The Princess Story

The Princess Story
Episode 237


__ADS_3

Se Se memutar tubuhnya agar terlepas dari genggaman Ti Liu. Dia mengeluarkan senjata dari ruang dimensi kemudian menjatuhkan para pembunuh dengan tembakan pistol di tangannya.


Jumlah musuh yang terlalu banyak membuat Se Se kewalahan, beberapa pembunuh terus menyerang Se Se. Ti Liu bertahan dari serangan anak panah yang terus di tembakan ke arah Se Se.


"Yang Mulia, cepat pergi dari sini!" pinta Ti Liu.


"Mereka mengincarku! Liu... Pergilah sekarang juga dan panggil bantuan! Ini adalah perintah!" ucap Se Se yang mulai ngos-ngosan menghadapi para pembunuh.


Seorang pembunuh menyusup dari atas pohon, dia turun dan menyerang Se Se dari belakang. Menyadari bahaya dari punggungnya, Se Se menahan serangan yang diarahkan di kepalanya dengan tangan kosong.


Darah mengalir keluar dari lengan tangan yang menahan serangan musuh, Ti Liu yang panik segera menarik tangan Se Se untuk pergi dari sana.


Mereka terus mengejar Ti Liu dan Se Se hingga keduanya berhenti di ujung tebing yang curam. Karena keadaan terdesak, Ti Liu mengangkat tubuh kecil Permaisurinya kemudian ia melompat ke bawah jurang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Se Se mencoba mengingat semua yang terjadi, dia merasa semua ini adalah kesalahannya.


"Jika saja aku tidak terkecoh oleh penampilan anak kecil itu ..."


Se Se memejamkan mata, ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Huo Feng, jika kamu bisa mendengarku, tolong datang lah kemari dan selamatkan aku dan orang-orang ku!


Aku sangat merindukan suami ku.


Aku sangat merindukan anak-anak ku.


Aku sangat merindukan ayah dan Kakak Ye Yuan.


Aku sangat merindukan Ling Er dan Ti Liu.


Aku merindukan mereka semua... "


"Apa kau tidak merindukan aku?" suara Huo Feng terdengar dari pintu masuk goa.


"Huo Feng... Apa aku sedang bermimpi?" gumam Se Se.


"Ini bukan mimpi, aku datang karena majikan memanggil ku!" jawab Huo Feng.


Se Se tersenyum kecil dengan wajah yang menahan rasa sakit, ia menatap Huo Feng yang kini berada di depannya, lebih tepat dikatakan berada di atasnya.


Huo Feng menatap Se Se dari atas, dia kemudian berkata, "Majikan, bolehkah aku meminta sedikit darahmu?"

__ADS_1


"Ambillah sebanyak yang kamu mau, tapi setelah itu tolong bawa aku kembali ke rumah!" ucap Se Se dalam kondisi lemah.


"Baiklah, terima kasih majikan!" ucap Huo Feng.


Huo Feng menghisap darah yang keluar dari lengan Se Se selama beberapa waktu, puas dengan darah yang dia minum, Huo Feng menjilati lengan Se Se hingga bersih tanpa noda darah.


Kulit lengan yang terbuka kini menyatu kembali, seolah lengan itu tidak pernah terluka sama sekali. Rasa sakit yang dirasakan Se Se pada lengannya juga menghilang begitu saja.


Huo Feng mematuk beberapa bagian tubuh Se Se yang terluka dengan paruhnya yang tajam. Se Se merintih menahan rasa sakit.


"Huo Feng, apa yang kamu lakukan?" tanya Se Se kesal karena Huo Feng terus menerus mematuk lukanya.


"Tahanlah sebentar, ini akan selesai sebentar lagi." ucap Huo Feng.


Ternyata Huo Feng mematuk bukan tanpa alasan, dia menyantap daging yang sudah mulai membusuk karena berhari hari terluka tanpa di obati.


"Majikan, bagaimana rasanya sekarang?" tanya Huo Feng setelah berhenti mematuki tubuh Se Se.


"Aku merasa akan segera mati karena rasa sakit ini!" jawab Se Se.


"Ha Ha Ha..."


Huo Feng tertawa keras, ia kemudian berkata, "Mana ada orang suci yang mati karena rasa sakit seperti ini!"


"Huo Feng akan membawa anda kembali sekarang juga." jawabnya sambil tersenyum.


Se Se menatap Huo Feng yang tubuhnya mulai berubah, ekornya hilang dan bulu-bulu berapi masuk ke dalam tubuh Huo Feng seolah menyembunyikan diri.


Fisik yang tadinya menyerupai seekor burung kini berubah menjadi fisik tubuh dewasa seorang pria tampan dan mempesona.


Rambut merah panjang yang terlihat halus, mata tajam yang di hiasi oleh manik semerah darah, hidung kecil tinggi dan bibir yang menggoda senada dengan bola mata dan rambut merahnya. Satu kata "Sempurna" cukup untuk menggambarkan wajah Huo Feng.



"Huo Feng...?" panggil Se Se dengan suara lemah.


"Ya, ini aku." jawab Huo Feng.


Burung dengan wujud pemuda tampan itu kini berlutut di depan tubuh Se Se yang terbaring lemah. Dia mengangkat wanita itu ke dalam pelukannya, "Meskipun terasa tidak nyaman, aku harap majikan akan menahannya!" ucap Huo Feng.


Huo Feng berjalan keluar dari goa, mata Se Se terpejam karena sulit menerima cahaya matahari yang sangat menyilaukan setelah berhari hari berada di tempat gelap.


"Aku akan mencari makanan dulu untuk anda, kita akan melanjutkan perjalanan setelah anda mengisi perut." ucap Huo Feng.

__ADS_1


Pemuda itu mendudukkan Se Se di dekat air terjun, batu besar menjadi penyangga tubuhnya yang lemah.


"Tunggu sebentar dan jangan bergerak, aku akan menutup tempat ini dari pandangan manusia lain. Jangan bersuara hingga aku kembali." ucap Huo Feng.


Se Se diam menatap Huo Feng, ia terlalu lelah untuk menjawab pemuda itu.


"Pergilah dan cepat kembali!" batin Se Se.


Beberapa waktu berlalu, Huo Feng kembali dengan buah dan seekor kelinci liar yang dia tangkap untuk di jadikan santapan majikan nya.


Huo Feng memberikan kelinci itu, Se Se menatap tanpa mengambilnya.


"Makan ini!" ucap Huo Feng.


"Dasar burung jelek! Kau mau menyuapi ku daging mentah ini?" ucap Se Se kesal.


"Apa masalahnya? Aku juga makan daging mentah." jawab Huo Feng.


"Hahhh..."


Se Se menghela napas, ia kemudian menoleh ke tangan Huo Feng yang memegang buah apel dan cerry.


"Berikan buah itu kepada ku!" pinta Se Se.


Huo Feng memberikan buah itu kemudian berkata, "Ini, makanlah!"


Huo Feng kembali meninggalkan Se Se, ia terbang ke arah desa terdekat untuk mencari makanan lain.


Sampai di desa, ia melihat daging yang sudah di panggang dan di rebus. Penjual makanan menjajakan makanan di atas meja yang di gelar untuk menyusun dagangannya.


"Berikan pada ku daging itu!" ucap Huo Feng kepada salah satu penjual.


Penjual bertanya kepada Huo Feng, "Berapa banyak yang Tuan inginkan?"


"Satu porsi untuk di makan manusia." jawab Huo Feng.


Penjual pun bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Huo Feng, "Maksud anda 1 mangkuk?" tanya penjual itu memastikan.


"Ya, berikan saja secukupnya!" jawab Huo Feng kesal.


Penjual membungkus daging panggang dan rebus masing-masing setengah mangkuk, ia kemudian meminta uang 2 perak kepada Huo Feng.


"Apa itu 2 perak?" tanya Huo Feng tak mengerti.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2