
Se Se menatap Ling Er dengan wajah yang menahan amarah, dia kesal melihat pelayannya yang semakin hari semakin tidak punya aturan.
Setelah melihat wajah kesal Permaisurinya, Ling Er segera melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Se Se. "Maafkan saya Yang Mulia!" ucapnya dengan wajah tertunduk.
"Hahhh...!"
Se Se menghela nafas, dia merasa kesal namun tidak tega untuk menghukum pelayannya itu.
"Berdiri diam di sini atau keluar, tentukan sendiri!" ucap Se Se yang kembali mendekati ranjang tempat Zhun Tian berbaring.
Se Se mengeluarkan pil obat yang dia buat dengan darahnya, dia memberikan pil obat itu kepada Zhun Tian. "Makan ini!" ucapnya kepada pria itu sambil memasukkan pil obat ke dalam mulut Zhun Tian.
Tanpa bertanya apapun, Zhun Tian menuruti kata-kata dari Se Se, sesaat dia merasakan bau darah yang samar-samar, namun kemudian dia merasakan aroma herbal dari daun mint dan ginseng putih yang saling bercampur aduk.
"Saya akan mencabut jarum-jarum ini, tolong tahan sedikit jika terasa sakit!" ucap Se Se.
Zhun Tian hanya diam tanpa menanggapi ucapan dari wanita di depannya, dia menatap wajah wanita itu tanpa berkedip.
Selesai mencabut semua jarum, Se Se kembali bertanya kepada Zhun Tian, "Apa kamu merasa lebih baik?"
Zhun Tian masih terdiam, dia merasa tubuhnya menjadi sangat ringan. Tubuhnya yang selama ini selalu menahan rasa sakit kini terasa segar dan sehat.
"Kamu... Kamu berhasil membuat obat penawar racun?" tanya Zhun Tian.
"Menurutmu?" tanya Se Se balik.
Zhun Tian memicingkan matanya, dia menatap Se Se dengan tatapan takjub sekaligus penasaran.
"Dia berhasil membuat obat penawar racun itu? Benar-benar sulit dipercaya." batin Zhun Tian.
"Ling Er, bawakan pakaian laki-laki yang muat untuknya!" perintah Se Se.
__ADS_1
Se Se kembali memeriksa kondisi Zhun Tian, dia menarik lengan pria itu untuk mendengar suara denyut nadinya. Setelah memastikan racun di dalam tubuh Zhun Tian sudah bersih, Se Se memberikan satu botol pil pemulihan untuknya.
"Minum satu pil ini setiap hari!" ucap Se Se.
Ling Er kembali dengan membawa pakaian, dia menyerahkan pakaian itu kepada Se Se.
"Pakai kembali pakaianmu!" ucap Se Se sambil menyerahkan pakaian baru untuk Zhun Tian.
Se Se melangkah pergi dari kamar itu di ikuti oleh Ling Er, wanita itu menuju ke kamar Ti Liu. Se Se membawa obat baru yang dia buat untuk pria itu, dia membuat obat itu sesuai dengan resep yang di temukan oleh Profesor Jim, beruntung buku resep itu tersimpan di ruang dimensi.
"Ling Er, tolong bantu aku untuk menyuapi Liu!" pinta Se Se sambil menyerahkan obat yang sudah dia cairkan di dalam mangkuk.
Se Se teringat dengan air liur yang dia kumpulkan dari bekas jilatan Huo Feng, dia ingin mencoba memakai air liur itu untuk melihat apakah memang air liur Huo Feng memiliki kekuatan penyembuhan.
Se Se mengeluarkan botol yang di dalamnya terdapat kapas bekas air liur burung phoenix, dia mengoleskan air yang ada di kapas itu ke salah satu luka di tubuh Liu.
"Wow!!! Luar biasa!" ucap Se Se dalam pikirannya.
Luka yang terkena air liur Huo Feng menghilang dalam sekejap. Se Se tersenyum licik ketika memikirkan bagaimana cara dia akan menyiksa pria burung itu nanti untuk mendapatkan air liurnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hong Yu Lin mendapatkan laporan jika mayat itu adalah salah satu mata-mata yang dia tugaskan untuk membunuh Ye Yuan. Dia merasa sangat marah ketika mengetahui jika mayat itu dikirimkan ke kamarnya setelah dibunuh di dekat perbatasan.
"Brengsek, bajingan itu! Aku akan mengulitinya hidup-hidup untuk memuaskan amarahku ini!" ucapnya dengan nada geram.
Hong Yu Lin menatap salah satu pelayan, "Kau! Carikan beberapa orang yang bisa melakukan pekerjaan kasar!" ucapnya sambil tersenyum licik.
Tidak lama kemudian pelayan itu membawa delapan pria bertubuh besar dengan wajah yang seperti preman.
"Kalian akan aku bayar mahal apabila kalian berhasil membawa Permaisuri Raja Wei untukku!" ucap Hong Yu Lin.
__ADS_1
"Kami akan melakukannya!" jawab mereka bersama setelah beberapa saat berdiskusi.
"HA HA HA...! Aku akan menunggu dengan tenang di sini!" ucap Hong Yu Lin dengan wajah mesum yang menjijikkan.
Delapan pria itu mulai mempersiapkan rencana mereka untuk menculik Se Se, mereka berganti pakaian serba hitam dan memakai kain penutup wajah untuk menutupi wajah mereka.
Setelah hari menjelang malam, pria-pria itu berangkat ke kediaman Raja Wei, karena para pasukan Elang dan beberapa prajurit sudah menuju ke perbatasan, hanya tersisa sedikit penjaga di kediaman itu.
Dengan lancar mereka masuk ke dalam kediaman, diam-diam mereka menangkap seorang pelayan untuk bertanya di mana keberadaan kamar Permaisuri. Karena ketakutan, pelayan itu menunjuk ke kamar utama milik Se Se. Setelah mengetahui keberadaan wanita yang mereka inginkan, pelayan itu di bunuh secara brutal oleh salah satu pria itu.
Mayat pelayan wanita itu dibuang ke dalam kolam teratai yang terletak di dekat tempat pembunuhan. Mereka kemudian menuju ke kamar Se Se dengan mengendap-endap.
Se Se sedang memikirkan cara untuk mendapatkan air liur Huo Feng, dia duduk di tepi ranjang sambil menatap botol yang berisi kapas tempat dia menyimpan sampel air liur Huo Feng.
Gerakan langkah kaki para penculik menyadarkan Se Se jika dirinya sedang berada dalam bahaya, dia menatap ke arah pintu dan jendela secara bergantian. Salah seorang pria melempar asap bius ke dalam kamar Se Se, asap itu dengan cepat menyebar ke seluruh ruangan.
"Ah, sepertinya tidak ada hari yang tenang untukku!" keluh Se Se dalam hatinya.
Para penculik menerobos masuk melalui pintu, mereka mencari keberadaan Se Se di seluruh ruangan.
"Tidak ada! Kemana wanita itu pergi?" ucap salah satu penculik.
"Tadi aku melihatnya duduk di sini, tidak mungkin dia bisa menghilang secepat ini!"
"Ayo cari sekali lagi!" perintah pemimpin para penculik.
Se Se menatap ke delapan pria itu dari atas atap. "Siapa lagi yang mengirim para bandit ke sini? Apa mereka tidak lelah selalu melakukan hal seperti ini?" gumam Se Se.
Suara Se Se ternyata di dengar oleh salah satu penculik, pria itu menoleh ke arah atas, matanya bertemu dengan tatapan mata Se Se.
"Itu! Wanita itu di atas!" teriak pria itu.
__ADS_1
"Kejar dia!" perintah pemimpin penculik sambil menunjuk ke arah Se Se.
"Ah sial!" ucap Se Se sambil melompat ke atap bangunan yang lain.