
Se Se melihat jarak antara Ling Er dan pria itu sudah cukup jauh, dia mengeluarkan pistolnya dan menembak pria yang paling dekat dengan Ling Er.
"Dor Dor!"
Tembakan itu membuat mereka terkejut. Gadis itu menembak lagi dan membunuh salah satu pria itu.
"Jangan ada yang bergerak, aku akan melubangi kepala kalian jika bergerak!" ucap Se Se.
Se Se melepaskan ikatan dan sumpalan pada mulut Ling Er. dia menyuruh gadis itu kembali ke kamar dan jangan keluar dari sana.
Se Se mengikat seorang pria yang kelihatan seperti pimpinan penjahat itu.
"Siapa yang membayar kalian?" tanya Se Se.
"...." mereka diam tak menjawab.
"Dor!"
Se Se menembak satu penjahat lagi, mereka ketakutan dan segera menjawab.
"Nyonya Xin yang membayar kami." ucap pria botak sambil ketakutan.
"Kau! pergi bawa Lin Wan dan Min Wan kemari! Semua yang dia perintahkan, kalian harus melakukan hal itu pada kedua putrinya!" ucap Se Se.
"Ta...tapi Nona, mereka adalah putri perdana mentri." ucap seorang pria lain.
"Apa kau pikir aku bukan putri perdana mentri?" jawab Se Se dengan mata dinginnya.
"No...nona...!"
"Aku sudah memberi kalian pilihan, patuhi perintahku atau mati. Pilih salah satu!" ancam gadis itu dengan mengarahkan pistolnya ke kepala pimpinan mereka.
"Cepat pergi tangkap kedua gadis itu! bentak pria itu ketakutan.
"Tubuhku terasa panas, obat apa yang mereka berikan padaku?" batin Se Se.
Beberapa waktu kemudian, kedua adik tirinya dibawa dalam keadaan pingsan oleh dua pria, Se Se menyuruh mereka untuk memberikan obat yang sama kepada Lin Wan dan Min Wan.
Pria itu menuruti perintahnya. Mereka mulai memasukkan butiran obat ke dalam mulut kedua gadis itu.
Se Se tersenyum licik dan berkata, "Rasakan lah buah dari benih yang kalian tanam."
Lin Wan dan Min Wan mulai terpengaruh efek dari obat itu, tangan mereka mulai bergerak tidak karuan, mereka memegang buah persik dilahan sendiri dan kemudian melepas hanfu di tubuhnya.
Pria-pria itu menatap kedua gadis di depannya dengan mata kelaparan. Mereka sangat tergoda dengan kulit putih mulus kedua gadis itu.
__ADS_1
Se Se tersenyum sinis dan pergi dari ruangan itu. Gudang itu sepi dan letaknya jauh dari kediaman utama. Tidak ada suara di sana, hanya tersisa suara desahan dari mulut gadis dan pria yang sedang bercengkrama.
Se Se kembali ke kamar, dia meminta Ling Er berjaga di depan agar tidak ada yang masuk.
Tubuh gadis itu makin panas dan terasa tidak nyaman. Keringat mulai mengalir dari pucuk kepalanya, butiran keringat halus juga terlihat di lehernya.
"Obat ini sangat menyiksa, kenapa darahku tidak bekerja untuk obat ini?" batin Se Se.
Gadis itu berbaring di tempat tidur, dia melukai tangannya dengan belati agar tetap sadar. Dia tidak ingin terpengaruh oleh obat itu.
********
Seorang pelayan melaporkan bahwa dia melihat Nona pertama pergi ke gudang, Nyonya Xin merasa senang rencananya telah berhasil.
"Ye Yuan, apa kamu melihat Se Se?" tanya Nyonya Xin memulai dramanya.
"Dia pergi mencari angin di taman." ucap Ye Yuan.
"Tapi seorang pelayan bilang bahwa dia tidak melihat Se Se di taman. Apa kamu tidak mau pergi mencarinya? ucap Nyonya Xin.
Ye Yuan merasa gelisah, dia memutuskan untuk mencari adiknya. Beberapa tamu ikut mencari, Para Pangeran dan Putra Mahkota juga ikut bersama Ye Yuan. Nyonya Xin mengarahkan meteka ke gudang.
"Akhhh... Akhhh...."
Terdengar suara desahan dan rintihan dari gudang.
Tuan Perdana Mentri berdehem karena malu mendengar suara rintihan itu.
"Pelayan, cepat buka pintu itu! Berani sekali orang-orang itu melakukan hal memalukan di tempat ini!" ucap Nyonya Xin.
"Brakkk!" pintu di buka dengan kasar.
Nyonya Xin terkejut dengan pemandangan di depannya, kedua anak gadisnya sedang dilecehkan oleh pria-pria yang berjumlah 7 orang.
"Lin Wan, Min Wan! Apa yang kalian lakukan?" bentak Nyonya Xin.
Mereka tidak menggubrisnya karena pengaruh obat. Kedua gadis itu masih sibuk menyentuh bagian-bagian sensitif mereka.
Nyonya Xin menyuruh pelayan untuk membawa kedua putrinya kembali ke kamar. Tubuh mereka hanya di tutupi oleh jubah yang diberikan Ye Yuan dan ayahnya.
Pria-pria yang sudah menikmati tubuh kedua gadis itu segera melarikan diri. Tapi pengawal mengejar dan berhasil menangkap mereka.
Tuan Perdana Menteri merasa malu sekali dengan perbuatan mereka, sedangkan Ye Yuan hanya menggelengkan kepala melihat keadaan kedua adik tirinya.
"Benar-benar memalukan!"
__ADS_1
"Kediaman Huang selalu penuh kejutan."
"Tapi tubuh kedua gadis itu benar-benar mulus."
bla bla bla....
Semua cemoohan dan hinaan dilontarkan oleh para tamu. Ling Er melaporkan hal itu kepada Se Se.
Gadis itu masih menderita karena efek dari obat. Tangannya sudah penuh dengan bercak darah, Ling Er terlihat khawatir melihat nona mudanya berdarah.
"Nona, saya akan memanggil tabib untuk memeriksa tubuh nona." ucap Ling Er.
"Jangan, tidak ada yang boleh tahu tentang obat ini." ucap Se Se.
Tiba-tiba terdengar suara dari seorang pemuda.
"Keluar!" bentak pemuda itu.
Wajahnya terlihat sangat marah dan kecewa. Marah karena gadis kecilnya dibully orang. Kecewa karena gadis itu tidak meminta bantuan padanya.
Ling Er menatap wajah Se Se sebelum keluar. Se Se mengangguk pelan tanda menyuruh gadis itu keluar.
"Apa kau bodoh? Kenapa kau selalu dibully oleh orang? Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa kau menderita sendirian seperti ini?"
Raja Wei mengeluarkan kekesalannya. Suaranya bergetar karena menahan amarah, matanya mengeluarkan aura yang seolah bisa membunuh orang dengan tatapannya.
"Sudah selesai bertanya?" tanya Se Se dengan senyum manis di wajahnya.
"Apa itu lucu? kenapa kau tersenyum?" bentak Raja Wei dengan menatap gadis itu.
"Yang Mulia, apakah anda datang kemari hanya untuk membentakku?" tanya Se Se dengan wajah yang masih tersenyum.
Raja Wei berlari memeluk gadis itu, dia mengelus kepala gadis itu dengan lembut dan berbisik, " maaf, aku sangat marah saat melihatmu menderita seperti ini!"
"Saya tahu Yang Mulia, itu sebabnya saya tersenyum. Saya tersenyum karena bahagia, orang yang membuat saya bahagia adalah Anda, Yang Mulia." ucap Se Se dengan mata yang berkaca-kaca, namun masih terlihat senyuman di bibir merahnya.
Dia tahu bahwa Raja Wei marah-marah karena khawatir, dia senang melihat Raja Wei yang mengkhawatirkan keadaannya. Dia senang Raja Wei marah demi dirinya. Dia senang pemuda itu ada untuknya.
"Sekarang, aku tidak sendirian lagi." batin Se Se.
"Apa Yang Mulia akan melarang saya untuk tersenyum?" tanya Se Se dengan suara yang menggemaskan.
"Tidak, tersenyumlah saat aku ada di sampingmu. Kamu tidak diizinkan tersenyum di depan pria lain!" jawab Raja Wei yang posesif.
Tubuh gadis itu makin panas karena pelukan dari Raja Wei, dia merasa sangat tidak nyaman. Raja Wei tersenyum dan menggodanya.
__ADS_1
"Apa anda perlu bantuan dariku gadis cantik? Aku rela menyerahkan malam pertamaku untukmu." bisik Raja Wei.
^^^BERSAMBUNG...^^^