
"Tok Tok Tok!"
Pengawal mengetuk pintu lagi karena tidak ada jawaban.
Raja Wei membuka pintu dan membiarkan pengawal itu menggeledah ruangannya. Dengan rasa cemas, pemuda itu berharap agar pengawal tidak menemukan baju hitam itu.
"Tidak ada siapapun di sini." ucap seorang pengawal kepada Pengurus kediaman.
"Maaf kami telah mengganggu. Terima Kasih atas kerja sama Yang Mulia." ucap Pengurus kediaman itu.
Mereka meninggalkan ruangan itu. Raja Wei menghela napas lega karena mereka tidak menemukan baju hitamnya. Baju itu di sembunyikan di dalam kotak obat milik Nona Flo.
Kediaman Wei di hebohkan oleh penemuan mayat Zhou Han Lu. Dia adalah Tuan Muda ketiga di keluarga Zhou. Pemuda itu terkenal dengan sifat baik dan ramah, semua pelayan dan pengawal menangis melihat keadaan Tuan mudanya yang mengenaskan.
Zhou Ting Yi dan Zhou Han Min baru saja tiba. Mereka sangat marah melihat keluarganya mati mengenaskan.
"Aku akan mencari orang itu dan membunuhnya dengan tanganku sendiri!" ucap Zhou Ting Yi dengan mata berapi-api.
Zhou Han Min melepas jubahnya dan menutup mayat adiknya. Dia kemudian berkata, "Aku pasti akan menemukan pelakunya!"
Raja Wei mengikuti pengawal yang keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke kamar Zhou Han Lu. Dia masih merasa ngeri melihat mayat Zhou Han Lu walaupun bukan pertama kali melihatnya.
"Siapa orang yang membunuh Zhou Han Lu dengan cara kejam seperti ini? Dendam apa yang dia pendam sampai bisa melakukan hal keji ini?" batin Raja Wei.
Yu kembali dari tugasnya dan berjalan mendekati Raja Wei. Yu tidak tahu telah terjadi pembunuhan pada putra ke 3 keluarga Zhou. Dia hanya mengikuti jejak tuannya.
Yu mengerutkan dahi dan mulutnya sedikit terbuka karena kaget melihat mayat di depannya. Walaupun tubuhnya sudah ditutupi oleh jubah, namun wajahnya masih terlihat mengerikan.
Raja Wei melihat Yu yang masih berdiri membeku karena mayat itu, dia memukul pelan bahu Yu dan mengajaknya kembali ke kamar.
"Yang Mulia, Zhou Han Min tidak ada hubungannya dengan kasus itu. ucap Yu.
"Lalu bagaimana dengan buku itu?" tanya Raja Wei.
"Kemungkinan buku itu sengaja di letakkan oleh pelaku untuk menjebak Zhou Han Min. Orang itu sudah mengetahui bahwa kita akan mencarinya." jawab Yu.
Raja Wei tampak berpikir sebentar, kemudian bertanya pada Yu.
"Yu, dendam seperti apa yang akan membuat orang membunuh musuhnya dengan cara menyiksanya lebih dulu?" tanya Raja Wei.
"Keluarganya dibantai?" tebak Yu sambil mengerutkan kening.
__ADS_1
"Apa kamu tau apa yang terjadi pada Zhou Han Lu?" tanya Raja Wei.
"Hamba hanya melihat wajahnya tersayat hingga hancur Yang Mulia." jawab Yu.
"Bukan hanya wajah, tubuh dan bagian intimnya juga hancur." jawab Raja Wei.
"Ba--Bagian intim?" ulang Yu tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Ya, tubuhnya hancur penuh luka cambuk, jari-jarinya remuk dan alat intimnya hilang dari tempatnya." jawab Raja Wei dengan wajah serius.
"Mengerikan sekali." gumam Yu.
"Benar, memang sangat mengerikan. Aku yang sudah membunuh jutaan orang bahkan terkejut saat melihat mayat itu!" jawab Raja Wei.
Mereka berdua tiba-tiba bertatapan mata seolah menyadari sesuatu.
"Pelaku!" ucap mereka serentak.
"Benar, Zhou Han Lu mungkin adalah pelakunya. Pembunuh itu sedang membalaskan dendam keluarga atau temannya." ucap Raja Wei.
Yu mengangguk tanda setuju.
"Pembunuh ini jelas bukan orang biasa. Dia bisa menghindar dari pengawal yang berjaga di kediaman Zhou, bahkan menyiksa Zhou Han Lu di kamarnya tanpa ketahuan." ucap Raja Wei.
"Akan lebih mudah jika kita bertanya pada mereka. Untuk memastikan pelaku adalah Zhou Han Lu, kita memerlukan bukti dan saksi. Tapi kondisi mereka saat ini tidak memungkinkan untuk bersaksi di pengadilan. Apalagi sekarang Zhou Han Lu sudah mati, tidak ada lagi orang yang bisa bertanggung jawab dalam kasus ini." jelas Raja Wei.
Yu berpikir sejenak dan menjawab, "Apa kita akan tetap mencari bukti kejahatan Zhou Han Lu?
"Tidak, hentikan semua penyelidikan. Kembalikan para gadis yang terluka pada keluarganya. Kita akan kembali ke ibu kota besok pagi. Persiapkan semuanya hari ini!" jawab Raja Yu.
"Baik, Yang Mulia." ucap Yu lalu keluar dan melaksanakan perintah tuannya.
"Aku sudah muak dengan semua kekacauan yang terjadi. Aku sangat merindukan gadis kecilku." batin Raja Wei.
HARI BERIKUTNYA
"Apa kalian mendengarnya?
"Maksudmu Putra Keluarga Fu?"
"Benar, dia ditemukan dalam kondisi mengenaskan di dalam kamarnya pagi ini!"
__ADS_1
"Apa yang terjadi padanya?"
"Dia diikat di sebatang pohon dengan kondisi telanjang. Tubuhnya penuh luka cambuk dan banyak luka sayatan di wajahnya."
"Mengerikan sekali! Pembunuhnya sangat kejam dan berdarah dingin.
Raja Wei dan Yu mendengarkan semua percakapan itu di sebuah kedai teh. Mereka beristirahat di sana sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Ibu Kota.
"Yu, apa kamu pernah mendengar nama keluarga Fu?" tanya Raja Wei.
"Saat melakukan penyelidikan di kediaman Zhou, hamba mendengar percakapan pelayan di sana. Tuan muda Fu sangat terkenal di kalangan gadis muda. Dia pria tampan yang mempunyai banyak istri. Namun istrinya tidak ada yang bertahan hidup lebih dari dua bulan. Ada apa Yang Mulia?" ucap Yu.
"Apa kamu tidak mendengar percakapan orang-orang itu? putra keluarga Fu meninggal dengan kondisi yang sama dengan Zhou Han Lu. Bukankah itu terlalu aneh jika disebut kebetulan?" kata Raja Wei.
"Apa mungkin pelakunya sama?" tanya Yu.
"Sepertinya begitu. Pembunuh itu benar-benar luar biasa!" ucap Raja Wei sambil menyesap tehnya.
Yu berpikir sebentar dan kemudian bertanya, "Apa kita perlu menyelidiki pembunuh itu Yang Mulia?"
"Untuk apa menyelidiki orang yang sedang membantu kita membasmi tikus-tikus yang sulit dihadapi?" ucap Raja Wei sambil menyesap tehnya dan melanjutkan perkataannya. "Biarkan saja dia membunuh orang-orang itu. Mereka pantas mendapatkannya!"
KEDIAMAN HUANG
"Maaf Tuan muda, tapi Nona pertama masih belum kembali." ucap Ling Er pada Ye Yuan.
"Sudah berhari-hari dia pergi. Kamu tahu kemana dia pergi?" tanya Ye Yuan pada Ling Er.
"Nona hanya mengatakan ada urusan di luar kota, tidak mengatakan tepatnya di kota mana." jawab Ling Er.
"Hufff..."
Ye Yuan menghela napasnya.
"Laporkan padaku jika dia kembali!" perintah Ye Yuan.
"Baik, Tuan muda." jawab Ling Er.
Ye Yuan melangkah keluar dari halaman adiknya. Dia sangat merindukan adiknya dan merasa bersalah karena mengabaikannya pada malam itu. Malam saat dia bercerita tentang dirinya yang datang dari jaman lain.
"Meimei, ada di mana kamu sekarang?" batin Ye Yuan.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^