
Zhun Tian menurunkan Han Ze Xia, bocah itu segera berlari memeluk ayahnya.
"Kau baik-baik saja Xia?" tanya Raja Wei.
"Xia Xia baik-baik saja ayah. Orang itu menolong Xia Xia tadi." jawab Han Ze Xia dengan suara manja.
Raja Wei menurunkan pedangnya setelah mendengar penjelasan putri kecilnya.
"Apa kalian semua baik-baik saja?" tanya Raja Wei.
Ling Er dan Ye Lie mengangguk, sementara tangan Han Ze Xin terlihat gemetaran.
Raja Wei segera menggendong Han Ze Xin dalam pelukannya, dia kemudian berkata, "Ayo kita pulang, ibu kalian sudah menunggu!"
Mereka naik ke sebuah kereta kuda, di dalam kereta Raja Wei bertanya apa yang telah terjadi kepada Ling Er. Setelah menjelaskan semuanya, Raja Wei menatap putranya yang masih gemetaran.
"Xin, tidak apa-apa, kamu sudah melakukan hal yang benar." ucap Raja Wei sambil memeluk buah hatinya itu.
Han Ze Xin baru pertama kali membunuh orang, dia sangat ketakutan saat menusuk jantung pria botak. Namun bocah itu melawan rasa takutnya karena dia ingin melindungi adiknya. Han Ze Xin membakar gubuk itu untuk menghilangkan bukti, bukti jika dirinya pernah membunuh. Dia tidak ingin kasus itu diketahui oleh banyak orang, dia berharap dirinya akan segera melupakan apa yang terjadi hari ini.
Ketakutan Han Ze Xin semakin menjadi setelah bertemu dengan ayahnya, dia ingin segera memberitahu ayahnya bahwa dirinya sudah membunuh tiga orang dalam satu hari. Han Ze Xin tidak merasa bangga karena sudah pernah membunuh, dia hanya ingin ditenangkan oleh ayahnya, dia ingin mendengar kata-kata bahwa ia telah melakukan hal yang benar dengan membunuh ketiga bandit itu.
Raja Wei terus memeluk putranya hingga mereka tiba di kediaman. Anak-anaknya pun segera dibawa ke kamar utama, dimana istrinya sedang menunggu dengan perasaan cemas dan gelisah.
"Terima kasih sudah kembali dengan selamat." ucap Se Se sambil memeluk ketiga anaknya.
Se Se menatap mata putra sulungnya, ia dapat merasakan ketakutan yang sedang dihadapi putranya itu.
"Aku ingin berbicara berdua dengan Xin." ucap Se Se.
Raja Wei membawa kedua anaknya untuk keluar meninggalkan Se Se dan Han Ze Xin di dalam kamar.
"I... Ibu...! Hikzz... Hikzzz... Huaaa..."
Tangisan Han Ze Xin pecah begitu saja setelah ia ditinggalkan berdua dengan Se Se. Ketakutan yang sejak tadi ia tahan berubah menjadi tangisan sedih yang menyayat hati Se Se. Air mata wanita itu ikut berlinang, pandangan matanya menjadi buram karena buliran air mata yang menghalang.
"Kejadian ini pasti sangat berat untuk anak seusia Xin, aku benar-benar gagal menjalankan tugasku sebagai seorang ibu. Seharusnya aku lebih memperhatikan mereka.
__ADS_1
Tangan kecil nya yang memegang pisau saja sudah sangat menyulitkan baginya, apalagi tangan itu kini berlumuran darah karena kelalaianku dalam melindungi putraku. Xin... Dia pasti sangat ketakutan.
Ini semua salah ibu, salah ibu karena terlalu lemah. Ibu akan berusaha menjadi lebih kuat lagi. Ibu akan menjadi pelindung bagi kalian semua. Ibu janji, di masa depan, tidak akan ada lagi orang yang berani mengganggu hidup kita. Ibu akan membuat semua orang gemetaran begitu mendengar nama keluarga kita. Ibu pasti akan mewujudkan itu." ucap Se Se dalam pikirannya.
Se Se memeluk erat Han Ze Xin, dia diam membisu sambil memeluk putranya hingga bocah itu tertidur lelap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ti San meminta izin kepada Raja Wei untuk menemui permaisuri. Raja Wei awalnya hendak menolak, namun pada akhirnya dia mengijinkan Ti San untuk bertemu dengan istrinya. Karena dia tau, cepat atau lambat istrinya pasti akan menemui Ti San.
"Yang Mulia, saya mohon tolong sembuhkan Liu." ucap Ti San sambil berlutut di hadapan Se Se.
"San, berdirilah! Aku pasti akan mencari cara untuk menyembuhkan Ti Liu. Kamu tidak perlu memohon padaku." jawab Se Se.
"Terima kasih Yang Mulia." ucap Ti San.
Setelah Ti San meninggalkan kamar, Se Se mencoba untuk mengingat obat-obatan aneh yang di ciptakan oleh Profesor Jim untuknya.
"Mungkin saja ada obat yang cocok untuk mengembalikan kondisi Ti Liu, aku harus mengingatnya!" benak Se Se.
"Tok Tok Tok!"
"Xin, kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Se Se.
Han Ze Xin mengangguk, dia kemudian mendekat dan memeluk ibunya yang sedang duduk di sudut ranjang.
"Xin, kamu mau ibu ajarkan cara memakai racun?" tanya Se Se.
"Aku mau, aku ingin mempelajari semuanya. Aku ingin mempelajari semua hal yang bisa membuatku menjadi lebih kuat." jawab Han Ze Xin dengan bersemangat.
"Kamu memang sangat mirip dengan ibu ya." ucap Se Se dengan senyuman bangga.
"Ling Er juga ingin belajar. Tolong ajari Ling Er juga." ucap Ling Er dengan wajah serius.
"Ling Er...?" panggil Se Se sambil menatap mata Ling Er.
"Ling Er juga ingin menjadi kuat, Ling Er ingin menjadi kuat seperti Permaisuri. Ling Er ingin melindungi Pangeran dan juga Putri." ucap Ling Er.
__ADS_1
Se Se tersenyum melihat semangat Ling Er yang terlihat sangat berapi-api.
"Baiklah, kalau begitu kita akan belajar bersama." ucap Se Se.
Han Ze Xia mendengar percakapan ibunya, dia masuk sambil berkata, "Ibu, aku juga ingin belajar!"
"Xia, kamu tau kan jika menguping itu perbuatan yang tidak baik?" ucap Se Se.
"Maaf ibu, aku sangat penasaran dengan kakak dan ibu yang bertemu secara pribadi. Semalam juga kakak sudah memonopoli ibu sendirian." jawab Han Ze Xia beralasan.
"Kemarilah!" pinta Se Se.
"Ibu... Ibu sudah tidak marah lagi?" tanya Han Ze Xia dengan suara manja ciri khasnya.
"Ibu tidak marah, ibu hanya ingin Xia tau mana yang benar dan mana yang salah." jawab Se Se.
"Xia bersalah, Xia minta maaf ya... Kakak juga, Xia minta maaf karena sudah menguping pembicaraan Kakak dan Ibu." ucap Han Ze Xia.
Han Ze Xin memeluk adiknya, "Aku tidak apa-apa jika Xia mau mendengar percakapan ku dengan ibu. Jadi Xia tidak perlu minta maaf pada ku."
"Terima kasih Kak." ucap Han Ze Xia yang membalas pelukan Han Ze Xin.
"Baiklah anak-anak, ayo kita mulai pelajaran pertama hari ini!" ucap Se Se.
"Siap Ibu!" jawab anak-anak serentak.
"Kalian tunggu ibu di luar ya, ibu mau mengganti pakaian dulu." pinta Se Se.
Ling Er membawa kedua bocah itu keluar, begitu pintu ditutup, Se Se menatap ke arah langit-langit kamar.
"Saya tau anda ada di sini!" ucap Se Se sambil memandang langit-langit kamarnya.
"Swossshhh..."
Seorang pria berpakaian serba putih dengan kain penutup wajah turun dari atap kamar.
"Putri dan Pangeran sangat mirip dengan anda, Permaisuri." ucap pria itu.
__ADS_1
Se Se menatap pria itu dengan tatapan tajam, "Jangan menaruh perhatian terhadap anakku! Jangan mendekati mereka dan jangan mencoba melukai keluargaku!" ucapnya dengan nada mengancam.
^^^BERSAMBUNG...^^^