
"Jika kamu dihukum mati, aku juga tidak ingin hidup lagi." ucap Li Ying yang juga membalas tatapan mata Max.
"Aku juga tidak ingin mati, itu sebabnya aku akan bertaruh. Aku akan mempertaruhkan hidupku di tangan Permaisuri Raja Wei. Aku sudah banyak mendengar kabar tentang Permaisuri Raja Wei yang sangat baik hati dan bijaksana, aku akan menemui beliau dan memohon kepadanya untuk meringankan hukuman yang akan kuterima. Hanya ini satu-satunya jalan agar kita bisa hidup bersama. Jika aku gagal dan kalah dalam taruhan ini, aku juga tidak akan menyesal karena setidaknya, kamu bisa hidup dengan bebas." benak Max.
Setelah meyakinkan Li Ying, Max membawa kepala Pangeran Yohanes. Pria itu menuju ke kediaman Raja Wei menggunakan kereta kuda, kereta kuda itu adalah milik Pangeran Yohanes. Max mengambil semua harta pria itu, dia berencana untuk menyerahkan harta itu kepada Raja Wei dan Permaisurinya agar dia bisa terbebas dari hukuman mati.
"Tolong ijinkan saya bertemu dengan Permaisuri." pinta Max setelah dia tiba di depan pintu gerbang kediaman Raja Wei.
"Sebutkan nama anda dan biarkan kami memeriksa barang bawaan anda!" ucap salah satu penjaga gerbang.
Max berpikir, "Jika aku ketauan membawa kepala Pangeran Yohanes, aku pasti akan langsung ditangkap sebelum menemui Permaisuri. Sekarang, apa yang harus aku lakukan?"
"Maaf, tapi saya baru ingat jika saya memiliki urusan lain. Saya akan kembali lagi nanti." ucap Max yang segera pergi dari tempat itu.
Max memberhentikan kereta kuda didepan sebuah restoran kecil yang menjual mie dan bakpao. Max memesan semangkuk mie dan teh hangat dari pelayan.
"Banggg!"
Seorang pria berbadan besar dan berwajah bandit menendang meja hingga terbalik.
"Kau memintaku membayar untuk makanan yang seperti sampah ini?" bentak pria itu.
Seorang pelayan terlihat sangat ketakutan, dia menundukkan kepalanya dengan wajah yang kelihatan hampir menangis. Max saat itu baru saja mulai menikmati mie yang disajikan oleh pelayan, karena kelaparan, dia mengabaikan keributan yang terjadi.
Pria berwajah bandit itu terus menerus bersikap kasar hingga akhirnya ia mengangkat tangannya hendak memukul pelayan yang meminta bayaran atas makanan yang dia pesan.
Max menghabiskan tetesan sup terakhir di mangkuknya, dia mengambil pedang yang diletakkan dimeja kemudian berlari ke depan pelayan itu. Max menahan tangan pria bandit itu dengan pedang yang masih tersarung.
"Hentikan keributan ini!" ucap Max.
"Siapa kau? Mau jadi pahlawan kesiangan? Cuih!" ucap pria bandit itu yang dia akhiri dengan meludah di wajah Max.
__ADS_1
Max yang memang memiliki kesabaran tinggi hanya mengelap ludah di wajahnya, dia kembali berkata, "Tolong keluar dari tempat ini dan jangan membuat keributan!"
"Kau ini benar-benar cari mati ya!" ucap pria bandit seraya melayangkan tinjunya ke arah Max.
Max menahan kepalan tinju pria bandit dengan tangan kirinya. Dia mendorong pria itu dengan sedikit tenaga, pria bandit itu langsung terpental keluar dari pintu restoran.
"Wow... Kuat sekali pria itu!" ucap salah seorang tamu.
"Baguslah bandit itu akhirnya mendapatkan ganjaran. Dia selalu bertingkah hanya karena dia memiliki sedikit kekuatan, sangat puas rasanya melihat dia dihajar oleh pria asing ini." Ucap tamu yang lain.
"Akan lebih baik jika dia dihajar sampai mati, jadi kita tidak perlu lagi berurusan dengannya!"
"Benar, benar sekali!"
Saat itu seorang wanita yang memakai baju pelayan sedang mengawasi dari meja yang berada di sudut restoran. Wanita itu memakai penutup wajah dari kain berwarna hijau yang disulam dengan motif bunga lily.
Pria bandit itu kabur begitu melihat Max mendekati dirinya, padahal saat itu Max hanya ingin membantunya berdiri. Seorang pelayan mendekat, dia memberi penghormatan kepada Max seraya mengucapkan terima kasih karena sudah menolongnya.
"Ini bayaran atas makanan dan minuman ku." ucap Max sambil menyerahkan 2 perak kepada pelayan.
"Saya tidak bisa menerima kebaikan kalian, saya hanya mengusir pria yang mengganggu makan siang saya saja. Jadi anda tidak perlu membalas budi untuk itu." ucap Max.
"Terima kasih Tuan, Terima kasih banyak!" ucap pelayan itu.
"Ternyata masih ada pria baik seperti ini, dia tidak sombong meskipun memiliki kekuatan. Menolong orang tanpa mengharapkan imbalan juga salah satu kepribadian yang sangat jarang ditemui di jaman sekarang." ucap wanita bercadar.
Max menitipkan kereta kuda yang dia bawa, pria itu kemudian menuju ke kediaman Raja Wei dengan berjalan kaki. Tiba di sana, dia kembali dihadapkan dengan penjaga gerbang yang menanyakan identitasnya.
"Sebutkan nama anda dan apa kelerluan anda!"
"Saya Max, pengawal dari kerajaan barat. Saya ingin bertemu dengan Permaisuri." jawab Max.
__ADS_1
"Hanya seorang pengawal saja berani bermimpi untuk menemui Permaisuri kami. Kau pikir Permasuri kami bisa ditemui oleh siapa saja ya?" geram pengawal itu.
"Saya tau jika ini lancang, tapi saya memiliki hal penting yang harus dibicarakan dengan Permaisuri." jawab Max.
"Pergi sana!" usir penjaga sambil mendorong tubuh Max.
Max berusaha bersabar dengan sikap kasar penjaga, namun para penjaga itu kembali menghina dirinya.
"Dasar gembel tak tau diri!"
"Benar-benar ya orang dari barat ini, Pangeran mereka saja bisa menjadi buronan, sekarang pengawalnya malah muncul disini dan bilang ingin menemui permaisuri, jangan-jangan dia juga komplotan dari Pangeran buronan itu!"
"Sudah, hentikan! Jangan diteruskan lagi kata-kata yang bisa membawa perselisihan ini. Kalian mau lidah kalian dipotong?" bentak kepala pengawal yang kebetulan melewati gerbang pintu.
Kepala pengawal menatap Max, "Pergilah anak muda, Permaisuri kami bukan orang yang bisa kamu temui semaumu!" ucapnya kepada Max.
Kepala penjaga lalu pergi meninggalkan tempat itu dan kembali menjalankan tugasnya untuk menjaga kediaman.
Max menatap kedua penjaga yang sejak tadi menghina dirinya, kedua penjaga itu tak mau kalah, mereka juga membalas tatapan tajam dari Max.
Sesaat kemudian adu pedang pun terjadi karena penjaga pintu melempari Max dengan batu yang dia ambil dari tanah. Batu itu hampir mengenai kepala Max tapi dia menghadangnya dengan pedang yang masih bersarung.
Sementara itu, wanita bercadar yang sejak tadi menatap ke arah mereka hanya diam saja menonton pertunjukkan di depannya. Hingga Max hampir menusuk jantung salah satu pengawal, wanita itu baru menampakkan dirinya.
"Berhenti!" ucap wanita itu.
"Siapa kau? Wanita jangan ikut campur urusan pria!" bentak salah satu penjaga.
"Ternyata sikap asli kalian seperti ini ya?" tanya wanita itu dengan nada dingin.
"Sikap kami memang seperti ini, dan apa urusannya denganmu?" ucap penjaga itu dengan wajah meremehkan.
__ADS_1
"Mulai hari ini, kalian berdua tidak perlu bekerja lagi!" ucap wanita itu sambil membuka kain yang menutupi sebagian wajahnya.
^^^BERSAMBUNG...^^^