The Princess Story

The Princess Story
Episode 244


__ADS_3

Wajah Zhun Tian yang tersenyum perlahan menjadi dingin. Dia mendekat lagi sambil berkata, "Saya akan mengambil nyawa anda saat tiba waktunya!"


"Oooh...!" jawab Se Se.


"Saat itu kau sudah tidak punya kesempatan lagi!" batin Se Se.


Zhun Tian kembali menatap wajah Se Se, dalam hati ia berkata, "Aku sangat penasaran, apa yang ada di pikiran wanita ini? Dia selalu terlihat tenang ketika aku mengancam akan mengambil nyawanya. Ingin rasanya ku buka otak wanita itu dan melihat isi di dalamnya."


"Saya akan datang lagi di lain hari!" ucap Zhun Tian yang langsung menghilang tanpa jejak.


"Hahhh...!"


Se Se menghela napas, lega rasanya melihat pria aneh itu sudah meninggalkan kamarnya.


Raja Wei menemui Perdana Menteri Huang di taman. Ye Yuan yang berada disana segera mendekat dan memberi salam kepada Raja Wei.


"Saya akan memberikan pengawal kepada Permaisuri." ucap Perdana Menteri Huang.


"Tidak perlu, aku sudah memilih pengawal pribadi untuknya!" ucap Raja Wei.


"Saya tidak mengatakannya untuk meminta izin dari Yang Mulia, saya hanya ingin memberitahu anda terlebih dulu." jawab Perdana Menteri Huang.


Ye Yuan segera memotong pembicaraan mereka sebelum terjadi konflik yang tidak berarti.


"Yang Mulia, bolehkah saya membawa anak-anak keluar? Saya ingin mengajak mereka berkeliling di pasar malam."


Raja Wei berpikir sejenak sebekum menjawab permintaan Ye Yuan, dia masih khawatir dengan para prmbunuh yang sebelumnya mengejar istrinya.


"Bagaimana jika target mereka selanjutnya adalah anak-anak? Tapi tidak mungkin aku mengurung mereka selamanya di dalam kediaman." benak Raja Wei.


Dengan berat hati, Raja Wei akhirnya menyetujui permintaan Ye Yuan.


"Aku akan mengirim pasukan untuk mengawasi kalian, jangan bertindak nekad jika terjadi hal yang buruk nantinya." ucap Raja Wei.


"Terima kasih Yang Mulia." ucap Ye Yuan.


Sementara itu Huo Feng yang berada di sekitar taman menatap Ye Yuan dengan wajah kebingungan. "Kekuatan suci?" gumamnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Ti San berada di kamar yang sama dengan Ti Liu. Meskipun terluka parah, Ti San berhasil kabur dari kejaran para pembunuh. Dia di temukan oleh tim pencari yang dipimpin oleh Raja Wei.


Ti San menoleh ke sampingnya, tubuh kurus yang berbaring di sebelahnya terlihat sangat lemah.


"Jika aku tidak mengenal Liu,aku pasti akan menganggap remeh pria bertubuh kurus seperti dia!" Siapa yang menyangka dengan tubuh kurus ini Liu sudah mencapai tahap master pedang?!" gumam Ti San.


Sudah berhari-hari lamanya, Ti Liu yang di rawat bersama dengan Ti San masih belum ada kemajuan. Ti San sudah sadar di hari kedua dia di temukan, Ti Liu yang terluka parah masih belum sadarkan diri.


"Liu, aku harap kau akan baik-baik saja menerima kenyataan pahit ini. Saat kau bangun nanti, jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku dan semua anggota Pasukan Elang pasti akan selalu berada disisi mu. Kami akan mendukungmu apapun yang terjadi." ucap Ti San dengan wajah sedih.


"Seorang master yang kehilangan kemampuan tentu sangat buruk, apalagi Ti Liu yang akan berada dalam kondisi lumpuh. Itu jauh lebih buruk dari pada kematian." benak Ti San.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pangeran Arnold menjenguk Mariane lagi, kali ini dia membawa buah kesukaan wanita itu, lychee. Untuk mendapatkan satu kotak lychee yang setara dengan satu mangkuk nasi, Pangeran Arnold harus mengeluarkan harta yang setara dengan harga satu rumah sederhana di ibukota.


Lychee merupakan buah musiman yang sulit didapatkan. Buah itu biasanya hanya dibeli oleh keluarga bangsawan kaya dan keluarga kerajaan karena harganya yang sangat mahal.


Mariane menatap lychee yang dibawa oleh Pangeran Arnold, namun tidak ada ketertarikan yang terlihat di wajahnya. Pangeran Arnold mengupas satu buah lychee untuk Mariane, namun wanita itu hanya diam saja, dia tidak menerima ataupun menolak pemberian Pangeran Arnold.


Rasa kecewa terlihat di wajah Pangeran Arnold. Susah payah dia mencari buah lychee untuk Mariane, namun tidak ada satu pun yang disentuh oleh wanita itu.


Pangeran Andrew berdiri di depan kamar Mariane, dia melihat semuanya dengan jelas. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Pangeran Arnold terhadap Mariane, semua terlihat dengan jelas dimatanya.


Pangeran Andrew bertanya-tanya dalam hati, "Apakah Arnold mencintai Mariane? Apakah selama ini dia selalu menutupi perasaannya? Atau aku yang terlalu kaku hingga tidak menyadari hal itu?"


Pangeran Arnold mengetuk pintu kamar, dia masuk setelah mendapat ijin dari Pangeran Andrew.


"Kakak mencari ku? Ada apa?" tanya Pangeran Arnold tanpa basa basi.


"Ada hal yang ingin aku tanyakan kepadamu." jawab Pangeran Andrew.


"Arnold... Sejak kapan?" tanya Pangeran Andrew.


"Sejak kapan? Apa maksudnya?" tanya Pangeran Arnold tak mengerti.


"Sejak kapan kamu mulai mencintai Mariane?" tanya Pangeran Andrew dengan kalimat yang lengkap.


Pangeran Arnold terdiam, dia tidak tau apa yang harus dia katakan kepada kakaknya.

__ADS_1


"Sudah berapa lama kamu merasakan perasaan itu terhadap kakak iparmu?" tanya Pangeran Andrew lagi.


Pangeran Arnold masih tetap diam membisu, dia tidak ingin menjawab pertanyaan kakaknya dengan kebohongan, dan dia juga tidak ingin menceritakan kenyataan yang akan melukai hati saudaranya itu.


"Pergilah! Anggap saja aku tidak pernah bertanya kepadamu! Lupakan pertemuan kita malam ini!" pinta Pangeran Andrew.


Rasa bersalah terlihat di wajah Pangeran Arnold, dia keluar dari kamar Pangeran Andrew setelah mengucapkan kata "Maaf".


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seorang pengawal berlari dengan cepat menuju kediaman Raja Wei. Dia masuk ke pintu gerbang tanpa melapor kepada penjaga. Buru-buru dia mencari keberadaan majikannya.


"Yang Mulia...!" teriak pria itu sambil ngos-ngosan ketika melihat Raja Wei dari kejauhan.


Raja Wei mendapat firasat buruk setelah melihat pengawal itu. Dia adalah salah satu pengawal pribadi yang ditugaskan untuk mengawasi anak-anak yang saat ini berada di luar kediaman.


"Yang Mulia... Ha... Hah..." ucap pria itu dengan napas yang tersenggal-senggal.


"Ada apa? Kenapa kau di sini dan tidak melindungi Pangeran dan Putri?" tanya Raja Wei dengan wajah cemas.


"Yang Mulia, Pangeran dan Putri menghilang!" ucap pengawal itu.


"Yu, cepat kumpulkan pasukan Elang! SEKARANG!" teriak Raja Wei dengan suara bergetar.


Raja Wei ketakutan ketika memikirkan nasib anak-anaknya yang menghilang.


"Bagaimana kalau mereka diculik?


Bagaimana kalau mereka menjadi target pembunuh?


Apakah mereka sedang menangis ketakutan?


Dimana anak-anakku sekarang?


Siapa sebenarnya yang sudah membawa mereka pergi?"


Raja Wei bertanya-tanya dalam pikirannya, dia sangat gelisah hingga tidak bisa menenangkan hatinya.


Raja Wei terus bergumam menanyakan hal-hal yang ada di dalam pikirannya hingga Yu kembali.

__ADS_1


"Yang Mulia! Tolong tenanglah...!" ucap Yu sambil memukul bahu Raja Wei untuk menyadarkan Tuannya itu.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2