The Princess Story

The Princess Story
Episode 270


__ADS_3

Yu keluar dari tenda, semua pasukan sudah berbaris rapi di depan sana. Namun sesaat kemudian, mereka menatap ke arah datangnya suara yang bertanya, "Apa yang sedang kalian lakukan?"


"Yang Mulia!" panggil Yu yang merasa lega ketika melihat Raja Wei berdiri di sana.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Raja Wei.


"Itu... Saya melihat tenda Yang Mulia kosong, jadi saya mengira Yang Mulia sedang berada dalam masalah." jawab Yu.


"Ha Ha Ha...!!!"


Mendengar jawaban dari Yu, tiba-tiba saja Raja Wei tertawa keras. Pria itu merasa jika Yu semakin lama semakin khawatir padanya. Dia seakan lupa jika Raja Wei adalah dewa perang yang di takuti oleh semua orang.


"Maaf, saya sudah membuat kesalahan." ucap Yu.


Raja Wei tersenyum, dia mendekati Yu kemudian berkata, "Tidak apa-apa, ini salah ku karena tidak memberitahu mu lebih dulu."


Subuh tadi Raja Wei menyelinap pergi, dia menemui Ye Yuan di kemah milik pria itu.


FLASHBACK


"Siapa di sana?" tanya Ye Yuan saat merasakan kehadiran seseorang.


"Ini aku!" jawab Raja Wei.


Ye Yuan melihat ke belakangnya, pria itu sedang berdiri di sana dengan topeng wajah yang biasa dia pakai.


"Yang Mulia! Kenapa anda ada di sini?" tanya Ye Yuan dengan wajah terkejut.


"Aku di sini untuk melenyapkan musuh ku!" jawab Raja Wei.


"Musuh?" ucap Ye Yuan mengulangi.


"Aku sudah mengetahui semuanya, kamu di sini untuk menggantikan aku pergi ke perbatasan. Sebagai gantinya, aku di sini untuk melindungimu dan tujuan utama ku adalah untuk menghancurkan mereka semua yang menargetkan hidupku." jelas Raja Wei.

__ADS_1


"Yang Mulia... Saya datang ke sini dengan tujuan untuk melindungi anda, tapi ini semua saya lakukan demi Se Se!" ucap Ye Yuan sambil menatap wajah pria yang berdiri di depannya.


"Aku tau, aku juga ke tempat ini untuk melindungi keselamatan mu karena itu adalah keinginan istriku!" ucap Raja Wei.


Ye Yuan dan Raja Wei tersenyum bersama, orang yang mereka khawatirkan adalah orang yang sama. Wanita yang selalu menjadi nomor satu di hati mereka.


Kedua pria itu duduk bersama untuk menyusun rencana, tidak terasa mereka membahas rencana itu hingga menjelang pagi. Raja Wei keluar dari tenda Ye Yuan secara diam-diam tanpa di ketahui oleh orang lain. Saat dia kembali ke kemahnya, dia melihat Pasukan Elang sudah berkumpul di sana. Dia pikir telah terjadi sesuatu, ternyata semua ini karena dirinya yang menghilang tanpa diketahui oleh siapapun.


Raja Wei melihat pria yang sedang berlutut dengan berlumuran darah di sampingnya, "Yu, apakah dia sudah membuka mulutnya?" tanya Raja Wei.


Yu menggelengkan kepalanya, "Yang Mulia, sekeras apapun saya menyiksanya, pria ini tetap menutup mulutnya." jawab Yu.


"Bunuh saja dia!" ucap Raja Wei.


Yu melaksanakan perintah dari Raja Wei, dia menarik pedang dari sarungnya kemudian menusuk tepat di jantung pria itu.


"Lemparkan mayatnya di depan kediaman Hong Yu Lin!" perintah Raja Wei.


Yu menyuruh Ti Er membawa mayat itu ke kediaman Hong Yu Lin, pria itu dengan senang hati menerima tugas dari Yu.


Ti Er tiba di kediaman Hong Yu Lin pada tengah malam, saat hendak melemparkan mayat pria itu di depan pintu gerbang, Ti Er mendadak mendapatkan sebuah ide gila.


Dia mengangkat mayat itu hingga ke depan pintu kamar Hong Yu Lin, Ti Er mengendap masuk ke sana tanpa di ketahui oleh para penjaga. Setelah melihat kamar Hong Yu Lin yang tidak dijaga, Ti Er masuk dan membaringkan mayat pria itu di sebelah Hong Yu Lin yang masih tertidur pulas akibat pengaruh obat bius yang disebarkan oleh Ti Er.


"Hahaha... Silahkan tidur bersama mayat!" ucap Hong Yu Lin sambil tertawa usil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kediaman Raja Wei


Huo Feng merasakan kekuatan suci yang keluar dari tubuh Se Se, dia mendatangi kamar wanita itu untuk memastikan keadaannya. Saat tiba di kamar, Huo Feng melihat Se Se sedang meneteskan darahnya di sebuah mangkuk keramik putih. Di sebelah mangkuk itu dia melihat sebuah belati yang sudah berlumuran darah.


Huo Feng mendekati wanita itu sambil berkata, "Apa yang sedang kamu lakukan?"

__ADS_1


Se Se mengalihkan pandangannya ke arah Huo Feng, dia meminta pria burung itu untuk tidak membuat keributan.


"Kecilkan suaramu, Ling Er akan masuk jika kamu membuat suara berisik!" pinta Se Se dengan wajah kesal.


"Hey majikan, apa yang kamu lakukan dengan darah yang berharga itu?" tanya Huo Feng, namun kali ini dia mengecilkan suaranya.


"Aku akan membuat pil dengan darah ini." jawab Se Se.


"Untuk apa kamu membuatnya menjadi pil? Darah itu bisa langsung di minum saja untuk mendapatkan khasiatnya." tanya Huo Feng yang kebingungan.


Se Se menatap Huo Feng dengan wajah yang semakin kesal, dalam hati dia mengomeli burung itu. "Kenapa ada burung yang seperti ini? Banyak sekali pertanyaan yang dia tanyakan, aku sudah cukup repot untuk memikirkan banyak masalah. Burung ini bukannya membantu malah menambah masalah untuk ku!"


"Hey majikan! Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku?" tanya Huo Feng dengan wajah penasaran.


"Kau tau apa yang akan terjadi jika semua orang mengetahui kekuatan yang ada di dalam darah ku?" tanya Se Se.


Huo Feng berpikir sejenak, lalu dia menjawab, "Orang-orang serakah itu pasti akan mencoba untuk mendapatkan darah majikan."


"Sepertinya kau masih cukup pintar untuk bisa memikirkan jawaban ini." sindir Se Se.


"Hey majikan, aku ini phoenix yang pintar dan cerdik! Beraninya kamu menganggapku bodoh seperti para manusia!" keluh Huo Feng dengan wajah kesal.


Se Se merasa senang karena berhasil membuat kesal Huo Feng.


"He... He...! Burung bodoh ini masih saja bersikap kekanak-kanakan seperti dulu." benak Se Se.


Huo Feng duduk diam memperhatikan Se Se yang sibuk membuat pil obat dari darahnya. Wanita itu menambahkan banyak herbal beraroma kuat untuk menyamarkan bau darah.


Setelah beberapa jam mengolah herbal itu, akhirnya pil obat selesai dengan sempurna. Huo Feng mengambil pil dari kotak yang ada di meja. Dia mencium bau pil obat itu kemudian dia bertanya, "Boleh aku mencobanya?"


"Silahkan jika kau ingin mati!" jawab Se Se dengan nada mengancam.


Huo Feng meletakkan kembali pil obat ke dalam kotak, dia kemudian mengeluh, "Majikan apa yang pelit seperti ini?"

__ADS_1


Se Se menatap Huo Feng, dia tersenyum kemudian menjawab, "Majikan yang seperti aku!"


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2