serba hitam lalu memakainya. Ti Liu mengendus-endus aroma tubuhnya yang sudah berbulan tidak mandi, namun tidak tercium bau apapun. Selama Liu tertidur, Se Se selalu membersihkan tubuhnya dengan kain basah. Tentu saja Ti Liu menyadari semua hal yang dilakukan oleh majikannya itu, tiba-tiba perasaan malu yang begitu besar mendarat di hatinya. Membuat jantung Ti Liu berdebar dengan wajah yang memerah.
"Yang Mulia, sudah melihat semua bagian tubuhku!" gumam Ti Liu yang lalu menatap ke arah bawah. Semakin malu dirinya saat membayangkan Se Se sudah melihat bagian pusakanya yang belum pernah dia tunjukkan kepada orang lain.
"Ah... Apa sebaiknya aku mati saja?!" tanya Ti Liu dengan rasa malu yang luar biasa.
Setelah menenangkan hati dan pikiran, Ti Liu keluar dari kamar. Dia berjalan ke arah paviliun yang biasanya menjadi tempat berkumpul para pasukan Elang.
"Prangggg!"
Sebuah cangkir terjatuh di atas permukaan lantai, cangkir itu hancur menjadi berkeping-keping. Pria yang menjatuhkan cangkir tertegun menatap Ti Liu, seakan tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini.
Melihat perilaku aneh dari rekan mereka, mata para pasukan yang berada di sana segera menoleh, menatap Ti Liu yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berkumpul.
"Liu!"
"Ti Liu!"
"Apa aku sedang bermimpi?"
__ADS_1
"Dia benar-benar Ti Liu?"
"Ti Liu sudah sadar dan bisa berjalan lagi!"
Semuanya sibuk berkomentar begitu melihat Ti Liu yang sudah sadar, kondisinya bahkan sangat baik. Mereka yakin jika tabib mengatakan Ti Liu akan menjadi pria lumpuh, itu sebabnya mereka begitu terkejut melihat Ti Liu yang berdiri dan berjalan dengan kedua kakinya.
Setelah menyadari jika apa yang mereka lihat benar-benar adalah Ti Liu, semua yang berada di sana segera berhambur ke tempat pria itu berdiri. Pertanyaan yang bertubi-tubi mereka lontarkan tanpa menunggu jawaban dari pria itu.
"Liu, kau baik-baik saja?"
"Kapan kau tersadar?"
"Kakimu, apakah tidak sakit berjalan sejauh ini?"
"Liu, mau aku gendong?"
"Apa ada yang sakit di tubuhmu?"
Tanpa sadar, air mata sudah keluar begitu saja. Air mata bahagia tentunya, hati Ti Liu tiba-tiba saja merasa begitu lega dan bahagia sebab mendapat banyak perhatian dan kekhawatiran yang belum pernah dia rasakan seumur hidup. Orang yang pernah bersikap baik dan lembut hanya Permaisuri, dia tak menyangka jika semua rekannya sungguh peduli terhadap dirinya.
"Hey, kenapa kau malah menangis?" tanya Ti San yang paling bahagia melihat Ti Liu telah pulih.
"Aku hanya bahagia karena kalian begitu mencemaskan ku." jawab Ti Liu dengan jujur.
"Hahaha... Ti Liu sampai terharu. Sepertinya otak Ti Liu juga bermasalah ya! Hahaha..." tawa seorang rekannya yang menganggap aneh jika Ti Liu bisa merasa terharu. Sebab pria itu selalu memasang wajah datar tanpa ekspresi selama bertahun-tahun.
"Hei, kau ini gak sopan banget ya! Ti Liu benar-benar terharu karena kita khawatir. Kau ini malah menertawakan sikap jujurnya!" hardik Ti San yang segera memiting leher rekannya karena sudah menertawakan Ti Liu.
"Aduh... Ampun-ampun! Aku kan hanya bercanda!" jeritnya sambil memasang wajah kesakitan. Padahal hanya berpura-pura saja, Ti San juga tidak sekuat itu memitingnya.
__ADS_1
"Hahaha...!"
Suara tawa para pasukan terdengar hingga ke telinga Raja Wei. Dia mengambil topeng yang terletak di atas meja lalu memakainya. Dia berbalik menatap wajah wanita yang tertidur lelap di atas ranjang. "Sebaiknya kau tidak melarikan diri, karena aku... pasti akan mengejarmu. Meski harus ke ujung dunia sekalipun!" ucap Raja Wei.
Raja Wei melangkah keluar, dia menutup pintu dengan perlahan agar tidak membangunkan Se Se. Setelah di tinggal sendiri, Se Se membuka matanya. Dia tersenyum sambil berkata dalam hati, "Memangnya aku mau pergi ke mana tanpa mu? Dasar bodoh!"
Suara tawa semakin jelas terdengar, langkah Raja Wei menuju ke sumber suara yang sedikit asing baginya.
"Ya... Yang Mulia!" ucap Ti Liu ketika matanya menatap seorang pria yang baru saja tiba di sana. Semua mata ikut mengarah ke arah Raja Wei. Mereka lalu menunduk, memberi hormat.
"Apa yang kalian tertawakan? Suara tawa kalian terdengar sampai ke kamarku." keluh Raja Wei dengan wajah dingin.
"Maafkan kami Yang Mulia. Kami hanya senang karena Ti Liu sudah sembuh." jawab Ti San sambil menunduk.
Raja Wei menoleh, menatap ke arah Ti Liu. "Memang apa yang terjadi kepadanya?" tanyanya dengan wajah bingung.
"Kalau ku lihat baik-baik, sepertinya wajah mereka semua semakin tua. Apakah aku sedang bermimpi?" benak Raja Wei.
Raja Wei melihat sekeliling paviliun, banyak yang sudah berubah dalam ingatannya. Paviliun yang dulunya hanya ditumbuhi rumput liar kini penuh dengan warna, warna yang berasal dari bunga-bunga yang bermekaran.
Dia lalu menatap wajah para pasukan yang berdiri menatapnya dengan sikap hormat, sekali lagi, dia merasa bingung. Kenapa mereka semua terlihat begitu bahagia? Pasukan Elang yang dulunya hanya terlihat lelah dan suram kini sudah berubah. Wajah ceria dan tawa mereka membuktikan perubahan mereka yang nyata. Bukan sekedar perasaan Raja Wei saja.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kenapa aku seperti baru terbangun setelah bertahun-tahun tertidur?" tanya Raja Wei dalam hati.
"Yang Mulia!" panggil Yu dari arah belakang.
Raja Wei berbalik, dia menatap wajah Yu yang juga terlihat berbeda dalam ingatannya. Wajah yang terlihat lebih santai dan ramah, dalam ingatan Raja Wei, Yu adalah pria dingin yang selalu berwajah datar dan jarang berekspresi.
Banyak sekali pertanyaan di dalam kepalanya yang sulit untuk dikatakan, karena dia sendiri pun merasa aneh dengan pertanyaannya itu. Raja Wei lalu bertanya satu pertanyaan yang paling membuat dirinya penasaran.
__ADS_1
"Yu, berapa usiaku sekarang?"
^^^BERSAMBUNG...^^^