
"Ckkk! Majikan, tidak bisakah kau bersikap lebih ramah?" ucap Huo Feng dengan wajah kesal.
"Menurutku itu sudah termasuk ramah. Jika aku ingin bersikap kasar kepadamu, pasti tanganmu itu sudah terpisah dari tubuhmu!" jawab Se Se.
Han Ze Xia melepaskan tangannya yang memegang Huo Feng, dia kemudian berlari ke arah ibunya sambil berkata, "Ibu, manusia bersayap ini terluka. Xia hanya mau mengobati dia saja. Ibu jangan marah ya!"
Se Se menurunkan tubuhnya, dia menangkap tubuh Han Ze Xia dan menggendongnya ke dalam pelukan.
"Xia, bukankah ibu sudah pernah bilang jangan mempercayai orang asing? Kenapa Xia tidak mendengar nasehat ibu?" ucap Se Se dengan memandang mata putrinya.
"Maaf ibu, Xia hanya kasihan melihat manusia bersayap itu." jawab Han Ze Xia dengan wajah yang menunjukkan penyesalan.
"Hahhh....!"
Melihat kebaikan hati putrinya, Se Se tidak bisa memarahi ataupun menghukumnya. Dia hanya bisa menghela nafas untuk membuang semua kecemasannya.
"Majikan, apakah putri mu juga memiliki kekuatan suci? Bagaimana bisa dia melihat sayapku yang tidak aku keluarkan" tanya Huo Feng dengan rasa penasaran.
Se Se menoleh ke arah Huo Feng, dengan mata yang tajam dia seolah mengisyaratkat kepada pria itu, "Jangan mendekati putriku!"
Huo Feng merinding merasakan tatapan yang di arahkan kepadanya, dia mengangguk tanda mengerti jika dia tidak akan mendekati Han Ze Xia.
"Ikut denganku!" perintah Se Se sambil melangkah menuju ke kamar utama.
Huo Feng menurut, dia berjalan mengikuti Se Se dari belakang. Han Ze Xia melambaikan tangannya ke arah Huo Feng kemudian tersenyum dengan wajah yang manis. Huo Feng pun membalas senyuman manis dari Han Ze Xia.
Huo Feng berjalan sambil berpikir, "Jika dia adalah keponakan dari adikku, bukannya dia juga merupakan keponakanku?"
Sampai di kamar utama, Huo Feng di minta untuk mengeluarkan sayapnya yang terluka.
"Aku tidak bisa mengeluarkan satu sayap saja!" jawabnya dengan nada kesal karena di minta untuk menyimpan kembali satu sayapnya yang tidak terluka.
__ADS_1
"Kau ini memang burung yang bodoh!" ucap Se Se dengan nada santai namun menyakitkan di telinga Huo Feng.
"Aku ini phoenix bukan burung! Dan aku juga tidak bodoh! Kau yang bodoh, semua keluargamu bodoh!" jerit Huo Feng dengan suara melengking.
Se Se dan Han Ze Xia menutup telinga mereka dengan kedua tangan. Huo Feng terdiam setelah menyadari jika suaranya bisa melukai manusia biasa.
"Untungnya kalian berdua bukan manusia biasa!" batin Huo Feng.
"Kau ini benar-benar bodoh ya! Kenapa lukamu bisa separah ini di saat kau terus menerus menyombongkan dirimu sebagai seorang makhluk suci?" ucap Se Se dengan nada kasar namun di dalam hatinya dia sangat mengkhawatirkan Huo Feng.
"Ini karena suami mu yang tidak berguna itu! Membuat Ye Yuan harus melindunginya." Huo Feng merasa marah dan kesal karena dirinya dikatakan bodoh, tanpa sadar dia mengungkapkan hal yang sebenarnya ingin dia rahasiakan.
"Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Se Se dengan perasaan cemas dan panik.
"Mereka baik-baik saja, aku yang terluka!" jawab Huo Feng.
Se Se terdiam, dia mengamati luka di sayap Huo Feng sambil berpikir, "Apakah obat manusia bisa berguna untuk seekor phoenix?"
"Beri aku sedikit darahmu!" ucap Huo Feng ketika menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh majikannya.
Huo Feng mengangguk, "Aku hanya butuh darah mu saja untuk menyembuhkan luka ini!" jawabnya dengan wajah serius.
Se Se tersenyum licik, tiba-tiba terlintas ide buruk di kepalanya. Wanita itu mengambil botol bening yang terbuat dari plastik di dalam ruang dimensi. Dia memberikan botol itu kepada Huo Feng sambil berkata, "Keluarkan semuanya di dalam botol ini!"
"Apa?" tanya Huo Feng tak mengerti.
"Air liurmu!" jawab Se Se.
"Apa?? Kenapa aku harus mengeluarkan air liur di dalam botol ini?" tanya Huo Feng dengan amat penasaran.
"Jika kau memberikan air liur mu itu, aku akan memberikan darahku kepadamu! Kau mau atau tidak?" tanya Se Se dengan nada yang mengancam.
__ADS_1
"Ya sudahlah, penuhi saja keinginannya. Aku juga tidak rugi apa-apa, toh hanya air liur saja." pikir Huo Feng.
Huo Feng kembali menjadi burung phoenix, dia meletakkan ujung paruhnya ke dalam botol plastik lalu mengalirkan air liurnya ke dalam botol itu.
"Kerja bagus!" puji Se Se setelah Huo Feng kembali menjadi manusia.
Se Se mengambil botol itu dan menyimpannya kembali ke ruang dimensi. Sesuai kesepakatan, dia mengeluarkan jarum suntik dan mengambil darahnya untuk Huo Feng.
Pria itu meminum semua darah yang di berikan oleh Se Se, dalam sekejab luka yang ada di sayapnya menutup dengan sempurna tanpa meninggalkan bekas.
"Wow... Darah ibu bisa jadi obat mujarab ya?" tanya Han Ze Xia dengan wajah kagum. Belum sempat pertanyaan itu di jawab, Han Ze Xia kembali berkata, "Paman ini ternyata seekor burung!"
Huo Feng kembali kesal ketika mendengar dirinya disebut seekor burung. "Aku ini Phoenix, bukan burung!" jeritnya dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rombongan prajurit membuat kemah di malam hari, mereka beristirahat di dalam hutan yang harus mereka lewati untuk kembali ke ibukota.
Ye Yuan duduk di samping Raja Wei, mereka membuat api unggun untuk menghangatkan diri dari udara malam yang dingin. Ye Yuan menatap pria yang duduk di sampingnya, dia hendak menceritakan tentang Huo Feng namun dirinya masih ragu karena cerita itu tentu sulit diterima oleh orang lain. Bahkan dirinya sendiri sempat meragukan cerita dari Huo Feng ketika ingatannya belum kembali.
Melihat wajah Ye Yuan yang gelisah, Raja Wei bertanya kepadanya, "Apakah ada yang ingin kamu sampaikan kepadaku?"
Ye Yuan segera mengalihkan pandangannya, dia merasa malu karena tertangkap basah sedang menatap lekat pria di sampingnya.
"Saya memiliki sebuah mimpi yang panjang, saya ingin menceritakannya kepada seseorang, apakah Yang Mulia berkenan untuk mendengar cerita saya yang akan terdengar membosankan ini?" tanya Ye Yuan dengan wajah yang penuh harapan.
Melihat wajahnya yang seperti itu, Raja Wei tidak tega menolaknya. Pria itu pun menjawab, "Aku akan mendengarkan ceritamu tapi jika terlalu membosankan, aku mungkin akan tertidur di sini. Saat itu terjadi, kau harus bertanggung jawab untuk memindahkan tubuhku ke dalam tenda!"
Ye Yuan dan Raja Wei tertawa bersama, hubungan mereka semakin dekat sejak perang berakhir. Ye Yuan memulai ceritanya setelah meneguk secangkir arak yang hangat.
"Aku pernah bermimpi menjadi seekor burung, di mimpi itu aku memiliki seorang kakak yang sangat baik. Tapi suatu hari, aku mendapatkan sebuah penglihatan masa depan yang sangat buruk.
__ADS_1
"Aku melihat Kakak mengeluarkan banyak darah dari kelima indra di tubuhnya dan setelah memuntahkan banyak darah, kakak meninggal di dalam pangkuanku..."
^^^BERSAMBUNG...^^^