The Princess Story

The Princess Story
Episode 242


__ADS_3

Huo Feng mengunjungi kamar Se Se di saat Raja Wei keluar menjalankan tugas. Dia berdiri di samping tempat tidur, diam-diam dia menatap wajah Se Se yang baru saja tertidur.


"Aku perlu kekuatan anda, bisakah anda memberikannya untukku!" ucap Huo Feng.


Se Se membuka mata, ia membalas tatapan Huo Feng yang di tujukan kepadanya sambil berkata, "Apakah itu tujuanmu sejak awal?"


"Anda belum tidur ya?" tanya Huo Feng.


"Saya terbangun saat kamu masuk tadi." jawab Se Se.


"Ternyata aku sudah tertipu dengan wajah polos majikan." ucap Huo Feng dengan memasang wajah dingin.


"Ambillah jika kamu memang sangat memerlukan nya!" ucap Se Se yang masih menatap mata Huo Feng.


Huo Feng tersentak, dia terkejut mendengar kata-kata Se Se. "Apa aku benar-benar boleh mengambil kekuatan anda?" tanya Huo Feng dengan wajah serius.


Se Se tersenyum, dengan bibirnya yang mungil itu ia menjawab, "Aku akan memberikan apapun untukmu sebagai bentuk terima kasih karena kamu... sudah menyelamatkan nyawaku. Jadi jangan ragu, ambil saja apa yang kamu perlukan selama itu tidak menyakiti keluarga dan orang-orang yang aku cintai."


Huo Feng tiba-tiba tertawa lepas, dia tidak menduga akan mendengar jawaban seperti itu dari majikannya.


"Tentu saja aku ingin mengambilnya semuanya, tapi jika kupikirkan kembali, bukankah wanita ini yang telah menyelamatkan nyawaku dari ruangan itu? Ruangan yang mengurungku hingga ribuan tahun lamanya. Bukankah seharusnya aku yang berutang budi kepada wanita ini?" benak Huo Feng.


"Aku akan menunggu hingga kesehatan anda pulih. Sebagai gantinya, sampai saat itu tiba, aku akan menjaga dan melindungi anda dan keluarga anda." ucap Huo Feng.


Burung berwujud pria tampan itu pergi setelah selesai berbicara. Se Se masih tersenyum memikirkan wajah Huo Feng yang terkejut dengan ucapannya.


"Hahhh... Bahkan seekor burung saja sekarang menginginkan sesuatu dari ku! Benar-benar sulit ya kehidupan ku ini!" keluh Se Se sebelum kembali tertidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari mulai terang, penduduk yang terbangun sudah mulai berlalu lalang di jalanan untuk melakukan aktifitas mereka sehari-hari.


Li Yao yang menunggu kasim gadungan di depan pintu gerbang istana masih bersiaga penuh, dia menatap lekat tubuh laki-laki itu di tengah keramaian.


Lalu lalang penduduk yang melintas di depan pintu gerbang membuat Li Yao harus membuka lebar matanya agar tidak kecolongan.

__ADS_1


Li Yao sengaja melepaskan laki-laki itu agar ia kembali ke Tuannya. Dengan begitu, mereka tidak perlu lagi membuang waktu untuk menyiksa laki-laki yang bagaikan patung batu itu.


Setelah menunggu satu malam, orang yang di tunggu akhirnya keluar. Dua pria muda mengangkat tubuh kasim gadungan, mereka membawanya masuk ke sebuah rumah kosong yang ada pinggiran kota.


"Bagaimana hasilnya?" tanya seorang pria yang berbaju bangsawan.


"Sepertinya dia tidak mengatakan apapun tentang Tuan." jawab salah satu pria yang mengangkat tubuh kasim gadungan.


"Bunuh saja dia dan lempar tubuhnya ke kandang serigala!"


Kedua pelayan saling menatap, mereka merasa ngeri dan ketakutan setelah mendengar perintah Tuannya.


Pria berbaju bangsawan itu pergi dari sana, Li Yao yang mengawasi dari jauh segera mengejar pria itu dan menangkapnya.


"Siapa anda? Siapa nama anda?" tanya Li Yao dengan menahan kedua tangan pria itu dari belakang.


Bukannya takut, pria itu malah tertawa keras.


"Hahaha..."


"Sebutkan saja nama anda! Jangan mengucapkan kata-kata yang tidak berguna!" ucap Li Yao sambil mengencangkan cengkraman di tangan pria itu.


"Sakit! Sakit! Sakit!" teriak pria itu.


Li Yao mengalihkan pandangannya saat kedua pelayan berlari keluar dengan membawa tubuh kasim gadungan. Saat itu juga, pria yang berada di depannya melayangkan kaki kanannya ke arah tubuh Li Yao.


Dia melepaskan diri dari cengkraman Li Yao dan kabur ke arah yang berbeda dari kedua pelayannya.


Li Yao tidak mengejar mereka, ia hanya berdiri diam menatap ke sebuah plakat kayu yang baru saja terjatuh di tanah. Pria itu kemudian tersenyum sambil berkata, "Aku akan menangkap kalian semua!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Zhun Tian mengetuk pintu kamar Tuan Lu, dia masuk setelah Tuan Lu mengizinkannya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Tuan Lu.

__ADS_1


"Saya belum bisa masuk ke sana, ada banyak penjaga yang berjaga di sekitar kamarnya." jawab Zhun Tian.


Tuan Lu menatap marah ke arah Zhun Tian, namun dia tidak berani berkata kasar kepada pria itu meskipun dia adalah bawahannya.


"Lakukanlah saat kau punya kesempatan! Aku harap kau segera menyelesaikan tugas ini!" ucap Tuan Lu.


Zhun Tian keluar dari kamar Tuan Lu dia berjalan pelan sambil teringat kejadian semalam.


FLASHBACK


Zhun Tian menyelinap masuk ke kediaman Raja Wei, dia menunggu Raja Wei keluar dari kamar utama. Setelah melihat Raja Wei menunggang kuda keluar gerbang, Zhun Tian mengendap masuk ke kamar Se Se.


Seperti biasa, pria itu akan membius targetnya lebih dulu sebelum membunuh mereka. Hal ini dia lakukan agar korbannya tidak merasa sakit.


Lima menit berlalu sejak Zhun Tian menyalakan dupa bius di kamar Se Se, namun wanita itu masih terjaga meskipun dia memejamkan matanya.


Menyadari ada orang lain di kamarnya, perlahan Se Se membuka mata kemudian bertanya pada tamunya yang tidak diundang.


"Apa maksud kunjungan anda ke sini?"


Zhun Tian kaget mendengar pertanyaan yang di lontarkan kepadanya. Baru pertama kali dia gagal menyembunyikan diri dari targetnya.


Karena tidak ada jawaban, Se Se kembali bertanya, "Apakah anda datang untuk membunuh saya?"


Zhun Tian masih diam membisu, dia melirik sekilas wajah Se Se yang pucat pasi dengan mata yang bersinar terang di antara warna pucat itu.


"Jika anda datang untuk membunuh saya, lakukan saja dengan cepat dan jangan menyakiti orang lain. Saya tidak akan membuat keributan!" ucap Se Se dengan senyuman tipis.


Zhun Tian yang memperhatikan Se Se dari atas menjadi penasaran dengan wanita itu. "Bagaimana bisa dia setenang ini setelah mengetahui ada orang yang akan mengambil nyawanya?" pikir Zhun Tian.


Lama pria itu menatap Se Se hingga kedatangan Huo Feng. Zhun Tian segera menghindar setelah melihat Huo Feng, dia menyadari jika pria itu bukanlah seseorang yang bisa dia hadapi dengan kemampuannya saat ini.


Zhun Tian masih terus kepikiran tentang wanita yang akan menjadi target nya. Dia tertarik melihat sikap tenang Se Se dan mata yang bersinar tanpa rasa takut itu membuat Zhun Tian semakin penasaran terhadap target barunya.


"Aku akan bermain sebentar sebelum membunuhnya!" ucap Zhun Tian sambil tersenyum.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2