
"Apa yang anda lakukan Yang Mulia?" tanya Se Se bingung dengan amarah pemuda yang tanpa sebab itu.
"Apa aku sudah melakukan kesalahan padanya?" tanya Se Se pada batinnya.
"Apa benar Ou Yang Chien melamarmu?" tanya Raja Wei dengan mata dinginnya.
Se Se mengalihkan pandangannya. Dia tidak berani menatap mata pria dingin itu. Dia merasa merinding di tatap oleh mata yang seakan ingin menerkam tubuhnya.
Se Se mengangguk pelan dan menjawab, "Benar, dia baru saja melamar saya Yang Mulia!"
"Kamu... menerima lamaran darinya?" tanya pemuda itu lagi.
"Ya, saya sudah menerima lamaran darinya." jawab Se Se yang menundukkan kepalanya, seolah ingin menyembunyikan wajahnya.
Pemuda itu melepaskan genggaman tangannya. Wajahnya terlihat kecewa dan frustasi. Namun, wajah frustasi itu hanya terlihat sebentar saja. Wajah dinginnya kembali terlihat, hanya dalam hitungan detik.
"Aku akan membunuhnya hari ini juga!" ucap Raja Wei.
"Yang Mulia... Tolong berhentilah! Saya mohon... jangan menambah masalah baru untuk saya." ucap Se Se dengan nada memelas. Tangannya menarik lengan baju Raja Wei yang tadinya akan melangkah keluar.
"Apa saat ini kamu sedang memohon untuk mengampuni nyawanya?" tanya Raja Wei mengepalkan tangannya menahan amarah karena api cemburu.
Se Se mengangkat wajahnya, matanya menatap mata dingin pemuda itu, kemudian dia menjawab, "Benar, saya mohon pada Yang Mulia... jangan membunuh Ou Yang Chien."
"BRAKKK!!"
Raja Wei menendang meja di sampingnya, meja itu hancur menjadi beberapa bagian. Hatinya merasa kecewa, takut, sedih, marah, semua perasaan bercampur aduk.
"Apa yang anda lakukan? Kenapa anda bertindak seperti ini?" tanya Se Se yang mulai tidak senang melihat sikap kasar Raja Wei.
"Kenapa kamu menerimanya? Kenapa kamu menerima lamarannya?" tanya Raja Wei dengan suara yang semakin tinggi.
Se Se bertambah emosi mendengar suara pria itu yang semakin tinggi. Dia membesarkan bola matanya, mengertakkan giginya dan menatap Raja Wei. Kemudian dia menjawab, "Itu adalah urusan saya, Yang Mulia tidak memiliki hak untuk mengatur dengan siapa saya bertunangan!"
"HUANG SE SE!" Raja Wei makin meninggikan suaranya.
__ADS_1
Se Se memejamkan matanya, dia menarik napas panjang dan kemudian menghembuskannya. Sesaat kemudian dia membuka matanya, "Tolong pergilah! Jangan mencampuri urusan saya. Saya sudah lelah dengan semua ini. Saya mohon... Tolong tinggalkan saya sendiri!"
Raja Wei mulai kehilangan kesabaran, dia menarik lengan gadis itu dan memeluknya, telapak tangan kanannya di letakkan di belakang kepala gadis itu.
Dia mencium paksa bibir merah yang terasa manis itu dengan kasar dan hasrat yang menggebu-gebu. Se Se berusaha mendorongnya, tapi usahanya sia-sia. Gadis itu sudah menggunakan seluruh tenaga, namun tubuh pria itu tidak terpengaruh sedikitpun.
Raja Wei masih mencium bibir kecil itu dengan penuh gairah, lidahnya bergerak liar menyapu isi di dalam bibir Se Se.
Puas menikmati bibir manis itu, dia menarik tangan Se Se dan melempar tubuh rampingnya ke tempat tidur. Dia memindahkan kedua tangan Se Se ke atas dan menahannya menggunakan satu tangan.
"Lepaskan aku!" ucap bibir mungil Se Se yang baru saja terbebas dari bibir Raja Wei. Dia memberontak melawan cengkraman dari pemuda itu.
Raja Wei tidak menjawabnya dan sedetik kemudian dia kembali menciumnya. Bibirnya beralih ke telinga gadis itu, lidahnya kembali liar menjelajahi liang telinga dan kelopaknya. Raja Wei menurunkan ciumannya ke leher jenjang Se Se dan meninggalkan beberapa jejak kepemilikannya di sana.
Se Se berhenti memberontak, tangan dan kakinya sudah tidak meronta. Tubuhnya hanya diam membeku tanpa perlawanan.
Raja Wei yang merasakan gadis itu berhenti memberontak menghentikan aksi buasnya. Dia memundurkan wajahnya dan menatap gadis itu.
"DEG!"
"Apa yang aku lakukan? Kenapa aku lepas kendali seperti ini?" tanya Raja Wei dalam batinnya.
Raja Wei melepaskan cengkraman tangannya. Dia bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Tangannya mengusap lembut wajah Se Se dan menghapus air matanya.
Raja Wei melihat jejak yang dia tinggalkan di leher jenjang mulus gadis itu, pergelangan gadis itu juga memar akibat cengkraman Raja Wei yang terlalu kuat. Dia merasa menyesal dan mengutuk dirinya sendiri yang sudah berbuat kasar pada gadis kecilnya.
Hanya satu kata yang terucap dari bibir pemuda itu. "Maaf ... !"
Dia mengecup lembut kening gadis itu dan pergi meninggalkannya. Tidak lama setelah itu, Se Se berdiri dan berjalan ke tempat pemandian. Dia masuk ke dalam kolam pemandian yang dipenuhi oleh air dingin dengan pakaian yang masih utuh.
"Dasar pria brengsek, hidung belang, mesum, tidak tau malu!" makinya dalam hati.
Sepasang mata sedang mengamati kejadian itu dari awal hingga akhir. Bibir orang itu tersenyum dan terlintas rencana jahat di pikirannya.
PAVILIUN MERAH
__ADS_1
Nyonya Xin menulis sepucuk surat undangan di kamarnya. Dia tersenyum licik dan menaikkan sebelah alisnya.
"Antarkan surat ini ke kediaman Ou!" perintahnya pada pelayan yang berdiri di sampingnya.
"Baik Nyonya!" jawab pelayan itu sambil mengambil surat dari tangan Nyonya Xin.
Nyonya Xin berjalan ke dapur dan menyuruh koki memasak hidangan mewah untuk menjamu tamunya malam ini.
Dia memerintahkan seorang pelayan untuk memanggil kedua putrinya. Tidak lama kemudian, Min Wan dan Lin Wan tiba di kamar ibunya.
"Min Wan, Lin Wan! Malam ini, keluarga dari Jenderal Ou akan datang berkunjung. Kalian harus mengambil hati Tuan Muda Ou. Ibu akan membuat mereka membatalkan lamarannya." ucap Nyonya Xin.
"Baik ibu! tapi, apa yang akan ibu lakukan?" tanya Min Wan penasaran.
Nyonya Xin berbisik pada Min Wan dan Lin Wan. Mereka mendengarkan bisikan itu sambil menyunggingkan senyuman licik seperti biasanya. Rencana jahat mereka terlihat jelas dari senyumannya.
Hari menjelang malam, kereta kuda keluarga Ou telah sampai di pintu gerbang keluarga Huang.
"Buka gerbang pintu!" perintah kepala pelayan yang sudah menunggu kedatangan keluarga itu.
Seorang pengawal membuka pintu gerbang, kereta kuda itu masuk dan berhenti di depan halaman.
"Selamat malam Jenderal Ou, Nyonya Ou dan Tuan muda Ou. Silahkan duduk!" ucap Nyonya Xin.
"Terima kasih Nyonya, ada apa nyonya mengundang kami kemari?" tanya Jenderal Ou.
"Saya hanya ingin keluarga kita lebih dekat sebelum acara pertunangan." jawab Nyonya Xin dengan senyum palsunya.
Tuan Huang dan Ye Yuan masuk ke ruang tamu, wajah mereka sangat serius. Mereka memang tidak pernah akur dengan Jenderal Ou.
"Kenapa Jenderal Ou bisa berkunjung ke kediaman kami?" tanya Tuan Huang tanpa mengetahui bahwa Nyonya Xin yang telah mengundangnya.
Nyonya Xin panik! Dia akan segera ketahuan jika tidak melakukan sesuatu.
"PRANGGG!"
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^