The Princess Story

The Princess Story
Ep 85. Pembunuh


__ADS_3

Kereta kuda yang di naiki Raja Wei dan Se Se melewati sebuah jalur pegunungan, beberapa pasang mata sedang mengawasi kereta kuda itu.


"Tolong... tolong...!" terdengar suara teriakan dari seorang wanita.


Kusir mendadak menghentikan laju kereta kuda, Se Se mengerutkan dahinya, karena kereta kuda yang berhenti secara mendadak membuat perutnya menjadi tidak nyaman.


Raja Wei segera memeluk tubuh Se Se saat melihat wajahnya berubah pucat. "Istriku, kamu baik-baik saja?" tanya Raja Wei.


Se Se mengangguk pelan, dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Raja Wei. Wajahnya terlihat sangat letih dan lelah.


"Ada apa di luar?" tanya Raja Wei pada kusirnya.


"Yang Mulia, ada seorang wanita yang berlutut di tengah jalan. Wanita itu menghalangi jalan kereta kuda ini." jawab kusir.


Raja Wei membuka kain tirai kereta, dia melihat wanita yang sedang berlutut di tanah dengan tatapan menyelidik.


"Tuan, tolong saya, seseorang telah menculik putri saya." ucap wanita itu sambil menangis histeris.


Se Se mengintip wajah wanita itu dari balik tirai, Raja Wei dengan cepat menutup tirai dan menahan gadis itu agar tidak menampakkan wajahnya.


"Usir wanita itu dan lanjutkan perjalanan!" perintah Raja Wei pada kusir.


"Baik Yang Mulia." jawab kusir.


Sesaat kemudian, terdengar suara kusir yang menjerit histeris.


"Akhhh! Yang Mulia, ada pembunuh!"


"Brukkk!"


Wanita itu menusuk jantung kusir dengan sebilah pisau, kusir itu mati seketika. Wanita itu kemudian berlari mendekati kereta kuda dan menyerang Raja Wei.


"Matilah kau pembunuh!" ucap wanita itu dengan mata yang penuh dendam.


Raja Wei menangkap lengan wanita itu, dengan satu gerakan ia melempar tubuh wanita itu ke depan kereta kuda.


"Hanya mengandalkan pisau kecil seperti itu kau pikir bisa membunuhku?" ucap Raja Wei sembari turun dari kereta kuda.


Wanita itu berdiri, dia mengarahkan pisaunya di hadapan Raja Wei.


"Kau, pembunuh anak dan suamiku! aku akan membunuhmu agar mereka bisa mati dengan tenang!" ucap wanita itu sembari berlari menyerang Raja Wei.


Raja Wei menghindar dari serangan kecilnya, namun dia salah sangka, ternyata wanita itu bukan mengincar nyawanya melainkan nyawa Se Se yang sedang berada di dalam kereta kuda.


Mata Raja Wei membelalak saat melihat wanita itu melempar pisau di tangannya, pisau itu terbang menuju ke tempat istrinya duduk.


"Se Se... !!!" jerit Raja Wei dengan nada panik.

__ADS_1


"Tringg!" pisau itu terbang ke arah lain setelah menabrak pedang yang di ayunkan Yu. Yu baru saja menyusul Raja Wei, dia diberikan tugas oleh tuannya sebelum kembali ke Ibu Kota.


Wanita itu berusaha melarikan diri setelah gagal membunuh Se Se, dia berlari kencang menuju ke hutan. Yu bersiap mengejarnya, namun Raja Wei menghalangi Yu.


"Tidak perlu mengejarnya, bisa saja ini hanya sebuah jebakan agar pengawalan permaisuri terpecah." ucap Raja Wei.


"Baik Yang Mulia. Maafkan hamba terlambat!" jawab Yu dengan berlutut.


"Berdirilah, apakah buktinya sudah ditemukan?" ucap Raja Wei.


"Ya, hamba sudah menemukan bukti keluarga Yang menjalin hubungan dengan Selir Fei. Penyergapan di hutan Kabut kemungkinan besar di rencanakan oleh Yang Wei Zhao." lapor Yu.


"Baguslah kalau memang dia, dengan begitu aku mempunyai alasan untuk menyingkirkan pria yang menginginkan permaisuriku." benak Raja Wei.


"Lanjutkan perjalanan, hari akan mulai gelap, kita harus segera mencari penginapan." ucap Raja Wei.


Yu mengambil alih pekerjaan kusir, dia mengendarai kereta kuda menuju ke sebuah penginapan yang terdekat.


"Tuan, Nona, silahkan masuk!" sapa seorang pelayan.


"Apa masih ada kamar kosong di sini?" tanya Yu.


"Ya, berapa kamar yang Tuan butuhkan?" ucap pelayan.


"Kami butuh 2 kamar untuk 1 malam. Tolong berikan kamar terbaik yang ada di sini!" ucap Yu sembari memberikan kepingan perak kepada pelayan.


Kamar Raja Wei dan Se Se berada di paling ujung penginapan, kamar Yu berada di sebelah kamar mereka.


"Tolong siapkan makanan dan minuman untuk kami!" ucap Yu.


"Baik, akan segera saya siapkan." jawab pelayan, ia segera keluar menyiapkan makanan.


Raja Wei memperhatikan wajah Se Se yang terlihat lelah, dia menggendong dan membaringkannya ke tempat tidur.


"Tidurlah dulu, aku akan membangunkanmu jika makanan sudah di antarkan." ucap Raja Wei sambil memijat kaki istrinya yang terlihat membengkak akibat duduk terlalu lama.


Se Se memejamkan mata, dalam waktu singkat dia sudah terlelap. Raja Wei menyelimuti tubuh Se Se dengan hati-hati agar tidak membangunkannya.


"Seandainya saja aku bukan anggota kerajaan, seandainya saja aku tidak menyandang gelar Raja, seandainya saja aku tidak perlu memikirkan nasib rakyat. Mungkin kehidupan kita akan lebih bahagia." kata hati Raja Wei sambil memandang wajah istrinya.


Raja Wei merasa sakit hati dan tidak tega melihat Se Se harus menjalani semua hal yang melelahkan ini. Mulai dari ditinggalkan sendirian selama berbulan-bulan, hingga menyusul Raja Wei karena dia menghilang. Semua penderitaan dan kesulitan ini tidak seharusnya di alami oleh Se Se jika dia bukan seorang permaisuri.


"Tok... Tok... Tok...!"


Pelayan mengetuk pintu, dia membawa makanan untuk Raja Wei dan Se Se. Raja Wei membuat gerakan tangan tanda agar jangan bersuara. Pelayan itu mengangguk, dia meletakkan makanan di meja dan segera keluar.


Raja Wei membelai wajah Se Se, dengan lembut ia membangunkan istrinya untuk makan malam.

__ADS_1


"Sayang, makanan sudah datang, makanlah sedikit untuk mengisi perut." ucap Raja Wei dengan suara kecil.


Se Se membuka mata, Raja Wei menggendongnya ke kursi di samping meja. Gadis itu tampak tidak bersemangat, biasanya dia sangat lahap saat menikmati makanan, namun hari ini dia terlihat tidak berselera.


"Dari tadi dia tidak menjawabku, sepertinya dia sangat lelah." benak Raja Wei.


"Aku sudah kenyang, tolong bawa aku ke tempat tidur." ucap Se Se dengan suara lemah.


"Makanlah sedikit lagi, bayi kecil akan kelaparan jika kamu tidak makan." jawab Raja Wei sembari menyumpitkan makanan ke mangkuk Se Se.


"Ueekkk ... !!"


Se Se menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, dia berlari keluar kamar dan mengeluarkan semua isi perutnya.


Raja Wei menjadi panik seketika, dia menepuk pelan punggung permaisurinya.


"Yu panggilkan tabib!" perintah Raja Wei dengan suara keras.


Yu keluar dari kamarnya, secepatnya ia pergi mencari tabib dan membawanya ke penginapan.


Tabib memeriksa keadaan Se Se, gadis itu hanya terlalu lelah, melakukan perjalanan panjang saat hamil membuat tubuhnya tidak nyaman.


"Istri anda baik-baik saja, Tuan hanya perlu memperhatikan jadwal istirahat untuk wanita hamil. Sebaiknya jangan membiarkan istri Tuan terlalu lelah." ucap tabib kepada Raja Wei.


Yu mengantar tabib keluar setelah menerima resep obat untuk permaisuri. Hari sudah gelap, sehingga banyak toko obat yang sudah tutup, Yu memerintahkan beberapa pelayan untuk secepatnya mendapatkan obat yang di tulis oleh tabib.


Raja Wei duduk di tepi ranjang, dia mengelus lembut perut Se Se yang sudah membesar, karena usia kehamilannya mulai memasuki bulan ke enam. Raja Wei bergumam sembari meneruskan gerakan tangannya.


"Bayi kecil, jangan nakal di dalam sana. Kasihan ibumu yang sudah lelah, jangan menambah kesulitannya."


"Bayi kecil tidak nakal, ibunya lah yang terlalu lemah." jawab Se Se dengan pelan. Suaranya masih terdengar lemah.


"Maaf, ini karena aku" ucap Raja Wei dengan wajah menyesal.


Raja Wei berbaring di sebelah Se Se, dia memeluk gadis itu hingga tertidur.


"Bunuh semuanya kecuali wanita cantik itu!" ucap seorang pria berbaju pelayan kepada beberapa pria yang juga berbaju pelayan.


^^^BERSAMBUNG...^^^


Hai teman-teman semua, Terima Kasih sudah mampir di karya saya dan mengikuti hingga sekarang. Jangan lupa dukungan Vote & LikeπŸ‘ Beri komentar juga yah πŸ’– Saya semangat saat melihat dan membaca komentar dari teman-temanπŸ’•πŸ’•πŸ’•.


Terima Kasih


Thank You


Arigato

__ADS_1


Xie Xie 😘


__ADS_2