The Princess Story

The Princess Story
Episode 228


__ADS_3

"Terima kasih atas kebaikan anda, dan juga karena anda telah menyetujui surat perdamaian ini, saya sangat menghargai sikap bijaksana dari Pangeran Arnold." ucap Se Se.


Raja Wei semakin kesal mendengar pujian yang dilontarkan Se Se untuk pria lain, dengan segera Raja Wei memutuskan percakapan di antara mereka.


"Istriku pasti sudah lelah, ayo kita kembali sekarang!" ucap Raja Wei setelah mendekap tubuh ramping istrinya.


Pangeran Arnold cukup peka dengan keadaan, dia menyadari bahwa Raja Wei sedang cemburu.


"Maafkan saya karena telah menyita waktu Yang Mulia dan Permaisuri." ucap Pangeran Arnold.


"Kalau begitu, saya pamit dulu. Semoga anda menikmati waktu anda di sini." ucap Se Se.


Raja Wei membawa Se Se keluar dari ruang pesta, dalam perjalanan menuju kereta kuda, terdengar teriakan dan caci maki yang dilontarkan oleh Pangeran Andrew kepada istrinya, Mariane.


Se Se mencoba untuk tidak ikut campur dalam pertengkaran suami istri tersebut, ia dan Raja Wei terus berjalan menuju ke tempat kereta kuda.


"Bammm!"


Terdengar suara keras dari dalam kamar Pangeran Andrew.


Raja Wei menghentikan langkah kakinya, ia melihat ke arah kamar Pangeran Andrew.


Cairan merah yang seperti darah telah membanjiri sebagian pintu kamar. Karena penasaran, Raja Wei memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Pangeran Andrew.


"Tok Tok Tok!"


"Tok Tok Tok!"


Beberapa kali Raja Wei mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari dalam kamar.


Raja Wei dan Se Se saling bertatap mata, sejenak kemudian mereka membuka pintu kamar secara bersamaan.


"Ackkk!"


Pelayan yang kebetulan lewat di depan kamar Pangeran Andrew langsung berteriak histeris.


"Apa yang terjadi?" gumam Se Se.


"Hahhh...!! Sepertinya ada orang gila yang tinggal dikamar ini!" ucap Raja Wei dengan nada sinis.


Mariane dalam kondisi tergeletak dilantai, wajah dan tubuhnya terdapat banyak luka sayatan benda tajam.


Kening dan lehernya juga mengeluarkan banyak darah akibat benturan keras yang dilakukan Pangeran Andrew. Istana menjadi heboh karena kondisi Mariane yang mengerikan.


"Cepat panggilkan tabib istana!" perintah Se Se dengan wajah panik.


"Siapa yang mengijinkan kalian untuk masuk?" tanya Pangeran Andrew.

__ADS_1


"Dasar bajingan gila!" ucap Raja Wei tanpa memperdulikan Pangeran Andrew.


"Keluar!" bentak Pangeran Andrew dengan sambil melemparkan vas bunga yang ada di meja.


"Prangg!!"


Vas bunga hancur berantakan saat membentur dinding pintu.


"Pangeran Andrew! Tolong jaga sikap anda!" ucap Se Se dengan wajah kesal.


"Apa kalian orang negara Han tidak punya etika? Siapa yang mengijinkan kalian ikut campur dalam masalah rumah tangga ku?" ucap Pangeran Andrew tanpa rasa bersalah.


"Etika? Apakah memukul istri sendiri adalah etika yang anda pelajari?" tanya Raja Wei.


Geram dengan pertanyaan yang menusuk dari Raja Wei, Pangeran Andrew menjadi kehilangan akal. Dia mencabut pedang dan mengarahkan ujung pedangnya ke wajah Raja Wei.


Menyadari bahaya di depan suaminya, Se Se dengan reflex menendang pedang yang di pegang olrh Pangeran Andrew hingga pedang itu terlepas dan terjatuh.


"Menyerang anggota keluarga kerajaan akan mendapat hukuman mati! Apakah anda sudah bosan hidup?" ucap Se Se yang memendam amarahnya.


"Pria bajingan ini, tidak hanya memukuli istrinya di istana orang, sekarang ia bahkan berani mencoba untuk melukai Xuan! Tunggu waktunya, aku akan membuatmu membayar semua dosa dosa mu ini!" batin Se Se.


Tamu yang di undang ke istana mulai berkerumun di depan kamar Pangeran Andrew. Pangeran dan putri dari negara barat juga datang melihat kelakuan kakak tertua mereka yang memalukan.


"Dia memang aib bagi keluarga!" ucap Putri bungsu yang bernama Helen.


Sementara Putri pertama yang bernama Kimberly hanya mengangguk angguk menyetujui pernyataan adiknya.


Pangeran kedua Yohanes hanya tersenyum melihat kondisi kakak dan kakak iparnya.


"Teruskan saja kebodohanmu itu kak Andrew, dengan begitu kau akan disingkirkan dari posisi penerus. Saat itu, akulah yang akan menjadi pewaris tahta." batin Yohanes.


Tabib tiba dengan membawa kotak medis.


"Mohon beri jalan!" ucap pelayan yang mengantarkan tabib.


"Periksa wanita itu!" perintah Raja Wei kepada Tabib.


"Jangan sentuh istriku!" bentak Pangeran Andrew.


Tabib merasa ketakutan, dia melihat ke arah Raja Wei dan Pangeran Andrew secara bergantian. "Aku harus menuruti perintah siapa?" batin Tabib.


"Periksa wanita itu sekarang juga!" perintah Raja Wei lagi.


Tabib segera berjongkok di samping Mariane untuk memeriksa kondisinya. Pangeran Andrew mencari pedangnya yang terlempar tadi, ia memungut kemudian mengarahkan ujung pedang ke leher tabib.


"Ku bilang jangan sentuh istriku!" ucap Pangeran Andrew dengan senyum gila di bibirnya.

__ADS_1


"Jika wanita itu mati, kepalamu juga akan lenyap dari tubuhmu!" ancam Raja Wei sambil melihat mata tabib yang sedang ketakutan.


"To... Tolong hamba!" ucap Tabib yang gemetaran karena pisau mulai melukai lehernya.


"Kakak!" bentak Pangeran Arnold dengan wajah merah padam.


"Kau memanggilku kakak tapi kau selalu meremehkan aku!" keluh Pangeran Andrew dengan mata yang membelalak.


"Kaisar tiba!"


Suara kasim yang memberitahukan kehadiran Kaisar membuat semua orang berlutut memberi hormat.


"Ada keributan apa ini?" tanya Kaisar Han.


"Yang Mulia, maafkan kakak pertama saya yang sudah membuat keributan di istana." ucap Pangeran Arnold dengan wajah menunduk karena malu dengan tingkah laku Pangeran Andrew.


"Aku akan menutup sebelah mata atas kejadian ini, tapi aku harap ini yang terakhir kalinya." ucap Kaisar Han.


Kaisar Han beranjak pergi setelah mengatakan hal yang ingin dia katakan. Para tamu yang hadir pun ikut kembali ke ruang pesta.


"Turunkan pedangmu!" ucap Se Se.


"Sekarang wanita rendah ini bahkan berani memberi perintah padaku! Hehh!! Aku adalah Pangeran pertama dari Kerajaan Barat, aku tidak menerima perintah dari orang Han!" ucap Pangeran Andrew.


"Kalau begitu kau hanya perlu tidur sebentar!" ucap Se Se sambil melempar jarum yang ia keluarkan dari ruang dimensi.


Jarum menancap di leher Pangeran Andrew, pria itu langsung pingsan begitu jarum mendarat di lehernya.


Pangeran dan Putri dari Kerajaan Barat langsung panik begitu melihat tubuh Pangeran Andrew terjatuh.


"Jangan khawatir, dia hanya tertidur!" ucap Se Se yang menyadari kekhawatiran di wajah mereka.


"Periksa wanita itu sekarang!" perintah Se Se kepada tabib istana yang sejak tadi gemetaran.


"Ba... Baik Permaisuri!" jawab Tabib.


Seorang pelayan membantu tabib membersihkan darah di tubuh Mariane. Setelah beberapa saat, tabib selesai memberi obat dan perban di luka luka Mariane.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Raja Wei.


"Beliau dalam keadaan yang sangat lemah, bayi di rahimnya tidak dapat diselamatkan lagi. Kemungkinan beliau hamil juga sangat rendah karena kondisi rahimnya yang terluka akibat benturan keras." jelas Tabib.


"Apa maksudnya?" tanya Pangeran Arnold.


"Kakak ipar keguguran?" tanya Putri Helen.


"Ya ampun... Kita bahkan tidak tau tentang kehamilan kakak ipar." ucap Putri Kimberly.

__ADS_1


"Kau, apa kau tidak salah mendiagnosa?" tanya Pangeran Yohanes dengan wajah terkejut.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2