The Princess Story

The Princess Story
Episode 267


__ADS_3

Ye Yuan mendirikan kemah bersama para prajurit, mereka beristirahat di hutan yang mereka lewati untuk menuju ke perbatasan utara. Kumpulan serigala hitam mendekat ke tempat perkemahan Ye Yuan, mereka mencium bau darah dari binatang liar yang ditangkap oleh prajurit untuk dijadikan makan malam.


"Kapten, serigala hitam sudah mengelilingi kemah!" lapor salah satu prajurit."


"Nyalakan api di sekitar kemah, dan bagikan bubuk ini untuk semua orang. Minta mereka untuk menaburkan bubuk ini di pakaian dan kain tenda." perintah Ye Yuan sambil menyerahkan satu kotak kayu yang berisi bubuk rumput bintang.


Bubuk itu diberikan oleh adiknya yang sudah memprediksi hal ini. Wanita itu pernah dikelilingi oleh serigala di dalam hutan saat pertama kali ia bertemu dengan Raja Wei. Oleh sebab itu dia memberikan bubuk rumput bintang kepada Ye Yuan, rumput itu bisa digunakan untuk melindungi Ye Yuan dan para prajurit dari serangan serigala.


Rumput bintang merupakan musuh alami serigala karena bau dari rumput itu membuat serigala kehilangan indra penciuman mereka.


Raja Wei yang menyusul Ye Yuan juga diberikan bubuk itu oleh istrinya, rombongan Pasukan Elang mendirikan tenda tidak jauh dari tempat Ye Yuan.


"Yi, berjagalah di sekitar pasukan Ye Yuan. Amati semua prajurit juga pelayan yang keluar masuk dan mendekati tenda Ye Yuan!" perintah Raja Wei.


"Baik Yang Mulia!" jawab Ti Yi yang segera melaksanakan tugasnya.


Ti Yi bersembunyi di atas pohon besar yang rindang, dia mengamati kemah Ye Yuan dari atas sana. Seorang pelayan mengendap-endap di samping tenda, Ti Yi memperhatikan gerak gerik pelayan itu.


Setelah memastikan tidak ada orang di sekelilingnya, pelayan itu mengambil bungkusan kecil dari balik lengannya, dia membuka bungkusan itu dan memasukkan bubuk yang ada di dalam bungkusan ke dalam mangkuk bubur yang dia bawa.


Pelayan itu kemudian berjalan ke pintu masuk tenda milik Ye Yuan, dia meminta izin masuk sebelum membuka pintu tenda.


"Kapten, saya mengantarkan bubur hangat untuk anda." ucap pelayan itu sambil meletakkan mangkuk yang dia bawa di atas meja.


"Terima kasih." ucap Ye Yuan dengan wajah tanpa ekspresi.


Pelayan itu keluar, Ye Yuan mengambil sendok dari samping mangkuk, dia hendak menyantap makanan itu selagi hangat.


Namun saat sendok yang penuh bubur itu akan dimasukkan ke dalam mulut, Ye Yuan mengingat kata-kata adiknya.


"Kak Ye Yuan, ingatlah untuk selalu menggunakan jarum perak ini sebelum makan sesuatu yang diberikan oleh orang lain. Meskipun orang itu adalah orang kepercayaan Kakak, Kak Ye Yuan harus selalu ingat untuk menguji makanan itu terlebih dulu!"


Ye Yuan meletakkan kembali mangkuk itu di atas meja, dia mengambil jarum perak dan memasukkan jarum itu ke dalam bubur.


"Jarumnya berubah menjadi warna hitam, bubur ini ternyata memang beracun! Untung saja aku mengingat kata-kata Se Se sebelum memakannya." benak Ye Yuan.

__ADS_1


Sementara itu, Ti Yi merasa lega karena dia tidak perlu bertindak lagi, keberadaannya di sana harus disembunyikan selama mungkin atas perintah Raja Wei.


Pria itu sudah menyusup masuk ke dalam tenda, dia berniat menghancurkan mangkuk itu sebelum Ye Yuan memakannya. Beruntung pria itu bekum menunjukkan diri di hadapan Ye Yuan.


Ye Yuan mengingat wajah pelayan yang membawa bubur untuknya, dia meminta salah satu prajurit untuk memperhatikan pelayan itu.


Saat tengah malam, pelayan itu menemui seseorang di dalam hutan. Pria yang dia temui memakai baju serba hitam dengan wajah yang ditutupi oleh topeng hantu.


Ti Yi ikut mengawasi pelayan tersebut, dari kejauhan dia melihat pria itu memberikan bungkusan kecil kepada pelayan. Pelayan mengangguk dan segera kembali ke kemah.


Setelah kedua orang itu berpisah, Ti Yi mengejar pria itu dan menangkapnya. Dia membawa pria mencurigakan itu ke tenda Raja Wei.


"Siapa Tuanmu?" tanya Raja Wei.


"...."


Pria itu diam saja, dia hanya menundukkan kepalanya tanpa berkata apapun.


"Aku akan bertanya sekali lagi, siapa Tuanmu? Untuk siapa kau bekerja?" tanya Raja Wei dengan wajah dingin yang terlihat mengerikan.


"Yu, lakukan apa saja untuk membuatnya membuka mulut!" perintah Raja Wei.


Yu menarik pria itu keluar tenda, suara-suara jeritan dan erangan mulai terdengar menggema di dalam hutan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini adalah hari terakhir Zhun Tian, dia harus meminum obat penawar untuk racun di tubuhnya. Namun karena Lu Ching Cheng sudah di tahan oleh Raja Wei, pria itu tidak lagi memiliki obat penawar untuk Zhun Tian.


Merasa hidupnya akan segera berakhir, Zhun Tian ingin pergi menemui Se Se untuk yang terakhir kalinya. Dia menemukan wanita itu di halaman, wanita itu duduk sendirian dengan wajah yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Siapa di sana?" tanya Se Se saat merasakan kehadiran seseorang.


"Aku!" jawab Zhun Tian. Pria itu melangkah mendekat ke tempat Se Se duduk.


Se Se menatap wajah pria itu, sekilas tampak kesedihan di wajah Zhun Tian.

__ADS_1


"Silahkan duduk!" ucap Se Se.


Zhun Tian duduk berhadapan dengan Se Se, pria itu merasa puas bisa bertemu dengannya untuk yang terakhir kali.


Se Se melihat wajah Zhun Tian yang terlihat pucat, dia bertanya kepada pria itu, "Anda baik-baik saja?"


"Apa yang akan kamu lakukan jika aku berkata bahwa saat ini aku sedang sekarat?" Zhun Tian balik bertanya.


"Tentu saja saya akan mencoba untuk menyelamatkan nyawa anda." jawab Se Se dengan wajah serius.


"Mungkin dewa juga tidak bisa menyelamatkan nyawaku ini, jadi Nona tidak perlu melakukan hal yang sia-sia." ucap Zhun Tian.


Se Se menatap wajah Zhun Tian dengan seksama, dia memperhatikan bola mata pria itu dengan teliti. Tiba-tiba saja wanita itu meraih tangan Zhun Tian, dia meraba denyut nadi pria itu tanpa aba-aba.


"Racun kalajengking gunung!" ucap Se Se dengan wajah terkejut.


Zhun Tian tersenyum getir menatap wajah Se Se yang terlihat sangat terkejut. Dalam hati ia berpikir jika wanita ini pastinya tidak dapat membuat penawar untuk racun yang ada di dalam tubuhnya.


"Sudah berapa lama anda keracunan?" tanya Se Se.


"Sejak aku berumur 10 tahun." jawab Zhun Tian.


"Bukankah racun itu sangat menyiksa? Bagaimana anda bisa menahan rasa sakit dari racun ini?" tanya Se Se dengan wajah penasaran.


"Aku mendapatkan obat penawar setiap bulannya, tapi obat itu hanya bertahan selama satu bulan saja." jawab Zhun Tian.


"Tidak mungkin, tidak ada obat penawar yang bekerja seperti itu untuk racun kalajengking gunung." ucap Se Se.


Giliran Zhun Tian yang terkejut setelah mendengar pernyataan dari Se Se, dalam hati dia bertanya, "Jika tidak ada penawar seperti itu, lalu obat apa yang diberikan oleh Lu Ching Cheng kepadaku setiap bulannya?"


"Anda baik-baik saja?" tanya Se Se ketika melihat wajah Zhun Tian yang semakin pucat.


"Ya, aku... Uhukkk... Hoekkk!!!"


Belum selesai kata-kata yang hendak dia ucapkan, Zhun Tian tiba-tiba saja memuntahkan darah hitam yang sangat banyak.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2