
"Seekor burung? Berani sekali kamu hanya menganggap aku sebagai seekor burung! Aku adalah phoenix! PHOENIX!!! Apa kamu tidak tahu apa itu phoenix?" ucap burung phoenix dengan nada dan wajah kesal.
"Bukan kah phoenix itu seekor burung?" tanya Se Se dengan raut wajah mengejek.
"Hahh!!! Kamu ini benar benar meremehkan aku ya? Atau kamu ini berasal dari dunia yang tidak mengenal kata phoenix?" ucap burung phoenix.
"Tentu aku pernah mendengar phoenix, tapi di dunia ku, phoenix hanya seekor burung!" jawab Se Se.
"Kamu ...!"
"Ckkk....! Hentikan perdebatan tidak bermutu ini! Sekarang katakan kepada saya semua hal yang anda ketahui tentang tempat ini agar kita bisa keluar!" ucap Se Se memotong perkataan burung phoenix.
"Kamu bisa membawa aku keluar dari sini?" tanya burung phoenix dengan antusias.
"Tentu saja, kita akan keluar dari tempat ini!" jawab Se Se penuh keyakinan.
"Aku di sini saat tertidur lelap di malam hari, aku tidak tahu bagaimana jiwa ku bisa terlempar ke ruangan ini!" ucap burung phoenix.
"Apakah semua orang di sini mengalami hal yang sama?" gumam Se Se.
"Apa yang kamu ucapkan?" tanya burung phoenix.
Se Se menatap lukisan burung phoenix, tangan nya menjulur hendak menyentuh tulisan kecil yang berada di samping lukisan itu.
"Hei manusia! Apa yang mau kamu lakukan?" bentak burung phoenix.
"Se Se!" ucap Se Se sambil menyentuh tulisan di dinding.
"Apa??" tanya burung phoenix tidak mengerti.
"Nama saya Se Se, bukan manusia!" jawab Se Se.
"Ooh ... Ternyata itu nama mu." ucap burung phoenix.
"Hancurkan!" ucap Se Se.
"Apa?" tanya burung phoenix lagi.
"Hancurkan! Tulisan kecil ini tertulis kata 'Hancurkan'. Apa yang harus dihancurkan?" ucap Se Se.
Se Se mengeluarkan sebilah belati, dia hendak menusuk pisau itu ke lukisan yang ada di dinding.
"SREKKK!"
"Akhhh! Apa yang kamu lakukan? Kamu berniat menghancurkan sayap indah ku ini?" bentak burung phoenix karena terkejut dengan perbuatan Se Se.
"Maaf, saya tidak menyangka jika burung phoenix sangat penakut. Saya hanya menghancurkan tulisan ini saja!" ucap Se Se.
"Kamu benar benar manusia yang tidak mengenal rasa takut ya?!" ucap burung phoenix.
"KREKKK KREKKK!"
Se Se menggores tulisan yang ada di dinding dengan belati di tangan nya, begitu tulisan itu hilang, lukisan yang yang ada di dinding keluar dan memenuhi seluruh ruangan itu. Begitu pula dengan burung phoenix, dinding itu tidak bisa lagi di masuki seperti saat sebelumnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka semua juga bisa keluar dari lukisan?" tanya burung phoenix.
"Entah lah, mungkin karena tulisan itu sudah rusak!" jawab Se Se.
"Manusia manusia lemah itu masih saja tidur setelah keluar dari lukisan!" keluh burung phoenix.
"Apa anda bisa terbang?" tanya Se Se begitu melihat ada tulisan lain di atap langit langit ruangan.
"Tentu saja, aku kan bangsa burung!" jawab burung phoenix.
"Kalau begitu tolong bawa saya ke atap sebelah sana!" ucap Se Se sambil menunjuk atap langit langit yang dia maksud.
"Aku tidak akan membawa manusia di punggung ku!" jawab burung phoenix.
"Kalau anda mau keluar dari tempat ini, maka anda harus membantu saya!" ucap Se Se.
"Apa kamu yakin kita bisa keluar dari tempat hantu ini?" tanya burung phoenix.
"Saya akan mencoba memecahkan rahasia di tempat ini, anda harus membantu saya agar pekerjaan ini lebih mudah." jawab Se Se.
"Baiklah baiklah, aku akan membawa mu ke sana. Naiklah ke punggung dan pegangan dengan erat!" ucap burung phoenix.
"Terima kasih." ucap Se Se kemudian naik ke belakang punggung burung phoenix.
"Bakar!" ucap Se Se membaca tulisan yang ada di atap langit langit.
"Apa?" tanya burung phoenix.
"Membakar adalah tugas ku, bagian mana yang harus di bakar?" tanya burung phoenix.
"Bakarlah tulisan ini!" ucap Se Se.
Burung phoenix tiba tiba mengeluarkan api dari tubuhnya, meskipun Se Se berada di atas punggung burung phoenix, api itu tidak terasa panas sedikit pun.
Berbeda dengan dinding yang bersentuhan langsung dengan kobaran api dari burung phoenix, dinding itu terbakar, api mulai melalap seluruh dinding di ruangan itu.
"Kenapa anda malah membakar semua dinding ini?" ucap Se Se.
"Maaf, aku tidak bisa mengecilkan kobaran api ini!" ucap burung phoenix.
"Apa mereka semua akan mati terbakar?" tanya Se Se sambil menatap wanita wanita yang masih tidak sadarkan diri di lantai.
"Mereka pada awalnya memang sudah mati. Tubuh mereka sudah tidak ada lagi di dunia." jawab burung phoenix.
"Kenapa anda bisa tahu hal itu?" tanya Se Se.
"Karena mereka menyerah dan pasrah saat melihat cermin yang berusaha melahap jiwa mereka." jawab burung phoenix.
"Maksud anda cermin yang saya hancurkan itu?" tanya Se Se.
"Benar, kamu adalah manusia kedua yang telah menghancurkan cermin itu." jawab burung phoenix.
"Maksud anda ada manusia lain yang memecahkan cermin itu sebelum saya?" tanya Se Se.
__ADS_1
"Ya, wanita itu sangat pemberani. Mirip seperti kamu!" jawab burung phoenix.
"Lalu di mana wanita itu sekarang?" tanya Se Se.
"Entahlah, mungkin dia sudah kembali ke dunia nyata." jawab burung phoenix.
"Apa yang akan terjadi jika ruangan ini hancur menjadi debu?" gumam Se Se.
"Ruangan ini akan kembali seperti semula. Aku sudah sangat sering membakar ruangan ini, dan setiap kali ruangan ini menjadi debu, debu debu itu akan berkumpul dan tumbuh menjadi dinding yang baru." jawab burung phoenix.
" ... "
Se Se tidak bisa berkata kata mendengar jawaban dari burung phoenix yang membuatnya patah semangat. Namun tiba tiba saja sebuah cahaya muncul dari atas, mereka berdua terhisap oleh cahaya itu.
"Begitu sadar, aku sudah berada di dalam kamar ini. Apakah burung phoenix itu juga sudah kembali ke alam nya?" ucap Se Se.
"Tok Tok Tok!"
Seorang pelayan mengetuk pintu, pelayan itu melaporkan bahwa Han Ze Xing dan Zhou Yi Thing datang mengunjungi kediaman.
Se Se mengganti pakaian setelah mencuci wajahnya, dia menemui Han Ze Xing dan Zhou Yi Thing di ruang tamu.
"Yang Mulia, Putri Mahkota." ucap Se Se.
"Permaisuri, apa anda baik baik saja? Saya sudah membawa tabib untuk memeriksa kesehatan Permaisuri." ucap Han Ze Xing.
"Benar, kami segera ke sini begitu mendengar bahwa Permaisuri sudah sadar." ucap Zhou Yi Thing.
"Maaf sudah membuat kalian khawatir, saya baik baik saja." ucap Se Se.
"Tabib, tolong periksa kesehatan Permaisuri." ucap Zhou Yi Thing.
"Baik Yang Mulia." jawab Tabib.
Setelah beberapa saat memeriksa kondisi kesehatan Se Se, Tabib beekata, "Permaisuri sangat sehat, beliau baik baik saja."
"Lalu kenapa Permaisuri tidak sadarkan diri selama lima hari ini?" tanya Han Ze Xing.
"Saya akan menjelaskan nya. Terima kasih Tuan Tabib sudah memeriksa kesehatan saya." ucap Se Se.
Tabib memberi hormat sebelum keluar meninggalkan ruangan. Se Se menyuruh salah satu pelayan untuk mengantarkan tabib kembali ke istana.
^^^BERSAMBUNG...^^^
Hai teman-teman...
Mohon dukungan nya.
Bantu Vote dan Like 👍setiap Episode.
Jangan lupa tulis komentar sebanyak-banyaknya.
Terima Kasih💖
__ADS_1