
Pangeran Yohanes menatap laporan yang baru saja dia terima dari pelayan. Wajahnya tampak kesal setelah membaca laporan itu.
"Pranggg!"
Cangkir dan teko teh yang ada di meja kini hancur berantakan di lantai. Pangeran Yohanes melampiaskan kemarahannya kepada benda tak bernyawa itu.
"Sialan! Dasar tak berguna!" maki Pangeran Yohanes.
Pria itu kemudian memanggil pelayan yang berjaga di luar.
"Siapkan kereta kuda!" perintah Pangeran Yohanes.
Saat itu waktu sudah sangat larut, melihat kereta kuda yang akan keluar dari istana di tengah malam, penjaga pintu gerbang yang merasa curiga akhirnya menghalangi laju kereta kuda.
"Ada apa ini?" tanya Pangeran Yohanes.
"Tolong buka pintu kereta anda! Kami harus memeriksanya." pinta penjaga gerbang.
"Apa kalian yakin akan memperlakukan tamu Kaisar seperti ini?" tanya Pangeran Yohanes dengan wajah kesal.
"Maaf, kami hanya menjalankan tugas!" ucap salah satu penjaga.
Raja Wei saat itu memiliki janji di istana, dia juga baru saja selesai dan hendak keluar dari pintu gerbang.
Penjaga membuka pintu ketika melihat kereta Raja Wei. hal itu membuat Pangeran Yohanes menjadi tersulut amarah yang sejak tadi memang sudah dia tahan.
"Kenapa kalian tidak memeriksa kereta kuda itu?" bentak Pangeran Yohanes.
"Apa anda bercanda? Kereta kuda itu milik Yang Mulia Raja Wei. Untuk apa kami memeriksa kereta kuda itu?" jawab salah satu penjaga.
Mendengar jawaban dari penjaga, pria itu semakin marah. Dia menatap para penjaga dengan wajah kesal, kesal karena tidak ada satupun rencana yang berhasil berjalan dengan baik. Kesal karena ditahan di pintu gerbang dan juga kesal karena dia tidak lebih berpengaruh dari pada Raja Wei.
"Aku pasti akan membuat hidupnya sengsara!" batin Pangeran Yohanes.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari berlalu dengan damai, kediaman Raja Wei dikunjungi oleh Ye Yuan dan Perdana Menteri Huang.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Perdana Menteri Huang.
"Saya baik-baik saja ayah." jawab Se Se.
"Ayah senang kamu baik-baik saja. Mulai sekarang, Ayah akan memberikan pengawalan untukmu. Ayah tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi." ucap Perdana Menteri Huang.
__ADS_1
"Jangan!!! Aku tidak terbiasa di kawal oleh banyak orang. Liu dan San sudah cukup untuk ku!" tolak Se Se.
"Aku tidak suka di ikuti, apalagi jika di ikuti oleh orang-orang yang Ayah kirimkan. Bisa-bisa nanti seluruh pergerakanku dilaporkan oleh mereka. Tidak... Tidak mau! Aku tidak mau di mata-matai setiap hari." benak Se Se.
"Ayah melakukan ini karena khawatir kepadamu. Terima saja dan dengarkan kata Ayah!" ucap Perdana Menteri Huang.
Se Se melirik ke arah Ye Yuan, berharap kakaknya itu akan membantunya bicara. Namun bukannya Ye Yuan membantu, pria itu malah mendukung keputusan yang diambil secara sepihak oleh Perdana Menteri Huang.
"Mei, terima saja pengawal dari Ayah. Aku juga sangat khawatir padamu." ucap Ye Yuan.
"Hahhh..."
Se Se menghela napas panjang, dengan terpaksa dia menerima tawaran dari ayahnya karena kakaknya pun ikut mendukung.
"Silahkan di minum Tuan besar dan Tuan muda!" ucap Ling Er sambil menuangkan teh ke cangkir kedua tuannya.
"Dimana anak-anak?" tanya Ye Yuan yang sudah kangen dengan keponakannya.
"Mereka sedang bermain bersama di taman." jawab Ling Er.
"Ling Er, kenapa kau meninggalkan anak-anak sendirian?" tanya Perdana Menteri Huang cemas.
"Mereka tidak sendirian Tuan, ada pelayan baru yang menemani Putri dan Pangeran di sana." jawab Ling Er.
"Ya, dia bekerja dengan baik, anak-anak juga menyukainya." jawab Se Se sambil tersenyum.
"Aku akan pergi ke taman untuk bertemu dengan keponakanku!" ucap Ye Yuan.
"Ayah juga ingin menemui mereka. Kamu istirahat lah lebih banyak agar lekas pulih." ucap Perdana Menteri Huang.
Keduanya keluar di ikuti oleh Ling Er. Pelayan wanita itu mengantar kedua Tuan mereka ke taman tempat anak-anak bermain.
"Entah bagaimana kondisi San dan Liu. Aku harap mereka cepat pulih. Liu... Dia akan baik baik saja kan? Sepertinya tidak... Bagaimana mungkin dia bisa baik-baik saja ketika dia mengetahui dirinya kini menjadi orang lumpuh? Aku harus melakukan sesuatu untuk menyembuhkan Liu." pikir Se Se.
Seorang pria yang mengenakan kain penutup wajah masuk ke kamar Se Se melalui jendela. Pria itu tanpa ragu mendekat ke ranjang tempat tidur wanita itu.
"Bagaimana kabar anda?" tanya pria itu.
"Akhir-akhir ini anda sangat rajin berkunjung ya...!" sindir Se Se.
"Anda mengenali saya?" tanya pria itu setengah terkejut.
"Tentu saja saya mengenali anda. Setiap kali anda datang, anda selalu menyebarkan wewangian bunga di kamar saya." jawab Se Se.
__ADS_1
"Hahaha..." pria itu tertawa.
"Apa yang lucu dari jawaban saya?" tanya Se Se.
"Nona benar-benar menarik, wewangian bunga ya? Hahaha..." ucap pria itu yang kembali tertawa mengingat ucapan Se Se.
"Obat bius hanya di anggap sebagai wewangian bunga bagi wanita ini! Dia benar-benar aneh dan menarik sekali!" benak Zhun Tian.
Zhun Tian selalu kembali ke kediaman Raja Wei setiap kali dia mempunyai waktu senggang. Apalagi ketika di pikirannya terlintas wajah pucat Se Se yang masih terlihat tenang meskipun sedang menghadapi kematian.
Zhun Tian mendekatkan wajahnya, dia menatap mata Se Se yang bersinar.
"Apa yang anda lakukan?" tanya Se Se dengan mengerutkan keningnya.
"Aku hanya ingin menatap mata anda yang indah." jawab Zhun Tian.
"Mataku? Indah?" gumam Se Se.
"Ya, mata anda sangat indah, bersinar bagai bintang di langit. Saya merasa tenang setiap kali menatap mata anda yang bercahaya." jawab Zhun Tian.
"Apa ini jenis gombalan terbaru?" tanya Se Se dengan wajah serius.
"Pfff... Hahaha... Anda benar-benar gadis yang menarik ya!" ucap Zhun Tian dengan tawa lepas.
Se Se kesal karena pria itu terus tertawa padahal tidak ada hal lucu dari ucapannya.
"Pergilah jika anda tidak datang untuk membunuh saya!" ucap Se Se dengan nada kesal.
Zhun Tian semakin senang menggoda Se Se yang terlihat kesal. Dia mendekatkan wajahnya lagi, kini sambil memegang kedua pipi wanita itu.
"Kau!" bentak Se Se.
"Diamlah sebentar, aku ingin menatapnya lebih dekat." pinta Zhun Tian.
Habis sudah kesabarannya, Se Se mengeluarkan jarum dari balik lengan baju, dia menusuk lengan Zhun Tian yang memegang pipinya.
"Bajingan mesum!" maki Se Se yang sudah sangat kesal dan jengkel.
"Ckkk! Saya kira anda hanya gadis lugu dan polos. Ternyata anda punya bakat untuk menyakiti orang juga ya? Semakin lama anda semakin menarik perhatian saya." ucap Zhun Tian yang tersenyum setelah mencabut jarum yang ada di lengannya.
"Dasar gila!" maki Se Se dengan wajah dingin.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1