
Hari mulai gelap, Se Se pulang dengan kereta kuda milik Putra Mahkota.
"Syuttt!"
Sebuah anak panah terbang menuju ke arah kereta. Se Se tidak menyadari anak panah itu, anak panah mendarat di bahu kanannya. Dia mematahkan tangkai anak panah, darah mulai mengalir dari bahunya.
"Putri, kereta kita di hadang oleh beberapa orang berpakaian hitam." ucap kusir.
Gadis itu mengeluarkan pistol, dia berlindung di balik dinding kereta. Seorang pembunuh melompat ke atas kereta, dia menjatuhkan kusir ke tanah kemudian membuka kain penutup kereta.
"Dor!"
Peluru bersarang di otak pembunuh itu, beberapa pembunuh lain merasa panik mendengar suara dari senjata yang digunakan gadis itu.
Se Se keluar dari kereta, dia mendorong mayat pembunuh lalu memacu kuda dengan cepat. Pandangannya mulai kabur, anak panah itu mengandung racun. Darahnya tidak mampu menetralisir racun itu dalam waktu singkat.
Para pembunuh mengejar dan menembak anak panah secara bertubi-tubi. Kereta kuda berhenti dan terbalik saat anak panah itu menancap di kaki kuda.
Gadis itu terlempar keluar dari kereta, dia terlalu lemah untuk melompat. Saat tubuhnya melayang di udara, sesosok pemuda dengan cepat menahan tubuhnya. Dengan sisa kesadarannya, dia melihat wajah pemuda yang telah mencegah dirinya terbanting ke lantai.
"Yang Mulia..." gumam gadis itu sebelum matanya terpejam.
Tubuhnya terasa lemah, dia tidak bertenaga akibat racun kuat yang sedang bertempur dengan darahnya. Dia tidak sadarkan diri dan tidak mengetahui kejadian apa yang selanjutnya terjadi.
Raja Wei menatap wajah gadis kecilnya dengan perasaan gelisah dan cemas.
"Yu, sisakan satu orang untuk di interogasi." perintah Raja Wei.
Raja Wei segera membawa Se Se ke kediaman.
Yu menjatuhkan semua pembunuh dalam hitungan menit, dia menyisakan nyawa seorang pembunuh dan membawanya ke penjara yang ada di kediaman Raja Wei.
"Tabib, cepat panggil tabib!" jerit Raja Wei dengan suara keras dan panik.
Tabib datang dan memeriksa Se Se, dia mengenal racun ganas yang sedang menyiksa gadis itu.
Dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Maafkan hamba Yang Mulia, Nona ini terkena racun teratai hitam. Racun ini tidak ada obatnya. Yang Mulia harus mempersiapkan hati Anda."
Raja Wei merasa panik saat mendengar perkataan tabib. Pikirannya menjadi kacau, dia mulai mengeluarkan kata-kata yang ada dalam hatinya.
"Tidak, tidak mungkin! Dia baru saja tersenyum dengan wajah bahagia saat di istana, dia baru saja menghibur Ze Xing dengan senyuman manisnya. Tidak mungkin! Tabib pasti sedang bercanda denganku, tabib pasti sedang berbohong!"
Yu merasa iba dengan tuannya yang bersikap seperti itu, dia mendekati Raja Wei dan berusaha menenangkannya.
"Yang Mulia, anda harus menyelidiki dalang dibalik pembunuhan Putri Huang."
__ADS_1
Raja Wei memandang wajah Se Se yang terbaring lemah di tempat tidur, dia membelai rambutnya dan berkata, "Tolong bertahanlah, jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu, kumohon bertahanlah."
Raja Wei menghapus air mata yang mulai membasahi pipinya. Dia berjalan keluar menuju ruang tahanan.
"Putri, jika anda bisa mendengarkan perkataan hamba, hamba mohon bangunlah. Jangan biarkan Yang Mulia menderita karena kehilangan lagi, hanya anda yang bisa melakukan hal itu." ucap Yu sambil menatap wajah Se Se yang pucat pasi.
Yu keluar dari ruangan itu dan mengikuti langkah Raja Wei. Di dalam ruang tahanan terdengar suara-suara rintihan dan erangan dari pembunuh yang disiksa oleh penjaga.
"Hentikan!" perintah Raja Wei dengan nada datar.
"Baik Yang Mulia." jawab penjaga.
"Katakan! Siapa yang memberimu perintah untuk membunuh Putri Huang?" tanya Raja Wei pada orang yang terikat di kayu salib.
"Aku tidak tahu, aku hanya bekerja untuk kelompok pembunuh." jawab orang itu dengan suara lemah.
Raja Wei mengepal erat tangannya, dia sedang menahan amarah di hatinya.
"Kelompok pembunuh, aku akan menghancurkan kelompok itu dengan tanganku sendiri." ucap Raja Wei.
"Yang Mulia, bagaimana dengan tahanan ini?" tanya seorang penjaga saat melihat Raja Wei melangkah keluar.
"Terserah mau kalian apakan, jangan biarkan dia mati dengan mudah!" ucap Raja Wei dengan mata dinginnya.
Raja Wei dan Yu berjalan keluar dari ruang tahanan, langkah kaki Raja Wei terhenti di depan pintu kamarnya.
Prajurit Elang adalah prajurit terbaik yang di kumpulkan oleh Raja Wei. Prajurit Elang bekerja diam-diam tanpa sepengetahuan orang istana. Mereka hanya mendengar perintah dari Yu dan Raja Wei.
Raja Wei masuk ke kamar dan menatap lama wajah gadis kecilnya.
"Aku akan menikah denganmu malam ini. Kamu harus menungguku, Xiao Se Se." bisik Raja Wei.
*Xiao \= kecil
Raja Wei mengecup bibir Se Se dan membenarkan selimutnya, dia keluar setelah mendengar ketukan dari luar pintu.
Saat Raja Wei keluar, Se Se mulai membuka matanya. Dia mendengar semua percakapan antara tabib dan Raja Wei. Dia juga mendengar permohonan tulus dari Yu.
Bibir gadis itu tersenyum tipis, kemudian dia berkata, "Terima Kasih Yang Mulia, Terima Kasih Yu."
Dia teringat bisikan dari pemuda itu,
"Aku akan menikah denganmu malam ini. Kamu harus menungguku, Xiao Se Se."
Wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang.
__ADS_1
"Deg Deg Deg..."
"Me... me...nikah?" gumamnya.
"Aku pasti salah dengar." ucapnya menenangkan diri.
Gadis itu tertidur kembali, tubuhnya masih lemah karena racun yang tersisa.
Raja Wei pergi ke sarang pembunuh dan membantai semua orang di sana. Kemarahan dan kebencian di hati Raja Wei terlihat dari cara pemuda itu menyiksa mereka.
Percikan darah menodai wajah dan tubuhnya, dia membunuh mereka tanpa belas kasihan. Ruangan itu kini menjadi lautan darah, hanya tersisa mayat-mayat berserakan di tempat itu.
"Hancurkan dan bakar tempat ini tanpa sisa!" perintah Raja Wei.
"Baik Yang Mulia." jawab Yu dan anggota Prajurit Elang.
Raja Wei kembali ke kediaman, dia segera menemui gadis kecilnya di kamar.
Pemuda itu duduk di samping tempat tidur dan berkata, "Aku sudah membunuh orang-orang itu, tapi hatiku masih dipenuhi amarah. Apa yang harus kulakukan?"
"Bau darah, apa dia terluka?" batin Se Se.
Gadis itu sudah terbangun, namun dia ingin mendengar kata hati dari Raja Wei, sehingga dia memutuskan untuk pura-pura tidur.
Raja Wei membelai lembut wajah Se Se dan mengecup keningnya. Kemudian dia berkata, "Kumohon bangunlah, aku tidak sanggup menghadapi hal ini lagi, aku tidak mampu merasakan perasaan kehilangan lagi."
"Lagi? Apa dia pernah mencintai gadis lain di masa lalu? Yu juga mengatakan hal yang sama. Apakah ada orang lain di hatinya?" batin Se Se.
"Drip"
Se Se merasakan tetesan air hangat yang mambasahi wajahnya.
"Apakah dia sedang menangis?" batin Se Se.
"Bukalah matamu! Jika kamu masih tidur, aku akan melakukan hal mesum padamu!" ucap Raja Wei dengan suara serak karena menahan tangisnya.
"Jika kamu masih memejamkan mata, aku akan mencium'mu!"
"Jika kamu masih tidak sadar, aku akan memakan'mu!"
"Deg Deg Deg...!
Jantung Se Se berdegup kencang mendengar gertakan Raja Wei.
Raja Wei memeluk tubuhnya, dia mengangkat sedikit bagian atas tubuh Se Se dan membenamkan kepala gadis itu di dadanya.
__ADS_1
Raja Wei berbisik, "Aku akan menikah denganmu seperti yang telah kujanjikan. Walaupun sehari... Tidak! Walaupun semenit atau sedetik, aku akan menjadikan Huang Se Se sebagai istriku."
^^^BERSAMBUNG...^^^