The Princess Story

The Princess Story
Ep 123. Pembunuhan gagal lagi


__ADS_3

"Xuan... aku akan marah jika kamu tidak menghentikannya sekarang!" ucap Se Se dengan suara bergetar.


"Apa yang akan kamu lakukan jika marah pada ku? Aku lebih senang jika kamu menghukum ku dengan cara yang sama." jawab Raja Wei tanpa menghentikan gerakan jarinya.


"Arghhh..."


Tubuh Se Se bergetar mencapai puncak kenikmatan, dia memeluk erat pundak Raja Wei dan menggigit bahunya.


Raja Wei tersenyum puas, dia mencium pipi dan bibir Permaisuri nya dengan liar.


"Yang Mulia, kita sudah sampai." lapor Yu dari luar.


Raja Wei membenarkan pakaian Se Se, dia menggendongnya turun dari kereta dan membawanya ke kamar. Tanpa menunggu lama, Raja Wei melepaskan semua pakaian mereka dan melampiaskan gairah yang sejak tadi dia tahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selir Fei mengirimkan surat untuk seseorang yang isinya, "Bunuh Huang Se Se dan anak-anaknya!"


Seorang pelayan datang dan mengirimkan surat dari Selir Fei untuk Han Ze Liang yang berada di luar istana.


Han Ze Liang saat ini tinggal di rumah Fei Ho Tian, sepupu dari Selir Fei. Dia mengumpulkan beberapa pembunuh bayaran dan memerintahkan kepada mereka untuk membunuh Se Se dan putra putrinya.


Tengah malam, pembunuh mengintai kediaman Raja Wei, Se Se berada di kamar bersama kedua anaknya.


Beberapa pengawal berkeliling di dalam kediaman, dua orang pembunuh turun dari atap bangunan dan menyerang pengawal yang sedang berkeliling.


Dengan gerakan gesit mereka membunuh pengawal tanpa menimbulkan keributan.


Raja Wei masih berada di ruang kerja, kamar Se Se hanya di jaga oleh 2 orang pengawal dan 2 Pasukan Elang.


Sebanyak 20 orang pembunuh bayaran masuk ke dalam kediaman dan membunuh beberapa pengawal yang berkeliling, penjaga pintu di depan kamar juga di bunuh secara diam-diam.


Seorang pembunuh membuka pintu kamar dan menyerang Se Se yang saat itu sedang menidurkan kedua anaknya.


"Swoshhh!"


Pasukan Elang dengan cepat menghadang serangan dari para pembunuh.


"Permaisuri, cepat pergi ke ruangan kerja Yang Mulia!" ucap salah Pasukan Elang.


"Dor Dor Dor!"


Se Se mengeluarkan pistol dan menembak beberapa pembunuh yang berada di dekatnya.


"Yu, apa kamu mendengar suara itu?" tanya Raja Wei.


"Ya, itu suara tembakan dari senjata Permaisuri." jawab Yu.


"Brakkk!"

__ADS_1


Raja Wei segera keluar dari ruangannya dan menuju ke kamar. Hatinya menjadi cemas dan gelisah memikirkan hal buruk yang akan terjadi pada anak dan istrinya saat ini.


Yu mengikuti dari belakang, dia mengeluarkan pedangnya dan menjaga Raja Wei secara waspada.


Pembunuh masih bertarung dengan Pasukan Elang, kemampuan Pasukan Elang yang di atas rata-rata membuat para pembunuh kesulitan.


Seorang pembunuh mengarahkan busur ke arah Xin Xin, Se Se yang tidak menyadari nya masih sibuk mengarahkan pistol ke kepala pembunuh yang mendekat ke arahnya.


"Xin!!" Raja Wei baru sampai kamar dan melihat anak panah melesat ke arah Xin Xin.


"Syuttt!"


Se Se menoleh ke belakang tempat Xin Xin terbaring, anak panah menancap tepat di dada Xin Xin.


"Xin Xin!" ucap Se Se dengan wajah panik.


Raja Wei menarik pedangnya dan membunuh semua pembunuh di kamar. Dengan wajah penuh amarah, dia menebas kepala dan tubuh mereka.


Pedangnya kini di selimuti oleh darah-darah dari para pembunuh, beberapa pembunuh melarikan diri setelah melihat kemampuan Raja Wei yang sangat tangguh.


Pasukan Elang mengejar beberapa pembunuh yang melarikan diri, mereka tertangkap saat akan keluar dari gerbang.


Se Se memeriksa keadaan Xin Xin, dia merasa aneh melihat dada Xin Xin yang tidak mengeluarkan darah.


Xin Xin membuka matanya dan tersenyum dengan wajah cerah, anak panah menancap ke dadanya namun terhalang oleh giok yang diberikan oleh Raja Wei kepada anak-anaknya saat mereka berusia 1 bulan.


Se Se memeluk Xin Xin, "Untung saja giok ini melindungi mu." gumamnya.


Raja Wei mendekat dan ikut memeluk Xin Xin.


"Maaf, lagi-lagi aku terlambat." ucap Raja Wei.


Se Se menggelengkan kepala dan menjawab, "Xuan tidak terlambat, Xuan telah menyelamatkan nyawa ku dan Xin Xin. Lihat, giok ini adalah pemberian dari Xuan untuknya, Xin Xin selamat berkat giok ini."


"Ini adalah giok pemberian ibu ku." ucap Raja Wei.


"Florence... Dia benar-benar penyelamat kita." batin Se Se.


"Yang Mulia, kami menangkap sisa pembunuh yang melarikan diri." lapor salah satu Pasukan Elang.


"Di mana mereka?" tanya Raja Wei.


"Kami mengurung mereka di penjara bawah tanah." jawab Yu.


Raja Wei menuju ke penjara bawah tanah di ikuti oleh Yu.


"Siapa yang mengirim mu kemari?" tanya Raja Wei kepada pembunuh.


"Bunuh saja kami, kami tidak akan menyebutkan siapa orangnya." jawab salah satu pembunuh.

__ADS_1


"Terlalu mudah jika hanya membunuh, aku akan menyiksa kalian dengan perlahan sampai kalian mengatakan siapa yang mengirimkan kalian ke tempat ini!" ucap Raja Wei.


Raja Wei memberi tanda pada pengawal untuk mencambuk tubuh mereka, beberapa kali pengawal menyiramkan air garam ke tubuh para pembunuh.


Suara rintuhan dan teriakan minta ampun terdengar di luar. Pengawal yang berjaga merasa merinding dan ketakutan mendengar suara teriakan itu.


Raja Wei kembali ke kamar, dia mendekat ke tempat tidur.


"Xuan..." panggil Se Se saat melihat Raja Wei berjalan masuk.


"Aku belum mendapatkan jawaban, entah siapa yang mengirimkan pembunuh itu." ucap Raja Wei.


"Tidak perlu di tanya lagi, sudah pasti ini ulah dari Selir Fei dan anaknya." ucap Se Se.


Raja Wei memeluk Se Se, "Ini gara-gara aku, semuanya karena aku. Kalian menjadi target pembunuh, semua di sebabkan oleh posisi ku di kerajaan." ucap Raja Wei dengan wajah menyesal.


"Ini bukan salah Xuan, meskipun Xuan tidak mendapat posisi ini, orang-orang itu juga tidak akan membiarkan hidup kita tenang." ucap Se Se menghibur Raja Wei.


"Bagaimana bisa istri ku selalu menghibur ku di saat seperti ini? Tidak bisa kah kamu marah sekali-kali agar hati ku terasa lebih nyaman?" ucap Raja Wei.


"Itu karena aku mengatakan hal yang sebenarnya. Bukan salah Xuan, ini adalah salah orang-orang jahat itu." jawab Se Se.


"Bagaimana kalau kita kabur saja dari sini dan hidup tenang di tempat yang jauh?" tanya Raja Wei dengan nada serius.


"Lalu bagaimana dengan Kaisar? Bagaimana dengan Putra Mahkota? Bagaimana dengan rakyat di negara ini? Apakah Xuan tega meninggalkan mereka?" ucap Se Se.


"Aku tidak perduli dengan mereka, aku hanya perduli pada keluarga ku, anak-anak dan istri ku." jawab Raja Wei.


Se Se memeluk Raja Wei dengan erat, "Xuan... jangan bohongi hati mu. Aku tidak akan percaya dengan ucapan mu itu. Xuan terlahir sebagai keluarga kerajaan, sudah seharusnya Xuan memikirkan nasib negara ini. Aku tidak akan banyak menuntut, hidup ku saat ini sudah cukup bahagia."


Raja Wei melepas pelukan mereka, "Apakah aku harus melepas mu agar nyawa kalian tidak terancam lagi?"


"Jika Xuan berani melepaskan kami, aku tidak akan pernah memaafkan mu." jawab Se Se dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf, aku tidak akan pernah berkata seperti itu lagi. Aku akan memerintahkan semua Pasukan Elang untuk menjaga kamar ini, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian." ucap Raja Wei dilanjutkan dengan ciuman mesra untuk istrinya.


Hari menjelang pagi, para pembunuh di siksa hingga mati tanpa mengatakan siapa dalang nya.


Kaisar dan Han Ze Xing mendengar berita tentang percobaan pembunuhan Permaisuri dan anak-anaknya. Kaisar mengutus beberapa prajurit istana untuk menjaga kediaman Raja Wei.


Selir Fei melemparkan barang-barangnya, dia merasa marah karena rencana nya lagi-lagi gagal.


"Benar-benar tidak berguna!" teriaknya sambil melempar sebuah cangkir ke arah pelayan.


Pelayan terjatuh dan memegang kepalanya yang bocor akibat lemparan cangkir.


"Wanita keji ini, aku akan membalasnya suatu hari nanti." batin pelayan.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2