
Raja Wei meninggalkan kamar setelah Se Se tertidur, dia masuk ke ruangan kerja dan memerintahkan Yu untuk mengirimkan surat kepada Han Ze Xing.
"Toleransi ku untuk mereka sudah mencapai batasnya, aku tidak akan tinggal diam lagi. Karena mereka yang lebih dulu mengusik keluarga ku, maka jangan menyalahkan ku jika aku membunuh mereka berdua dengan cara yang kejam."
Han Ze Xing mengerutkan dahinya, dia berjalan ke arah tempat lilin dan membakar surat dari Raja Wei.
"Kapan kalian akan menghentikan semua kejahatan ini?" batin Han Ze Xing.
"Yang Mulia, Raja Wei memerintahkan hamba untuk menyerahkan ini kepada anda." ucap Yu sambil menyerahkan sebuah plakat.
"Pasukan Militer?" ucap Han Ze Xing.
"Benar, kami telah mengawasi gerakan pasukan Zhou. Mereka akan segera masuk ke ibukota. Raja Wei menyerahkan plakat itu agar Yang Mulia bisa menggerakkan pasukan militer untuk melindungi istana." jelas Yu.
"Lalu bagaimana dengan Paman? Apa yang akan dia lakukan?" tanya Han Ze Xing.
"Kami akan menyerang pasukan Zhou yang berada di luar kota. Jika kami berhasil mengalahkan mereka, kami akan kembali secepatnya ke Istana untuk melindungi anda. Sampai saat itu, tolong bertahanlah dan lindungi diri anda Yang Mulia." ucap Yu sambil memberi hormat.
"Apakah perang akan segera di mulai?" batin Han Ze Xing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Raja Wei kembali ke kamar, dia menatap wajah Permaisurinya yang masih tertidur lelap.
"Kita harus berpisah sementara, aku akan kembali setelah memusnahkan negara Zhou. Kita akan hidup bahagia selamanya setelah perang ini berakhir, maafkan aku yang pergi tanpa pamit. Aku tidak ingin kamu khawatir." gumam Raja Wei.
Raja Wei keluar dari kamar setelah mengecup bibir Se Se, dia menutup pintu kamar dengan perlahan.
Se Se membuka matanya dan menatap ke arah pintu.
"Aku harap Xuan akan baik-baik saja dan kembali dengan selamat. Aku akan selalu menunggu mu, Xuan." ucap Se Se dengan suara kecil.
Pasukan Elang di perintahkan untuk menjaga kediaman, sebanyak 20 pasukan di tugaskan khusus menjaga kamar Raja Wei yang saat ini di tempati anak-anak dan Permaisuri.
Han Ze Xing mulai memanggil pasukan militer, mereka di tugaskan untuk menunggu di dekat istana.
Hari menjelang pagi, Raja Wei dan Han Ze Xing sibuk menyiapkan rencana tanpa tidur semalaman.
__ADS_1
Kaisar mengumpulkan para menteri seperti biasanya rapat di pagi hari. Tanpa mereka sadari, musuh telah bersiap untuk menyerang Istana.
Selir Fei diam-diam menuju ke dapur istana dengan menyamar sebagai pelayan. dia memasukkan racun yang diberikan oleh Gu Han ke dalam sumur air di istana.
Pelayan Selir Fei mengikutinya dari belakang, dengan cepat dia bersembunyi saat melihat Selir Fei keluar dengan mengenakan pakaian pelayan.
Pelayan yang bernama Yi Li itu kemudian berniat melaporkan hal ini kepada pengawal istana.
Yi Li mengendap-endap melihat pengawal yang sedang berkeliling di luar Istana Kaisar. Han Ze Xing yang pada saat itu kebetulan akan menemui Kaisar melihat Yi Li yang mencurigakan sedang bersembunyi di balik pohon.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Han Ze Xing.
Yi Li terkejut dan membalikkan tubuhnya menatap Han Ze Xing.
"Yang... Yang Mulia..." ucap Yi Li yang segera berlutut di hadapan Han Ze Xing.
"Katakan! Kenapa kau ada di sini dan mengintip istana Kaisar? Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Han Ze Xing dengan nada menyelidik.
"Yang Mulia, hamba ke sini karena ingin melaporkan hal penting." ucap Yi Li dengan tubuh bergetar ketakutan.
"Apa yang ingin kau laporkan?" tanya Han Ze Xing.
"Apa kau yakin dengan ucapan mu itu? Apa kau tahu apa hukuman untuk orang yang memfitnah keluarga kerajaan?" tanya Han Ze Xing dengan wajah dingin.
"Ham... hamba... melihatnya sendiri. Selir Fei memakai baju pelayan dan berjalan menuju sumur istana. Beliau memasukkan racun ke dalam sumur." ucap Yi Li makin ketakutan.
"Antarkan aku ke sumur itu!" perintah Han Ze Xing.
Yi Li berdiri dan melangkah menuju sumur istana, dia berhenti di depan sumur dan berkata, "Selir Fei menaruh racun di sumur ini Yang Mulia."
Han Ze Xing menyuruh pengawal untuk mengambil air dari sumur dan membawanya ke tabib istana untuk di periksa.
Sementara itu Selir Fei sedang ketakutan di dalam kamarnya, tangannya bergetar tanpa bisa di kendalikan.
"Semoga saja rencana kali ini akan berhasil." gumam Selir Fei.
"Brakkk!"
__ADS_1
Pintu kamar di buka secara kasar oleh Han Ze Xing, dia masuk bersama Yi Li dan seorang tabib.
"Kenapa? Kenapa anda tidak bisa berhenti berbuat jahat? Kenapa anda selalu berusaha menghancurkan kedamaian istana ini?" ucap Han Ze Xing dengan wajah memerah.
Han Ze Xing benar-benar marah, kali ini dia tidak akan memaafkan Selir Fei lagi.
"Apa yang anda katakan Yang Mulia? Saya tidak mengerti." jawab selir Fei.
"Anda tidak tahu? Kalau begitu coba jelaskan apa maksud anda menaruh racun di dalam sumur istana?!" ucap Han Ze Xing dengan mengeratkan kepalannya.
"Ra... Racun?" ucap Selir Fei mulai ketakutan.
"Bagaimana bisa dia mengetahui aku telah menaruh racun di dalam sumur? Siapa yang telah melihatnya? Apakah ada orang yang sedang mengawasi ku? batin Selir Fei.
Selir Fei mematap Yi Li yang tengah berada di belakang Han Ze Xing.
"Apakah kau yang telah sembarangan menuduhku?" tanya Selir Fei dengan menunjuk jari nya ke arah Yi Li.
"Benar, hamba yang telah melaporkan hal ini kepada Yang Mulia Putra Mahkota. Anda tidak boleh mencelakai orang-orang di istana ini lagi. Hamba akan melaporkan semua kejahatan yang telah anda lakukan selama ini." ucap Yi Li dengan menahan amarahnya.
"Akan ku bunuh kau budak penghianat!" bentak Selir Fei kemudian melemparkan sebuah cangkir ke arah Yi Li.
"Pranggg!"
Han Ze Xing menangkap cangkir itu dan melemparkan kembali ke arah Selir Fei.
Selir Fei memegang kepalanya yang berdarah terkenal lemparan cangkir, dia menatap Han Ze Xing dengan penuh kebencian di matanya.
"Anak sialan! Aku sudah membesarkan mu selama ini, dan ini balasan mu terhadap ku? Dasar anak tidak tahu budi!" teriak Selir Fei sambil menunjuk Han Ze Xing
"Hahaha... Anda benar-benar tidak tahu malu. Setelah membunuh ibunya sekarang anda berpura-pura menjadi penolong anak dari orang yang telah anda bunuh? Anda benar-benar wanita berhati iblis!" ucap Yi Li.
"Jederrr!"
Hati Han Ze Xing bagaikan di sambar ribuan petir saat mendengar kebenaran ini. Dia tidak menyangka selama ini wanita yang dia anggap sebagai ibu ternyata adalah pelaku yang telah membunuh ibu kandungnya.
"Apakah yang di katakan pelayan ini benar?" tanya Han Ze Xing dengan wajah penuh kekecewaan.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^