
Setelah menenangkan dirinya, Max mengatakan kepada Se Se jika harta yang ada di tangan Pangeran Yohanes kini berada di kereta kuda yang dia tinggalkan di restoran.
"Apa yang ingin kamu lakukan dengan harta itu?" tanya Se Se.
"Saya akan menyerahkan harta itu untuk Yang Mulia." jawab Max.
Se Se menatap pria itu, dalam hati dia bertanya, "Kenapa pria ini membawakan harta Pangeran Yohanes kepadaku? Dia bisa saja membawa semua harta itu bersamanya atau memberikan harta itu untuk Li Ying."
Max seperti mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Se Se, dia langsung menjelaskan alasannya.
"Yang Mulia, saya hendak memberikan harta itu untuk anda, awalnya adalah karena saya ingin memberikan imbalan atas pertolongan Yang Mulia. Tapi sekarang, saya rasa harta itu memang lebih cocok untuk diserahkan ke tangan Yang Mulia.
"Harta itu berasal dari jeritan dan tangisan banyak orang yang dijual sebagai budak, saya harap orang lain dapat terbantu dengan menggunakan harta yang berlumuran air mata itu.
"Saya juga berharap Yang Mulia akan menerimanya dan saya yakin Yang Mulia tidak akan berpikir untuk mengembalikan harta itu ke Pangeran Andrew ataupun Pangeran Arnold, karena pastinya semua uang yang masuk ke tangan keluarga kerajaan hanya akan digunakan untuk berfoya-foya." ucap Max.
"Aku tidak akan menerima harta itu!" jawab Se Se.
Max merasa terkejut mendengar jawaban Se Se, dia tidak menyangka akan ada orang yang menolak harta kekayaan yang begitu melimpah.
Se Se melanjutkan ucapannya, "Aku ingin kamu yang mengurus semua harta itu, kamu harus menggunakan uang yang ada ditanganmu itu untuk membantu orang miskin dan terlantar. Anggap saja itu hukuman untukmu yang sudah banyak berbuat kejahatan, meski kejahatan itu diperintahkan oleh Pangeran Yohanes."
Max tersenyum lega mendengar penjelasan dari Se Se, dia menerima hukuman dari wanita itu dengan senang hati.
"Pergi dan bawakan aku kepala Pangeran Yohanes!" perintah Se Se dengan wajah dingin.
"Baik Yang Mulia." jawab Max.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wen Yi masih belum terbiasa hidup bersama dengan pria asing, selama beberapa hari ini dia tidur di ranjang Ti Yi sementara pria itu tidur di kursi panjang yang ada di dalam kamar.
"Kau lapar?" tanya Ti Yi ketika melihat Wen Yi memegangi perutnya yang datar.
Wanita itu mengangguk pelan, "Iya, aku lapar."
__ADS_1
"Ayo ikut aku, kita akan ke dapur untuk mengambil makanan." ajak Ti Yi.
Wen Yi menurut, dia berdiri kemudian mengikuti langkah Ti Yi menuju ke dapur. Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan Se Se. Ti Yi segera memberi hormat diikuti oleh Wen Yi yang ikut memberi hormat meskipun dia tidak tau siapa wanita itu.
"Yang Mulia, dia Wen Yi gadis yang telah anda selamatkan." ucap Ti Yi.
Se Se menoleh ke arah Wen Yi, dia tersenyum ramah saat melihat wajah Wen Yi yang gugup.
"Apa kamu betah tinggal di tempat ini?" tanya Se Se.
Wen Yi mengangguk dengan cepat, tentu saja dia betah tinggal di kediaman itu. Bukan hanya mendapatkan makanan yang enak dan tempat tidur yang nyaman, dia bahkan tidak pernah dipukuli ataupun dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan.
"Yi, jangan menghamili gadis kecil!" goda Se Se sebelum pergi meninggalkan kedua orang itu.
Wen Yi yang mendengar hal itu menjadi salah tingkah, wajahnya berubah merah karena malu dengan pikirannya yang membayangkan hal itu. Begitu pula dengan Ti Yi, wajahnya memanas dan memerah seperti kepiting rebus. Kedua muda mudi itu malu menatap satu sama lain gara-gara godaan yang dilontarkan oleh Permaisuri mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Se Se menemui Raja Wei, dia memberitahu suaminya tentang pertemuannya dengan Max.
Raja Wei memanggil Yu, dia memerintahkan pria itu untuk memanggil kedua penjaga gerbang.
"Yang Mulia, mereka berdua ada disini!" lapor Yu.
Kedua penjaga itu berlutut dihadapan Raja Wei dengan tubuh gemetaran. Mereka takut Raja Wei akan menghukum mereka karena telah bersikap tidak sopan dan menghina Permaisuri di depan gerbang tadi.
"Kalian tau apa kesalahan yang telah kalian lakukan?" tanya Raja Wei dengan wajah dingin.
"Maafkan kami Yang Mulia, kami benar-benar tidak sengaja melakukan itu." ucap salah seorang penjaga.
"Kami tidak mengenali wajah Permaisuri. Kami pantas mati!" ucap penjaga yang lain.
"Hanya itu kesalahan kalian?" tanya Raja Wei lagi dengan suara yang lebih tinggi.
"Kami..." kedua penjaga saling menatap, mereka tidak tau kesalahan apa lagi yang telah mereka lakukan selain tidak mengenali Permaisuri.
__ADS_1
Mata Raja Wei membesar, dia melotot ke arah kedua penjaga sambil berkata, "Kesalahan terbesar kalian adalah tidak melaporkan kedatangan orang asing di kediaman ini!"
"Itu..." penjaga yang lebih kurus hendak beralasan, namun ucapannya dipotong oleh Raja Wei.
"Mulai hari ini kalian akan dikirim keluar perbatasan untuk menjaga para tahanan, gaji kalian akan dipotong selama 1 tahun. Kalian keberatan?" ucap Raja Wei.
"Ti.. Tidak, Terima kasih atas kebesaran hati Yang Mulia." ucap kedua penjaga sambil bersujud.
"Keluar!" perintah Raja Wei.
Se Se dan Yu diam membisu melihat kemarahan pria itu, wajah dingin dan menakutkan yang sudah lama tidak diperlihatkan oleh Raja Wei mengingatkan mereka betapa kejamnya pria itu di masa lalu.
"Yu, keluar!" perintah Raja Wei masih dengan sikap dingin dan mendominasi.
Setelah Yu keluar, Raja Wei mendekati istrinya. "Kau... Kau tau kesalahan apa yang telah kamu perbuat?" tanya Raja Wei ketika wajahnya hampir melekat di wajah istrinya.
Se Se tidak berani menatap mata Raja Wei, dia mengalihkan bola matanya ke arah lain.
"Kau tidak mendengar pertanyaanku?" tanya Raja Wei dengan ekspresi kesal.
"Maaf... Lain kali aku akan memberitahukan hal ini pada Xuan lebih dulu." ucap Se Se tanpa menatap mata suaminya.
"Kau tau betapa bahayanya menemui orang asing tanpa pengawalan? Kau juga berani keluar dari kediaman tanpa dikawal oleh satu orangpun! Jangan berpikir dirimu ini memiliki nyawa kucing!"
*Menurut mitos, kucing memiliki 9 nyawa.
Raja Wei meninggikan suaranya, dia terlihat sangat marah karena istrinya yang selalu keluar tanpa pengawalan dan juga selalu mempercayai orang asing yang baru dia temui.
"Maaf, lain kali aku akan membawa pengawal bersamaku." jawab Se Se sambil menundukkan wajahnya.
"Masih ada lain kali? Mulai sekarang kamu tidak boleh pergi dari kediaman ini tanpa izin dariku!" ucap Raja Wei dengan membelalakkan matanya.
Pria itu menatap istrinya yang masih menunduk, sebenarnya dia tidak tega memarahi istrinya. Namun jika terus dibiarkan seperti ini, dia takut istrinya akan semakin sering melakukan hal-hal berbahaya yang dapat mengancam nyawanya.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1