
Dia menangis hingga malam tiba, air matanya sudah mengering. Se Se mengganti pakaiannya dan kembali ke kediaman Raja Wei setelah memutar cincinnya.
"Permaisuri!" jerit beberapa pengawal yang berjaga di depan pintu.
Raja Wei baru saja kembali dari pencariannya, dia berbalik saat mendengar pengawal memanggil "Permaisuri".
"Xiao Se Se!"
Raja Wei berlari dan segera memeluk gadis itu. Dia melepas pelukannya dan menatap wajah sembab gadis di depannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu seperti ini?" tanya Raja Wei cemas.
" ... "
Se Se tidak menjawabnya, dia hanya menundukkan kepala dan menatap lantai di bawah.
"Ada apa denganmu? bicaralah, jangan membuatku takut!" ucap Raja Wei makin cemas melihat Se Se tidak menjawab.
Tubuh Se Se hampir terjatuh, Raja Wei segera menangkap tubuhnya dan membawa gadis itu ke kamar.
"Cepat panggilkan tabib!" perintah Raja Wei dengan wajah panik.
Tabib datang dan memeriksa Se Se. Tabib melihat wajah Raja Wei dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela napas.
"Tubuh Permaisuri sangat lemah, sebaiknya Yang Mulia tidak melakukan olah raga yang berlebihan." ucap tabib.
"Olah raga?" tanya Raja Wei tak mengerti.
"Itu... olah raga untuk mendapat keturunan." jawab tabib dengan malu-malu.
"Jeder!!"
Raja Wei segera mengingat kembali ekspresi wajah gadis itu, kini dia bisa menebak apa yang sudah terjadi pada istrinya.
Tabib keluar dari ruangan itu, meninggalkan Raja Wei berdua dengan istri kecilnya.
Tangan Raja Wei bergetar, dia merasa gugup untuk mencari kebenaran dibalik kepergian istrinya selama satu hari satu malam.
Perlahan dia membuka pakaian Se Se, hatinya perih melihat banyaknya jejak tanda merah di seluruh tubuh istrinya.
"Apa ini karmaku karena semalam tidur dengan gadis lain?" batin Raja Wei.
Raja Wei membelai lembut wajah istrinya, terlihat air matanya menggenang dan jatuh menetes di atas lengan gadis itu. Raja Wei memakaikan kembali pakaian Se Se dan menyelimutinya.
__ADS_1
Dia menyesali kebodohannya, dia menyesal karena tidak bisa melindungi istrinya dengan baik.
Raja Wei menggenggam telapak tangan Se Se dan mengecup punggung telapak tangan itu.
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak berguna."
ucap Raja Wei dengan wajah penuh penyesalan.
Se Se membuka matanya dengan perlahan, dia melihat wajah pemuda yang sedang menangis di depannya.
"Yang Mulia.... " ucapnya lemah.
Raja Wei menatap wajah Se Se dan menjawab, "Istirahatlah, aku akan menjagamu di sini."
Se Se mulai meneteskan kembali air matanya, dia kembali memanggil Raja Wei.
"Yang Mulia.... "
Raja Wei membelai lembut pipi Se Se, mereka berpandangan selama beberapa saat.
"Maafkan aku, semua penderitaanmu disebabkan oleh kebodohanku." ucap Raja Wei dengan wajah penuh penyesalan.
"Yang Mulia, saya... kemarin malam saya... " Se Se tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Saya telah di lecehkan, saya tidak pantas lagi untuk anda Yang Mulia. Saya tidak pantas menjadi permaisuri anda dengan tubuh kotor ini." ucap Se Se dengan berlinang air mata.
Raja Wei memeluknya dengan erat dan berkata, "Tidak, kamu adalah permaisuriku. Apapun yang terjadi, hanya kamu yang akan menjadi permaisuri Raja Wei. Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, tanpa mengharapkan apapun. Lupakan saja hal yang telah terjadi, mulai sekarang kita akan hidup bahagia bersama."
"Dimana lagi aku bisa mendapatkan pemuda sebaik ini?" batin Se Se.
"Maafkan saya karena tidak dapat menjaga kehormatan saya dengan baik." ucap Se Se.
"Tidak, ini bukan salahmu, semua ini adalah ulah dari Putri Liang dan Han Ze Liang. Aku akan membuat perhitungan dengan mereka." ucap Raja Wei sambil menghapus air mata di wajah istrinya.
"Terima Kasih sudah menerima saya yang kotor ini Yang Mulia." gumam Se Se.
Gadis itu memejamkan matanya karena terlalu lelah menangis seharian. Raja Wei merasa sakit hati gadis kecilnya dilecehkan dan harus merasakan penderitaan seperti ini. Hatinya merasa tercabik-cabik melihat wajah sembab istrinya.
"Kamu tidak kotor, akulah yang kotor. Aku melakukan hal itu pada gadis lain di malam pernikahan kita. Maaf... atas semua hal yang telah kulakukan." ucap Raja Wei.
Se Se telah tertidur tanpa mendengar perkataan Raja Wei. Dia bermimpi kejadian di masa lalunya.
Dalam Mimpi
__ADS_1
"Brakkk!"
Mike membuka pintu operasi dengan kasar, dia berlari masuk dan menjerit, "Hentikan! Hentikan operasi ini!"
Jantung istrinya telah di angkat dan siap dipindahkan dari tubuhnya. Mike berlutut di samping tempat tidur dan memohon pengampunan dari gadis itu.
"Maafkan aku, maafkan aku...!"
Pria itu menangis pilu di ruang operasi, dia baru saja mengetahui bahwa semua hasil penyelidikan yang dilakukan selama ini hanya rekayasa dari Vivi, pembunuh sebenarnya adalah Vivi, bukan Se Se.
Namun semuanya telah terlambat, jantung itu di sudah di angkat, nyawa istrinya tidak tertolong lagi. Mike menyesali kebodohannya, dia berlutut seharian di ruangan itu dan memohon pengampunan dari mayat di istrinya.
********
Air mata mengalir di kedua pipi gadis yang masih tertidur itu, dia sedih melihat Mike yang berlutut dan menangis pilu di samping mayatnya.
Se Se membuka mata, dia menyadari sesuatu setelah bangun dari mimpinya.
"Aku sudah memaafkanmu, Mike." gumam gadis itu dengan senyuman kecil di wajahnya.
Dia melepaskan dendam dari masa lalunya, dia bertekad hidup bahagia di masa sekarang tanpa terikat dengan kehidupan masa lalu. Hatinya terasa ringan setelah memaafkan Mike.
Raja Wei duduk di ruang kerjanya semalaman, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian dia memanggil Yu dan berbisik di dekatnya.
Yu mengangguk tanda mengerti, dia langsung keluar dari ruangan itu.
Raja Wei kembali ke kamarnya, dia melihat Se Se masih berbaring di tempat tidur, wajah gadis itu sudah terlihat lebih tenang. Raja Wei menyentuh pipinya dengan pelan, Se Se membuka mata saat merasakan sentuhan di pipinya.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Raja Wei sambil mengelus pipinya dengan lembut.
"Ya, saya tidur nyenyak berkat anda Yang Mulia." jawab Se Se dengan senyuman manisnya.
"Kenapa istriku masih memanggilku dengan sebutan Yang Mulia?" tanya Raja Wei.
Wajah Se Se memerah, dia merasa malu mengucapkan kata suami.
"I...itu... bolehkah saya memanggil anda dengan sebutan nama Yang Mulia?" tanya Se Se dengan wajah tersipu malu.
"Dia belum mengetahui nama asliku. Apa sudah saatnya aku memberitahunya?" batin Raja Wei.
"Panggil aku 'sayang' atau 'suami'. Aku lebih menyukai panggilan itu." jawab Raja Wei.
"Belum saatnya, aku tidak boleh menambah beban pikirannya. Terlalu banyak kejadian yang membuatnya terluka. Tunggulah sebentar lagi, aku akan mengatakan semuanya padamu."
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^