
Karena tidak ada satu pun orang yang mau mengangkat mayat dari Kaisar, Perdana Menteri Huang akhirnya mengangkat mayat itu dengan tangannya sendiri. Mayat itu di bawa kembali ke dalam istana, bangunan mewah tanpa adanya satu pun pasukan penjaga.
Setelah membawa mayat itu ke dalam kamar Kaisar, Perdana Menteri Huang mencari keberadaan Putra Mahkota. Pelayan yang lewat di dekatnya, di tanyai satu persatu. Namun tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Han Ze Xing.
Perdana Menteri Huang terus mencari hingga akhirnya ia tiba di Istana Dingin, tempat tinggal para selir yang di abaikan. Matanya terpaku pada pintu sebuah kamar yang berada di sudut paling akhir di Istana Dingin.
Pintu kamar itu terkunci dengan rantai besi, gembok besar terselip di antara lubang rantai. Rasa curiga muncul dalam hatinya. Dia mengetuk pintu kamar, memastikan ada orang di dalamnya. Karena tidak ada jawaban, rasa penasaran di hati Perdana Menteri Huang semakin membesar.
Dia mencoba membuka gembok besar itu. Berkali-kali gembok itu di hantam dengan batu yang di ambil dari taman, namun gembok itu masih sangat kuat dan kokoh.
__ADS_1
Perdana Menteri Huang masih belum menyerah, pria itu terus menghantam batu yang ada di tangannya hingga gembok itu akhirnya terbuka. Pria itu melepaskan rantai yang melilit gagang pintu, dia lalu membuka pintu kamar.
"Yang Mulia!" panggilnya dengan raut wajah terkejut ketika melihat Han Ze Xing dan Zhou Yi Thing terbaring di atas tanah di dalam ruangan itu.
Perdana Menteri Huang segera berteriak memanggil pelayan untuk membawa Tabib kerajaan. Para pelayan pun ikut panik sebab mereka tidak mengetahui jika yang di kurung di dalam ruangan itu adalah Putra Mahkota dan Putri Mahkota.
Perdana Menteri Huang menatap pasangan yang tengah berbaring di atas ranjang, ia kemudian bertanya-tanya dalam pikirannya, "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Putra Mahkota dan Putri Mahkota bisa terkurung di Istana Dingin? Mereka bahkan tidak di beri makanan dan minuman. Siapa yang telah melakukan ini semua?"
Perdana Menteri Huang memberikan penghormatan kepada mereka sebelum meninggalkan ruangan itu, dia lalu pergi ke ruang pertemuan para menteri. Perdana Menteri Huang melihat ruangan itu terkunci dari luar, dia meminta pelayan untuk membuka pintu namun pelayan menjawab, "Maaf, kami tidak diperbolehkan masuk ke sana sejak pagi tadi. Jadi kami tidak tahu di mana kunci ruangan ini!"
__ADS_1
Perdana Menteri Huang mendobrak pintu, berkali-kali hingga pintu itu terbuka. Matanya membesar begitu melihat pemandangan di depannya.
Ruangan yang biasanya rapi dan bersih serta menjadi tempat berdiskusi para Menteri kini telah menjadi ruang yang terlihat mengerikan. Mata yang melihat pasti merinding dan ketakutan, ratusan Menteri dari usia muda hingga tua meninggal di ruangan itu dengan cara yang sangat kejam.
Kepala dan tubuh mereka terpisah, beberapa dari tubuh itu juga sudah tidak memiliki tangan dan kaki yang lengkap lagi. Darah menggenang hampir di semua tempat di lantai tersebut.
" Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang melakukan perbuatan kejam seperti ini?" tanya Perdana Menteri Huang dalam pikirannya.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1