
"Xuan, coba lihat ini!" ucap Se Se sambil menyodorkan kotak perhiasan yang baru saja dia ambil dari Pak Tua.
Raja Wei membuka kotak, di dalamnya berisi sebuah batu giok berwarna hijau gelap.
"Ini hadiah yang kamu siapkan untuk ulang tahun Perdana Menteri?" tanya Raja Wei.
"Ya, ayah selalu menyukai giok hijau. Aku ingin membuat liontin dari giok ini." jawab Se Se dengan senyuman di wajahnya.
"Akan sulit mengukir di batu giok." ucap Raja Wei.
"Tidak apa apa, itu bukan masalah bagi ku." jawab Se Se yakin.
"Apa yang ingin kamu ukir di giok itu?" tanya Raja Wei.
"Aku ingin mengukir nama ayah dengan seekor harimau sebagai latarnya." jawab Se Se.
"Sepertinya Perdana Menteri akan menyukainya, karena itu hadiah dari mu." ucap Raja Wei.
"Aku harap begitu, sudah lama aku tidak bertemu dengan ayah dan kakak." Se Se menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan air mata yang terlanjur berlinang.
Raja Wei tentu saja mengetahui hal itu, namun untuk menjaga harga diri istrinya, ia diam pura pura tidak tau.
"Kita sudah sampai, berikan kotak itu kepada Yu. Biar dia yang membawanya." ucap Raja Wei setelah kereta kuda berhenti di depan pintu gerbang.
"Aku ingin ke kamar anak anak lebih dulu sebelum kembali. Mau kah Xuan menemani ku?" pinta Se Se dengan senyuman tipis.
"Baiklah, ayo kita pergi bersama." Raja Wei menjawab sambil menggenggam erat telapak tangan istrinya yang mulai dingin karena angin malam.
Kedua pasangan itu berjalan bergandengan menelusuri pohon pohon rindang yang tertanam di sekeliling pekarangan.
Sekali kali Raja Wei memandang wajah istrinya yang diterpa oleh cahaya bulan.
"Betapa beruntungnya aku memiliki istri secantik dirimu..." benak Raja Wei.
"Sayang..." panggil Raja Wei mesra.
"Ya..."
Se Se menoleh menatap Raja Wei.
Sebuah kecupan mendarat di bibir nya yang semerah darah. Mendapat kecupan dari suami tercinta tentu saja membuat hati semua wanita bahagia. Begitu juga dengan Se Se yang saat ini memamerkan sederetan gigi gigi putih yang rapi dan terlihat manis di wajahnya.
Raja Wei melingkarkan satu lengannya ke atas bahu Se Se, mereka terus melangkah bersama hingga tiba di pintu kamar anak anak.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari menjelang pagi, istana kembali di hebohkan oleh Pangeran Yohanes yang membawa beberapa wanita malam untuk menyenangkan kakaknya, Pangeran Andrew.
"Kakak kedua, apa yang kamu lakukan?" tanya Pangeran Arnold geram.
"Aku hanya membawa mainan baru untuk Kak Andrew." jawab Pangeran Yohanes dengan senyumnya yang palsu.
"Kakak!" bentak Pangeran Arnold emosi dengan kelakuan Pangeran Yohanes.
Pangeran Yohanes terdiam, wajah senyumnya kini berubah menjadi dingin.
"Jangan mencoba untuk ikut campur dalam urusan ku!"
Pangeran Yohanes mencoba memberi peringatan dengan kata kata dan ekspresi wajahnya yang kini tampak ingin membunuh adiknya sendiri jika ia menghalangi jalannya.
"Kita adalah saudara kandung, kenapa kakak harus berbuat sampai sejauh ini?" tanya Pangeran Arnold yang kecewa dengan sikap Pangeran Yohanes.
"Diam! Tutup mulut mu itu! Aku .... tidak akan pernah menjadi saudara mu! Sebaiknya kau mengingat hal itu." jawab Pangeran Yohanes yang langsung berjalan pergi meninggalkan Pangeran Arnold.
Pangeran Arnold menunduk diam, sedih dan kecewa melihat ambisi kakak keduanya.
"Mariane, aku sudah mencoba melakukan yang terbaik. Maafkan aku karena tidak berhasil mengubah sikap Kak Andrew." gumam Pangeran Arnold dengan wajah menyesal.
"Tok Tok Tok!"
Pangeran Yohanes mengetuk pintu kamar, seorang pengawal membuka pintu dan mempersilahkan Pangeran Yohanes untuk masuk ke dalam.
"Yohanes, ada apa pagi pagi kamu sudah menemui ku?" tanya Pangeran Andrew.
"Kakak Pertama, aku membawakan hadiah untuk mu." ucap Pangeran Yohanes dengan senyuman palsunya.
Kedua wanita penghibur masuk mengikuti langkah kaki Pangeran Yohanes.
"Kami memberi hormat kepada Pangeran Andrew." ucap keduanya sambil berlutut.
"Adik kedua, Apa ini hadiah yang kamu maksud?" tanya Pangeran Andrew dengan wajah kesal.
Pangeran Yohanes tersentak mendengar pertanyaan dari Kakaknya, dalam hati ia bertanya tanya, "Ada apa dengan orang bodoh ini? Kenapa hari ini dia bertingkah berbeda dari biasanya?"
"Aku membawakan wanita tercantik yang baru saja di bawa oleh penjual budak. Kakak pasti akan menyukai kedua wanita yang masih perawan ini." ucap Pangeran Yohanes dengan percaya diri.
"Bawa mereka kembali, aku tidak membutuhkan hadiah seperti itu lagi. Mulai sekarang, jangan pernah membawa wanita masuk ke dalam kamar ku!" ucap Pangeran Andrew tegas.
__ADS_1
"Bajingan ini, kenapa dia bersikap seperti ini? Apakah aku telah menyinggung perasaannya?" benak Pangeran Yohanes.
Pangeran Yohanes merasa kesal dengan ucapan dari Pangeran Andrew, namun dia masih menahan semua kata kata kasar yang hendak ia lontarkan.
"Maafkan aku karena telah mengganggu waktu kakak pertama, aku pamit dulu!" ucap Pangeran Andrew.
"Pergilah!" jawab Pangeran Andrew.
Pangeran Yohanes berjalan keluar dari kamar Pangeran Andrew di ikuti oleh kedua wanita penghibur.
"Aku sudah lelah dengan semua sandiwara ini!" gumam Pangeran Yohanes yang saat ini mengepal erat tangannya.
Sesampainya di kamar, Pangeran Yohanes memanggil salah satu pengawal kepercayaannya.
"Berikan surat ini dan sampaikan kepada Tuan Lu agar ia melakukan perintah dengan baik, aku tidak ingin mendengar kata 'gagal' nantinya!" perintah Pangeran Yohanes sembari menyerahkan secarik surat kepada pengawal itu.
Pengawal bergegas keluar setelah menjawab, "Baik Tuan!"
Selesai membaca surat dari Pangeran Yohanes, Tuan Lu terlihat sangat marah. Surat itu di remas lalu di lemparkan ke dalam kobaran api pemanas ruangan.
"Kumpulkan orang orang kita sekarang juga!" perintah Tuan Lu kepada seorang pelayan di sampingnya.
Di sebuah ruangan dengan nyala lilin remang remang, beberapa pria berpakaian serba hitam dengan kain penutup wajah berdiri menunggu kedatangan Tuan mereka.
"Bammm!"
Pintu di buka dengan kasar, Tuan Lu melangkah masuk dengan wajah kesal.
"Malam ini kalian akan di berikan tugas khusus. Bacalah dengan teliti tugas kalian!" ucap Tuan Lu sementara seorang pelayan membagikan kertas ke setiap pria yang berbaju hitam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah gua yang terletak di atas puncak gunung, burung Phoenix Huo Feng mengumpulkan batu batu panas dari dalam gunung berapi.
Beberapa kali ia terbang keluar dan kembali ke gua untuk meletakkan batu yang ia ambil di sekitar magma.
Telur berwarna merah mengeluarkan bara api di kelilingi oleh batu batu panas yang di kumpulkan oleh Huo Feng.
"Akhirnya selesai juga tugas ku. Aku sudah sangat bosan di sini!" keluh Huo Feng sambil terbang berputar putar di atas telur itu.
"Ini saatnya kembali, aku akan mengambil kekuatan suci manusia itu sebanyak banyaknya. Hahaha...!" ucap Huo Feng dengan tawa yang menggelegar.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^