
"Hahh! Anda mau mengancam saya dengan menggunakan nyawa orang-orang itu?" tanya Se Se dengan amarah yang kini memuncak. Wajahnya yang merona kini menjadi merah semua akibat darah yang mengalir ke atas kepala.
"Hahaha...!" Han Ze Ti tertawa keras mendengar pertanyaan yang sudah pasti jawabannya. Begitu suara tawanya hilang, raut wajahnya lalu berubah dengan sangat drastis. Wajahnya kini terlihat sangat menakutkan, wajah kejam dari seorang tiran. Dia lalu berkata dengan sorot mata yang tajam, seakan hendak membunuh melalui tatapan itu. "Kau hanya memiliki satu kesempatan! Nyawa orang-orang ini atau menjadi milikku? Pilihlah!"
"Orang gila ini! Hahhh! Apa aku sungguh harus membunuhnya? Tatapan mata itu terlihat seperti orang yang haus darah, dia pasti serius ketika mengatakan akan membunuh semua pasukan istana. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak bisa mengabaikan nyawa orang-orang itu." benak Se Se.
Han Ze Ti senang melihat wajah bingung Se Se, dia semakin senang ketika memikirkan wanita itu akan memilih untuk menjadi pendamping hidupnya. Bukan karena dia menyukai Se Se, namun karena kemampuan wanita itu sangat dia butuhkan.
Bagi seorang pemimpin negara, kemampuan yang dimiliki oleh Se Se sangat diperlukan untuk menjaga kesetiaan orang-orang di samping dan juga rakyatnya. Memiliki rasa keadilan yang tinggi dan juga peduli dengan semua rakyat adalah kepribadian yang sangat langka dan jarang di temui di kalangan bangsawan.
Kepeduliannya terhadap semua orang menjadi daya tarik Se Se yang membuat Kaisar Han Ze Ti terpikat. Awalnya dia hanya ingin Raja Wei memiliki seorang wanita yang di cintai agar adiknya itu memiliki satu kelemahan. Namun sekarang kelemahan dari adiknya malah menjadi bumerang untuknya.
Kaisar Han Ze Ti sangat menyayangi Raja Wei sejak mereka kecil, namun lambat laun rasa sayang itu terkikis habis karena ketakutan Han Ze Ti terhadap kekuasaan dari Raja Wei yang makin lama semakin membesar.
Dia takut Raja Wei akan memberontak dan mengambil alih tahta, apalagi Raja Wei kini memiliki seorang wanita yang menjadi pusat perhatian semua rakyat. Ketakutan itu pun semakin membesar sehingga membuat Han Ze Ti terhasut oleh kata-kata negatif dari para menteri yang menginginkan kejatuhan dari Raja Wei.
Sementara itu di kediaman Raja Wei, di sebuah ruang sederhana yang biasa menjadi tempat pria itu membaca laporan-laporan yang di kirimkan oleh bawahannya.
Seorang pelayan mengetuk pintu.
"Tok! Tok! Tok!"
Terdengar jawaban dari balik pintu, "Masuk!"
"Yang Mulia, Permaisuri meminta hamba untuk mengantarkan teh bunga ini!" ucap seorang pelayan yang masuk dengan membawa seteko teh dan cangkir kosong di atas nampan bambu.
__ADS_1
"Di mana Permaisuri?" tanya Raja Wei tanpa memalingkan wajahnya dari laporan.
"Permaisuri keluar dari kediaman bersama para pelayan dapur dan juga beberapa pengawal." jawab pelayan.
Raja Wei mengangkat wajahnya, menatap pelayan itu dengan rasa penasaran, ia kemudian bertanya, "Ke mana tujuan Permaisuri?"
"Hamba tidak tau Yang Mulia!" jawab pelayan itu.
Raja Wei menutup laporan yang dia baca, dia lalu berdiri dan berkata, "Che, siapkan kuda, aku akan pergi mencari Permaisuri!" perintah Raja Wei kepada pria yang berdiri di sebelahnya.
"Baik, Yang Mulia!" jawab Che, pria itu langsung berjalan keluar dari ruangan. Tak lama setelah itu ia kembali lalu berkata, "Yang Mulia, kuda anda tidak berada di kandangnya!"
"Siapa orang yang berani membawa pergi kuda ku?" tanya Raja Wei dengan nada meninggi.
Che menahan tawa, dia tentu saja mengetahui siapa pelakunya, hanya satu orang yang berani melakukannya, Permaisuri.
"Ehemm... Itu... Sepertinya Permaisuri yang membawa kuda anda, Yang Mulia!" jawab Che ragu-ragu karena takut di marahi.
Mendengar jika Permaisuri yang telah membawa kudanya, amarah Raja Wei langsung lenyap seketika. "Siapkan kuda lain!" perintahnya lagi kepada Che.
Beberapa saat kemudian, seekor kuda sudah tersedia di depan pintu ruangan, Raja Wei keluar dari pintu setelah mendengar suara langkah kuda, dia lalu melompat naik ke atas punggung kuda.
Che sudah berada di atas punggung kuda yang lain, dia lalu mengikuti Raja Wei keluar dari halaman. Mereka melewati halaman dapur, tidak ada satu orang pun yang berjaga di sana. Karena penasaran, Che turun dari kudanya lalu masuk ke dalam dapur.
"Di mana semua pelayan?" tanya Che kepada seorang gadis muda yang dibawa pulang oleh Ti Yi.
__ADS_1
"Mereka semua mengikuti Yang Mulia Permaisuri pergi ke gerbang istana!" jawab wanita itu.
"Aku tidak pernah melihatmu di kediaman ini! Siapa yang membawa mu masuk ke dalam kediaman? Siapa orang yang kau layani?" tanya Che dengan rasa curiga.
"Saya di bawa oleh Ti Yi dan tinggal bersama dengannya. Saya tidak melayani siapapun di sini." jawab wanita itu dengan ketakutan.
"Siapa namamu?" tanya Che lagi namun dengan nada yang lebih ramah.
"Nama saya Wen Yi, Tuan!" jawab wanita itu sambil menunduk.
"Terima kasih sudah memberitahuku keberadaan Permaisuri. Panggil saja aku dengan nama Che, bukan Tuan!" ucap Che yang lalu keluar dari dapur tanpa menunggu jawaban dari Wen Yi.
Che kembali naik ke punggung kuda, ia lalu mengejar kuda Raja Wei dan memberitahukan keberadaan Permaisuri.
Raja Wei baru menyadari jika para pasukannya belum kembali dari Istana, dia benar-benar tidak tau jika pasukannya belum kembali ke kediaman. Biasanya mereka akan tertidur lelap selama berjam-jam tanpa keluar dari kamar setelah kembali dari medan perang, sehingga Raja Wei mengira para pasukannya sudah terlelap di dalam kamar masing-masing.
"Kenapa aku bisa melupakan para pasukan yang belum kembali? Aku benar-benar keterlaluan!" rutuknya dalam hati.
Kuda berpacu dengan sangat cepat menyusuri jalanan menuju ke istana kerajaan. Beberapa kali kuda itu harus melompat tinggi untuk menghindari pejalan kaki yang berdiri di tengah jalan.
Hingga akhirnya Raja Wei dan Che tiba di depan gerbang istana. Raja Wei melompat turun dari kudanya, dia berjalan cepat menerobos kumpulan dari manusia-manusia yang sedang menonton pertunjukkan langsung di depan mereka.
Langkahnya terhenti, jantungnya seakan berhenti ketika menatap pemandangan di depan mata. Raja Wei melihat Han Ze Ti, kakak kesayangannya sangat dekat dengan istrinya.
Bibir kedua orang itu hampir bersentuhan, ditambah pelukan dari Kaisar yang meletakkan tangannya di belakang punggung Se Se. Hatinya serasa terbakar, perasaannya kacau seketika sebab Kakak yang begitu dia sayangi ternyata mencoba mencuri istri tercintanya.
__ADS_1
"Han Ze Ti!" teriak Raja Wei ketika melihat bibir mereka baru saja menempel di ujung.
^^^BERSAMBUNG...^^^