
DEG!
Hati Se Se terasa sakit mengingat pria di depannya sudah mengambil keperawanan dan menghancurkan kesuciannya.
"Siapa permaisurimu? jangan asal bicara!" ketus Se Se dengan mata membara.
"Akh... sial, aku lupa topengku lepas saat terjatuh." batin Raja Wei.
"Maaf, aku hanya salah bicara." ucap Raja Wei.
Se Se melihat kondisi pemuda itu, kakinya terluka dan seluruh tubuhnya penuh bercak darah.
"Aku harus menyelamatkan atau membunuhnya?" batin Se Se.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Se Se dengan nada datar.
"Aku berencana menyerang bandit, tidak disangka rencana yang kubuat sudah diketahui bandit-bandit itu. Mereka menjebakku masuk ke hutan ini dan menembak ratusan anak panah secara bersamaan." ucap Raja Wei.
"Ck, dasar bodoh!" gumam Se Se.
Pemuda itu tersenyum dan berkata, "Tolong bantu aku mengobati luka ini."
"Ambil ini!" ucap Se Se sambil melemparkan sebotol obat ke pemuda itu.
"Aku tidak bisa menggerakkan kakiku. Tolong obati aku!" pinta Raja Wei dengan wajah memelas.
"Seharusnya kau bersyukur tidak kubunuh, beraninya menyuruhku untuk mengobatimu!" ucap Se Se dengan nada kesal.
"Apa aku pernah menyinggungnya? kenapa dia bersikap seperti ini padaku?" batin Raja Wei.
Raja Wei teringat gadis berambut putih yang pernah menolongnya di hutan.
"Permaisuri, apa anda pernah bertemu dengan Florence dalam waktu beberapa bulan ini?" tanya Raja Wei.
DEG!
Jantung Se Se makin tidak tenang, dia tidak ingin pemuda ini mengetahui jati dirinya. Apalagi mengetahui bahwa bayi di dalam perutnya adalah anak kandung pemuda itu.
"Tidak, aku sudah lama tidak bertemu dengannya!" jawab Se Se panik.
"Apakah aku salah mengingat? Siapa sebenarnya gadis yang bersamaku di malam itu? batin Raja Wei.
Se Se menatap ke wajah pemuda itu, muncul rasa iba dalam hatinya. Dia merasa kasihan pada pemuda yang sedang menahan rasa sakit di depannya. Apalagi tubuh dan wajahnya penuh bercak darah, membuat hati gadis itu tidak tega.
Se Se mendekat dan membantunya untuk duduk, dia membuka baju pemuda itu dan mengobati luka-luka di tubuhnya.
"Terima Kasih." ucap Raja Wei sambil memandang wajah istrinya.
"Tidak perlu, jauhi saja aku jika sudah keluar dari sini!" jawab Se Se dengan nada ketus.
"Apa anda membenciku?" tanya Raja Wei.
Se Se diam membeku, dia menghentikan tangannya yang sedang mengoleskan obat. Dia menatap mata pemuda itu dan menjawab, "Bukan hanya membencimu, aku sangat ingin membunuhmu!"
Deg!
__ADS_1
Hati Raja Wei terasa sakit mendengar kalimat itu, Permaisurinya berkata ingin membunuhnya.
"Apa kesalahan yang sudah kulakukan padamu? Kenapa kamu terlihat sangat membenciku?" batin Raja Wei.
Se Se berdiri dan melangkah untuk menjauh, Raja Wei menarik tangannya hingga tubuh gadis itu terjatuh di pangkuannya.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Se Se dengan nada marah.
Raja Wei menciumnya dengan paksa, dia merasa kesal mendengar gadis itu ingin membunuhnya.
Se Se berusaha mendorong dan melawan, namun perutnya terasa sakit saat mengeluarkan tenaga berlebihan. Dia tidak bisa menghindar dari bibir pemuda itu.
Raja Wei terus mencium dan memeluknya dengan erat. Dia berhenti saat merasakan setetes air hangat terjatuh di lengannya, Raja Wei menatap wajah gadis itu.
"Plakkk!"
Se Se menamparnya dengan keras dan segera menjauh dari pemuda itu.
"Bajingan brengsek!" maki gadis itu dengan wajah yang merah padam.
Se Se menghapus air yang menggenang di kedua sudut matanya, dia berjalan keluar dari gua. Dirinya merasa sangat marah karena telah dilecehkan oleh pemuda itu.
"Seharusnya aku membunuhnya!" ucapnya kesal.
Langkahnya terhenti saat mengingat sesuatu. Dia membalikkan badannya dan menatap ke arah gua.
Se Se masuk kembali ke gua itu dan bertanya, "Apa kau melihat Raja Wei di hutan ini?
Raja Wei tersenyum tipis, dia menatap wajah gadis yang baru saja menamparnya.
"Jika kau ingin tahu, layani aku sampai puas." ucap Raja Wei.
"Katakan padaku, apa kau melihat Raja Wei?" tanya Se Se sambil mengarahkan pistol ke arah pemuda itu.
"Huff... istriku sedang mengancamku dengan senjata paling berbahaya demi aku. Aku tidak tahu harus merasa senang atau sedih." batin Raja Wei.
"Mendekatlah, akan kuberitahu." jawab Raja Wei.
"Jangan bermain denganku, aku tidak akan tertipu!" ucap Se Se dengan mata yang makin membara.
"Layani aku, pertanyaanmu akan kujawab jika aku puas dan senang, jika lebih lambat menemukan Raja Wei, mungkin dia sudah mati dimakan serigala atau singa." ucap pemuda itu dengan wajah serius.
"Apa pilihanmu? kehormatan atau nyawa suamimu ini?" batin Raja Wei.
"Kenapa kau bersikap seperti ini? Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Se Se dengan wajah putus asa.
"Seorang gadis berkata ingin membunuhku, tentu saja aku harus membalasnya bukan? Tapi aku tidak akan membunuhmu, aku hanya ingin menikmati tubuhmu." jawab Raja Wei dengan senyum sinisnya.
Deg!
"Bajingan ini, jantungku terasa ingin berhenti. Kenapa dia menyulitkan hidupku?" batin Se Se.
"Waktumu tidak banyak, apa yang kau tunggu permaisuri?" tanya Raja Wei sambil menatap mata Se Se.
"Aku tidak akan melayanimu!" ucap Se Se dengan nada dingin, dia berjalan keluar dari gua itu.
__ADS_1
"Aku senang dia menjaga kehormatannya, tapi hatiku terasa sakit saat memikirkan gadis itu lebih memilih kehormatannya dibanding nyawaku. Apakah nyawaku tidak berharga untuknya?" ucap Raja Wei dalam hati.
"Krekk krekk!" suara kerikil yang terinjak.
Gadis itu melangkah masuk kembali ke gua, dia menatap mata pemuda itu dengan hati yang terbakar amarah.
"Apa kau benar-benar tahu keberadaan Raja Wei?" tanya Se Se dengan nada berharap.
Hati Raja Wei tersentuh, gadis itu kembali untuknya. Dia menjawab pertanyaan Se Se dengan wajah dingin.
"Tentu saja aku tahu di mana dia berada. Aku yang membawanya ke tempat itu."
"Apa yang harus kulakukan? Aku harus menolong nyawa suamiku, tapi... apakah aku harus merelakan diriku untuk disentuh oleh pemuda ini lagi?" batin Se Se.
"Jika kau berani berbohong, aku akan membunuhmu!" jawab Se Se dengan suara getir.
Raja Wei tersenyum puas mendengar kata-kata permaisurinya.
"Kemarilah!" perintah pemuda itu.
Se Se berjalan mendekat, langkah kakinya terasa berat. Dia menahan emosinya, hatinya merasa sakit dipermalukan oleh pemuda itu.
Raja Wei menarik tangannya, dia terjatuh dalam pelukan pemuda itu. Raja Wei mengecup kening dan pipinya dengan lembut. Gadis itu memejamkan mata, dia tidak ingin melihat wajah pemuda yang sedang melecehkannya.
Raja Wei mencium bibirnya dengan lembut, semenit kemudian dia berbisik di telinga gadis itu.
"Terima kasih, aku mencintaimu."
Deg Deg Deg!
Detak jantung Se Se menjadi cepat dan tidak karuan. Hatinya tersentuh mendengar kata-kata itu.
"Apa yang kulakukan? kenapa hatiku tergerak karena pengakuan dari pemuda ini?" batin Se Se.
Bukan jijik atau marah, tapi perasaannya malah tersentuh. Perasaan ini sama dengan saat Raja Wei mengungkapkan isi hatinya.
"Kenapa aku bisa merasakan perasaan seperti ini saat bersama pemuda lain? Apa aku menduakan hatiku karena pemuda ini telah mengambil malam pertamaku?" kata hati Se Se.
^^^BERSAMBUNG...^^^
Apakah hati Se Se mendua?
A. Iya dong, kan dia suka sama dua cowok sekaligus.
B. Ngak dong, itu kan orang yang sama.
C. Iya atau ngak ya??
D. Tulis jawaban menurut pemikiran teman-teman di kolom komentar.
...Terima kasih sudah membaca karya saya yang masih banyak kekurangan ini. Mohon dukungannya, jangan lupa Like & Vote nya ya... 😘😘😘...
XieXie
Arigato
__ADS_1
Danke
💖💖💖