
Raja Wei membawa Se Se ke acara persembahan langit yang di adakan lima tahun sekali. Mereka berangkat dengan kereta kuda yang dikemudikan oleh Yu.
"Ada apa dengannya hari ini? Dia terlihat menyeramkan." batin Se Se.
Yu menghentikan kereta kuda tepat di depan pintu istana. Raja Wei membantu Se Se turun dari kereta kuda, dia khawatir pada gadis itu karena tubuhnya belum pulih akibat persalinan kembar.
Raja Wei menggenggam tangan Se Se dan berjalan masuk ke Aula Persembahan. Kaisar dan seluruh anggota kerajaan serta Menteri sudah berada di sana.
Raja Wei memberi hormat kepada Kaisar, dia membawa Se Se ke tempat duduk. Cuaca saat itu sangat terik, sinar matahari yang terasa panas membuat keringat membasahi wajah Permaisurinya.
Acara Persembahan di mulai saat matahari tepat berada di atas kepala. Seorang pendeta membaca kitab dan menari dengan pedang kayu di tangannya. Se Se menahan tawa saat melihat pendeta itu menari.
"Orang-orang jaman kerajaan sangat percaya pada tahayul, mereka bahkan percaya dengan pendeta gadungan ini." benak Se Se.
Raja Wei seperti mengerti isi pikiran Se Se, dia berbisik ke telinga gadis itu. "Sttt... jangan tertawa, mereka akan meminta Kaisar menghukum mu jika menghina persembahan ini."
Se Se mengangguk, dia menahan tawanya dengan cara melihat ke arah lain. Matanya membelalak saat menatap beberapa pembunuh berada di atap bangunan istana, mereka mengarahkan busur ke arah Han Ze Xing.
"Putra Mahkota... Awas!" Se Se berteriak dengan suara panik.
Raja Wei berlari ke arah Han Ze Xing. Dengan tangan kosong, dia menangkap anak panah yang meluncur ke tubuh keponakannya.
"Pengawal... Lindungi Kaisar dan Putra Mahkota!" perintah Raja Wei dengan suara keras.
Se Se berada di tengah kerumunan para Menteri yang berusaha menghindar dari pembunuh. Tubuh nya yang lemah akibat persalinan tidak dapat bergerak gesit seperti biasa.
Yu melihat Se Se di dorong oleh beberapa Menteri, dia segera menolong gadis itu. Yu menarik tangan Se Se dan menjauhkan gadis itu dari kerumunan. Sementara Raja Wei masih sibuk melawan para pembunuh dan melindungi Han Ze Xing.
Raja Wei merasa bersalah karena tidak mengutamakan keselamatan Se Se. Namun dia cemburu saat melihat Yu menggenggam tangan permaisurinya.
Yu membawa Se Se masuk ke dalam kamar kosong. "Permaisuri, tetaplah di sini dan jangan keluar. Saya harus membantu Yang Mulia melawan pembunuh yang masuk ke istana." ucap Yu.
Se Se mengangguk, dia tidak dapat membantah karena tubuhnya yang lemah tidak akan bisa membantu mereka.
Yu keluar dari ruangan itu dan kembali ke aula persembahan, dia melawan para pembunuh bersama Raja Wei. Entah berapa banyak mayat yang sudah tergeletak, para pembunuh itu seperti tidak ada habisnya.
"Raja Wei menyuruh Han Ze Xing untuk pergi dari sana. Han Ze Xing masuk ke ruangan yang sama dengan Se Se. Hampir saja kepalanya menjadi sarang peluru, untungnya Se Se belum sempat menembak pistol di tangannya.
"Hufff..."
Se Se menghela napas dan menurunkan tangannya.
__ADS_1
"Apa anda baik-baik saja Permaisuri?" tanya Han Ze Xing.
"Saya baik-baik saja, justru anda yang menjadi target pembunuh itu." jawab Se Se.
"Terima Kasih sudah menyelamatkan nyawa saya lagi." ucap Han Ze Xing.
Se Se tersenyum dan menjawab, "Saya akan meminta bayaran pada anda, jadi tidak perlu ber-Terima Kasih."
"Permaisuri masih bisa bercanda dalam kondisi seperti ini, benar-benar mirip dengan Paman." ucap Han Ze Xing.
"Tentu saja, karena saya adalah istrinya." jawab Se Se dengan menaikkan alis.
"Hahaha..." mereka tertawa bersama.
Han Ze Xing merasa lebih lega melihat sikap gadis itu masih sama seperti sebelumnya. Dia akan berusaha melepaskan rasa cinta pada gadis ini dan menganggapnya sebagai teman baik.
Se Se merasa pusing, dia hampir saja terjatuh. Han Ze Xing menangkap gadis itu, tubuh Se Se jatuh dalam pelukannya.
"Brakkk!"
Raja Wei membuka pintu dan melihat kejadian Se Se dalam pelukan Han Ze Xing. Wajahnya berubah merah padam, dia menatap Han Ze Xing dan Se Se dengan penuh amarah. Rasa cemburu membutakan hati dan pikirannya.
Raja Wei mendekat dan menarik lengan Se Se dengan kasar, dia menatap Han Ze Xing dan berkata, "Menjauhlah dari permaisuriku!"
"Xuan... "
Se Se memanggil Raja Wei dengan pelan. Raja Wei tidak menjawab, dia memalingkan wajahnya dari Se Se.
"Xuan... "
Se Se memanggilnya lagi, berharap pemuda itu akan luluh. Namun Raja Wei masih tidak menjawab.
"Hufff... "
Se Se menghela napas, dia kemudian berpikir cara yang paling ampuh untuk mendapat perhatian Raja Wei.
"Akhhh...!"
Se Se merintih dan memegang perutnya, Raja Wei segera menoleh menatap gadis itu. Dengan wajah cemas dia bertanya, "Apakah kamu terluka?"
"He he he..." Se Se tertawa kecil melihat wajah Raja Wei yang cemas.
__ADS_1
Raja Wei segera menyadari bahwa dirinya tertipu, "Ck... hampir saja jantungku keluar." ucap Raja Wei dengan wajah kesal.
"Sayang... apa kamu masih marah?" tanya Se Se dengan suara manja.
"Aku tidak marah!" jawab Raja Wei dengan nada kesal, dia memalingkan wajahnya lagi.
"Kenapa kamu memalingkan wajah? Apakah kamu tidak ingin melihat wajah ku?" tanya Se Se lagi dengan suara imut yang dibuat-buat.
Raja Wei berbalik memandang istrinya, dia memeluk dan mengecup kening Se Se. "Maaf, hari ini perasaanku sedang buruk. Ketika melihat Han Ze Xing memeluk mu, darahku seketika mendidih, aku merasa ingin membunuhnya saat itu juga."
"Hahaha... Dasar bodoh!" gumam Se Se.
"Kamu menyebutku bodoh?" tanya Raja Wei dengan wajah kesal.
"Xuan memang pria bodoh yang pernah ku kenal." jawab Se Se dengan senyuman di wajahnya.
"Aku juga marah saat Yu menggenggam tanganmu." ucap Raja Wei sambil menggosok-gosok tangan Se Se seolah menghapus bekas genggaman pria lain dari sana.
"Mereka hanya mencoba menyelamatkan aku." ucap Se Se.
"Tetap saja tidak boleh menyentuh wanita milik ku!" jawab Raja Wei dengan nada dominannya.
"Baiklah, akan aku bersihkan bekas sentuhan mereka nanti saat sampai di kediaman. Berhentilah bersikap seperti anak-anak, Xuan sudah menjadi ayah sekarang." ucap Se Se dengan mengelus kepala Raja Wei.
"Permaisuri ku adalah wanita terbaik yang pernah ku miliki." kata Raja Wei sambil menyandarkan kepala ke bahu istrinya.
"Xuan... apa yang sedang kamu pikirkan sejak pagi tadi?" tanya Se Se penasaran.
"Aku memikirkan banyak hal, aku memikirkan Ibu ku." jawab Raja Wei dengan mata berair.
"Yu, antarkan kami ke gunung Li'An. Aku ingin menemui ibuku." perintah Raja Wei.
"Baik Yang Mulia." jawab Yu.
^^^BERSAMBUNG...^^^
Haruskah Raja Wei bercerita kepada Se Se tentang dendamnya? π€
Yuk tulis jawaban teman-teman di kolom komentar... βπ€β
Jangan lupa Vote dan Likeπ
__ADS_1
Komen yang panjang dan lebar juga yah...
Saya merasa semangat membaca komentar dari teman-teman semua π