
Selir Fei terjatuh saat berjalan di taman. Perutnya yang tengah hamil besar terasa sakit karena membentur lantai, pelayan Selir Fei segera memanggil Tabib Istana.
"Selir Fei harus segera melahirkan bayinya." ucap Tabib pada Kaisar.
Kaisar sangat membenci Selir Fei, namun anak yang berada di dalam perutnya mungkin saja adalah anak kandung dari Kaisar. Pria itu tidak punya pilihan lain, dengan terpaksa dia mempertahankan posisi Selir Fei di Istana hingga bayi itu lahir.
Namun saat ini Selir Fei sedang kesulitan melahirkan, usia kandungan yang belum cukup matang membuat bayi sulit untuk di lahirkan. Semua Tabib Istana telah di panggil untuk membantu proses persalinan Selir, namun mereka semua tidak banyak membantu.
Han Ze Liang tentu mengetahui kabar itu, dia tidak menginginkan bayi itu lahir dengan selamat, Selir Fei yang terjatuh juga akibat ulah dari Han Ze Liang.
Han Ze Liang dengan sengaja mengoles minyak ke lantai yang sering di lewati Selir Fei. Selir Fei terjatuh karena menginjak minyak dan tergelincir.
Kabar itu sampai di telinga Raja Wei, pemuda itu tentu merasa senang karena salah satu musuhnya sedang menderita. Namun berbeda dengan Permaisurinya, walaupun dia membenci Selir Fei, dia tidak akan membiarkan bayi yang tidak berdosa mati begitu saja.
Se Se berangkat ke Istana dengan kereta kuda, dia segera menghadap Kaisar dan berkata pada nya, "Yang Mulia, saya bisa menyelamatkan Selir Fei dan bayi nya."
Kaisar menatap wajah gadis itu dengan ragu. "Bagaimana gadis kecil ini bisa begitu yakin? Tabib Istana bahkan kelihatan tidak berdaya." benak Kaisar.
"Yang Mulia, bayi anda sedang sekarat. Semakin lama membuang waktu, akan semakin sulit untuk menolongnya." ucap Se Se ketika menyadari Kaisar meragukannya.
"Kamu akan kehilangan nyawa jika terjadi sesuatu pada bayi itu. Apakah kamu masih ingin menyelamatkan mereka dengan nyawa mu sebagai jaminan?" tanya Kaisar dengan wajah serius.
"Ya, saya bersedia menjamin keselamatan mereka dengan nyawa saya sebagai taruhan nya." tegas Se Se dengan mantap tanpa berpikir.
"Aku memberi mu izin untuk membantu persalinan Selir Fei." ucap Kaisar.
"Saya memiliki satu permohonan, tolong minta semua orang keluar dari kamar. Cukup saya sendiri yang membantu Selir Fei. Jangan membiarkan siapapun masuk sebelum saya keluar dari kamar itu. Bisakah Yang Mulia mengabulkan permintaan saya?" tanya Se Se dengan menatap mata Kaisar.
Kaisar berpikir sejenak sebelum menyetujui permintaan Se Se, dia tidak punya pilihan lain selain mempercayai gadis itu karena semua tabib di istana telah menyerah dengan kondisi Selir Fei.
Raja Wei mendengar kabar Permaisuri yang pergi ke istana dan membuat perjanjian dengan Kaisar. Dengan kecepatan penuh, Raja Wei menyusul ke istana. Dia berniat mencegahnya, dia tidak akan membiarkan Se Se mempertaruhkan nyawa demi orang lain.
Sayang sekali Raja Wei terlambat, gadis itu telah berada di dalam kamar Selir Fei, dan saat ini kamar sedang di jaga ketat oleh pengawal. Beberapa tabib menunggu di luar pintu, Han Ze Liang dan Kaisar juga duduk menunggu di sebuah gazebo yang terletak di samping kamar Selir Fei.
__ADS_1
"Yang Mulia, tolong batalkan perintah anda." pinta Raja Wei sambil menunduk hormat di depan Kaisar.
"Aku tidak bisa membatalkan nya. Permaisuri telah masuk ke dalam beberapa waktu yang lalu." jawab Kaisar dengan wajah datar.
Tentunya Kaisar tidak serius saat berkata akan mengambil nyawa Se Se, dia hanya menguji keyakinan gadis itu. Karena Se Se menjawab tanpa berpikir, Kaisar berani mempertaruhkan nyawa bayi nya di tangan gadis itu.
Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi, Kaisar terlihat lega dan menampakkan senyum di wajahnya. Berbeda dengan Han Ze Liang yang tampak marah karena rencana nya untuk menyingkirkan saingan telah gagal.
Se Se menyerahkan bayi itu kepada tabib lalu kembali masuk ke kamar. Selir Fei dalam keadaan tidak sadar, Se Se melakukan operasi sesar pada wanita itu untuk mengeluarkan bayi nya. Dia menjahit kembali sayatan yang di buatnya di perut Selir Fei.
Beberapa menit kemudian Se Se keluar dari kamar, dia mengizinkan tabib untuk memeriksa keadaan Selir Fei. Kaisar dan para Tabib Istana sangat terkejut dengan kemampuan gadis itu.
Mereka telah menyerah karena Selir Fei kehabisan tenaga dan kesakitan, namun gadis kecil ini dapat menyelamatkan kedua nyawa ibu dan bayi dalam waktu yang sangat singkat.
Raja Wei memberi hormat kepada Kaisar kemudian menarik lengan Se Se menuju ke kereta kuda. Dalam perjalanan, Raja Wei memasang wajah dingin tanpa berkata-kata.
"Xuan..." panggil gadis itu dengan suara imutnya.
Raja Wei mengabaikan panggilan itu meskipun dia mendengarnya.
Se Se memanggilnya lagi dengan suara yang lebih manja. Dia tahu bahwa Raja Wei saat ini sedang menahan amarah.
Lagi lagi dia di abaikan. Se Se mendekatkan wajahnya ke wajah Raja Wei, dia mencium bibir Raja Wei yang terlihat cemberut. Namun Raja Wei sama sekali tidak membalas ciuman dari permaisurinya.
Se Se menghentikan ciuman nya, dia kembali duduk dan berkata, "Bagaimana ini? Suami ku tidak lagi mencintai ku. Apakah aku akan di ceraikan sekarang?"
Raja Wei mengerutkan dahi, dia menolehkan wajahnya ke wajah Se Se.
"Apakah kamu tidak tahu apa salah mu?" tanya Raja Wei dengan nada marah.
Se Se menundukkan kepala tanpa menjawab. Dia tentu tahu apa yang membuat Raja Wei marah, namun hati nurani nya tidak mengizinkan bayi yang tidak berdosa mati begitu saja tanpa berusaha menolong nya.
"Kenapa kamu tidak menjawab ku?" ucap Raja Wei dengan mata dinginnya.
__ADS_1
Tubuh Se Se menjadi kaku dan menegang, Raja Wei benar-benar marah pada nya. Dia kebingungan harus bagaimana bersikap agar amarah Raja Wei mereda.
"Kenapa kamu melakukan nya?" tanya Raja Wei dengan nada datar.
"Aku hanya ingin menyelamatkan bayi itu." jawab Se Se dengan pelan.
"Kenapa kamu mempertaruhkan nyawa mu untuk bayi itu? Apakah kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan ku?" ucap Raja Wei dengan nada emosi.
"Maaf... Aku tidak akan melakukan hal itu lagi." jawab Se Se dengan menyesal.
"Hahhh...!"
Raja Wei menghela napas panjang. Wajahnya kembali tenang. Dia menatap gadis kecil di sampingnya dengan tatapan menyesal, dia menyesal telah membentak Se Se dengan suara kerasnya.
"Kemari!" perintah Raja Wei.
Se Se mengangkat wajah, dia menatap Raja Wei namun tidak beranjak dari tempat duduknya.
"Kemari lah!" perintah Raja Wei sembari menepuk-nepuk paha kaki nya.
Se Se tersenyum dan segera melaksanakan perintah Raja Wei dengan senang hati. Kini dia duduk di pangkuan Raja Wei dan bertatapan dengan pria itu.
Raja Wei mengelus pipi Se Se yang terlihat merona, dia mengecup pipi merah itu dan dengan pelan turun ke bibir mungil yang berada di bawahnya.
Mereka terus beradu lidah di dalam kereta hingga kereta tiba di kediaman. Raja Wei menggendong tubuh Se Se dan membawanya ke kamar. Tanpa membuang waktu, dia segera melepas semua pakaian mereka dan menikmati tubuh mulus istrinya.
^^^BERSAMBUNG...^^^
Hai teman-teman semua...🤗
Mohon dukungan dari kalian semua. Jangan lupa bantu Vote dan Like 👍tiap episode.
Terima Kasih...😘😘😘
__ADS_1
Eh lupa... Jangan lupa dukung karya baru author yang baweL ini. Judulnya "Rose Second Life"
Thank You 💖Arigato 💖Xie Xie💖Terima Kasih