The Princess Story

The Princess Story
Panggil Aku Xuan!


__ADS_3

"Pelayan, tolong berikan saya makanan paling mahal dan enak ditempat ini. Jangan lupa meminta bayaran kepada Tuan yang diduduk didepan saya." ucap Se Se sambil menjulurkan telapak tangannya yang terbuka dengan kelima ujung jarinya menunjuk Raja Wei.


"Baik nona, saya akan segera mengantarkan pesanan anda. Mohon tunggu sebentar." jawab pelayan.


"Nona Flo, saya sangat penasaran dengan anda. Mulai dari senjata hingga obat yang anda gunakan, semua benda itu sangat unik dan luar biasa. Apakah saya boleh mengetahui dari mana benda itu berasal?" tanya Raja Wei tanpa basa basi.


"Tuan Xuan sepertinya sedang mengintrogasi saya." ucap Se Se.


"Bisa dibilang seperti itu." jawab Raja Wei jujur.


"Sebelum saya menjawabnya, bolehkah saya bertanya satu hal pada Tuan Xuan?"


"Silakan Nona!"


"Saya ingin tau anda berada dipihak mana? Raja Wei... Apakah Raja Wei pernah berniat jahat pada Putra Mahkota?"


"Apa yang dipikirkan gadis ini, bagaimana mungkin aku berniat jahat pada keponakanku sendiri." batin Raja Wei.


"Tentu saja tidak, Nona Flo... bagaimana anda bisa memiliki pikiran seperti itu?"


"Saya hanya memastikan saja bahwa saya tidak membantu musuh Putra Mahkota secara tidak langsung."


" Lalu... Apakah nona bisa menjawab pertanyaan saya sekarang?"


Se Se berdiam sejenak, dia berpikir bagaimana harus menjawab pertanyaan Xuan. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya memiliki ruang dimensi. Bisa-bisa nanti dikira orang gila yang berhalusinasi.


"Nona..."


Suara Raja Wei menyadarkan Se Se dari lamunannya. Dia menatap mata pemuda itu kemudian menjawab, "Aku yang menciptakan benda-benda itu"


Raja Wei menatap Se Se dengan wajah curiga. Dia merasa gadis itu sedang berbohong.


"Jika Nona tidak ingin menjawabnya maka jangan dijawab. Saya tidak suka dibohongi." ucapnya dengan wajah datar.


Tok Tok Tok!!!


Pelayan mengantarkan makanan dan arak.


"Selamat makan Tuan dan Nona." pelayan itu memberi hormat dan keluar dari ruangan.


Se Se menatap makanan itu dengan mata berbinar, air liurnya sudah diujung bibir. Aroma dari makanan itu membuat cacing diperutnya semakin gesit. Pemuda didepannya terkekeh melihat wajah sang gadis yang terlihat kelaparan itu.


Raja Wei mengambilkan beberapa sayuran dan daging di mangkuk Se Se.


"Makanlah, air liur mu sudah hampir jatuh." ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Memalukan sekali!" ucap hati nurani Se Se saat menyadari apa yang baru saja dia lakukan.


"Terima kasih Tuan Xuan." ucapnya sambil mengambil sumpit dimeja.


Seperti biasanya, sang gadis makan dengan lahap tanpa sifat anggun seorang gadis bangsawan. Dalam waktu sebentar saja semua makanan sudah habis.


Raja Wei mengeluarkan sapu tangannya. Dia berdiri dari duduknya kemudian berjalan mendekat ke gadis itu.


"Kamu! Mau apa...?" ucap Se Se memundurkan kepalanya kebelakang.


"Diamlah sebentar, ada sisa makanan dipipimu." ucap Raja Wei kemudian mengelap sisa makanan diwajah sang gadis.


DEG!


"Aaakhhh! jantungku! Kenapa akhir-akhir ini jantungku selalu berdetak kencang?Sepertinya aku akan terkena serangan jantung." ucap batin Se Se.


Pandangan mereka bertemu. Mereka saling menatap beberapa saat.


Ba Dum Ba Dum!


Hanya suara detakan jantung yang terdengar diruangan itu. Raja Wei mengalihkan pandangannya ke bibir mungil sang gadis yang semerah darah itu. Darahnya terasa mendidih, suhu tubuhnya meningkat. Dia merasakan perasaan ini saat mencium gadis kecilnya beberapa hari yang lalu.


Raja Wei menundukkan kepalanya lebih rendah. Bibirnya makin mendekat ke bibir sang gadis. Saat bibir keduanya hampir bertabrakan terdengar suara ketukan pintu yang menyadarkan mereka.


Tok Tok Tok!


Seorang pelayan masuk dan mengantarkan sepiring hidangan laut.


"Permisi Nona, saya diminta untuk mengantarkan makanan ini kepada Nona. Tuan muda itu juga meminta saya memberikan surat ini." ucap pelayan sambil memberikan surat kepada Se Se.


"Terima kasih!" ucap Se Se yang mengambil surat dari tangan pelayan.


Dia membuka surat itu dan membacanya dalam hati.


"Saya tau identitas asli anda. Saya akan menunggu anda di jembatan Ular malam ini."


Se Se meremas kertas itu, wajahnya berubah datar. Raja Wei menyadari perubahan wajah sang gadis.


"Siapa yang mengirimkan surat itu? wajahnya terlihat serius setelah membacanya." batin Raja Wei.


"Tuan Xuan, saya harus pergi sekarang. Terima kasih untuk jamuannya." ucap Se Se kemudian berdiri dari duduknya.


"Saya akan mengantar anda!" ucap Raja Wei


"Terima kasih, tapi saya masih ada urusan lain." tolak Se Se dengan sopan.

__ADS_1


"Bisakah kita bertemu lagi?" tanya Raja Wei dengan wajah datarnya yang tidak senang ditolak.


"Jika berjodoh, kita akan bertemu lagi Tuan Xuan." ucap Se Se sambil memandang wajah tampan pemuda itu.


"Xuan! Panggil aku Xuan. Hilangkan kata Tuan didepannya." ucap Raja Wei yang tidak ingin dipanggil tuan.


"Kita tidak cukup dekat untuk saling memanggil nama depan." Se Se menolak lagi.


"Gadis ini benar-benar membuatku habis kesabaran"


Raja Wei mendekatkan wajahnya ke wajah Se Se. Gadis itu melangkah mundur melihat pemuda itu mendekat kearahnya.


"Tuan..." ucap gadis itu masih melangkah mundur.


"Xuan!" balas Raja Wei dengan terus melangkahkan kakinya mendekati Se Se.


Langkah kaki Se Se terhenti saat tubuhnya menyandar di dinding pembatas ruangan, tidak ada tempat kabur lagi untuknya.


Raja Wei mengurung gadis itu dengan kedua tangannya yang bertumpu di dinding. Dia mendekatkan wajahnya menatap mata gadis itu.


Ba Dum Ba Dum!


"Jantungku... jantungku mulai kambuh lagi!"


Se Se mengalihkan pandangannya kebawah. Dia tidak ingin menatap wajah tampan itu. Wajah pemuda itu sangat berbahaya untuk jantungnya.


Raja Wei menyunggingkan senyuman di bibirnya saat melihat wajah sang gadis memerah.


"Tu... Tuan Xuan! Tolong menjauhlah!" ucap Se Se yang masih menundukkan kepalanya.


Pemuda itu mengabaikan permintaan sang gadis dan hanya mengucapkan satu kata. "Xuan!"


"Hufff...."


Se Se menghela nafas, dia menyerah dan memanggil pemuda itu dengan namanya.


"Xuan...."


"Anak pintar!" ucap Raja Wei sambil mengelus kepalanya.


Raja Wei menurunkan tangannya dan melangkah mundur. Se Se mengangkat wajahnya, dia menatap Raja Wei dengan mata tidak senang dan bibir yang cemberut.


Raja Wei tertawa kecil melihat wajah gadis itu. Sang gadis segera berlari keluar meninggalkan Raja Wei yang masih tertawa.


Setelah bayangan gadis itu menghilang, wajah pemuda itu kembali serius.

__ADS_1


"Yu, ikuti gadis itu!" perintah Raja Wei kepada Yu yang sejak tadi mengawasi ruangan itu dari tempat tak terlihat.


__ADS_2