The Princess Story

The Princess Story
Episode 250


__ADS_3

Se Se terkejut melihat reaksi Zhun Tian, dia diam tak bergerak agar pedang pria itu tidak melukai kulit lehernya. Bukan karena dia takut, dia hanya tidak ingin membuat keluarganya khawatir.


"Kau ini bodoh ya?" tanya Se Se dengan wajah serius.


"Apa maksudmu? Jangan bilang jika kamu adalah wanita yang menyelamatkan saya di malam itu!" ucap Zhun Tian dengan wajah tak percaya.


Se Se teringat jika saat itu dia sedang memakai penyamaran dari cincinnya. Karena tidak ingin terjadi perkelahian, Se Se memutar cincin yang ada di jarinya untuk memperlihatkan wajah lain yang dia miliki.


"Trangggg!"


Zhun Tian menjatuhkan pedangnya, dia sangat terkejut melihat wajah gadis yang ada di hadapannya saat ini.


"Ba... Bagaimana bisa?" ucap Zhun Tian tergagap karena terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat.


Se Se merasa sulit untuk menjelaskan dengan panjang lebar, ia akhirnya memutuskan untuk mengulangi kata-katanya.


"Anda akan baik-baik saja setelah obat ini bekerja, jadi jangan memaksakan diri untuk bergerak, racun dalam tubuh anda akan menjadi semakin ganas ketika anda memakai tenaga dalam untuk bergerak."


"Ini adalah kata-kata yang saya ucapkan kepada anda di malam itu." ucap Se Se sambil menatap Zhun Tian yang masih terlihat sangat terkejut.


Tanpa berkata apa-apa, Zhun Tian pergi dari ruangan itu setelah mengambil pedangnya yang tergeletak di lantai. Dia sangat terguncang dengan kenyataan jika target yang harus dia lenyapkan saat ini adalah wanita yang pernah menyelamatkan nyawanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Raja Wei mendapatkan hasil penyelidikan tentang penculikan yang terjadi terhadap istrinya. Pria itu sangat marah ketika mengetahui pelakunya adalah Lu Ching Cheng yang biasanya dipanggil dengan sebutan Tuan Lu.

__ADS_1


"Yu, minta Pasukan Elang untuk berkumpul malam ini! Kita akan menghancurkan si tua bangka itu!" perintah Raja Wei.


"Baik Yang Mulia." jawab Yu.


Yu mendatangi kamar Ti Liu dan Ti San, dia memberitahu Ti San mengenai pelaku yang sudah mencelakai mereka dan Permaisuri. Ti San sangat marah, dia ingin segera melenyapkan Lu Ching Cheng bersama anggota Pasukan Elang.


"Tidak, kamu masih harus istirahat. Kami yang akan balas dendam untuk kalian." bujuk Yu.


"Baiklah, aku juga tidak ingin menjadi beban nantinya." jawab Ti San.


Yu menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu, mencoba untuk menghiburnya. Yu kemudian menatap Ti Liu yang masih berbaring dengan mata terpejam.


"Liu, malam ini kami akan membalaskan dendam mu!" ucap Yu dengan wajah serius.


Malam harinya, Pasukan Elang sudah bersiap dengan pakaian serba hitam dan kain penutup wajah. Pasukan Elang dibagi menjadi dua grup, grup pertama dipimpin oleh Ti Yi dan grup kedua di pimpin oleh Raja Wei.


Grup pertama bertugas untuk mengecoh musuh, mereka akan membuat keributan di kediaman Lu Ching Cheng. Keributan itu bertujuan untuk memancing pasukan keamanan di kediaman Lu untuk berpencar mengejar gup pertama. Pasukan kedua akan masuk ke dalam kediaman Lu untuk mengumpulkan bukti kejahatan Lu Ching Cheng dan menangkap pria tua itu.


Kedua grup pasukan segera bergerak, mereka menjalankan perintah sesuai dengan rencana yang di susun oleh Raja Wei. Ti Yi dan pasukannya dengan sengaja membuat suara ketika masuk ke kediaman Lu.


Sesuai yang direncanakan, pasukan keamanan segera berkumpul untuk mengejar Ti Yi dan rekannya. Sementara itu Yu dan Raja Wei bergerak bersama, mereka masuk ke dalam kamar Lu Ching Cheng untuk mencari bukti kejahatannya.


Lu Ching Cheng saat ini berada di sebuah kamar di Mei Li Fang, rumah pelacuran nomor satu di ibu kota. Seorang wanita muda menuangkan arak di cangkir Lu Ching Cheng, pria itu sesekali menyentuh bokong dan paha wanita muda yang bernama Wen Yi.


Wen Yi merasa risih dengan sentuhan-sentuhan dari Lu Ching Cheng, namun dia tidak dapat menolak karena dirinya sudah dijual oleh ayahnya sebagai budak di Mei Li Fang.

__ADS_1


"Cu Mama, malam ini aku ingin dilayani oleh Wen Yi!" ucap Lu Ching Cheng.


Cu Mama adalah nama panggilan wanita yang mengurus Mei Li Fang. Lu Ching Cheng menyerahkan satu kotak emas kepada Cu Mama sebagai bayaran untuk bermalam dengan Wen Yi.


Dalam hati Wen Yi sangat ingin melarikan diri, namun dia terlalu takut dengan konsekuensi yang akan dia hadapi jika tertangkap saat kabur dari sana. Wen Yi akhirnya merencanakan untuk membuat pria tua itu mabuk hingga tertidur pulas.


Namun rencana Wen Yi tidak berjalan dengan mulus, Lu Ching Cheng sudah menahan hasratnya sejak melihat wajah cantik Wen Yi. Pria tua itu langsung menerkam tubuh Wen Yi ketika Cu Mama meninggalkan ruang lotus, tempat yang di sewa oleh Lu Ching Cheng untuk bermalam dengan Wen Yi.


Wen Yi sangat ketakutan, dia jijik dan merasa kotor karena air liur Lu Ching Cheng yang terus membasahi sekujur tubuhnya. Pria tua itu meremas dua buntalan di dada Wen Yi, sekilas wajah pria itu tampak puas dengan benda montok yang ia sentuh dengan kasar.


Wen Yi terus meronta dan menolak ciuman yang ditujukan kepadanya, dia menepis tangan Lu Ching Cheng dengan berbagai cara. Emosi karena sentuhannya selalu di tepis, Lu Ching Cheng menampar Wen Yi dengan keras. Darah segar mengalir keluar dari bibir Wen Yi.


Wen Yi baru berusia enam belas tahun, dia masih terlalu muda untuk memaksakan diri melayani pria hidung belang. Ayahnya yang suka berjudi lebih memilih uang yang tidak seberapa dibanding anaknya. Wen Yi dijual begitu saja kepada Cu Mama ketika ayahnya diberi tawaran oleh pengurus rumah hiburan itu.


Wen Yi merasa sakit hati dan kecewa terhadap ayahnya, dia benci memiliki ayah yang seperti itu. Wanita muda itu bertekad untuk menjalani hidup dengan baik meskipun menjadi budak, namun yang dia pikirkan ternyata jauh dari kenyataan.


Wen Yi malah menjadi budak di rumah pelacuran, wajahnya yang cantik membuat Cu Mama memilih Wen Yi untuk menjadi wanita penghibur ketimbang bekerja sebagai pelayan. Saat mengetahui hal itu, kata-kata "hidup dengan baik" yang Wen Yi impikan akhirnya hancur lebur.


"Mana ada seorang wanita penghibur yang bisa hidup dengan baik." pikir Wen Yi.


Hidup dengan menjadi budak pelampiasan birahi pria asing yang tidak ia kenal dan berganti setiap harinya, memikirkan hal itu saja sudah membuat Wen Yi merasa jijik.


Wen Yi berteriak minta tolong saat Lu Ching Cheng menindih tubuhnya, dengan semua tenaga yang dia miliki, wanita itu menendang Lu Ching Cheng tepat di *********** hingga pria itu tersungkur kesakitan di lantai.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2