The Princess Story

The Princess Story
Episode 252


__ADS_3

Wen Yi berhenti menangis, dia menatap ke sekeliling. Betapa terkejut dan panik dirinya saat melihat sekelompok pria bertubuh kekar tinggi sedang menatapnya. Lagi-lagi muncul pikiran-pikiran negatif dalam benak wanita itu.


"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana bisa aku sampai jatuh di tempat yang penuh dengan laki-laki brengsek ini? Bagaimana jika mereka menyerangku secara bersamaan? Aku takut!" benak Wen Yi.


"Hey gadis kecil, kau baik baik saja?" tanya Ti San yang baru saja sampai di sana.


Wen Yi menatap Ti San, pria itu memiliki wajah tampan yang polos. Melihat wajah Ti San membuat Wen Yi sedikit merasa aman. Wanita itu pun menjawab, "Saya takut...!"


"Bubar kalian semua! Gadis kecil ini takut gara-gara kalian yang berwajah jelek!" ucap Ti San dengan candaannya.


"San, bukankah kau juga sama?" jawab Ti Er.


"Bagaimana bisa aku disamakan dengan kalian? Aku hanya pria lemah yang terluka sekarang. Tidak seperti kalian yang memiliki wajah bandit! Wajah kalian sudah membuat gadis ini ketakutan!" canda Ti San lagi.


Kini tatapan mata semua pria berpusat pada Ti San, pria itu menjadi gugup melihat tatapan tajam rekannya. Sesaat kemudian, Ti Yi berteriak, "Serang!"


Mereka semua pun memukuli punggung Ti San bersama-sama.


"Pffftt... Hahaha....!"


Tawa Wen Yi membuat pria-pria itu berhenti memukuli Ti San, tatapan mereka teralihkan ke arah wanita yang sedang tertawa lepas dengan wajah polos dan menawan. Ditatap seperti itu membuat Wen Yi berhenti tertawa, dia mengambil selimut yang ada di atas ranjang kemudian menutupi wajahnya.


"Yi, apa yang sedang kau lakukan terhadap gadis kecil ini?" tanya salah seorang rekannya.


"Kau tidak sedang membully gadis ini kan?" tanya rekan yang lain.


"Aku tidak menyangka jika Yi ternyata suka dengan daun muda." canda rekan lainnya.


"Tapi... Bukankah hari masih sangat terang untuk melakukan hal itu?"


"Yi, kau benar-benar tidak sabaran ya!"


"Adik kecil, apakah pria ini memaksa kamu untuk datang ke kamar ini?"


Rekan-rekan Ti Yi melontarkan pertanyaan secara bertubi-tubi meskipun mereka masih belum mendengar jawaban dari Ti Yi dan Wen Yi.

__ADS_1


Setelah puas bertanya, semua pria itu diam membisu. Mereka menunggu jawaban dari kedua orang yang bersangkutan, sementara kedua orang itu sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan dari mereka.


Lama menunggu tanpa jawaban, salah seorang rekan Ti Yi mengakhiri keheningan di ruangan itu dengan memperkenalkan diri.


"Hai gadis kecil, namaku Ti San."


"Aku Xi Man."


"Aku Yong Yu."


"Aku Ti Er."


"Aku Ti Chi."


Satu-persatu mereka memperkenalkan diri hingga tiba giliran Ti Yi.


"Namaku Ti Yi." ucap pria itu dengan wajah malu-malu.


Setelah mereka semua memperkenalkan diri, seisi ruangan kembali hening. Ti Yi dan rekan-rekannya menatap Wen Yi dengan harapan gadis itu akan memperkenalkan dirinya, namun gadis itu diam tanpa berkata-kata.


"Itu... Nona, siapa nama mu?" tanya Ti San membuka suara.


"Wen Yi, dari mana asalmu?" tanya Ti San.


"....."


Ti Yi dan Wen Yi merasa canggung dengan pertanyaan yang sensitif itu, rekan-rekan Ti Yi tidak mengetahui jika Wen Yi adalah budak yang dia tebus dari tempat Mei Li Fang. Ti Yi tidak ingin mencemarkan nama baik Wen Yi, dan Wen Yi sendiri juga tidak ingin masa lalunya diketahui oleh pria-pria yang baru di kenalnya.


"Jika mereka tau aku berasal dari Mei Li Fang, mereka pasti akan menganggap aku sebagai wanita murahan. Saat itu, perlakuan mereka terhadap ku pasti tidak jauh berbeda dengan pria hidung belang yang sering mengunjungi Mei Li Fang. Apa yang harus aku katakan tentang asal usulku? pikir Wen Yi sambil menatap wajah Ti Yi, ia berharap pria itu akan membantu untuk menutupi hal itu.


Ti Yi seakan mengerti arti tatapan mata dari Wen Yi, dia membantu gadis itu untuk menghindari pertanyaan Ti San.


"San, kenapa hari ini kau sangat kepo? Keluarlah kalian semua! Kalian sangat mengganggu waktu istirahat Wen Yi." ucap Yi sambil mendorong tubuh kekar rekan-rekannya ke arah pintu keluar.


"Brakkkk!"

__ADS_1


Pintu di tutup oleh Ti Yi, dia mengunci pintu dari dalam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lu Ching Cheng terkurung di dalam sebuah ruang remang-remang yang berdinding jeruji besi. Raja Wei masuk ke sana untuk mencari siapa komplotan dari pria itu.


Lu Ching Cheng duduk di lantai dengan kaki dan tangan terikat rantai, sedangkan Raja Wei duduk di sebuah kursi yang baru saja diambilkan oleh salah satu penjaga. Raja Wei bertanya kepada Lu Ching Cheng, "Siapa orang yang menyuruhmu untuk membunuh istri ku?"


"...."


Lu Ching Cheng diam tak menjawab. Raja Wei kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama, namun pria itu tetap bungkam.


"Heh... Sepertinya kau perlu diajari sopan santun ya!" ucap Raja Wei yang tersenyum menyeringai.


Prajurit penjaga yang sudah mengerti arti dari kata-kata Raja Wei segera mengikat Lu Ching Cheng di sebuah tiang kayu. Penjaga itu juga menyiapkan alat-alat penyiksaan yang sering dipakai oleh Raja Wei.


"Aku akan bertanya untuk yang terakhir kalinya, siapa orang yang sudah memberi perintah untuk membunuh istriku?" ucap Raja Wei sembari mengambil sebuah besi panjang yang berada di dalam tumpukan bara api.


"Ma... Mau apa kau? Apa yang akan kau lakukan kepadaku?" tanya Lu Ching Cheng dengan wajah panik.


"Aku tidak meminta mu untuk bertanya!" ucap Raja Wei yang langsung membenamkan ujung besi ke dalam kulit bahu Lu Ching Cheng.


"Aaaaakkkhhhh!"


Suara jeritan Lu Ching Cheng memenuhi seisi ruangan penjara yang sunyi.


"Aku... Aku akan mengatakannya! Tolong berhenti! Tolong hentikan ini!" ucap Lu Ching Cheng dengan berteriak dan menangis kesakitan.


Raja Wei menarik besi panjang yang dia benamkan dari tubuh pria itu, dia kemudian menatap wajah Lu Ching Cheng dengan tatapan dingin.


"Yo... Yohanes, pria itu... Dia yang memberi perintah untuk membunuh Permaisuri. Aku hanya di ancam untuk melakukannya, aku benar-benar tidak sengaja. Tolong lepaskan aku!!" ucap Lu Ching Cheng dengan wajah minta dikasihani.


Raja Wei menatap Lu Ching Cheng yang gemetar menahan rasa sakit dan ketakutan. "Benarkah orang itu dalangnya?" pikir Raja Wei. "Lu Ching Cheng mungkin saja berbohong untuk melindungi pelaku yang sebenarnya."


Raja Wei membuang besi yang dia pegang, dia kemudian berjalan keluar setelah memberi perintah kepada prajurit yang berjaga.

__ADS_1


"Jangan memberikan makanan untuknya, cukup beri dia air sebanyak yang dia perlukan untuk bertahan hidup!"


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2