
Saat itu, Raja Wei telah terkena racun yang dicampurkan ke dalam makanannya. Salah satu pasukannya telah di suap untuk memata-matai kegiatan Raja Wei. Dia di minta untuk meracuni makanan Tuannya sehari sebelum mereka kembali ke ibukota.
"Jika kau tidak tanda tangan, aku akan membunuh Xuan!" ancam Han Ze Ti.
Karena tidak ingin kedua saudara itu saling membunuh, akhirnya Kaisar Han Ze Shang menanda-tangani surat wasiat palsu yang diberikan oleh anaknya. Dia berharap hubungan kedua saudara itu akan tetap bertahan, terlepas dari siapa yang akan menjadi Kaisar di masa depan.
Setelah dia menanda-tangani surat wasiat palsu, Han Ze Shang bertanya kepada anaknya. "Ze Ti, kenapa kamu sangat terobsesi untuk menjadi Kaisar?"
"Siapa yang tidak ingin menjadi Kaisar? Siapa yang tidak ingin memiliki kekuasaan tertinggi? Bukankah pertanyaan ayah terdengar aneh?" jawabnya dengan mengajukan berbagai pertanyaan.
Han Ze Ti lalu bertanya kepada Ayahnya, "Kenapa? Kenapa ayah memilih Xuan, bukan aku? Apa kekurangan ku? Apa kelemahan ku sehingga ayah tidak memilih ku sebagai pewaris?"
"Ze Ti, kau tidak memiliki kekurangan apapun. Justru karena itu, kau tidak cocok menjadi seorang Kaisar. Ze Xuan berbeda darimu, dia hanya pria naif yang suka mengalah. Itu sebabnya aku memilih Ze Xuan. Dia suka memberi sebanyak mungkin, itu hal yang bagus untuk memimpin rakyat ke jalan yang lebih baik dan makmur.
Sedangkan kau, kau sangat pintar dan berwawasan luas. Tapi kepintaranmu itu hanya untuk diri sendiri. Kau tidak memikirkan rakyat, semua yang kau inginkan hanya demi kemajuan istana ini tanpa mempertimbangkan bagaimana kehidupan rakyat di luar sana.
Jika kau menjadi seorang panglima, itu sangat cocok karena kau pasti akan memenangkan semua pertempuran dengan otak mu yang cerdas dan kejam. Tapi sebagai Kaisar, itu terlalu menyusahkan dan menyedihkan bagi rakyat.
Ayah tidak ingin melihat rakyat negara Han menderita hanya demi kemajuan negara kita. Kita lah yang harus membantu mereka agar hidup mereka lebih makmur, bukan sebaliknya." jelas Kaisar Han Ze Shang.
"Hahaha...! Itu semua hanya alasan ayah saja. Semua pemimpin pasti akan memikirkan kemajuan istana. Tidak ada yang peduli dengan rakyat rendahan di luar sana. Mereka hanya digunakan untuk kemajuan kekaisaran." sahut Han Ze Ti dengan suara yang semakin tinggi.
"Dasar gila!" maki Raja Wei yang sudah tidak tahan mendengar kata-kata dari kakaknya itu.
"Gila? Apa kau bilang? Kau bilang aku gila? Benar! Aku memang sudah gila! Aku gila karena ayah selalu memilihmu! Aku sangat berusaha sejak kecil, tapi kenapa? Kenapa semuanya menjadi milikmu? Orang yang tidak pernah berusaha dan tidak pernah melakukan apapun untuk negara! Kenapa harus kau yang memiliki semuanya?" bentak Han Ze Ti yang semakin emosi.
__ADS_1
"Kakak, jika kau mengatakannya, aku akan memberikan tahta ini secara suka rela kepadamu. Aku tidak membutuhkan tahta ini, aku hanya ingin hidup bahagia dan sederhana." ucap Raja Wei.
"Aku tidak menginginkan belas kasihan darimu! Apa yang ku inginkan, aku akan mendapatkannya sendiri dengan usaha dan kekuatan ku!" jawab Han Ze Ti.
"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu! Karena ayah sudah memberikan tahta kepadamu, bisakah kau melepaskan ayah sekarang?" pinta Raja Wei yang mulai lelah dengan pertengkaran ini.
"Ayah tidak boleh kemana-mana. Ayah akan terus berada di sini sampai aku naik tahta." jawab Han Ze Ti menolak permintaan Raja Wei.
"Kau ini benar-benar sudah gila ya? Ayah sedang sakit sekarang!" bentak Raja Wei dengan wajah yang memerah.
"Kau pikir aku bodoh? Aku tidak akan membiarkan ayah keluar dari sini. Kalian hanya akan menghalangi rencanaku!" hardik Han Ze Ti.
"Ze Xuan, hentikan! Sudahi pertengkaran ini. Kalian adalah saudara, tidak boleh saling membenci. Ze Ti, berjanjilah kau akan memperlakukan Ze Xuan dengan baik. Kau tidak boleh mengganggu hidupnya di kemudian hari. Kau harus berjanji!" pinta Han Ze Shang.
"Ayah...!" Raja Wei hendak protes, namun Kaisar Han Ze Shang menggelengkan kepala, mengisyaratkan kepadanya untuk mengakhiri semua ini.
Raja Wei hanya bisa menuruti keinginan dari ayahnya itu. Dia tidak ingin membuat hati ayahnya sakit dan hancur karena pertengkaran kedua anaknya.
Han Ze Ti lalu mendekat ke arah Raja Wei, diam-diam dia menusuk jarum yang telah di beri obat bius ke leher adiknya. Raja Wei terjatuh, namun Han Ze Ti segera menahan tubuhnya.
"Kau! Apa yang kau lakukan pada Ze Xuan?" bentak Han Ze Shang dengan wajah khawatir.
"Aku hanya membuatnya tertidur. Ayah tidak perlu khawatir, karena aku sudah berjanji, aku tidak akan menyakiti Xuan." jawab Han Ze Ti.
Pria itu membawa Raja Wei keluar, dia menanamkan racun untuk mengubah ingatan Raja Wei. Mulai dari ayahnya yang dikurung lalu surat wasiat yang akan mrnjadi miliknya. Semua ingatan itu di kubur dalam-dalam.
__ADS_1
"Mulai sekarang, kau akan mengingat jika surat wasiat ayah tertulis tahta yang akan di turunkan kepada Han Ze Ti. Kau akan melupakan semua kenangan hari ini." bisik Han Ze Ti ke telinga adiknya yang masih tak sadarkan diri.
Esok harinya, Raja Wei terbangun dengan perasaan bingung dan penasaran. Dia mengingat jika dirinya sedang berlutut di depan makam ayahnya. "Kenapa aku berada di dalam kamar? Siapa yang membawa ku kemari? Apakah aku pingsan saat berlutut?" pertanyaan-pertanyaan pun muncul di dalam hati Raja Wei.
Flashback End
"Ternyata sejak awal tahta Kaisar bukanlah milik Han Ze Ti!" ucap Se Se.
Raja Wei mengangguk, "Tapi aku tidak menginginkan tahta. Jadi mulai sekarang, aku akan mengubur kejadian buruk itu di dalam hati. Xing akan menjadi pewaris tahta, aku akan mengundurkan diri dari jabatan Raja Wei. Kita akan hidup sederhana saja ke depannya tanpa ikut campur dengan pemerintahan negara." ucap Raja Wei sambil menatap mata istrinya.
"Benarkah? Xuan akan melepaskan gelar ini?" tanya Se Se dengan wajah terkejut. Dia tidak menyangka jika suaminya akan melepas gelarnya. Raja Wei yang dia kenal, adalah sosok pria yang akan mengorbankan hidupnya untuk negara. Dia sulit percaya dengan apa yang baru saja terdengar di telinga kecilnya.
"Ya, aku akan melepas gelar dan jabatan sebagai pangeran. Aku akan hidup sebagai rakyat jelata. Apakah istriku keberatan jika hidup bersama dengan rakyat jelata sepertiku?" tanya Raja Wei sambil tersenyum.
Se Se menggelengkan kepala, dia sangat senang mendengar jawaban dari Raja Wei. "Aku menyukai keputusanmu ini! Terima kasih Xuan...!" jawab Se Se dengan senyum bahagia.
Pasangan suami istri itu berpelukan, mereka bahagia memikirkan saat-saat menjadi rakyat biasa yang tidak perlu memikirkan banyak hal dan persaingan.
"Ayo hidup bahagia bersama anak-anak. Kita tidak perlu peduli lagi dengan hal lainnya." ucap Raja Wei sambil menatap wajah Se Se.
Se Se mengangguk pelan, sambil tersenyum dan tertawa. Sebuah kecupan dia berikan untuk suaminya yang tercinta. Kecupan itu dibalas dengan ciuman yang hangat dan lembut dari Raja Wei.
"Aku sangat mencintaimu, istriku!"
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1